NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Nyonya Meriam

"Nyonya Meriam datang!"

Suara Kapten Reza menggema di lobi administrasi RS Kartika.

Beberapa kepala menoleh. Dua prajurit yang sedang membawa berkas spontan berdiri lebih tegak. Seorang perawat tersenyum kepada Keisha seolah julukan itu sudah menjadi nama resmi di kartu identitasnya.

Keisha berhenti di tengah langkah. "Kapten Reza, volumenya bisa diturunkan?"

Reza memberi hormat berlebihan. "Siap, Nyonya Meriam."

Suaranya justru lebih keras.

Arya berjalan di samping Keisha dengan wajah tanpa ekspresi. Bahunya sudah jauh membaik, tetapi balutan tipis masih tersembunyi di bawah kemeja.

"Reza," katanya.

Satu kata cukup membuat Reza menurunkan tangan. "Baik, Ndan. Saya diam."

"Itu tidak pernah bertahan lama," gumam Arya.

Keisha menahan senyum. Kemarin ia masih diganggu bayangan Vanya di depan rumah. Hari ini, satu koridor menyambutnya sebagai istri Arya tanpa ragu sedikit pun.

Mereka datang untuk memperbarui data keluarga personel setelah akad. Petugas meminta identitas, buku nikah, kontak darurat, alamat, dan beberapa formulir pengenalan fasilitas keluarga. Keisha membaca setiap halaman sebelum menandatangani, sementara Arya duduk di sebelahnya tanpa mendesak.

"Setelah verifikasi, Bu Keisha akan mendapat akses layanan keluarga dan undangan pengenalan kegiatan Persit," jelas petugas. "Keikutsertaan kegiatan menyesuaikan pekerjaan Ibu."

"Saya tetap bekerja penuh di RSUD Bandung," jawab Keisha.

"Itu tidak masalah, Bu."

Petugas lalu menjelaskan formulir persetujuan informasi. Keisha boleh menerima pemberitahuan bila Arya dirawat atau mengalami keadaan darurat, tetapi jadwal dan rincian tugas tetap dibatasi. Arya menandatangani persetujuan yang menempatkan Keisha sebagai kontak pertama tanpa memberinya akses pada informasi operasi.

"Kalau nomor saya berubah?" tanya Keisha.

"Harus diperbarui di sini dan pada unit, Bu. Nomor darurat tidak otomatis mengikuti aplikasi umum."

Keisha mencatat prosedurnya. Setelah telepon asing tengah malam dan hari-hari tanpa kabar, selembar formulir itu terasa lebih penting daripada sekadar administrasi.

Arya memperhatikannya. "Ada yang ingin diubah?"

"Tidak. Untuk pertama kalinya datamu cukup jelas."

"Aku anggap itu pujian."

Reza yang berdiri di belakang membungkuk. "Kalau ada acara memasak, jangan biarkan Nyonya Meriam memegang wajan."

Keisha menoleh tajam. "Dari mana kamu tahu?"

"Ndan cerita."

Arya membuka map seolah tidak mendengar.

"Mas Arya."

"Itu laporan keselamatan."

Tawa kecil menyebar di meja administrasi. Wajah Keisha memanas, tetapi rasa malu itu anehnya bercampur dengan rasa diterima.

Setelah dokumen awal diserahkan, Kolonel dr. Firdaus mengundang Keisha ke ruangannya. Di sana sudah ada Lettu Fajar, seorang perwira muda yang membantu koordinasi pelayanan dan tampak jauh lebih tenang daripada Reza.

"Saya mendengar cara Dokter menangani pasien keras kepala di sini," kata Firdaus sambil melirik Arya. "RS Kartika sedang memperluas layanan bedah. Kalau Dokter tertarik, kami ingin mengundang Anda mengajukan clinical attachment beberapa hari per minggu."

Keisha tidak langsung menjawab. "Saya masih terikat pekerjaan di RSUD."

"Tentu. Ini bukan penunjukan mendadak. Harus ada izin institusi asal, verifikasi STR dan SIP yang sesuai, kredensial komite medis, serta penetapan lingkup kewenangan klinis. Mulai dari observasi dan kolaborasi, bukan langsung operasi mandiri."

Penjelasan itu membuat Keisha tertarik. RS Kartika memiliki kasus trauma dan bedah yang bisa memperluas pengalamannya, tetapi ia tidak ingin mendapat posisi hanya karena menjadi istri seorang komandan.

"Apakah undangan ini diberikan karena Mas Arya?"

Firdaus tersenyum tipis. "Namanya membuat kami mengenal Anda. Rekam kerja dan kredensial Anda yang akan menentukan diterima atau tidak."

"Kalau begitu saya bersedia mempelajari persyaratannya."

Fajar menyerahkan map informasi. "Saya bisa membantu jalur administrasi, Dokter. Semua keputusan klinis tetap lewat komite."

"Terima kasih, Lettu Fajar."

Reza menyandarkan bahu di kusen pintu. "Fajar juga bisa membantu urusan makan. Dia satu-satunya perwira yang masakannya tidak terasa seperti hukuman."

Fajar menghela napas. "Kapten Reza datang ke rumah saya tiga kali seminggu dan tetap mengeluh."

"Saya datang untuk evaluasi kualitas."

Keisha tertawa. "Kalau begitu saya mungkin perlu meminta resep. Sup terakhir saya terlalu asin."

"Saya bisa kirim resep dasar, Dokter," jawab Fajar sopan.

Arya menutup map di tangan Keisha. "Tidak perlu. Aku masih hidup setelah memakannya."

"Itu bukan standar keberhasilan kuliner," kata Keisha.

Firdaus menggeleng melihat mereka. "Kalau Dokter jadi bergabung, saya minta perdebatan rumah tangga tidak masuk rapat komite medis."

"Tidak bisa dijanjikan," jawab Arya datar.

Keisha menyikut sisi tubuhnya yang tidak terluka.

Arya tidak ikut menjawab untuknya. Namun ketika Keisha menerima map itu, kebanggaan singkat melintas di mata lelaki tersebut.

Mereka baru keluar dari ruangan Firdaus ketika seorang prajurit menghampiri Arya dengan laporan. Ada dua tim latihan yang saling menyalahkan karena perubahan jadwal dan penggunaan fasilitas.

Wajah Arya berubah dalam sekejap. Kehangatan yang tadi terlihat lenyap, digantikan ketegasan yang membuat Reza dan Fajar langsung berdiri lurus.

"Siapa yang mengubah jadwal tanpa konfirmasi?" tanyanya.

Prajurit itu memberi penjelasan singkat.

Arya membaca dua halaman, lalu menunjuk bagian tanda tangan. "Tidak ada persetujuan untuk perubahan ini. Kembalikan jadwal asli. Tim yang memakai fasilitas di luar waktu membersihkan dan memeriksa perlengkapan bersama. Tidak ada hukuman sebelum kronologi kedua pihak dicatat. Saya mau laporan tertulis sore ini."

"Siap, Ndan."

Tidak ada bentakan. Tidak ada ancaman. Hanya keputusan cepat, pembagian tanggung jawab, dan tuntutan bukti sebelum menghukum.

Keisha baru memahami sisi lain julukan Si Meriam. Arya tidak perlu mengangkat suara untuk membuat orang bergerak.

Dalam perjalanan kembali ke loket, seorang tenaga kesehatan yang lebih tua menyapa Arya dan berterima kasih karena jadwal keluarga pasien tidak ikut dikorbankan saat area latihan ditutup. Arya hanya mengangguk dan meminta semua keluhan tetap dicatat lewat jalur resmi.

Keisha memperhatikan punggungnya. Di rumah, lelaki itu merapikan cangkir dan menghabiskan sup terlalu asin. Di sini, keputusan singkatnya mengubah gerak banyak orang. Kedua sisi tersebut terasa sulit disatukan, tetapi keduanya adalah suaminya.

Rasa bangga muncul sebelum Keisha sempat melarangnya.

"Kenapa melihatku begitu?" tanyanya setelah prajurit pergi.

"Saya sedang memastikan suami saya bukan pengusaha yang terlalu suka olahraga."

"Kesimpulannya?"

"Kamu sangat pandai menyembunyikan banyak hal."

Arya menerima tuduhan itu tanpa membela diri. "Aku sedang belajar berhenti."

Kalimat tersebut membuat Keisha terdiam.

Mereka kembali ke loket untuk menyelesaikan verifikasi. Petugas memindai buku nikah, lalu membuka data lama yang dimigrasikan dari sistem sebelumnya. Keningnya berkerut.

"Maaf, Pak Arya," katanya. "Ada catatan lama pada kolom pendamping kegiatan keluarga dan kontak darurat. Datanya terbawa ke kolom pasangan saat migrasi."

Arya mendekat. "Nama siapa?"

Petugas membaca layar sekali lagi.

"Vanya Puspita."

Tangan Keisha berhenti di atas formulir.

Kebanggaan yang tadi memenuhi dadanya berubah menjadi pertanyaan baru yang jauh lebih tajam.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!