Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saung
Jagat mengetuk kamar Arina dengan frustrasi, hingga suara gagang pintu mulai terdengar dari dalam.
“Jagat,” sapa Arina dengan muka bantal kas seperti orang baru bangun tidur, rambutnya acak acakan, dan langsung menutup pintunya lagi.
Entah mengapa hal tersebut membuat Jagat merasa lega. Dia tersenyum melihat wajah lucu Arina barusan.
“Ngapain kesini sih, kan besok libur, jadi kita nggak belajar bareng kan?” cerocos Arina yang baru saja keluar, tetapi sudah ganti baju biasa dengan rambut yang di cepol asal.
“Lu hari ini sibuk nggak, atau ada jadwal ketemu seseorang?” tanya Jagat memastikan.
Arina diam sejenak, “ada sih, emang kenapa?”
“Mau ketemu siapa? Lu nggak boleh pergi kemana mana.”
“Nina, kenapa emangnya?” Kali ini alis Arina bertaut melihat tingkah aneh Jagat.
“Oh Nina.”
“Iya, rencananya nanti malam gue mau nginep di rumahnya.”
“Mau temenin gue dulu nggak?”
“Enggak, gue capek.”
“Ar…”
“Gat, masak gue harus sama Lu terus,” protes Arina dengan wajah seriusnya.
“Ya udah deh, have fun,” ucap Jagat dengan wajah kecewanya, dia langsung pergi tanpa pamit.
Semenjak kepergian Jagat, ada sedikit rasa bersalah dari hati Arina, dia mendekat ke arah balkon untuk melihat Jagat dari kejauhan. Melihat Jagat yang masih berdiam diri di atas motornya, Arina memutuskan untuk turun dan kembali menemui Jagat.
“Mau temenin kemana?” tanya Arina dengan wajah juteknya.
Senyuman Jagat langsung merekah begitu saja, “makan,” jawabnya ngasal.
“Dimana?”
“Mau temenin gue?”
“Hemb..”
“Ya udah ayok, naik,” perintah Jagat dengan wajah semringah nya.
“Jangan jauh-jauh,”
“Iya bawel.”
Selama di perjalanan mereka saling diam, tanpa banyak cerita, Jagat fokus ke setiap titik jalan. Hingga mereka berhenti di suatu tempat.
“Kok ke cafe, gue belum mandi Jagat.” protes Arina yang kali ini melihat penampilannya sendiri, rambut di cepol, pakai kaos dan celana training.
“Apa hubungannya sama mandi cobak, gue juga belum mandi.”
“Ya se’enggak nggak kelihatan kucel dan gembel nya,” jawab Arina sambil mendengus kesal.
“Ya udah sih, di sini kan ada yang VIP itu yang kayak saung di pojokan deket kolam kolam itu, di situ nggak ada yang lihatin,” jelas Jagat dengan wajah santainya.
“Selamat datang kembali Mas Jagat,” sapa seorang pelayan dengan ramah dan senyuman centilnya.
“VIP nya ada?”
“Ada Mas kebetulan kosong satu di paling ujung.”
“Oke thanks,”
Arina mengikuti langkah lebar Jagat yang terus menyeberangi kolam ikan lewat jembatan kecil. “Lu udah sering kesini?” tanya Arina membuka obrolan.
“Iya favorit eyang gue, pas lagi suntuk,”
“Oh pantes.”
“Kenapa?”
“Embaknya akrab banget,”
“Cemburu?” tanya Jagat secara tiba-tiba menoleh ke arah Arina dengan senyuman sexynya.
“Dihhh…”
“Bilang aja.”
“Apa’an sih, nggak jelas banget,” protes Arina. “Ini mana sih ruangannya, nggak nyampek nyampek dari tadi,” gerutu Arina mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kan udah di bilang paling ujung, sabar dong.”
Sambil berjalan mata Arina jelalatan ke kanan dan ke kiri, pemandangan nya sangat indah dan menenangkan.
“Awwwhhh…” teriaknya saat kaklnya tergelincir karena jembatan kecil yang dia lewati sangat licin.
“Hati-hati Ar,” tangan Jagat yang sigap menarik lengan Arina agar tidak jatuh.
“Awwh…” ringisnya lagi saat mencoba berjalan.
“Sakit?” Kini Jagat langsung jongkok dan ngecek pergelangan kaki Arina.
Perlahan Arina mengangguk sungkan dan sedikit malu karena kecerobohannya.
“Sini naik, gue gendong.”
“Gue bisa jalan sendiri kok.”
“Udah.”
Dengan ragu Arina naik ke punggung lebar milik Jagat, pipinya mulai merah merona menahan rasa malu.
“Sorry…”
“Lain kali hati-hati.”
“Iya…”
Saat ini jantung Arina ikut berpacu dengan cepat saat tubuhnya bersentuhan langsung dengan punggung Jagat. Begitu juga dengan Jagat ada gelayar aneh yang menghampiri tubuhnya saat ini.
...----------------...
...“Hai, semoga suka ya, bantu Like, koment dan Vote.”...