"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Air Mata dan Kebohongan
【Bayi Dewi berada di dalam lubang septik.】
Selama beberapa detik, Raka tidak bergerak.
Lampu ponselnya masih menyorot kain pink bergambar kelinci itu. Tangannya dingin. Perutnya bergejolak, tapi ia memaksa tubuhnya tetap diam. Ini bukan tempat untuk muntah, bukan tempat untuk berteriak, bukan tempat untuk memuaskan amarah.
Ini tempat kejadian perkara.
Ia mundur satu langkah, lalu dua langkah.
"Kribo," panggilnya pelan lewat telepon. "Bangun. Bawa ponselmu. Jangan sentuh apa pun."
Kribo datang kurang dari satu menit kemudian, rambut berantakan, wajah masih setengah tidur. Begitu ia mencium bau dari lubang itu, kantuknya hilang.
"Itu..."
"Jangan dekat." Raka menahan bahunya. "Foto dari jauh. Kita lapor polisi desa. Kita tidak angkat sendiri."
Kribo menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat, ia tidak membuat lelucon.
Pos polisi desa hanya dijaga dua petugas malam. Awalnya mereka datang dengan wajah malas, seperti orang yang diminta membuktikan gosip tengah malam.
"Kasus ini sudah dicek," kata salah satu petugas. "Jangan-jangan cuma kain bekas. Kalau warga panik lagi, kami yang dimarahi."
Raka menahan suaranya tetap rendah. "Kalau itu memang kain bekas, Bapak cukup tulis laporan pemeriksaan. Kalau bukan, setiap menit kita menunda berarti merusak TKP."
Kribo mengangkat ponsel. "Saya sudah foto posisi kain dari luar garis. Waktu, lokasi, semua ada."
Baru setelah melihat kain pink dan mencium bau yang keluar dari celah beton, wajah kedua petugas itu berubah.
Salah satu menutup mulut. Yang lain langsung menelepon unit kecamatan.
Rumah itu bangun dalam kekacauan.
Ratih keluar sambil memegang dinding. "Ada apa? Bang Raka... ada apa?"
Raka ingin menjawab, tapi tidak ada kalimat yang cukup ringan untuk membawa kabar seperti itu.
Wisnu muncul dari kamar dengan mata merah palsu dan rambut sengaja acak. "Kenapa ramai-ramai? Apa yang terjadi?"
Marlina berdiri di belakangnya. Wajahnya pucat. Matanya tidak mencari Ratih. Matanya langsung jatuh ke lubang septik.
Unit dari kecamatan datang menjelang dini hari. Mereka memasang garis pembatas seadanya, membuka tutup beton, lalu bekerja dengan lampu besar dan sarung tangan. Raka berdiri di luar garis, mencatat setiap reaksi.
Ketika tim mengangkat bungkusan kecil dari lubang itu, Ratih menjerit.
Jeritan itu tidak panjang. Justru terlalu pendek, seperti suaranya diputus dari dalam. Tubuhnya jatuh sebelum Kribo sempat menangkapnya. Seorang ibu tetangga memeluknya sambil menangis.
Wisnu berlutut di tanah.
"Dewi!" Pria itu memukul tanah dengan kedua tangan. "Anakku! Siapa yang melakukan ini? Siapa yang tega?!"
Orang-orang di halaman ikut bergumam. Beberapa menatapnya dengan kasihan. Seorang petugas bahkan menepuk bahunya.
Raka menatap panel di atas kepala Wisnu.
【WISNU MARPAUNG】
【INDEKS DOSA: 97/100】
【PERUBAHAN EMOSI TERDETEKSI: TIDAK SIGNIFIKAN】
【Catatan: Subjek menunjukkan emosi performatif.】
Tidak berubah.
Tangisnya tidak menggerakkan angka itu satu titik pun.
Wisnu tiba-tiba menunjuk Raka dengan tangan gemetar. "Dia yang suruh bongkar! Dia dari live itu! Kalau dari awal polisi tidak menutup kasus, mungkin Dewi sudah ditemukan lebih cepat!"
Beberapa mata langsung beralih ke Raka. Petugas desa tampak tidak nyaman, seperti ingin menyalahkan siapa pun selain prosedur mereka sendiri.
Raka tidak membalas. Ia hanya menatap Wisnu, menghafal cara pria itu mengubah duka menjadi senjata.
Di hadapannya, pria yang kemungkinan besar mengambil nyawa Dewi sedang mencuri simpati semua orang dengan air mata palsu.
Marlina tiba-tiba limbung.
"Bu Marlina!" Wisnu berseru.
Perempuan itu jatuh ke kursi bambu. Orang-orang mengira ia pingsan karena sedih. Tapi Raka melihat detik sebelum tubuhnya lemas: mata Marlina melirik ke lubang septik dengan ketakutan tajam. Bukan duka. Bukan kehilangan.
Takut ketahuan.
Raka berjongkok di dekat semak-semak yang diinjak petugas. Ada sesSatu tersangkut di antara daun basah dan tanah.
Boneka teddy bear kecil.
Bulunya kotor, satu telinganya robek, dan bagian perutnya tampak lebih keras dari seharusnya. Raka hendak memperhatikannya lebih dekat, tetapi sistem tidak memberi reaksi apa pun. Belum.
"Bang," kata Kribo pelan. "Itu milik Dewi?"
Ratih yang baru sadar samar-samar melihat boneka itu. Wajahnya runtuh lagi. "Itu... Bagus yang kasih. Buat Dewi."
Bagus. Ayah kandung Dewi.
Raka membungkus boneka itu dengan plastik bersih dari tas Kribo. "Ini ikut dicatat sebagai barang yang ditemukan dekat lokasi. Jangan hilang."
Petugas desa tampak hendak mengambilnya begitu saja, tapi Raka menahan plastik itu sebentar.
"Tulis dulu di buku laporan. Jam ditemukan, lokasi, siapa yang menemukan." Ia menatap petugas itu lurus. "Kalau barang ini hilang, saya akan ingat siapa yang terakhir pegang."
Kribo memotret boneka, plastik, dan halaman laporan sekaligus. Kali ini petugas tidak protes.
Petugas desa mulai mencatat laporan. Kata-kata mereka kaku: penemuan jasad, dugaan tindak pidana, menunggu pemeriksaan. Raka menekan agar kasus ini dinaikkan ke Polres Distrik Surya dan tidak berhenti di desa.
"Kamu ini siapa?" salah satu petugas bertanya, lelah dan tersinggung.
"Orang yang menemukan korban," jawab Raka. "Dan orang yang akan memastikan laporan ini tidak dikubur lagi."
Kribo menatapnya sekilas. Kali ini, ia tidak menyuruh Raka merendahkan suara.
Menjelang subuh, jasad Dewi dibawa untuk otopsi. Ratih dibaringkan di kamar, dijaga tetangga. Wisnu masih duduk di halaman, menangis kalau ada orang melihat, diam saat orang berpaling. Marlina tidak bicara sepatah kata pun.
Raka kembali ke ruang kecil tempat ia dan Kribo menumpang istirahat. Untuk pertama kalinya, ia memanggil Buku Penghakiman dengan sadar.
Cahaya hitam tipis membuka ruang di hadapannya. Buku bersampul pedang itu muncul, halamannya kosong.
【Catat bukti dan kesaksian.】
【Ketika bukti cukup, dakwaan dapat ditulis.】
Raka mengambil pena. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi tulisannya jelas.
Kasus Pembunuhan Bayi Dewi.
Bukti awal: jasad ditemukan di lubang septik halaman belakang rumah Ratih dan Wisnu. Kain pink bergambar kelinci sesuai keterangan Ratih. Bungkus jelly ditemukan di kamar bayi. Boneka Teddy Bear Dewi ditemukan di semak dekat lubang septik. Wisnu Marpaung menunjukkan indeks dosa 97/100. Marlina 78/100.
Ia menutup buku itu sebelum amarahnya menguasai tangan.
Malam belum benar-benar selesai.
Ketika langit mulai abu-abu, Raka keluar untuk mencari udara. Di tepi hutan bambu, sosok besar berdiri diam memandangi rumah.
Jono.
Pemuda itu memeluk lututnya sendiri. Bibirnya bergerak, mengulang kalimat yang sama seperti lagu rusak.
"Dewi makan... jelly... Dewi tidur..."
Raka melangkah pelan. "Jono?"
Jono tersentak. Matanya melebar seperti anak kecil ketahuan memecahkan gelas.
"Dewi makan jelly," gumamnya lagi. "Dewi batuk. Dewi tidur. Jono tidak nakal."
"Siapa yang kasih jelly, Jono?"
Pemuda itu mundur.
"Jono tidak nakal. Jono tidak nakal."
Lalu ia berlari masuk ke balik bambu sebelum Raka bisa mengejarnya.
Raka berhenti di tepi hutan, napasnya tertahan.
Di belakangnya, rumah Ratih masih penuh tangis dan kebohongan.
Di depannya, satu kalimat Jono berubah menjadi kunci baru yang dingin.
Dewi makan jelly. Dewi tidur.