NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Nala Demam Tinggi

Hari pertama Laras melapor sebagai staf konsumsi, Bu Ratna sudah menunggunya di depan dapur.

Perempuan itu memandang seragam kerja sederhana yang baru diterima Laras, lalu menggeser tatapan ke kartu identitas sementara di dadanya.

“Cepat sekali naik jabatan,” katanya. “Kemarin masih pengasuh.”

“Hari ini juga masih merawat Satya.” Laras memasang penutup rambut. “Hanya saja sekarang saya dibayar untuk pekerjaan dapur.”

“Siapa yang menyetujui?”

Sudibyo kebetulan melintas bersama dua staf. Ia berhenti ketika mendengar pertanyaan itu.

“Danyon mengusulkan, perbekalan memeriksa, Kolonel menyetujui,” jawabnya. “Kalau Bu Ratna keberatan, silakan kirim surat ke tiga tempat sekaligus.”

Nada suaranya ringan, tetapi wajahnya tidak menunjukkan senyum.

Bu Ratna mengatupkan bibir. “Saya hanya memastikan aturan.”

“Bagus. Aturan memang harus dipastikan.”

Sudibyo pergi. Laras tahu dukungan itu bukan kebaikan. Laki-laki tersebut hanya tidak ingin kegagalannya terlihat di depan orang lain.

Ia masuk ke dapur dan mulai memeriksa stok beras. Parjo menyerahkan buku catatan, lalu menyuruh dua pekerja memanggilnya `Bu Laras`, bukan sekadar pengasuh dari rumah Komandan.

Laras belum sempat menyelesaikan hitungan ketika seorang pengantar desa muncul di pintu belakang.

Celananya terkena lumpur sampai lutut. Di tangannya ada selembar kertas yang dilipat berkali-kali.

“Dari Girisari,” katanya. “Pak RT menyuruh saya cari Bu Laras.”

Jantung Laras berdegup keras.

Tulisan di kertas itu milik tetangga Mbah Inah.

Nala demam tinggi sudah tiga hari. Muntah dan buang air terus. Susu tidak masuk. Mbah Inah tidak sanggup membawanya turun karena hujan merusak jalan.

Huruf-huruf terakhir tampak kabur. Laras baru sadar tangannya gemetar ketika kertas tersebut berisik di antara jemarinya.

“Bu Guru?” Parjo mendekat. “Ada apa?”

“Anak saya sakit.”

Ia melepas celemek tanpa mampu melipatnya. Sesuai kontrak, izin keluarga harus diajukan ke kepala dapur dan disahkan komandan. Parjo langsung menandatangani bagian pertama.

“Pergi sekarang. Beras bisa dihitung besok.”

Laras berlari ke kantor Bima sambil membawa surat desa. Satya berada di ruang istirahat bersama Bu Titin, tetapi pikirannya hanya dipenuhi tubuh kecil Nala yang panas tanpa dirinya.

Bima baru keluar dari ruang rapat ketika Laras hampir menabraknya.

“Komandan, saya minta izin pulang.”

Ia menyerahkan surat. Bima membaca dua baris pertama, lalu memanggil Iwan.

“Siapkan jip.”

“Saya bisa naik bus,” kata Laras.

“Bus tidak masuk Girisari saat jalan rusak.”

“Nanti orang bilang kendaraan dinas dipakai untuk urusan saya.”

“Kita juga perlu mengambil sayur gunung untuk uji menu lomba. Perbekalan memang sudah merencanakan survei pemasok.” Bima menulis perintah perjalanan di atas map. “Kau ikut sebagai staf konsumsi. Dalam perjalanan, kita memeriksa anakmu.”

“Kita?”

“Iwan mengemudi. Dokter ikut.”

Seorang perempuan berkacamata yang baru keluar dari klinik mendekat sambil membawa tas medis.

“dr. Sinta,” kata Bima. “Baru ditugaskan ke klinik keluarga batalyon. Dia pernah bekerja di puskesmas daerah gunung.”

dr. Sinta mengulurkan tangan. Wajahnya tenang, tetapi matanya menilai keadaan Laras dengan cepat.

“Usia anak?”

“Hampir tujuh bulan.”

“Demam berapa tinggi?”

“Saya tidak tahu. Di desa tidak ada termometer.”

“Muntah dan diare tiga hari berarti kita tidak boleh menunggu.”

Bu Titin datang membawa Satya. Laras mencium pipinya berkali-kali, lalu menyerahkannya kembali.

“Tolong jaga dia. Susu perah ada di lemari pendingin klinik. Kalau kurang...”

“Aku tahu jadwalnya,” kata Bu Titin. “Pergilah ambil Nala.”

Satya mencengkeram kerah Laras ketika dipindahkan. Bayi itu mengira mereka sedang bermain dan tertawa, tidak memahami mengapa wajah Laras pucat. Laras harus membuka satu per satu jarinya.

“Ibu pulang,” bisiknya. “Jangan rewel dengan Bu Titin.”

Langkahnya berhenti setelah dua meter. Naluri di tubuhnya menyuruh kembali setiap kali Satya mengeluarkan suara, sementara rasa takut terhadap Nala menariknya ke arah berlawanan. Untuk sesaat Laras merasa tubuhnya terbelah menjadi dua ibu yang sama-sama gagal berada di tempat yang tepat.

Bima mengambil tasnya tanpa berkata apa-apa. “Naiklah.”

Perintah pendek itu memutus kebimbangannya. Laras masuk ke jip, sedangkan Bima memastikan daftar susu dan jadwal tidur Satya tertulis di tangan Bu Titin.

Jip berangkat kurang dari dua puluh menit kemudian. Di bak belakang terdapat dua keranjang kosong dan surat survei pemasok, sehingga perjalanan itu tetap memiliki tugas dinas yang sah.

Dari teras Persit, Bu Ratna melihat Laras duduk di samping dr. Sinta. Ia menghitung orang di kendaraan, memperhatikan tas medis, lalu berbalik menuju kantor Sudibyo.

“Kendaraan satuan dibawa ke desa untuk anaknya,” lapornya.

Sudibyo tidak langsung menjawab. Ia membaca salinan surat jalan yang baru masuk ke mejanya.

“Survei pemasok sayur,” katanya.

“Itu hanya alasan.”

“Alasan yang ditulis sebelum kendaraan berangkat, disahkan perbekalan, dan membawa dokter untuk pemeriksaan keluarga prajurit gugur.” Sudibyo meletakkan kertas. “Sulit menyerang sesuatu yang rapi.”

“Jadi dibiarkan?”

Sudibyo memandang jalan tempat jip menghilang. “Tidak. Kita tunggu kesalahan yang tidak sempat mereka rapikan.”

Perjalanan ke Girisari memakan waktu lebih dari satu jam. Hujan meninggalkan lubang besar dan lumpur tebal. Dua kali Iwan harus turun untuk menaruh batu di bawah roda.

Di sebuah tanjakan, roda belakang berputar tanpa bergerak. Bima yang semula berniat kembali ke rapat ternyata ikut sampai batas kecamatan untuk memastikan kendaraan melewati bagian terburuk. Ia turun bersama Iwan, mendorong badan jip sampai lumpur memercik ke celana seragamnya.

“Komandan seharusnya kembali,” kata Laras ketika kendaraan akhirnya bergerak.

“Aku kembali dari pos kecamatan. Iwan dan dokter lanjut bersamamu.”

“Terima kasih.”

Bima menatapnya melalui jendela terbuka. “Jangan berterima kasih sebelum anakmu diperiksa.”

Ia menyerahkan uang tunai kepada dr. Sinta untuk kebutuhan darurat, tetapi dokter itu langsung mencatat jumlahnya pada surat perjalanan. Bahkan dalam kecemasan, semua dibuat terang.

Laras ingin mengatakan sesuatu lagi. Jip sudah bergerak, meninggalkan Bima berdiri di pinggir jalan dengan sepatu penuh lumpur.

Sepanjang jalan, Laras meremas sepatu kecil Nala yang dibawanya di dalam tas. Ia ingin percaya bahwa putrinya hanya demam biasa. Namun ingatannya terus kembali kepada surat yang datang setelah tiga hari.

“Kenapa baru sekarang mereka mengabari?” suaranya pecah.

dr. Sinta memeriksa botol cairan infus di tas. “Orang desa sering menunggu karena mengira anak akan sembuh sendiri. Jangan salahkan siapa pun dulu. Simpan tenagamu.”

Ketika jip memasuki Girisari, beberapa warga berlari mengikuti. Pak RT berdiri di depan rumah Mbah Inah dan melambaikan tangan.

Laras melompat turun sebelum kendaraan berhenti sempurna.

Di dalam rumah, udara berbau minyak kayu putih dan kain lembap. Mbah Inah duduk di lantai sambil menangis. Di pangkuannya, Nala terbungkus selimut meski tubuhnya basah oleh keringat.

“Nduk, maafkan Mbah,” katanya. “Dia tidak mau minum.”

Laras merebut tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.

Panas Nala menembus kain dan membakar kedua lengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!