Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Usai makan malam, Samuel tidak segera meninggalkan kediaman utama seperti biasanya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memilih bermalam di kamar Miranda.
Keputusan itu membuat wanita tersebut hampir tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
Begitu Samuel memasuki kamar, Miranda segera memanggil Bibi Ratih.
"Siapkan kamar terbaik untuk Sora."
Bibi Ratih mengangguk hormat.
"Baik, Nyonya."
Ia kemudian menghampiri Sora dengan wajah ramah.
"Nona kecil, mari ikut denganku."
Sora tanpa curiga mengikuti langkah wanita tua itu, namun senyum ramah Bibi Ratih menghilang begitu mereka meninggalkan halaman utama.
Begitu tiba di lorong yang sepi, tangan keriput itu tiba-tiba mencubit lengan Sora sekuat tenaga.
"Aduh!" Sora menjerit kesakitan.
"Kenapa mencubitku.."
Belum sempat kalimatnya selesai, telapak tangan Bibi Ratih langsung membekap mulutnya, wanita tua itu menatapnya dengan mata penuh kebencian.
"Diam!"
"Kalau berani bersuara lagi, akan kubuat mulutmu tak bisa bicara seumur hidup."
Sora membelalakkan mata, tubuh kecilnya langsung diangkat begitu saja, lalu dibawa menuju bangunan tua di belakang rumah.
Tak lama kemudian...
Bruk!
Tubuhnya dilempar begitu saja ke lantai gudang kayu yang dingin, debu beterbangan memenuhi udara.
Bibi Ratih berdiri sambil memandang rendah gadis kecil itu.
"Malam ini kau tidur di sini."
"Lihat... banyak kayu bakar. Anggap saja itu selimutmu."
Sora menggigit bibirnya. Rasa sakit akibat benturan membuat matanya memerah.
"Apa kau tidak takut kalau aku mengadu kepada Ayah?"
"Kau hanya seorang pelayan."
"Nanti akan kuberitahu Ayah semua yang kau lakukan!"
Ancaman itu bukannya membuat Bibi Ratih takut, wanita tua tersebut justru tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..."
"Baru sehari menjadi putri keluarga Hartono sudah merasa menjadi nona besar?"
Ia berjalan mendekat lalu mencengkeram dagu Sora dengan kasar.
"Dengar baik-baik."
"Kalaupun aku memukulmu sampai mati malam ini, besok Nyonya hanya perlu mengatakan kepada Tuan bahwa kau meninggal karena sakit."
"Menurutmu... siapa yang akan dipercaya Tuan?"
Sora terdiam, tatapan matanya mulai dipenuhi kebencian.
Bibi Ratih semakin kesal melihat sorot mata itu.
"Gadis sekecil ini sudah berani melawan."
"Kalau dibiarkan besar, pasti akan menjadi duri dalam daging."
Tanpa ampun, ia kembali menendang tubuh mungil Sora beberapa kali.
"Akh..." Sora meringis sambil memeluk perutnya.
Setelah puas, Bibi Ratih berjongkok di hadapannya.
"Besok kalau kau berani membuka mulut di depan Tuan..."
"...ingat baik-baik."
"Nyawamu tidak akan panjang."
Usai mengucapkan ancaman itu, ia kembali menendang Sora dua kali sebelum berjalan keluar, suara kunci menggema di ruangan yang langsung berubah gelap gulita.
Gudang itu dipenuhi tumpukan kayu bakar, tidak ada jendela maupun cahaya, yang terdengar hanyalah suara angin malam yang menyusup melalui celah-celah dinding.
Sora memeluk tubuhnya sendiri. Rasa sakit bercampur dingin membuat tubuh kecilnya terus gemetar.
'Tidak mungkin... Kenapa semuanya berubah seperti ini? Di kehidupan sebelumnya, bukankah yang mengalami semua penderitaan ini adalah Seina? Mengapa sekarang justru dirinya?'
Tatapan Sora dipenuhi kemarahan.
'Besok aku akan mengadu kepada Ayah.. Akan kubuat wanita tua itu menerima hukuman.'
Namun malam terasa begitu panjang akibay dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Tanpa sadar air mata mulai mengalir dari kedua matanya.
"Ibu..." Suara lirih itu menggema di dalam gudang.
Ibu yang dipanggilnya bukanlah Miranda, melainkan Mira, wanita sederhana yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Walaupun hidup mereka miskin, Mira selalu memberikan seluruh cintanya tanpa pernah mengeluh.
Kini Sora mulai menyadari bahwa kemewahan belum tentu menghadirkan kebahagiaan.
cerita nya juga seru