Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Hari Sabtu yang ditunggu akhirnya tiba. Rean berdiri di depan cermin kamarnya, mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda yang dipilihkan Aria semalam, meski masih belum sepenuhnya paham kenapa penampilannya perlu diperhatikan sedetail itu hanya untuk "jalan-jalan biasa".
"Kamu kelihatan rapi banget," puji Aria, mengintip dari pintu kamar sambil menyeringai jahil. "Elora pasti seneng lihatnya."
"Emangnya kenapa harus bikin dia seneng?" tanya Rean polos, masih merapikan kerah kemejanya.
Aria hanya tertawa, menggelengkan kepala tanpa menjelaskan lebih jauh, membiarkan pertanyaan itu menggantung seperti biasa.
Taman kota sore itu dipenuhi dekorasi lampion warna-warni yang mulai dipasang menjelang festival malam nanti, meski pengunjung sudah ramai berdatangan sejak sore untuk menikmati suasana sebelum acara utama dimulai.
"Rean, sini!" Elora melambai dari dekat gerbang masuk taman, mengenakan dress sederhana berwarna krem yang membuatnya terlihat lebih anggun dari biasanya.
"Maaf nunggu lama," Rean menghampirinya, sedikit terengah karena buru-buru.
"Nggak lama, kok," Elora tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedatangan Rean. "Ayo, aku udah cari tahu spot terbaik buat lihat lampionnya nanti malam."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri taman, melewati berbagai stan makanan ringan dan permainan kecil yang tersebar di sepanjang jalan setapak. Rean, yang belum pernah mengunjungi festival semacam ini, terlihat begitu antusias mencoba berbagai hal baru — dari mencicipi jajanan tradisional hingga mencoba permainan lempar cincin di salah satu stan.
"Kamu jago juga," puji Elora kagum, ketika Rean berhasil memenangkan boneka kecil dari permainan lempar cincin setelah beberapa kali percobaan.
"Untung aja," Rean tertawa, menyerahkan boneka kecil itu pada Elora tanpa berpikir panjang. "Ini buat kamu."
Wajah Elora langsung merona menerima hadiah kecil itu, memeluknya erat seolah benda paling berharga yang pernah ia terima. "Makasih, Rean. Aku suka banget."
Mereka melanjutkan perjalanan hingga langit mulai gelap, menandakan festival lampion utama akan segera dimulai. Ribuan lampion kertas mulai diterbangkan bersamaan dari lapangan tengah taman, menciptakan pemandangan menakjubkan yang menerangi langit malam dengan cahaya keemasan lembut.
"Ini indah banget," gumam Rean, mendongak menatap langit yang dipenuhi lampion terbang, matanya berbinar penuh kekaguman.
Elora berdiri di sampingnya, namun perhatiannya justru lebih tertuju pada ekspresi Rean yang begitu tulus menikmati momen itu, dibanding pemandangan lampion di atas mereka sendiri.
"Rean," katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh keramaian di sekitar mereka.
"Ya?" Rean menoleh, masih dengan senyum lebar di wajahnya.
Elora menatapnya lama, kata-kata yang ingin ia sampaikan tertahan di ujung lidah untuk kesekian kalinya. Ia mengulurkan tangannya perlahan, menggenggam tangan Rean yang berdiri di sampingnya.
"Nggak apa-apa," katanya akhirnya, memilih untuk tidak memaksakan kata-kata yang belum saatnya diucapkan. "Aku cuma seneng banget bisa lihat ini bareng kamu."
Rean menatap tangan mereka yang saling bertaut, tidak menariknya menjauh, hanya menerimanya sebagai bentuk kedekatan pertemanan yang wajar baginya. "Aku juga seneng banget, Elora. Makasih udah ajak aku ke sini."
Mereka berdiri berdampingan cukup lama, tangan masih saling menggenggam, menyaksikan ribuan lampion yang terus diterbangkan ke angkasa malam, menciptakan momen yang akan selalu diingat keduanya — meski dengan makna yang, sekali lagi, masih berjalan pada jalur yang berbeda di hati masing-masing.
Festival berakhir larut malam, dan ketika mobil jemputan Rean akhirnya tiba, Elora melepas genggaman tangan mereka dengan berat hati.
"Sampai ketemu di pantai minggu depan," katanya, tersenyum hangat.
"Sampai ketemu," balas Rean, melambaikan tangan sebelum masuk ke mobil, membawa kenangan indah malam itu bersamanya pulang ke rumah.
---
Seminggu kemudian, sesuai rencana yang telah disepakati, Rean dan Elora menghabiskan hari di pantai yang terletak tidak jauh dari kota. Matahari pagi bersinar cerah, menyambut keduanya dengan suasana santai yang jauh berbeda dari keramaian festival lampion minggu sebelumnya.
"Aku belum pernah ke pantai sebelumnya," aku Rean, memperhatikan hamparan pasir putih dan ombak yang bergulung tenang di kejauhan dengan mata berbinar penuh kekaguman.
"Serius?" Elora sedikit terkejut, meski kemudian teringat latar belakang Rean yang memang menghabiskan sebagian besar hidupnya di rumah sakit. "Kalau gitu, hari ini kita coba semua hal seru yang bisa dilakukan di pantai!"
Mereka menghabiskan pagi dengan berjalan menyusuri garis pantai, sesekali mengumpulkan kerang-kerang kecil yang terdampar di pasir. Rean, dengan rasa ingin tahunya yang besar, bertanya tentang berbagai jenis kerang yang mereka temukan, sementara Elora dengan senang hati menjelaskan sebisanya, meski beberapa kali harus mengakui ketidaktahuannya sendiri.
"Kita coba main air, yuk," ajak Elora, berlari kecil menuju tepi ombak yang menggulung lembut.
Rean mengikutinya, awalnya ragu-ragu menyentuh air yang cukup dingin, namun perlahan mulai menikmati sensasi ombak yang menghantam kakinya. Tawa mereka berdua membaur dengan suara deburan ombak, menciptakan momen kebersamaan yang sederhana namun begitu berharga.
"Awas!" seru Elora tiba-tiba, ketika ombak besar tanpa terduga menghantam mereka berdua, membuat keduanya basah kuyup dan hampir terjatuh.
Rean berhasil menjaga keseimbangan, namun Elora sedikit terhuyung, hampir jatuh sebelum Rean sigap menahan tangannya. Mereka berdiri berhadapan sejenak, keduanya basah kuyup namun tertawa lepas menertawakan kejadian tak terduga itu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rean khawatir, masih menggenggam tangan Elora untuk memastikan keseimbangannya.
"Nggak apa-apa," Elora menjawab, meski jantungnya berdebar kencang bukan hanya karena kaget ombak, melainkan juga karena kedekatan jarak mereka saat ini.
Mereka berdua terdiam sejenak, saling menatap dengan napas yang masih sedikit terengah, sebelum akhirnya kembali tertawa bersama, mencairkan suasana canggung yang sempat muncul.
---
Menjelang siang, mereka beristirahat di bawah payung pantai yang telah disewa sebelumnya, menikmati makanan ringan yang dibawa Elora dari rumah.
"Ini enak banget," puji Rean, mencicipi salah satu kue kecil buatan tangan Elora sendiri.
"Aku bikin sendiri semalam," aku Elora, sedikit malu-malu. "Semoga rasanya nggak terlalu aneh."
"Enggak, kok, enak banget," Rean meyakinkan, mengambil satu lagi tanpa ragu.
Elora tersenyum bahagia melihat responsnya, mengingat betapa ia menghabiskan waktu berjam-jam semalam memastikan kue itu sempurna, sebuah usaha kecil yang tidak pernah Rean sadari sepenuhnya di balik kesederhanaannya.
Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan berbagai aktivitas ringan — membangun istana pasir sederhana, mengobrol tentang berbagai hal mulai dari buku favorit hingga rencana masa depan, hingga sekadar duduk diam menikmati suara ombak sambil menyaksikan matahari mulai condong ke barat.
"Hari ini seru banget," kata Rean, menatap langit sore yang mulai berubah warna jingga keemasan.
"Aku juga seneng banget," Elora mengangguk, tersenyum tulus. "Makasih udah mau ngabisin waktu sama aku."
"Harusnya aku yang bilang makasih," Rean membalas. "Berkat kamu, aku jadi bisa ngerasain banyak hal baru yang selama ini cuma bisa aku bayangin."
Elora menatapnya lama, dadanya dipenuhi kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia menggenggam tangan Rean lagi, kali ini tanpa alasan mendadak seperti kejadian ombak sebelumnya, murni karena ingin merasakan kedekatan itu sedikit lebih lama.
Rean tidak menariknya menjauh, membiarkan genggaman itu bertahan sambil mereka berdua menyaksikan matahari terbenam bersama — sebuah penutup hari yang sempurna, meski hanya salah satu dari mereka yang benar-benar memahami betapa berartinya momen itu bagi perjalanan perasaan yang sedang perlahan tumbuh.