NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Kirana tidak bisa tidur.

Raka sudah berbaring di ruang depan. Lampu dimatikan, hanya cahaya dari jalan kecil masuk melalui celah tirai tipis. Biasanya setelah shift panjang, Kirana tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal. Malam ini pikirannya berputar seperti kipas tua yang tidak berhenti berbunyi.

Seorang anak perempuan yang pernah menyelamatkan Raka.

Gelang naga dan burung.

Nadira memilikinya.

Tapi Raka yakin Nadira bukan orang itu.

Kirana memiringkan tubuh, menatap pintu kamar yang tertutup setengah. Dari celahnya ia bisa melihat bayangan Raka di ruang depan. Laki-laki itu berbaring diam, tapi Kirana yakin ia juga belum tidur.

"Raka," panggilnya pelan.

"Hm?"

Benar. Belum tidur.

"Gelang itu penting sekali?"

Ada jeda.

"Iya."

"Kenapa?"

Raka tidak langsung menjawab. "Dulu saya hampir mati."

Kirana duduk.

Raka melanjutkan dengan suara rendah, "Saya masih kecil. Ada kecelakaan. Orang dewasa panik. Anak perempuan itu menarik saya keluar sebelum mobil terbakar. Setelah itu dia menghilang. Yang tertinggal hanya gelang itu."

Kirana mendengar napasnya sendiri.

"Kamu tidak ingat wajahnya?"

"Sedikit. Tapi ingatan anak kecil mudah rusak."

"Lalu kenapa gelangnya ada pada Nadira?"

"Itu yang ingin saya tahu."

Kirana memeluk lutut. "Kamu datang ke rumah Hendra karena itu."

"Iya."

"Jadi kalau semalam tidak ada kejadian hotel, kamu akan tetap menikahi Nadira?"

Pertanyaan itu keluar sebelum ia bisa menahannya.

Raka tidak menjawab cepat.

Diamnya membuat dada Kirana menegang.

"Saya akan mencari kebenaran dulu," katanya akhirnya.

"Itu bukan jawaban."

"Saya tidak pernah ingin menikahi Nadira karena suka."

"Tapi kamu mungkin akan tetap melakukannya."

Raka bangun dan duduk. Dalam gelap, wajahnya hanya setengah terlihat.

"Saat itu saya pikir dia orang yang pernah menyelamatkan saya."

"Kalau benar?"

"Saya akan membayar utang budi saya. Bukan berarti saya akan mencintainya."

Kirana tertawa kecil, pahit. "Laki-laki kaya selalu punya cara rapi untuk menyebut kewajiban."

Raka diam.

Kirana baru sadar kalimatnya terlalu tajam.

"Maaf," katanya pelan.

"Tidak apa-apa."

"Aku hanya... tidak suka merasa jadi pengganti."

Kata itu membuat keduanya diam.

Pengganti.

Seumur hidup Kirana menjadi pengganti hal-hal yang tidak diinginkan Nadira. Baju bekas, perhatian sisa, kesalahan yang harus ditanggung, bahkan sekarang laki-laki yang dulu ingin Nadira buang.

Raka berdiri dan berjalan ke depan kamar. Ia tidak masuk, hanya berhenti di ambang pintu.

"Kamu bukan pengganti."

Kirana menatapnya.

"Awalnya mungkin saya datang karena gelang itu," lanjut Raka. "Tapi saya tetap tinggal di kontrakan ini bukan karena Nadira. Bukan karena gelang. Bukan karena utang masa lalu."

"Lalu karena apa?"

Raka menatapnya lama.

"Karena kamu memberi saya seratus dua puluh ribu untuk makan dua hari dan memarahiku karena membeli rendang."

Kirana terdiam.

Lalu ia melempar bantal kecil dari kasur.

Raka menangkapnya.

"Aku sedang serius."

"Saya juga."

"Jawabanmu aneh."

"Tapi benar."

Kirana menahan senyum yang tidak ingin ia akui. "Tidur. Besok aku kerja pagi."

"Baik."

Raka kembali ke ruang depan.

Namun setelah Kirana berbaring lagi, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Di rumah Hendra, suasana jauh dari ringan.

Bu Ratna membuka kotak perhiasan lama di hadapan Nadira. Kotak itu disimpan di lemari dalam kamar, terkunci sejak dulu. Di dalamnya ada foto-foto lama, surat, dan beberapa perhiasan keluarga.

Nadira berdiri dengan tangan bersedekap.

"Mama bilang gelang itu milik keluarga kita."

Bu Ratna mengambil napas panjang. "Dulu gelang itu ditemukan di barang-barang Kirana."

Nadira menatapnya. "Apa?"

"Saat dia masih kecil. Bu Farida menyerahkan beberapa barang dari rumah lamanya. Ada gelang itu. Mama pikir itu tidak penting, tapi kualitasnya bagus. Kamu suka, jadi Mama berikan padamu."

"Jadi gelang itu milik Kirana?"

"Belum tentu. Bisa saja milik ibunya."

"Mama!" Suara Nadira meninggi.

Bu Ratna menutup kotak. "Jangan panik."

"Bagaimana tidak panik? Kalau Raka mencari pemilik gelang itu dan ternyata..."

"Tidak ada bukti."

"Raka bukan orang bodoh."

Bu Ratna menatap putrinya tajam. "Justru karena dia bukan orang bodoh, kamu jangan bertindak bodoh. Selama gelang itu ada padamu, cerita tetap bisa dikendalikan."

"Tapi kemarin Kirana melihatnya."

"Dia tidak tahu apa-apa."

Nadira menggigit bibir.

"Aku harus ambil Raka kembali."

Bu Ratna menatapnya lama. "Dulu kamu tidak mau."

"Dulu aku tidak tahu."

"Kamu mau laki-laki itu atau mau apa yang mungkin dia punya?"

Nadira diam.

Bu Ratna tertawa pendek. "Setidaknya jujurlah pada Mama."

Nadira menoleh ke cermin. Wajahnya cantik, tapi matanya gelisah.

"Aku tidak mau Kirana menang."

Bu Ratna berdiri dan menyentuh bahu putrinya.

"Kalau begitu jangan menyerang sembarangan. Cari kelemahannya. Kirana sekarang punya pekerjaan, punya Raka, dan mungkin punya perhatian dari Mahendra Group. Kita putus satu per satu."

Nadira mengangguk pelan.

Keesokan harinya, Kirana membawa proposal menu wellness ke Hotel Wijaya. Ia menulisnya sampai lewat tengah malam. Raka membantu merapikan susunan kalimat, meski ia terus mengaku hanya tahu sedikit.

Chef Arman membaca proposal itu tanpa ekspresi.

"Kamu menulis sendiri?"

"Iya, Chef."

"Bagian target pasar juga?"

Kirana teringat Raka. "Dibantu sedikit."

"Oleh siapa?"

"Teman."

Chef Arman tidak mengejar. Ia membuka halaman kedua. "Kamu tidak menjanjikan penyembuhan. Bagus. Hotel tidak boleh menjual klaim medis sembarangan."

"Saya pikir lebih aman begitu."

"Kamu pikir benar."

Ia menutup proposal.

"Siang ini ada tasting kecil. Pak Bima dari Mahendra Group minta tiga menu ini dicoba."

Kirana hampir menjatuhkan pulpen.

"Hari ini?"

"Kamu punya masalah?"

"Tidak, Chef."

"Bagus. Siapkan."

Bowo yang mendengar dari dekat langsung masuk. "Chef, untuk tasting penting, sebaiknya saya dampingi penuh. Kirana masih baru."

Chef Arman menatapnya. "Kamu boleh dampingi. Tapi jangan sentuh rasa tanpa izinnya."

Wajah Bowo berubah.

Kirana tahu siang itu tidak akan mudah.

Benar saja, saat ia menyiapkan kaldu untuk sup rempah, garam di wadah kecilnya sudah tercampur gula. Jika ia tidak mencicip sebelum memasukkan, satu panci bisa rusak. Ia mengganti wadah tanpa ribut.

Saat ia mengambil kunyit untuk minuman, beberapa bagian sudah diganti kunyit tua yang pahit. Ia memilih ulang.

Saat nasi tim hampir matang, api kompor tiba-tiba dikecilkan seseorang.

Kirana menatap Bowo yang pura-pura sibuk memeriksa stok.

Ia tidak menuduh.

Ia hanya bekerja lebih hati-hati.

Tasting berlangsung di ruang kecil. Bima hadir dengan Pak Dimas, Chef Arman, dan dua orang manajemen hotel. Kirana menyajikan tiga menu: sup rempah hangat, nasi tim ayam herbal dengan jamur, dan kunyit asam sparkling.

Bima mencicipi perlahan.

"Ini bisa masuk paket spa dan recovery guest," katanya.

Pak Dimas langsung terlihat tertarik.

Manajemen hotel bertanya soal bahan, biaya, dan konsistensi produksi. Kirana menjawab satu per satu. Tidak semua sempurna, tapi ia tahu bahan yang ia gunakan.

Bima menatapnya. "Kamu siap jika menu ini diuji untuk tamu VIP minggu depan?"

Kirana menahan kegugupan. "Siap, Pak."

"Baik. Kami tunggu."

Setelah pertemuan selesai, Chef Arman berkata, "Kerja bagus."

Dua kata.

Cukup membuat Bowo makin tidak bisa menyembunyikan wajahnya.

Sore itu, ketika Kirana hendak pulang, ia menemukan seragam cadangannya di loker basah kuyup. Air sabun menetes dari kain. Di dalam loker juga ada kertas kecil.

Jangan mimpi terlalu tinggi.

Lala yang melihat langsung marah. "Mbak, ini keterlaluan. Lapor HR."

Kirana mengambil kertas itu, meremasnya, lalu memasukkan seragam basah ke kantong plastik.

"Belum."

"Kenapa belum?"

"Karena orang seperti ini harus dibiarkan merasa aman dulu."

Lala menatapnya dengan mata membesar.

Kirana tersenyum tipis. "Supaya saat jatuh, dia tidak sempat pegangan."

Di kontrakan, Raka menunggu dengan ekspresi yang langsung berubah saat melihat kantong plastik basah.

"Apa itu?"

"Seragam cadangan."

"Kenapa basah?"

"Ada yang terlalu kreatif di loker."

Raka mengambil kantong itu, membuka sedikit, lalu menutup kembali. Wajahnya dingin.

"Siapa?"

"Belum tahu."

"Kirana."

"Aku bilang belum tahu."

"Tapi kamu punya dugaan."

"Punya."

"Nama."

Kirana menatapnya. "Raka, jangan."

"Saya belum melakukan apa-apa."

"Matamu sudah."

Raka diam.

Kirana mengambil kantong dari tangannya. "Aku akan urus dengan caraku. Kalau kamu ikut campur tanpa bilang, aku akan marah."

"Baik."

"Janji."

Raka menatapnya lama. "Saya janji tidak melakukan apa pun yang terlihat."

"Itu bukan janji."

"Itu versi yang bisa saya tepati."

Kirana ingin memarahinya, tapi ponselnya berdering.

Laras.

Suaranya panik.

"Ki, Danu belum balikin uang. Malah dia bilang kalau aku lapor, dia akan sebar foto-foto lama kami. Aku harus bagaimana?"

Kirana memejamkan mata.

Masalah tidak pernah datang satu-satu.

Raka mendengar sebagian dari suara Laras karena ruangan mereka terlalu kecil.

Kirana berkata pelan, "Datang ke sini. Kita bicarakan."

Setelah panggilan terputus, Raka mengambil jaket.

"Saya ikut."

"Ke mana?"

"Ke tempat Danu."

"Kita belum tahu alamatnya."

"Saya bisa cari."

Kirana menatapnya.

"Dengan bantuan Bima?"

Raka menjawab tanpa malu, "Dia banyak fungsi."

Kirana menahan napas, lalu mengambil tas.

"Kita tunggu Laras dulu."

Namun dalam hatinya ia tahu, malam itu tidak akan berakhir dengan tenang.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!