"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031: Pusaka atau Palsu
"Tiga juri, tiga benda, satu pertanyaan."
Host program itu tersenyum ke kamera.
"Pusaka... atau palsu?"
Lampu studio menyala penuh.
Tepuk tangan penonton naik seperti gelombang yang sudah dilatih. Bayu duduk di kursi juri paling kanan. Di sebelahnya ada dua penilai senior: Pak Darma, kurator swasta yang sering muncul di acara lelang, dan Bu Laksmi, kolektor keramik tua dengan suara lembut tetapi mata tajam.
Sebelum kamera menyala, Pak Darma sempat menatap Bayu dari ujung sepatu sampai wajah.
"Anak muda sekarang cepat sekali masuk televisi."
Bayu hanya merapikan kertas penilaian.
"Televisi yang mengundang, Pak."
Bu Laksmi tersenyum kecil. "Jawaban yang aman."
"Saya lebih suka jawaban yang bisa diperiksa."
Di ruang kontrol, Mbak Rina melihat monitor. Ia belum tahu apakah kalimat itu akan membuat rating naik atau membuat tim legal bekerja lembur.
Barang pertama dibawa masuk: sebuah keris pendek dengan warangka sederhana.
Pak Darma memberi penilaian panjang tentang pamor dan usia. Bu Laksmi menyetujui sebagian. Bayu menunggu giliran.
"Keris ini asli, tetapi bukan setua klaim pemilik," katanya.
Host langsung mendekat. "Kenapa, Mas Bayu?"
Bayu menunjuk bagian ganja dan bekas tempa.
"Lihat lapisan korosi di sela ini. Tua, tapi tidak konsisten dengan klaim abad ke-16. Bentuk luk juga mengikuti gaya pesisir akhir abad ke-19. Nilainya tetap ada, hanya cerita penjualnya terlalu jauh."
Pemilik keris, seorang pria paruh baya, menghela napas lega setelah kecurigaannya mendapat penjelasan.
Bu Laksmi menatap Bayu lebih lama.
Barang kedua adalah kotak perak VOC kecil.
Pak Darma menyebutnya replika kolonial modern. Bu Laksmi ragu karena patina tampak terlalu bersih. Bayu meminta lampu miring dan kaca pembesar.
Mata kirinya menghangat sebentar, cukup untuk melihat sambungan dalam dan goresan tangan di bawah engsel.
"Asli periode akhir Hindia Belanda," kata Bayu. "Tapi tutupnya pernah diganti. Bagian badan tua, bagian tutup lebih muda sekitar puluhan tahun."
Host membuka amplop hasil pemeriksaan awal tim properti.
"Catatan dari pemilik keluarga menyebut tutupnya memang hilang saat banjir tahun 1970-an dan dibuat ulang oleh pengrajin perak Kotagede."
Penonton bertepuk tangan.
Pak Darma mulai berhenti tersenyum.
Barang ketiga masuk dengan pengawalan paling banyak.
Seorang aktor terkenal, Arga Mahendra, berdiri di samping meja dengan gaya orang yang terbiasa dicintai kamera. Ia membawa vas porselen tinggi, warna dasar putih, lukisan bunga merah muda dan burung kecil. Di layar belakang muncul tulisan:
`Vas famille rose awal abad ke-20. Harga pembelian: Rp6 miliar.`
"Saya beli dari jalur private sale," kata Arga. "Penjualnya sangat terpercaya. Ada dokumen impor dan riwayat koleksi."
Bayu melihat vas itu.
Ia sudah melihatnya kemarin lewat kain.
Namun di depan kamera, ia memulai dari awal.
Pak Darma berbicara dulu. "Komposisi warna baik. Bentuk mulut dan kaki sesuai. Menurut saya asli, nilai bisa naik jika provenance lengkap."
Bu Laksmi memutar vas dengan hati-hati.
"Saya melihat beberapa hal modern, tetapi tidak cukup untuk menolak. Dengan dokumen seperti ini, saya condong asli."
Host menoleh ke Bayu.
"Mas Bayu?"
Studio terasa mengecil.
Bayu tidak langsung bicara.
Tiga detik berlalu.
Arga tersenyum sedikit, seolah jeda itu tanda gugup.
Bayu mengangkat mata.
"Palsu."
Suara studio hilang.
Seorang penonton menutup mulut. Pak Darma menoleh tajam. Arga berkedip, senyumnya membeku di tempat.
"Maaf?" tanya host.
"Vas ini palsu. Modern. Dibuat untuk terlihat seperti porselen awal abad ke-20."
Pak Darma meletakkan pena. "Mas Bayu, hati-hati. Ini menyangkut reputasi pemilik dan penjual."
"Karena itu saya akan jelaskan alasan saya."
Bayu meminta kamera close-up ke permukaan glasir. Mbak Rina di ruang kontrol langsung memberi aba-aba.
"Ambil detail. Jangan potong."
Di layar besar, permukaan vas tampak seperti dunia kecil.
"Pertama, gelembung pada glasir terlalu seragam. Pembakaran tradisional menghasilkan variasi yang jauh lebih acak. Pola ini mengarah ke tungku listrik modern."
Ia menunjuk bagian dasar.
"Kedua, tanda dasar terlihat seperti sapuan kuas, tetapi di beberapa ujung ada putus berulang yang identik. Itu tanda transfer print yang disamarkan."
Bayu membuka salinan dokumen.
"Ketiga, dokumen impor menyebut vas ini keluar dari koleksi pribadi Singapura tahun lalu. Tetapi nomor arsip yang dipakai di halaman kedua baru dibuat dua bulan setelah tanggal ekspor. Urutan waktunya tidak mungkin."
Bu Laksmi mengambil dokumen itu. Wajahnya berubah.
Pak Darma masih bertahan. "Bisa saja kesalahan administrasi."
"Satu kesalahan bisa administrasi. Tiga lapisan kesalahan pada benda yang sama adalah pola."
Arga menelan ludah.
"Saya beli dari orang besar. Ini tidak mungkin."
"Orang besar juga bisa menjual barang kecil yang palsu," kata Bayu.
Rina memejamkan mata sebentar di ruang kontrol.
Kalimat itu akan meledak.
Host, dengan insting televisi yang tajam, bertanya, "Apakah kita punya cara memastikan?"
Mbak Rina menjawab lewat interkom. "Pakai segmen cadangan. Alat spektrum."
Tim membawa alat portabel yang sudah disiapkan untuk uji material sederhana. Seorang teknisi independen memeriksa kobalt pada pigmen biru dan komposisi glasir. Hasilnya keluar di layar dalam bentuk grafik.
Modern.
Tidak cocok dengan klaim periode.
Selama tiga detik, tidak ada yang bertepuk tangan.
Lalu satu orang berdiri.
Disusul yang lain.
Studio pecah.
Bu Laksmi mengangguk kepada Bayu. "Saya menarik penilaian saya. Anak muda, alasanmu bersih."
Pak Darma menatap vas itu, lalu menunduk sedikit.
"Saya juga menarik pernyataan tadi."
Arga tidak ikut tepuk tangan. Wajahnya pucat.
"Saya tidak tahu. Barang itu saya beli lewat private sale di Jakarta, dari bagian private sale sebuah balai lelang besar."
Host menangkap kata itu.
"Balai lelang apa?"
Arga melihat kamera, lalu ragu.
"Saya tidak mau menyebut sebelum bicara dengan kuasa hukum."
Di belakang kamera, Mbak Rina berdiri kaku. Ia melihat map asal barang, lalu menatap Bayu dari balik kaca ruang kontrol.
Bibirnya bergerak tanpa suara.
Mahkota.
Rekaman belum selesai, tetapi studio sudah bocor ke dunia luar. Seorang penonton mengunggah potongan pendek saat Bayu mengatakan `Palsu`. Dalam dua puluh menit, tagar #MataEmas naik di X dan TikTok. Dalam satu jam, ponsel Bayu bergetar tanpa henti.
Pesan dari Hendra masuk paling atas.
`YU. KOEN NGEGAS DI TV NASIONAL. AKU ORA ISO TURU.`
Bayu tidak sempat membalas.
Setelah rekaman selesai, Arga mendekatinya di koridor.
"Mas Bayu, kalau saya mau cek semua dokumen pembelian, bisa?"
"Bisa. Tapi lewat kuasa hukum dan jalur resmi. Jangan kirim ke saya tanpa pencatatan."
Arga mengangguk kosong.
Malam itu, di sisi lain Jakarta, sebuah kantor kecil tanpa papan nama memutar ulang video bocoran.
Seorang perempuan berambut pendek menatap layar.
Video berhenti tepat saat Bayu mengucapkan satu kata.
Palsu.
Jarinya mengetuk meja sekali.
Lama.
Sangat lama.