NovelToon NovelToon
Sukses Setelah Kau Campakkan

Sukses Setelah Kau Campakkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Pengganti
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."

"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.

"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"

Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.

Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desain Sempurna

***

"Rayyan... semua makanan ini Kakak yang memasak?"

Zia mengusap matanya yang masih agak sembab setelah terbangun dari tidur ayamnya di sofa ruang tengah. Jam dinding digital di sudut ruangan telah menunjukkan pukul delapan malam. Aroma gurih kaldu ayam, panggangan daging dengan bumbu rosemari, dan tumis sayuran segar menguar kuat di udara, membangkitkan selera makannya yang sempat hilang akibat kelelahan.

Rayyan, yang kini hanya mengenakan kaus polo santai berwarna abu-abu dengan celemek hitam yang masih terikat di pinggangnya, menoleh dari arah meja makan. Dia sedang menata piring-piring porselen dengan rapi.

"Bibi Maria sudah pulang sejak jam enam sore tadi setelah memastikan Sabrina minum susu," jawab Rayyan dengan senyum hangatnya yang khas.

Dia melepaskan celemeknya lalu menggantungnya di dekat dapur bersih.

"Aku lihat kamu tidur nyenyak sekali di sofa, jadi aku putuskan untuk turun ke dapur. Lagipula, mengolah daging panggang seperti ini adalah salah satu caraku untuk melepas stres setelah seharian mengurus angka-angka di kantor,"

Zia berjalan mendekati meja makan, menatap deretan menu yang tersaji estetis di atas meja mewah tersebut.

"Sabrina bagaimana, Ray?"

"Sudah tidur lelap di boksnya setelah kuhujani minyak telon. Jangan khawatir, bayimu sangat tenang malam ini," Rayyan menarik salah satu kursi kayu, memberi isyarat agar Zia segera duduk.

"Ayo makan. Ibu menyusui tidak boleh telat makan, atau kualitas asinya bisa menurun,"

Malam itu, di bawah temaram lampu gantung ruang makan yang hangat, mereka menikmati makan malam bersama dalam keheningan yang intim. Suara denting sendok dan garpu beradu dengan rintik hujan tipis yang mulai membasahi kaca jendela luar.

Setelah makan malam selesai dan semua piring kotor dibersihkan, Rayyan tidak langsung pulang. Pria itu menyusul Zia ke ruang kerja setapak di sebelah taman, membawa dua cangkir minuman hangat, susu almond untuk Zia dan kopi hitam tanpa gula untuk dirinya sendiri.

Rayyan menarik sebuah kursi tunggal, lalu duduk menemani Zia yang sudah kembali memandangi kertas sketsa kosongnya di bawah lampu meja yang terang.

Zia menerima cangkir susu hangat itu, menyesapnya sedikit, lalu menoleh memandangi profil samping wajah Rayyan yang tampak tegas namun tenang. Sebuah pertanyaan yang sudah lama bersarang di kepalanya tiba-tiba meluncur begitu saja.

"Ray... boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu. Tanya apa saja, Zia," jawab Rayyan, pandangannya beralih dari ponsel kerjanya sepenuhnya kepada wanita di hadapannya.

"Bagaimana dulu... Kamu bisa terjerumus ke dunia fashion?" Zia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Rayyan penasaran.

"Maksudku, biasanya laki-laki dengan latar belakang pendidikan bisnis seperti kamu lebih suka mengurus properti, saham, atau industri manufaktur yang besar. Tapi kamu justru membangun imperium butik mode yang sangat kuat di Singapura,"

Rayyan terkekeh pelan, suara baritonnya terdengar renyah di dalam ruangan yang sunyi. Dia menyesap kopi hitamnya sebelum melemparkan pandangannya jauh menerawang ke jendela kaca.

"Pertanyaan yang bagus," ujar Rayyan, menyunggingkan senyum tipis.

"Sebenarnya, ini semua bermula dari Mamaku. Dulu, Mamaku adalah seorang penjahit rumahan biasa di pinggiran kota. Sejak kecil, aku tumbuh di antara tumpukan kain perca, suara bising mesin jahit kayuh, dan aroma kapur kain. Aku melihat bagaimana Mamaku bekerja belasan jam sehari hanya untuk membuat satu gaun pengantin pesanan orang, demi bisa membiayai sekolahku,"

Zia mendengarkan dengan saksama, matanya tidak berkedip. Ada rasa kagum yang tumbuh di hatinya mendengar latar belakang pria yang kini menjadi salah satu miliarder muda di Singapura ini.

"Dari sana, aku sadar satu hal," Rayyan melanjutkan, tatapannya melembut.

"Dunia fashion itu bukan cuma tentang baju yang indah atau model yang berjalan di atas runway. Bagi Mamaku, dan bagi orang-orang seperti kamu dan Mbak Amara, kain dan benang adalah cara kalian bicara pada dunia. Ada peluh, ada air mata, dan ada harapan di setiap jahitannya. Saat aku kuliah bisnis di London, aku bersumpah pada diriku sendiri,  aku tidak mau menjadi desainer karena aku tidak punya bakat menggambar. Tapi, aku akan menjadi jembatan yang membawa karya-karya indah dari desainer berbakat agar bisa dihargai tinggi di tingkat dunia. Aku ingin membangun panggungnya,"

"Dan kamu berhasil melakukannya dengan sangat luar biasa," bisik Zia tulus.

Rayyan menatap Zia dalam-dalam.

"Aku belum selesai, Zia. Panggung terbesarku... adalah membawa kamu ke Paris nanti.,"

Zia tersenyum haru, buru-buru memalingkan wajahnya ke arah kertas gambar untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya. Untuk mengalihkan pembicaraan, dia kembali bertanya.

"Lalu... kenapa sampai sekarang kenapa kamu belum juga menikah? Di usia kamu yang sudah sangat mapan, dengan wajah seperti ini, aku yakin ada antrean panjang wanita di Singapura yang mendambakanmu,"

Rayyan terdiam sesaat. Dia memandangi jemari tangan Zia, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kedewasaan sekaligus keteguhan hati.

"Menikah itu bukan tentang target usia atau status sosial, Zia," jawab Rayyan dengan nada suara yang merendah, terdengar sangat intim.

"Bagiku, pernikahan adalah tentang menemukan seseorang yang ingin kujaga seluruh hidupnya. Seseorang yang kehadirannya membuatku merasa bahwa semua kerja kerasku di luar sana memiliki arti. Aku belum menikah... karena aku baru menemukan wanita itu baru-baru ini. Dan aku bersedia menunggu sampai dia benar-benar siap membuka hatinya untukku,"

Zia menelan ludah. Dia tahu persis siapa wanita yang dimaksud oleh Rayyan. Namun, bayang-bayang kegagalan masa lalunya dengan Alfa masih menjadi dinding es yang tebal di hatinya.

Zia hanya bisa terdiam, berpura-pura sibuk menggoreskan pensilnya di atas kertas untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak berdegup lebih kencang.

Waktu terus merambat naik. Jarum jam kini telah melewati angka sebelas malam. Keheningan malam semakin pekat, hanya menyisakan suara embusan angin musim hujan yang menerpa dinding kaca studio.

Zia terus memaksakan jemarinya bergerak di atas kertas gambar. Matanya sudah mulai berair, dan dia sudah berulang kali menguap lebar karena kantuk yang teramat sangat yang menyerang tubuhnya pasca-menyusui.

"Zia, sudah tengah malam. Tidurlah. Kamu bisa melanjutkannya besok pagi," tegur Rayyan yang masih setia duduk di sampingnya, meletakkan cangkir kopi kosongnya ke atas meja.

"Sedikit lagi, Ray... aku tanggung. Aku merasa garis desain yang kamu maksud tadi sore sudah mulai ketemu di kepalaku," tolak Zia dengan kepala yang keras, matanya setengah terpejam namun tangannya tetap memegang pensil dengan kaku.

"Kamu sudah menguap lima kali dalam sepuluh menit terakhir, Zia. Tubuhmu butuh istirahat, kamu baru saja melahirkan beberapa minggu lalu," Rayyan mencoba menarik pensil dari jemari Zia, namun Zia menahannya dengan gigih.

"Nggak mau, Ray. Kalau aku tidur sekarang, idenya pasti hilang besok pagi. Tolong biarkan aku menyelesaikan sketsa dasar ini saja," pinta Zia dengan suara parau khas orang mengantuk.

Melihat keras kepala wanita itu, Rayyan hanya bisa mengembuskan napas pasrah, tidak tega untuk memaksanya lebih jauh. Dia bergeser lebih dekat, menumpu kedua lengannya di atas meja gambar, memperhatikan coretan tangan Zia dari jarak yang sangat dekat.

Beberapa menit kemudian, Zia meletakkan pensilnya dengan helaan napas panjang.

"Nah, selesai. Bagaimana menurut kamu?"

Zia menunjukkan hasil gambarnya kepada Rayyan. Itu adalah sebuah sketsa gaun malam dengan siluet yang terinspirasi dari lekukan kelopak bunga mawar putih yang mekar di musim dingin.

Potongannya sangat berani di bagian pundak, namun memiliki draperi kain yang mengalir lembut di bagian bawahnya.

Rayyan mendekatkan wajahnya pada kertas gambar itu, mengamatinya dengan saksama selama beberapa saat. Matanya menyipit, menganalisis struktur garis yang dibuat oleh Zia.

"Ini jauh lebih hidup daripada tiga gambar tadi sore, Zia," puji Rayyan, membuat mata Zia seketika berbinar cerah.

"Sentuhan emosinya sudah keluar. Potongan kelopak ini menggambarkan kerapuhan sekaligus kekuatan yang indah,"

"Benarkah, Ray?"

"Iya. Tapi, coba lihat di bagian pinggang ke bawah ini," Rayyan mengambil sebuah pensil mekanik, lalu dengan sangat hati-hati menarik beberapa garis tipis baru di atas sketsa milik Zia.

"Draperi kain di bagian sini terlalu menumpuk. Jika diaplikasikan pada kain sutra organza asli nanti, jatuhnya kain akan terlihat terlalu berat dan bisa menenggelamkan postur tubuh si pemakai. Coba potong polanya sedikit lebih tinggi di bagian asimetris ini, lalu biarkan sisa kainnya menjuntai bebas seperti ekor yang melayang,"

Zia memperhatikan revisi kecil yang diberikan oleh Rayyan. Matanya melebar sempurna saat menyadari bahwa koreksi dari pria itu justru membuat gaun tersebut terlihat sepuluh kali lipat lebih elegan dan memiliki sentuhan magis khas high fashion Paris.

"Wah... Kamu benar! Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu ya?" seru Zia bersemangat, kantuknya mendadak menguap entah ke mana.

Dengan cekatan, Zia mengambil penghapus kain, membersihkan bagian yang salah, lalu dengan cepat memperbaiki garis jahitannya mengikuti arahan dari Rayyan. Tangannya menari dengan lincah di atas kertas selama lima belas menit berikutnya.

"Nah! Sekarang lihat ini, Ray!" Zia mengangkat kertas gambarnya dengan wajah berseri-seri penuh kepuasan.

Gaun itu kini terlihat sempurna. Sebuah mahakarya yang memadukan keindahan teknik potongan modern dengan kedalaman rasa dari seorang wanita yang telah melahirkan kehidupan baru di tengah badai. Sebuah gaun yang tidak hanya indah dipandang, tapi memiliki jiwa seorang Zia Anastasia di dalamnya.

Rayyan menatap hasil akhir gambar tersebut, lalu perlahan tatapannya beralih pada wajah manis Zia yang sedang tersenyum bangga di bawah sorot lampu studio. Dada Rayyan berdesir hebat melihat binar kebahagiaan murni yang akhirnya kembali menghiasi wajah wanita yang dicintainya itu.

"Sempurna, Zia," bisik Rayyan dengan suara rendah yang sarat akan kekaguman.

"Ini adalah gambar terbaik yang pernah kamu buat sepanjang kariermu. Gaun ini... akan menjadi bintang utama kita di Paris Fashion Week nanti,"

Zia memeluk kertas sketsa itu di dadanya dengan mata yang berkaca-kaca karena lega.

"Terima kasih, Rayyan. Tanpa revisi dan dukungan darimu, aku tidak akan pernah bisa menghasilkan karya sejujur ini,"

"Sama-sama, Desainerku," Rayyan berdiri dari kursinya, mengusap puncak kepala Zia dengan sangat lembut sebelum berjalan menuju pintu keluar.

"Sekarang, tidak ada alasan lagi. Masuk ke kamar dan tidurlah. Tugas pertamamu untuk menaklukkan Paris sudah selesai malam ini. Sisanya kita sambung besok,"

1
Lisa
Sukses y utk rencananya Rayyan..
indah
next bun......seruuuu....ini bun....
yuni ati
Semakin menarik👍
yuni ati
Menarik/Good/
Lisa
Sukses y Zia di acara Paris Fashion Week nanti
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!