Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Malam yang dingin itu perlahan berubah menjadi malam yang paling indah dalam hidup Bram. Pengaruh sihir dari anggur merah misterius itu telah benar-benar mengunci kesadaran dan logikanya. Di dalam kamar tamu yang remang-remang, Bram melewatkan jam demi jam bersama wanita cantik bergaun merah marun tersebut.
Semua ingatan menyeramkan tentang teror pagi hari tentang potongan daging manusia di mangkuk soto dan bayangan hantu yang menakutkan ,kini hilang tak berbekas dari kepalanya. Suasana mencekam yang menyelimuti rumah besar itu kini tertutup rapat oleh gelombang gairah yang membakar tubuh Bram. Malam itu, kamar tamu yang sunyi tidak lagi dipenuhi oleh suara garukan kuku yang mengerikan atau detak jantung ketakutan, melainkan dipenuhi oleh suara desahan kenikmatan dan kepuasan yang saling bersahutan.
Bram benar-benar tenggelam dalam pesona wanita itu. Setiap sentuhan tangan wanita itu yang sedingin es justru terasa seperti candu yang membuatnya tidak ingin menjauh. Wanita misterius itu membelai rambut Bram dengan sangat lembut, menatapnya dengan pandangan mata yang begitu dalam dan mengikat.
Di tengah keheningan malam yang larut, wanita itu mendekatkan bibir merahnya ke telinga Bram. Napasnya yang sedingin angin malam berembus pelan, disusul oleh sebuah bisikan yang sangat halus namun terdengar begitu nyata di dalam kepala Bram.
...Jadilah pendampingku, Bram... Tetaplah bersamaku di sini...
Bisikan itu terdengar seperti sebuah janji manis yang tidak bisa ditolak. Tanpa berpikir panjang, Bram yang sudah kehilangan akal sehatnya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia menyerahkan seluruh jiwa dan raganya ke dalam pelukan sosok jelita tersebut, merasa bahwa inilah puncak kebahagiaan tertinggi yang pernah ia rasakan, tanpa menyadari bahwa ia sedang melangkah masuk ke dalam perangkap kematian.
Waktu terus berputar tanpa memedulikan manusia yang sedang terbuai. Malam yang gelap perlahan berganti menjadi pagi yang cerah. Cahaya matahari pagi mulai bersinar terang, menembus kaca jendela dan menerangi halaman rumah Adista yang luas. Burung-burung kembali berkicau, menandakan aktivitas hari yang baru telah dimulai.
Namun, di dalam kamar tamu, Bram masih belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Ia masih tertidur sangat lelap di atas ranjangnya. Tubuhnya terasa begitu berat karena kelelahan setelah melewati malam yang panjang dan penuh gairah di bawah pengaruh sihir.
Di luar kamar, Adista sudah rapi dengan pakaian kerjanya seperti biasa. Ia berjalan menyusuri koridor rumah menuju ke arah dapur. Sambil melangkah, Adista melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
"Bram belum bangun juga?" gumam Adista dalam hati, merasa sedikit heran. Biasanya, sepupunya itu adalah orang yang bangun pagi dan selalu bersiap-siap tepat waktu.
Merasa khawatir dengan kondisi Bram yang kemarin sempat berhalusinasi parah karena stres, Adista memutuskan untuk berbalik arah. Ia melangkah menuju kamar tamu dengan niat untuk membangunkan sepupunya agar tidak kesiangan dan melewatkan waktu sarapan.
Adista berdiri di depan pintu kamar tamu. Ia mengetuk pintu kayu itu beberapa kali dengan pelan.
TOK... TOK... TOK...
"Bram? Sudah pagi. Ayo bangun, kita sarapan dulu," panggil Adista dari luar.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Suasana di dalam tetap hening. Karena merasa cemas terjadi sesuatu yang buruk pada sepupunya, Adista perlahan mengulurkan tangan dan memutar gagang pintu. Pintu kamar tamu itu ternyata tidak dikunci dari dalam seperti malam sebelumnya. Pintu itu terbuka dengan suara derit halus.
Adista melangkah masuk satu langkah ke dalam ambang pintu. Kamar itu tampak remang-remang karena gordennya masih tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari pagi. Pandangan mata Adista langsung tertuju pada ranjang tempat tidur, di mana Bram tampak sedang mendengkur halus, tertidur dengan posisi telentang dan selimut yang berantakan.
Adista hendak melangkah lebih dekat untuk menggoyang bahu Bram. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti ketika matanya menangkap sesuatu di atas meja kecil di samping tempat tidur Bram.
Di atas meja tersebut, terdapat sebuah botol kaca berkilau dan dua buah gelas . Di dalam salah satu gelas, masih tersisa sedikit cairan berwarna merah pekat yang tampak seperti bekas minuman anggur. Aroma harum yang manis dan tidak asing,seperti perpaduan wangi bunga mawar masih samar-samar tercium di udara kamar tersebut.
Adista tertegun menatap pemandangan itu. Pikirannya langsung berspekulasi sendiri.
"Ah... ternyata dia minum anggur semalam," batin Adista dalam hati.
Adista menduga bahwa Bram sengaja meminum anggur itu sendirian di dalam kamar untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau dan stres berat sejak kemarin. Ia berpikir mungkin rasa frustrasi karena duka dan halusinasi mengerikan tadi pagi membuat Bram kesulitan tidur, sehingga sepupunya itu terpaksa mencari pelarian dengan minum hingga mabuk dan tertidur lelap.
Melihat pemandangan gelas bekas minuman itu, Adista seketika mengurungkan niatnya untuk membangunkan Bram. Ada rasa iba di hatinya. Ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat sepupunya yang tampaknya baru bisa mendapatkan ketenangan setelah melewati hari-hari yang berat.
"Mungkin dia memang terlalu lelah dengan pikiran-pikirannya sendiri. Biarlah dia tidur lebih lama hari ini," pikir Adista sambil tersenyum maklum.
Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara bising, Adista memundurkan langkahnya keluar dari kamar tamu. Ia menarik daun pintu kayu itu dengan hati-hati hingga kembali tertutup rapat, membiarkan Bram tetap terlelap di dalam dunianya.
Adista berjalan kembali ke arah pintu depan untuk berangkat ke kantor sendirian. Ia merasa lega karena setidaknya Bram tidak lagi berteriak ketakutan seperti kemarin pagi. Namun, yang tidak diketahui oleh Adista adalah, gelas adengan cairan merah di kamar tamu itu sama sekali bukan berisi anggur biasa . Dan wanita yang semalam memeluk sepupunya bukanlah manusia hidup, melainkan makhluk yang sedang perlahan-lahan menyedot sisa kehidupan dari dalam tubuh Bram yang kini sudah sepenuhnya tak berdaya.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya