NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu

Pertempuran di celah gunung itu berakhir secepat badai yang datang menghantamnya. Sisa-sisa pembunuh bayaran yang masih hidup memilih untuk menenggak racun yang disembunyikan di balik gigi mereka ketimbang harus diinterogasi oleh sang Panglima Serigala.

Karena kereta kuda milik Oakhaven telah hancur dan separuhnya hangus terbakar, Aurelia terpaksa melanjutkan sisa perjalanan dengan menunggangi kuda hitam besar milik Cassian, duduk di depan pria itu sementara Cassian mengendalikan tali kekang dari belakang. Dekapan dada bidang Cassian di punggungnya memberikan kehangatan yang asing sekaligus mengintimidasi sepanjang sisa jalur pendakian yang membeku.

Ketika malam benar-benar jatuh dan badai salju semakin mengamuk, barisan prajurit itu akhirnya tiba di sebuah benteng pertahanan kuno yang kokoh. Benteng Ironclad—pos perbatasan pertama Kerajaan Valenica. Dinding-dinding batunya yang hitam dan tebal tampak seperti raksasa yang menjaga gerbang Utara.

"Turunlah, Putri," suara berat Cassian memecah keheningan saat mereka memasuki pelataran dalam benteng.

Cassian melompat turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Aurelia. Tubuh Aurelia sudah begitu kaku karena kedinginan; kakinya nyaris mati rasa saat menyentuh lantai batu yang dilapisi es tipis. Jika Cassian tidak sigap menahan pinggangnya, ia pasti sudah jatuh tersungkur.

"Terima kasih," bisik Aurelia, napasnya membentuk kabut putih yang tebal di udara.

Cassian tidak menjawab, melainkan langsung melepaskan jubah berbulu hitam miliknya sendiri dan menyampirkan jubah itu ke bahu Aurelia, membungkus tubuh mungil sang Putri hingga tenggelam dalam kehangatan sisa tubuhnya. "Bawa Putri Aurelia ke kamar utama. Nyalakan perapian terbesar yang kita miliki," perintah Cassian pada komandan benteng yang menyambut mereka dengan hormat yang mendalam.

Kamar utama di Benteng Ironclad jauh dari kesan mewah seperti menara kaca Aurelia di Oakhaven. Ruangan itu luas, namun didominasi oleh perabotan kayu ek hitam yang fungsional, dinding batu telanjang, dan sebuah ranjang besar yang dilapisi kulit beruang. Namun, begitu api di perapian besar menyala dan menjilat sekat-sekat kayu, kehangatan segera merayap, mengusir rasa ngilu di persendian Aurelia.

Seorang pelayan tua mengantarkan secangkir teh herbal panas yang beraroma rempah kuat dan sedikit pahit. Aurelia duduk di kursi dekat perapian, menyesap minuman itu perlahan sembari menatap ke luar jendela yang memperlihatkan kegelapan total badai salju di luar sana.

Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Cassian masuk, kini telah menanggalkan zirah ringannya dan hanya mengenakan kemeja longgar berwarna kelabu. Di tangannya, ia membawa sebuah mangkuk perak berisi salep herbal berwarna hijau tua.

"Kau terluka?" tanya Aurelia, sedikit terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba.

"Bukan aku, tapi kau," jawab Cassian datar. Ia berjalan mendekat lalu berlutut di satu lutut di hadapan kursi Aurelia. Tanpa meminta izin, ia meraih tangan kanan Aurelia dan membalik telapak tangannya ke atas.

Aurelia meringis kecil. Baru sekarang ia menyadari bahwa telapak tangannya melepuh dan tergores cukup dalam akibat pecahan besi lentera yang digunakannya untuk memukul penyerang di kereta tadi. Darah kering menempel di sela-sela jarinya.

"Kau bisa saja memanggil pelayan untuk melakukan ini, Pangeran," ujar Aurelia, mencoba menarik tangannya kembali karena merasa tidak nyaman dengan keintiman yang mendadak ini.

Namun, cengkeraman jemari Cassian di pergelangan tangannya sangat kuat, meski gerakannya saat mengoleskan salep herbal itu terasa luar biasa lembut. "Di Utara, seorang pemimpin tidak membiarkan orang lain merawat sekutunya yang telah menumpahkan darah dalam pertempuran."

Rasa dingin yang menyejukkan segera menjalar dari salep itu, meredakan rasa perih di tangan Aurelia. Aurelia menatap puncak kepala Cassian, memperhatikan rambut hitamnya yang sedikit basah oleh sisa salju yang mencair.

"Apakah semua hal di Utara selalu sekaku dan sedingin ini?" tanya Aurelia pelan, suaranya melembut di sela deru angin badai yang menghantam dinding benteng.

Cassian mendongak, membuat mata abu-abunya berada sejajar dengan mata safir Aurelia. Jarak mereka begitu dekat hingga Aurelia bisa mencium aroma kayu pinus dan besi yang samar dari tubuh pria itu.

"Utara tidak memiliki kemewahan untuk bersikap manis, Aurelia," jawab Cassian, untuk pertama kalinya memanggil namanya tanpa gelar formal. "Di sini, yang lemah akan mati membeku atau dimangsa. Tapi..." Cassian menjeda kalimatnya, ibu jarinya mengusap lembut bagian kulit pergelangan tangan Aurelia yang tidak terluka. "Untuk seseorang yang berhasil bertahan hidup dari racun istananya sendiri dan memukul kepala pembunuh dengan lentera menyala... kurasa kau akan bertahan hidup dengan sangat baik di sisiku."

Sentuhan itu mengirimkan sengatan aneh yang berbeda dari rasa dingin pegunungan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Aurelia melihat sesuatu yang lain di balik mata badai Cassian—bukan lagi sekadar penilaian politik yang dingin, melainkan sebuah percikan ketertarikan yang nyata dan berbahaya.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!