NovelToon NovelToon
Return To You

Return To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.

Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.

Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.

Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.

Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.

Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.

Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

Dinding-dinding beton Kamar Nomor 12 mendadak serasa makin menyempit. Hawa dingin yang berembus dari luar jendela tak lagi mampu menyejukkan ruangan yang mendadak dipenuhi gelombang emosi meledak-ledak.

"Keluarlah, Evan," potong Zacheriyya dengan suara tertahan, mencoba menarik pergelangan tangannya dari genggaman hangat pria di hadapannya.

Namun, alih-alih melepaskan atau berbalik menuju pintu, Evander Vale-Knight justru menatapnya dengan binar mata yang makin dalam dan penuh ketetapan hati.

"Aku akan tidur di sini saja, sayang," jawab Evander dengan nada suara bass-nya yang halus, namun tak membukakan ruang untuk bantahan. "Aku merindukanmu... Sangat merindukanmu hingga rasanya gila kalau harus kembali ke kamar asrama."

Zacheriyya menoleh cepat, matanya membelalak lebar. Amarah dan rasa sakit hati yang terpendam selama bertahun-tahun mendadak naik ke permukaan.

"Aku masih belum memaafkanmu, Evan!" desis Zacheriyya, suaranya tiba-tiba naik satu oktaf, bergetar hebat di udara malam yang sunyi. "Andai kau tidak berdrama membawa wanita jalang itu ke ranjangmu dulu, kita tidak akan pernah putus! Hubungan kita tidak akan pernah berakhir seperti ini!"

Evander menegang. Alis tebalnya bertaut rapat. Rasa tertusuk di dadanya terpancing oleh tuduhan itu.

"Itu juga salahmu, Cherry!" jawab Evander, suaranya memendam rasa pahit yang mendalam. "Kau berselingkuh dariku lebih dulu! Kau membiarkan pria lain hadir saat kita masih bersama!"

"Karena kau sibuk, Evan!" balas Zacheriyya tak kalah sengit, matanya mulai berkilat oleh lapisan air mata yang tertahan.

Tangannya menunjuk dada tegap Evander dengan napas memburu. "Kau selalu sibuk dengan mesin-mesinmu, dengan sirkuit balapmu, dengan semua urusan bisnismu! Kau tidak pernah punya waktu untukku! Kau mengabaikanku seperti benda mati!"

"Dan kau pikir kenapa aku melempar diriku ke sirkuit balap dan pekerjaan, huh?" timpal Evander dengan raut wajah frustrasi. "Kau tahu aku memfokuskan diri pada balapan karena kau yang lebih dulu sibuk dengan tugas-tugas militermu, sayang! Kau hilang berhari-hari tanpa kabar, meninggalkan aku sendirian di Apartemen dengan ketakutan apakah kau masih hidup atau sudah mati di lapangan!"

"Ya! Kita sama-sama salah!" jerit Zacheriyya tertahan, meluapkan seluruh gumpalan racun emosi yang membusuk di hatinya selama dua tahun terakhir.

"Aku sibuk, kau sibuk! Aku berselingkuh karena kesepian, dan kau membalasnya dengan drama kebohonganmu yang menyewa wanita jalang itu hanya untuk membuatku marah dan cemburu! Dan kebodohanmu itu... kebodohanmu menyewa wanita itu membuatku stres berat, memicu pendarahan hingga aku kehilangan bayi kita! Kau puas, Evan?! Kau puas?!"

DEGGGG!

Dunia di sekitar Evander seolah-olah runtuh seketika.

Suara teriakan parau Zacheriyya bergema berulang-ulang di dalam kepalanya bagaikan dentuman meriam. Evander membeku total di tempatnya berdiri. Seluruh persendian tubuh tegapnya serasa meluruh, darah di dadanya mendadak terasa dingin membeku.

Kesalahanku membunuh bayi kita...

Kebohongan bodohnya—dramanya menyewa Gabriella Margareth untuk memancing cemburu Zacheriyya.

Kesalahan itu telah merenggut nyawa darah dagingnya sendiri... sebuah nyawa kecil yang bahkan tidak pernah sempat ia ketahui keberadaannya.

Jika saja waktu bisa diulang... batin Evander merintih hebat dalam kegelapan jiwanya. Jika saja aku tidak melakukan kebodohan itu... hubungan kami tidak akan pernah seasing dan sekeram ini.

Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dada Evander hingga pria itu kesulitan bernapas. Air mata menetes tanpa bisa dibendung menelusuri rahang tegasnya.

"Maafkan aku, sayang... kumohon maafkan aku..." bisik Evander dengan suara parau, bergetar hebat. Langkah kakinya menyeret mendekati Zacheriyya yang berdiri gemetar di dekat meja.

Evander mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba meraih bahu Zacheriyya. Namun Zacheriyya tidak membalas jangkauan itu.

Wanita itu memalingkan wajahnya ke samping, mengusap kasar sudut matanya.

"Keluarlah, Evan," kata Zacheriyya pelan, suaranya kembali dingin dan kaku. "Nanti akan ada yang curiga kau tidak ada di kamar asrama."

"Tidak..." sahut Evander mantap, menggelengkan kepalanya dengan deru napas yang sesak. "Aku tidak akan keluar. Aku akan tidur di sini."

Zacheriyya memejamkan mata, merasa muak dan lelah secara fisik maupun emosional.

Tanpa membalas ucapan Evander lagi, Zacheriyya melangkah kaku menuju ranjang single beralas kasur tipis khas militer di sudut kamar. Ia membaringkan tubuhnya yang lelah, membelakangi sisi ruangan, memeluk dirinya sendiri di balik selimut tipis.

Namun Evander tak kalah cepat.

Pria tegap itu melepaskan sepatu olahraganya, melangkah naik ke atas ranjang sempit itu.

Kasur berdecit pelan menerima bobot tubuh mereka berdua. Tanpa ragu, Evander menyusupkan tubuh besar dan panasnya ke balik selimut yang sama, merapatkan dadanya pada punggung Zacheriyya.

Lengan kekar Evander dilingkarkan erat di sekeliling pinggang Zacheriyya, menarik tubuh wanita itu rapat-rapat tanpa jarak hingga aroma harum tubuh Zacheriyya memenuhi indra penciumannya.

Zacheriyya tidak memberontak. Tubuhnya terlalu lelah untuk bertengkar lebih jauh, membiarkan kehangatan Sang Kekasih memeluknya dari belakang.

"Aku mohon... selama tiga hari pria itu berada di sini, jangan pernah tersenyum padanya," bisik Evander di balik tengkuk Zacheriyya, suaranya dipenuhi ketakutan dan cemburu yang teramat sangat.

"Hmm," jawab Zacheriyya singkat dan acuh tak acuh.

"Kau juga tidak boleh—"

"Sudah cukup, Evan... atau kau mau tidur di lantai?" potong Zacheriyya cepat dengan suara serak.

Evander langsung menghentikan kalimatnya, menggelengkan kepala rapat-rapat di ceruk leher Zacheriyya. Ia membenamkan wajahnya di antara helai rambut hitam wanita itu, menghirup aromanya dalam-dalam seolah itu adalah oksigen terakhir di bumi.

Secara perlahan, telapak tangan lebar dan hangat milik Evander bergerak turun dari pinggang, menyusup ke balik kemeja latihan Zacheriyya. Tangannya hinggap di atas perut rata Zacheriyya—mengelus perut kosong yang pernah menjadi rumah bagi calon buah hati mereka.

Perut yang pernah menyimpan kehadiran bayi mereka yang telah pergi.

Setiap usapan jemari Evander di kulit perut Zacheriyya terasa begitu lembut, sarat akan duka, penyesalan, dan rasa cinta yang tak terukur.

"Seandainya anak kita bisa lahir..." bisik Evander dengan suara pecah yang teramat pilu. Mata cokelatnya memerah, menumpahkan air mata hangat yang menetes membasahi bahu Zacheriyya. "...dia pasti sudah tumbuh besar. Dia pasti sudah bisa memanggilku Daddy... dan memanggilmu Mommy."

Sentuhan halus di perutnya dan bisikan penuh luka dari Evander menghancurkan pertahanan terakhir di hati Zacheriyya.

Pertahanan dingin yang dibangun Zacheriyya runtuh seketika. Air mata mendadak meleleh deras menelusuri pipinya, membasahi bantal di bawah kepalanya.

Tangis tanpa suara yang dipendamnya selama bertahun-tahun akhirnya pecah malam ini.

"Itu salahmu...!" rintih Zacheriyya parau, terisak pelan dalam dekapan erat Evander. "Itu semua salahmu, Evan...!"

"Iya, sayang... salahku. Ini semua salahku," jawab Evander penuh rasa penyesalan yang mendalam.

Pria itu memutar tubuh Zacheriyya agar berhadapan dengannya. Dengan lembut, Evander mengecup pelipis, dahi, dan pipi Zacheriyya yang basah oleh air mata. "Aku minta maaf, sayang... Maafkan Daddy... Maafkan aku, Cherry... Kumohon maafkan aku, honey..."

Zacheriyya mengangguk pelan dalam tangisnya, tangannya naik mengusap air matanya sendiri dan air mata yang mengalir di wajah Evander.

Melihat kerapuhan dan pengakuan jujur dari wanita di pelukannya, rasa cinta, gairah, dan dorongan protektif dalam diri Evander meledak tak tertahankan. Pria itu tak bisa tinggal diam lagi.

Evander menangkup wajah Zacheriyya dengan kedua telapak tangannya yang hangat.

...( ͡° ͜ʖ ͡°) 🔞 Boleh Di Skipp!...

Bibirnya turun, menciumi seluruh permukaan wajah Zacheriyya—mengecup kelopak matanya yang basah, hidungnya, pipinya, hingga akhirnya bibirnya mengunci bibir Zacheriyya dalam sebuah ciuman yang dalam, panas, dan sarat akan penyesalan.

Ciuman itu tidak lagi dingin atau tertahan. Ciuman itu adalah penyatuan dua jiwa yang saling merindukan di tengah rasa sakit.

Zacheriyya membalas ciuman itu dengan desahan halus, melingkarkan kedua lengannya di leher tegap Evander, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi gila pria tersebut.

Evander bergerak cepat tanpa memutuskan kontak bibir mereka. Jemari panjangnya yang ahli membuka satu per satu kancing kemeja Zacheriyya, menanggalkan pakaian wanita itu hingga kulit mulus Zacheriyya terekspos sepenuhnya di bawah remang lampu kamar.

Evander menyapu dada dan perut Zacheriyya dengan kecupan-kecupan panas yang membakar setiap inci saraf istrinya.

"Evan... ahh..." desah Zacheriyya merintih saat bibir Evander menyusuri lehernya, memberikan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan tanda merah keunguan di sana.

Malam itu, ranjang single di Kamar Nomor 12 menjadi saksi penyatuan panas yang teramat rinci dan liar di antara mereka.

Evander bertindak bagaikan pria kesetanan yang kerasukan gairah dan rindu dendam.

Pria itu menyatukan tubuh mereka dengan dorongan yang tegas, mendalam, dan tanpa ampun—menenggelamkan Zacheriyya dalam gelombang kenikmatan gila yang membuat wanita itu mencengkeram bahu berotot Evander hingga menyisakan bekas garukan merah.

Penyatuan itu berlangsung begitu intens dan intensif.

Setiap kali Zacheriyya memohon ampun karena lelah, Evander justru makin mempererat kuncian pinggulnya, berbisik... tentang betapa indah dan sempurnanya Zacheriyya hanya untuk dirinya seorang.

Gelombang demi gelombang penyatuan panas itu terus berlanjut tanpa membiarkan Zacheriyya bernapas lega, merampas seluruh tenaga dan kesadaran sang instruktur penjinak bom hingga larut malam.

Gema derit kayu dan besi dari ranjang single militer itu makin menjadi-jadi di tengah keheningan malam yang pekat. Kasur tipis berspesifikasi standar markas itu seolah dipaksa bekerja melampaui batas ketahanannya oleh gerakan liar dan bertenaga dari dua tubuh yang sedang dibakar gairah.

"Evan... hnnngh... pelankan sedikit..." bisik Zacheriyya parau di sela-sela napasnya yang terengah-engah. Tangannya mencengkeram erat seprai putih yang kini sudah berantakan dan terlepas dari sudut-sudut kasur.

Dada Zacheriyya naik-turun cepat. Sensasi panas yang merayap di sekujur sarafnya beradu hebat dengan rasa panik yang mendadak menyerang pikirannya.

"Ranjangnya... ranjang ini bisa patah, Evan!" desis Zacheriyya menahan geram, mencoba mendorong bahu tegap Evander yang menindihnya.

Matanya melirik liar ke arah tiang rangka besi di bawah mereka yang berderit nyaring setiap kali Evander menghantamkan pinggulnya dengan dorongan mendalam. "Jangan terlalu keras, Evander! Kamar asrama ini berdinding beton tipis... rekanku ada di kamar sebelah! Mereka bisa mendengar semuanya!"

Evander tidak berhenti. Pria tegap itu justru makin merapatkan tubuh telanjangnya yang berpeluh, mengunci kedua pergelangan tangan Zacheriyya di atas kepala wanita itu dengan satu genggaman tangannya yang besar dan kokoh.

Mata cokelat gelap Evander berkilat liar di balik remang lampu tidur—sebuah tatapan penuh dominasi, kepemilikan mutlak, dan kegilaan yang tak lagi bisa dijinakkan oleh aturan mana pun.

"Tidak, sayang... aku tidak bisa menahannya lagi," bisik Evander dengan suara bass yang sangat rendah, berat, dan basah oleh gairah.

Bibirnya merayap ke bawah rahang Zacheriyya, kembali memberikan gigitan-gigitan kecil yang menggoda sebelum mengisap kulit mulus itu hingga meninggalkan tanda merah keunguan baru. "Kau terlalu seksi, Cherry... Kau membuatku gila malam ini."

"Evan, aku serius!" Zacheriyya menggeliat, mencoba melepaskan kuncian tangannya meski tubuhnya sendiri merespons setiap sentuhan Evander dengan gelombang kehangatan yang makin melumpuhkan.

"Ini fasilitas negara! Kalau ranjang ini runtuh malam ini, bagaimana aku harus menjelaskan pada bagian logistik besok pagi?!"

Evander terkekeh halus—suara tawa yang terdengar begitu nakal, tampan, dan sarat akan ancaman manis.

Pria itu menyusupkan jemarinya ke celah jemari Zacheriyya, menyatukan genggaman mereka sembari terus memompa gairah dengan ritme yang makin cepat dan tanpa ampun.

"Biarkan saja patah, sayang," bisik Evander tepat di bibir Zacheriyya, menghembuskan napas panas yang membakar indra sang instruktur EOD. "Dengarkan baik-baik: Aku bahkan ingin memecahkan rekor membuat ranjang militer ini patah malam ini juga di bawah tubuhmu."

"Kau... ah... pria gila!" jerit Zacheriyya tertahan, menggigit bibir bawahnya rapat-rapat demi menahan desahan nyaring yang nyaris lolos dari tenggorokannya saat Evander menghantamkan titik terpeka di dalam dirinya.

"Iya, aku memang gila karena memendam rindu padamu selama dua tahun, honey," balas Evander liar.

Pria itu melepaskan genggaman tangannya, beralih menangkup pinggul Zacheriyya, mengangkatnya sedikit untuk memberi sudut penembusan yang lebih dalam dan presisi.

"Biarkan seluruh markas ini tahu... biarkan teman-temanmu di sebelah mendengar bahwa malam ini kau sepenuhnya milikku. Kau milik Evander Vale-Knight."

KRIEK!

Suara deritan kayu dan besi di bawah mereka makin keras bergema, bersahut-sahutan dengan gesekan kulit mereka yang basah oleh keringat.

Zacheriyya memejamkan matanya rapat-rapat, membenamkan wajahnya di leher tegap Evander untuk meredam jeritan kenikmatan dan ketakutan yang bercampur aduk.

Setiap kali ranjang itu berderit kencang seolah akan runtuh ke lantai beton, jantung Zacheriyya berdegup kencang bak dentuman bom waktu.

Namun di saat yang sama, ketegangan dan rasa takut ketahuan itu justru menjadi bumbu pemantik gairah yang membuat penyatuan mereka terasa sepuluh kali lebih panas dan membakar.

Jemari Zacheriyya meremas punggung berotot Evander, taring-taring kecilnya menyenggol bahu tegap suaminya saat gelombang penyatuan puncak menghantam tubuh mereka berdua sekali lagi.

Evander mengerang rendah, membenamkan dorongan terakhirnya secara mendalam, menumpahkan seluruh gairah dan cintanya yang tak terbatas ke dalam rahim Zacheriyya.

Ruangan itu mendadak hening, hanya tersisa deru napas berat yang saling beradu di udara malam.

Ranjang besi itu ajaibnya masih bertahan—meski salah satu baut penyangganya tampak melenceng dan berdecit pasrah.

Zacheriyya terkulai lemas di atas kasur, dadanya naik-turun memburu dengan seluruh tenaga yang terkuras habis. Evander merebahkan tubuh besarnya di samping Zacheriyya, menarik tubuh polos wanita itu ke dalam pelukan eratnya, menutupi mereka berdua dengan selimut tipis yang tersisa.

Evander mengecup kening Zacheriyya yang basah oleh keringat dengan penuh kehangatan dan rasa cinta yang begitu mendalam.

"Kau lihat?" bisik Evander tertawa kecil di telinga Zacheriyya. "Ranjangnya masih bertahan, sayang."

Zacheriyya memukul dada Evander pelan dengan sisa tenaganya, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang masih berdetak kencang. "Diamlah, Evan... Kau benar-benar monster malam ini."

Evander hanya tersenyum puas, membelai rambut hitam Zacheriyya dengan lembut sembari menikmati detik-detik hening sebelum fajar menyingsing di Ujung Los Angeles.

1
Mei TResna Rahmatika
sedihh bangett part ini😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Hennyy exo
kurang banget🤭🤭

omg evander aku padamu😘😘
Rosdianah 🌷: heheh anak author 🤣
total 1 replies
Hennyy exo
sangat suka dengan alurnya dan penulisannya juga bagus mudah dipagami
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pliss thor sehari upnya 4 atau 6 bab ya🤭
Rosdianah 🌷: heheh nggak janji ya kak🤭
total 1 replies
Hennyy exo
wow makn menanyang thor babnya
Hennyy exo
sumpah thor alurnya makin bagus banget😍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak sudah stay baca🫶
total 1 replies
Hennyy exo
baca di bab ini.kaya orang gila🤣🤣🤣
gemes deh ama merka berdua
Hennyy exo
di bab ini suka banget ma alurnya
nayla tsaqif
Apa kbr Gabriella margareth,,?? 🤭
Rosdianah 🌷: tunggu kak🤭🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
emang minus kayanya ini laki,yang bengkokin siapa,yang lurusin siapa/NosePick/berasa yang paling ...banget deh/Hammer/
Rosdianah 🌷: perlu digampar 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
yaudah sih Evander bilang jujur aja ke Cherry kalo masih suka dan gak punya hubungan sama Gabriela 🤨 balikan lagi nih pasangan serasi 😍
Rosdianah 🌷: hihi🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Ati2 cherry,, awas kena PHP,, jangan gmpang luluh,, 😌
Bonny Liberty
denger dulu dong omongan si E,biar jelas /Shy/ suka banget sok pintar 🏏
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Buat misi penyelamatan lg thor,,, mungkin bom di sekolah ponakan evan,, 🤭 q suka tokoh heroik, 🤣
Rosdianah 🌷: Ok Kakak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
baru jelas nih alur ceritanya 🫡 ternyata wanita hamil itu Gabriela dan Evander blom nikah 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤭 Semoga suka ya Kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 The vale knight series lover
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Bonny Liberty
maaf kisanak, bukan pecahan kaca tapi ranjau darat yang kena bayangan dirimu aja bisa meledak.../Grievance/
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
kata cintanya murahan, ga sadar diri,harusnya kamu tau kurang mu apa,hubungan toxic jadinya kan,dah gitu kehilangan real love gara..gara EGO LAKI,dia ga mikir apa cewe juga punya
Rosdianah 🌷: Semoga suka cerita Baru nya kak🫶
total 1 replies
Bonny Liberty
salah satu masalah dunia EGO LAKI..LAKI../Smug/
Rosdianah 🌷: huhuhu 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!