Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupannya Yang Diatur
Eva yang sudah mau tidur, tapi dering ponsel membuatnya mengurungkan merebahkan tubuh di atas tempat tidurnya. Melihat Byan yang menghubunginya lewat panggilan video. Eva menerimanya, dia tersenyum saat melihat wajah kekasihnya memenuhi layar ponsel.
"Kenapa Sayang? Bukannya sedang ada acara ya?"
Eva melihat Byan yang sudah menggunakan jas, penampilannya sangat formal, sudah pasti dia sedang di acara itu. Namun entah apa alasannya sampai menghubungi Eva, bahkan melakukan panggilan video.
"Bosan di dalam, semuanya membuatku jenuh"
Eva tersenyum, dia tidak pernah datang ke acara seperti itu. Namun, mungkin Byan memang merasa tidak nyaman berlama-lama berada dalam acara itu. "Orang tua kamu masih di dalam? Belum pada pulang 'kan?"
"Belum"
Eva tidak menjawab lagi, dia sedang berpikir bagaimana cara menghibur kekasihnya yang terlihat suntuk. Bahkan wajahnya sangat menunjukan lelah. Meski Eva tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya membuatnya lelah.
"Sayang, akhir pekan ini mau ikut aku ke Rumah Harapan? Aku rencana mau kesana, sudah lama tidak bertemu anak-anak disana"
"Boleh, aku juga ingin bertemu mereka"
Akhirnya topik pembicaraan beralih pada hal lain. Tentang anak-anak di rumah harapan.
"Jika kita menikah, kita akan mempunyai anak sebanyak mereka"
Eva langsung terbelalak mendengarnya, kalimat itu keluar begitu ringan dari bibir Byan. "Sayang, aku tidak mungkin sanggup ya. Dih, gak mau ya!"
Byan tertawa, melihat wajah panik wanitanya membuatnya merasa lucu. Pembahasan menikah adalah hal yang serius, tapi Byan seolah melupakan satu rintangan yang entah dia bisa lewati atau tidak. Pernikahan tidak akan mudah untuknya, ketika ternyata bukan Eva yang di inginkan keluarganya.
"Haha.. Kamu lucu sekali. Memangnya kenapa? Bukankah akan seru jika banyak anak"
Eva cemberut, namun dia tidak menjawab lagi ketika sekilas dari layar ponselnya melihat seseorang yang berjalan ke arah Byan. Sampai semakin dekat, wajah orang itu semakin jelas terlihat. Eva terdiam, menyipitkan matanya untuk semakin jelas melihat siapa yang berada di belakang Byan.
"Mas, itu seperti Nona Laila di belakangmu?"
Deg... Byan langsung menoleh, ponsel masih di tangannya dan kamera masih menyala. Laila berdiri membeku disana, tersenyum masam, seperti terpaksa untuk tersenyum. Laila melambaikan tangannya pada Byan, lalu pada kamera di ponselnya yang menunjukan wajah Eva.
"Hai Eva"
Eva yang cukup tertegun dengan kehadiran Laila, juga hanya bisa tersenyum tipis. Dia mengangguk pelan.
"Sayang sebentar ya, aku matikan dulu"
Ketika layar ponselnya mati, Eva terdiam dengan bingung. Tidak heran sebenarnya jika ada Laila juga hadir di acara itu, karena memang keluarga Hartanto juga selalu hadir di acara itu. Namun, tetap ada sedikit kejanggalan di hatinya.
"Ada apa ya? Kenapa hatiku mulai gelisah"
Eva memegang dadanya yang tiba-tiba merasa tidak enak. Merasa ada sesuatu yang janggal telah terjadi. Membuat hatinya terus bertanya-tanya.
*
Sementara Byan hanya menatap Laila dengan dingin, dia memasukan ponsel ke saku dalam jasnya. "Ada apa kau mengikutiku kesini?"
Laila menghela napas pelan, bahunya melemas. "Aku juga tidak mau mengikutimu kesini. Tapi orang tua kita memaksa aku untuk pergi mengikutimu. Ish"
Byan menghela napas pelan, melihat Laila yang sekarang duduk di bangku. Byan pun kembali duduk, masih di jarak aman. "Sepertinya mereka masih tidak menyerah dengan perjodohan ini"
Laila mengangguk pelan, hembusan napasnya terasa berat. "Padahal sudah jelas alasannya, bahkan kau pun sudah bersama dengan Eva. Kenapa mereka masih memaksa?"
"Karena ... orang tuaku tidak akan pernah setuju dengan Eva"
Laila langsung menoleh pada Byan, menatapnya cukup terkejut. Mungkin Laila bisa memahami kekecewaan mereka karena Eva menggantikan Laila, tapi seharusnya setelah Laila jelaskan jika Eva hanya terpaksa menggantikan Laila karena permintaannya.
"Kenapa bisa begitu? Eva gadis yang baik, penurut dan tidak banyak tingkah. Harusnya cocok untukmu. Justru jika kau bersamaku, kau yang akan banyak mengalah, karena aku keras"
Sifat Eva dan Laila yang memang berbanding terbalik. Namun itulah yang membuat mereka begitu lengket melebihi saudara kandung pada umumnya. Karena saling melengkapi dan saling mengerti satu sama lain.
"Kehidupan aku di atur oleh mereka, apapun itu. Sekolah, apa yang boleh aku lakukan dan tidak, termasuk sekarang ada seseorang yang harus mendampingiku juga mereka yang mengatur. Aku seperti tidak punya pilihan sendiri, ketika berani mengambil langkah, aku hanya takut sesuatu besar akan terjadi padaku atau Eva. Jadi, aku yang harus sangat berhati-hati sekarang"
Laila sampai melohok mendengarnya, dia tidak pernah menyangka kalau ternyata hidup Byan yang terlihat sangat baik dan begitu di inginkan semua orang, padahal di belakangnya ada orang tua toxic yang mengatur kehidupannya terlalu berlebihan.
"Iya sih, kalau memang seperti itu. Jangan sampai Eva yang jadi korban keegoisan orang tuamu"
"Itulah, jadi aku masih harus berhati-hati sekarang"
Laila mengangkat tangannya, menepuk bahu Byan dengan pelan. "Semangat ya, semoga kalian bisa bersama selamanya apapun alasannya nanti"
*
Eva tidak mendapatkan kabar apapun lagi dari Byan sejak semalam. Dia akhirnya memilih tidur meski tetap kepikiran tentang adanya Laila disana. Sebisa mungkin menenangkan dirinya dan membuatnya yakin jika memang itu hanya sebuah kebetulan saja.
Pagi hari, Eva membuat sarapan roti lapis untuk dirinya sendiri. Lalu segera pergi keluar kamar, taksi online yang dia pesan sudah sampai. Kali ini tidak ada drama apapun untuk pagi hari. Eva pergi ke Kantor dengan terus mengecek ponsel, namun masih tidak ada pesan dari Byan yang biasanya setiap pagi selalu memberikan pesan semangat.
"Mungkin dia masih sibuk"
Eva pergi ke meja kerja, mengecek beberapa berkas yang menumpuk. Mulai menyalakan komputer dan sekarang saatnya mengarahkan fokusnya pada pekerjaan saja.
Dan sampai waktu pulang, tidak mendapatkan kabar apapun dari Byan. Eva tidak tahu kemana pria itu sampai tidak memberinya kabar. Sedikit ragu akhirnya Eva bertanya pada Ibu Rumi.
"Bu, hari ini apa Tuan Bara dan Tuan Byan ada di Kantor?"
"Tidak tahu ya, saya belum ke ruangannya. Mungkin saja masuk, karena kalau tidak ada pekerjaan ke Luar Kota atau Luar Negeri mereka pasti selalu masuk bekerja"
Eva mengangguk, dia tidak bertanya lagi hanya langsung pulang saja hari ini. Meski beberapa kali menatap ponselnya. Sampai akhirnya Eva mengirim pesan duluan pada Byan.
Kamu dimana? Kenapa tidak ada kabar hari ini?
Pesan terkirim, namun hanya centang satu menandakan jika ponsel Byan mungkin tidak sedang aktif.
Dia kemana?
Bersambung
minta maaf gak segampang itu, istri saudaranya di jadikan pembantu dan menjadi alat untuk mengancam saudaranya sendiri hanya untuk menguasai harta warisan 😡
tetap semangat 🤗