NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 11

"Bagaimana... bagaimana bisa kau tahu detail itu?" suara Ren kini terdengar sangat rendah. Keterkejutan di wajahnya kini berganti dengan rasa penasaran yang luar biasa sekaligus kewaspadaan.

Aiko perlahan menggerakkan tangannya, memegang pergelangan tangan Ren yang masih berada di dekat wajahnya, lalu menurunkan tangan pria itu dengan perlahan dan penuh ketegasan.

"Dunia yang kau jalani dipenuhi oleh darah dan kematian, Tuan Tachibana," ucap Aiko sambil memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke arah luar jendela yang gelap. "Kau mungkin bisa melenyapkan tubuh mereka dari dunia ini, dan kau bisa membungkam mulut orang-orang hidup dengan kekuasaanmu. Tapi kau tidak akan pernah bisa membungkam jiwa-jiwa yang menuntut balas."

Aiko kembali menoleh menatap Ren. "Mereka semua ada di sini, di sekitar rumah ini, mengawasimu dalam diam. Dan musuh yang harus kau takuti di rumah ini... bukanlah aku atau klan Kurogawa. Tapi dendam dari masa lalumu sendiri."

Ren terdiam, menatap lekat-lekat wajah tenang istrinya. Keheningan malam kembali menguasai kamar tidur itu. Ren akhirnya berdiri perlahan, membalikkan badannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan menuju tempat tidur besarnya, merebahkan tubuhnya dengan pikiran yang berkecamuk.

KLIK

Lampu meja kerja dimatikan, dan kamar itu kembali tenggelam dalam kegelapan.

Apa maksud wanita itu? Dia bahkan tahu detail luka yang diterima korban, seakan dia ikut hadir menyaksikan semuanya. Gumam ren dalam hatinya.

**

Kabut pagi hari ini belum sepenuhnya hilang di halaman kediaman Tachibana-gumi, ketika sedan hitam yang membawa Ren bergerak melewati jalanan Kyoto.

Pagi ini Aiko tidak ikut bersamanya. Ren sengaja berangkat jauh lebih awal, sementara Aiko pergi ke kampus hanya di antar oleh para pengawalnya.

Pikiran Ren benar-benar kacau. Sepanjang malam ia tidak bisa memejamkan mata, kalimat-kalimat Aiko terus berputar di kepalanya. Ia tidak ingin mempercayainya, namun ia belum punya bukti untuk membantah pernyataan Aiko semalam.

"Daichi," suara berat Ren memecah keheningan di dalam mobil.

Daichi, yang sedang fokus mengemudi, langsung melirik melalui kaca spion tengah. "Ya, Bos? Ada perintah?"

"Kasus mahasiswa di dermaga wilayah barat tiga bulan lalu," Ren menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke luar jendela. "Siapa saja yang membersihkan jasadnya malam itu?"

Daichi tampak terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, namun ia langsung menjawab dengan cekatan. "Hanya saya, Tuan Kaito, dan dua eksekutor inti dari unit pembersih, Bos. Saya bisa menjamin dengan nyawa saya, jasadnya sudah tenggelam di dasar sungai dan semua barang pribadinya sudah dibakar habis. Polisi bahkan menutup kasusnya sebagai orang hilang. Ada apa, Bos? Apa ada yang mengungkit masalah ini?"

Ren terdiam sejenak, mengetukkan jemarinya di atas lutut. "Aiko tahu detailnya."

Skriiiet!

Mobil sedan mewah itu sempat sedikit oleng karena Daichi secara refleks menginjak rem dengan cukup mendadak sebelum akhirnya menguasai kemudi kembali. Wajahnya berubah drastis dari tenang menjadi pucat.

"Nona Aiko... tahu? Bagaimana bisa? Apakah klan Kurogawa menyadap jalur komunikasi kita malam itu?" tanya Daichi panik.

"Tidak. Dia tahu bentuk luka lebamnya, dia tahu jasadnya dibuang ke sungai, bahkan dia tahu aku yang memberikan perintahnya malam itu," ucap Ren, suaranya terdengar sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Daichi berdiri. "Dia bilang, tidak ada orang hidup yang memberi tahu dirinya."

Daichi menelan ludah dengan susah payah. "Itu... itu tidak mungkin, Bos. Logikanya, kalau bukan dari kita, berarti ada pengkhianat di dalam klan."

"Selidiki seluruh latar belakang Istriku," perintah Ren, matanya berkilat penuh tekad yang berbahaya. "Jangan hanya selidiki berkas formal yang diberikan ayahnya. Aku mau kau mengirim orang ke Kyoto barat, tempat masa kecilnya. Cari tahu tentang ibunya, tentang rumor apa pun yang beredar di sekitar rumahnya dulu. Aku tidak suka berbagi kamar dengan seseorang yang memegang kartu as milikku tanpa aku tahu dari mana dia mendapatkannya."

"Baik, Bos. Segera saya laksanakan secara rahasia," jawab Daichi dengan ekspresi serius.

**

Sementara itu, di sudut kota lain, Aiko sedang duduk di barisan belakang ruang kuliahnya dengan kepala yang terasa berat luar biasa. dengan wajah pucat, dan lingkaran hitam samar mulai terlihat di bawah matanya.

Serangan mental dari arwah mahasiswa kemarin sore, ditambah dengan energi membunuh yang pekat dari Ren semalam, benar-benar menguras energi spiritualnya. Tubuhnya terasa mulai mencapai batas toleransi.

"Aiko, kau mendengarku tidak?" Hana menyenggol lengan Aiko pelan, menatap sahabatnya itu dengan pandangan khawatir. "Sejak jam pertama tadi kau hanya melamun. Wajahmu juga pucat sekali. Apa paman jauhmu itu menyiksamu dengan menyuruhmu bersih-bersih rumah sebesar itu?"

Aiko memaksakan sebuah senyuman tipis. "Tidak, Hana. Aku hanya kurang tidur karena mengerjakan beberapa tugas semalam."

"Tugas apa? Dosen kita bahkan belum memberikan tugas besar minggu ini," Hana mendengus, lalu meletakkan punggung tangannya di dahi Aiko. "Ya ampun, badanmu hangat. Kau pasti mau demam. Tunggu di sini, ya? Aku ke kantin sebentar membelikanmu teh jahe hangat dan roti. Jangan ke mana-mana."

Sebelum Aiko sempat menolak, Hana sudah berdiri dan berjalan cepat keluar dari ruang kelas yang kini mulai sepi karena jam istirahat telah tiba.

Aiko menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu. Ia memejamkan matanya, berusaha meredakan denyut di pelipisnya. Namun, hawa dingin yang tipis kembali merayap di dalam ruangan kelas yang kosong itu.

Ketika Aiko membuka matanya, ia melihat sesosok arwah wanita tanpa wajah yang biasanya sering duduk di sudut kelas sedang bergerak mundur, menjauh darinya dengan gerakan ketakutan. Bukan hanya satu, beberapa entitas kecil yang biasanya berkeliaran di koridor kampus tampak mengintip dari balik pintu, namun mereka semua enggan mendekati meja Aiko.

Aiko menyentuh lehernya sendiri, tepat di bagian yang semalam di cengkram oleh Ren. Ia bisa merasakan sisa-sisa energi yang berbau darah menempel di kulitnya. "Kutukan klan Tachibana," batin Aiko. Aura kematian yang melekat pada tubuh Ren begitu kuat, dan saat merembes ke tubuh Aiko melalui kontak fisik, entah mengapa membuat makhluk-makhluk halus tingkat rendah merasa ngeri dan memilih untuk menjauh.

Karena merasa ruangan kelas terlalu pengap, Aiko memutuskan untuk berdiri dan berjalan menuju toilet di ujung koridor lantai dua untuk membasuh wajahnya dengan air dingin. Koridor gedung fakultas sore itu terasa sangat sepi karena sebagian besar mahasiswa sedang berada di area kantin luar.

Aiko baru saja keluar dari toilet dan hendak berjalan kembali ke kelas ketika langkah kakinya tiba-tiba dihentikan oleh sesosok pria tinggi yang berdiri menghalangi jalannya.

Pria itu mengenakan jaket hoodie longgar berwarna abu-abu, dengan senyuman yang terlihat ramah. Dan tatapan matanya yang terlihat tajam.

1
PrettyDuck
bagusss ❤️❤️
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
PrettyDuck
isss, ini mah ren emang niat ngepublish hubungan mereka gak sih. terlalu mencolok ommm /Facepalm/
PrettyDuck
potoin. biar ren cemburu wkwk
PrettyDuck
wkwk lu ngekorin aiko mulu soalnyaaa.
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
PrettyDuck
naksir beneran dong diaa /Facepalm/
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren
PrettyDuck
kok sok ikrib gini dia? kayaknya biasanya kayak kanebo deh 🥴
PrettyDuck
ngerasa bersalah pasti aiko 🥲
Lenny Utami
iya aku jga penasaran
Lenny Utami
wahhh bagus nih nasehatnya
Lenny Utami
skip skip skip serem tor... aku GK mau baca lebih yang ini..😭
SANG
Maaf, hadiahnya ditunda dulu. Poinku tidak cukup ya Thor/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/😄😄🤣🤣🤣
Lenny Utami
Halah nanti juga ujungnya klepek² itu..
SANG
Lanjut thor💪👍💪👍
Lenny Utami
otak ku tolong jangan ngeres
Lenny Utami
pertanyaan Aiko lucu..
SANG
Kenapa begitu, justru aku yang tidak senang...
SANG
Kamu tanya saya...
SANG
Iklan untukmu thor👍💪👍
Lenny Utami
abot Iki semangat Aiko
SANG
Apakah benar seperti itu, kabar dari mana itu datangnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!