Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Keesokan paginya, suasana di dalam ruang perawatan terasa jauh lebih hangat.
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi Amira yang sedang duduk di kursi rodanya di samping ranjang.
Dengan penuh kesabaran, Amira selesai menyuapi Felia beberapa sendok terakhir bubur rumah sakit.
Felia tampak jauh lebih segar, senyumnya terus mengembang sejak membuka mata dan mendapati "Mama Amira" masih setia berada di sisinya.
"Pintar sekali anak Mama, makannya habis banyak," puji Amira lembut sambil mengusap sisa makanan di sudut bibir Felia dengan tisu.
Namun, kehangatan itu seketika sirna saat pintu kamar rawat tiba-kira didorong terbuka dengan kasar. Langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor dan perhiasan mencolok melangkah masuk.
Tatapan matanya yang tajam langsung tertuju pada Amira, meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Oh, jadi ini perempuan yang heboh dibicarakan itu?" sindir Gayatri, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum sinis.
"Benar-benar luar biasa taktikmu, ya. Baru juga semalam memanfaatkan situasi, sekarang sudah berlagak jadi nyonya besar di kamar ini. Dasar wanita udik, tidak tahu malu."
Amira tersentak. Kepalanya mendadak pening, beralih dari rasa bingung menjadi tertekan.
Amira sama sekali tidak tahu siapa Gayatri, mengapa wanita asing ini tiba-tiba datang dan meluapkan kekesalan yang begitu besar padanya dengan kata-kata yang menusuk hati.
Sebelum Amira sempat bersuara, pintu kamar mandi di sudut ruangan terbuka.
Daniel keluar dari sana dengan kemeja yang baru setengah dikancingkan, bersiap untuk menemani Amira terapi.
Begitu mendengar suara cempreng Gayatri yang memuakkan, wajah Daniel langsung mengeras. Langkahnya melebar, langsung berdiri membentengi Amira dari tatapan sinis mantan ibu mertuanya itu.
"Cukup, Ma!" bentak Daniel dengan suara berat yang tertahan, matanya berkilat marah.
"Dia istriku yang sah! Dan tolong, hargai Amira!"
Gayatri mendecih pelan, sama sekali tidak gentar dengan gertakan Daniel.
"Istri? Daniel, kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu demi perempuan kumuh ini—"
"Oma! Cukup! Jangan marahi Mama lagi!"
Tiba-tiba suara tangisan pecah dari atas ranjang. Felia mulai terisak, air matanya menetes deras membasahi pipi mungilnya.
Tubuh kecilnya gemetaran, tangannya bergerak cepat memeluk boneka gajah Rona erat-erat sambil menatap Gayatri dengan tatapan takut sekaligus marah.
"Felia tidak mau Mama menangis! Dari dulu Oma selalu memarahi Mama! Kenapa Oma jahat sama Mama?" ucap Felia sesenggukan di sela tangisnya, mengingat kembali bagaimana dulu Gayatri sering membentak mendiang Selena di depannya.
Mendengar jeritan pilu cucunya, Gayatri sempat tertegun, namun egonya yang tinggi membuat wajahnya kembali mengeras.
Sementara itu, Daniel langsung berbalik untuk menenangkan putrinya, meninggalkan Gayatri yang berdiri dengan napas memburu di tengah ruangan yang mendadak kembali mencekam.
"Maaf," ucap Daniel lirih kepada Amira. Penyesalan mendalam tergambar jelas di wajahnya karena telah menyeret wanita itu ke dalam pusaran konflik keluarganya yang rumit, bahkan sebelum 24 jam pernikahan mereka berjalan.
Amira menatap Daniel sekilas, lalu menganggukkan kepalanya pelan, mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa.
Fokusnya kini sepenuhnya beralih pada balita yang sedang ketakutan di atas ranjang.
Dengan lembut, Amira memajukan kursi rodanya mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk menghapus air mata yang membasahi pipi Felia.
"Sudah, Sayang, jangan menangis lagi ya," bisik Amira menenangkan.
Felia sesenggukan, menyandarkan kepalanya yang kecil ke lengan Amira sambil memeluk erat boneka gajahnya.
"Dari dulu Oma selalu marah sama Mama. Felia takut, Ma..." adu anak itu dengan suara parau yang menyayat hati.
Mendengar aduan polos dari anak sekecil Felia, sesuatu di dalam diri Amira mendadak bergejolak.
Rasa iba yang mendalam bercampur dengan naluri pelindung yang kuat bangkit di dalam dadanya.
Ia tidak tahu apa yang dialami mendiang Selena dulu, tapi ia tidak akan membiarkan anak ini terus-menerus trauma menyaksikan kekerasan verbal di depannya.
Amira menegakkan punggungnya. Ia menoleh, menatap lurus ke arah Gayatri dengan tatapan mata yang tidak lagi menyiratkan kebingungan, melainkan keberanian yang tenang namun menghunjam.
"Sekarang, Mama akan lawan Oma," ucap Amira dengan nada suara yang lantang dan tegas, sengaja ditekankan agar terdengar jelas oleh wanita paruh baya yang berdiri angkuh di dekat pintu itu.
Amira menggenggam tangan kecil Felia untuk menyalurkan kekuatan.
"Mama Amira yang sekarang tidak akan diam saja kalau ada orang yang berani membuat Felia menangis. Oma tidak bisa lagi sembarangan di kamar ini."
Daniel tertegun di tempatnya, menatap Amira dengan pandangan tak percaya.
Ia tidak menyangka wanita yang semalam terlihat begitu rapuh dan menolak pernikahan ini, kini justru berdiri paling depan bagaikan perisai untuk melindungi putrinya.
Sementara itu, wajah Gayatri seketika memerah padam, terkejut mendapat perlawanan sengit dari wanita yang baru saja ia sebut "wanita udik" tersebut.
Setelah Gayatri melangkah pergi dengan amarah yang meluap hingga membanting pintu kamar, keheningan yang melegakan akhirnya kembali menyelimuti ruangan.
Ketegangan di kamar rawat berangsur mereda. Felia pun kembali tenang, napasnya mulai teratur setelah ditenangkan dengan pelukan hangat dan usapan lembut oleh Amira dan Daniel.
Daniel menepati janjinya. Pria itu benar-benar meninggalkan seluruh urusan kantor, mengabaikan beberapa panggilan telepon penting demi mengantar Amira ke ruang rehabilitasi medis di rumah sakit yang sama untuk menjalani sesi terapi fisik pertamanya.
Namun, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Otot-otot kaki Amira terasa sangat kaku akibat koma selama satu bulan penuh.
Sesi terapi berjalan menyakitkan dan menguras emosi.
Setiap kali Amira mencoba menggerakkan kakinya, rasa nyeri yang hebat menjalar, membuat air matanya meleleh menahan sakit.
Amira sempat merasa frustrasi dan putus asa saat kakinya seolah mati rasa dan menolak untuk melangkah, membuatnya hampir terjatuh kembali ke kursi roda.
Melihat hal itu, Daniel tidak hanya menonton di sudut ruangan. Ia turun tangan langsung.
Tanpa memedulikan keringat yang mulai membasahi kemejanya, Daniel dengan sigap memegangi pinggang Amira saat keseimbangan wanita itu goyah.
Ia membiarkan lengannya yang kokoh menjadi tumpuan fisik Amira untuk bertumpu dan menahan beban tubuh.
"Pelan-pelan, Amira. Kamu pasti bisa. Satu langkah lagi," bisik Daniel dengan suara rendah yang menenangkan, tepat di telinga Amira setiap kali wanita itu mulai menyerah.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Amira melihat sisi lain dari diri Daniel.
Pria yang berdiri menyangga tubuhnya saat ini bukanlah seorang CEO yang dingin, kaku, dan angkuh seperti yang ia bayangkan.
Daniel bertransformasi menjadi seorang pria yang luar biasa sabar, tulus, dan penuh tanggung jawab.
Sentuhan tangan Daniel di pinggangnya, deru napas hangat pria itu yang terasa di pucuk kepalanya, serta binar mata elang yang kini menatapnya penuh harap, perlahan mulai meruntuhkan dinding pertahanan Amira.
Rasa canggung yang semula dingin dan kaku di antara mereka kini mulai mengikis, berubah menjadi debaran asing yang hangat dan kian tak terkendali di dalam dada Amira.
Daniel terpaku di posisinya, menatap wajah Amira yang tampak kelelahan namun dihiasi oleh senyum tulus yang begitu manis.
Sinar matanya yang lembut sesaat kembali mengingatkan Daniel pada mendiang Selena, namun entah mengapa, ada sebuah kehangatan tersendiri yang berbeda dari Amira—kehangatan baru yang perlahan mulai menyelinap dan mencairkan sudut hatinya yang sempat membeku.
Dengan gerakan yang sangat lembut, Daniel mengulurkan tangannya.
Jemarinya yang hangat menyeka bulir-bulir keringat yang membasahi dahi Amira, menyisipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke belakang telinga sang istri.
"Terima kasih untuk hari ini. Kamu sudah berjuang sangat hebat," bisik Daniel, menatap lekat sepasang manik mata Amira yang masih berkaca-kaca.
Amira tertegun, menahan napasnya sesaat mendengar ketulusan dalam suara berat pria itu.
Jarak mereka yang begitu dekat membuat debaran di dadanya kian berpacu tidak keruan.
Daniel perlahan membantu Amira untuk kembali duduk dengan nyaman di kursi rodanya.
Sebelum mereka beranjak keluar dari ruang rehabilitasi, Daniel berlutut di hadapan Amira, menggenggam kedua tangan wanita itu dengan erat seolah sedang menautkan sebuah komitmen baru di antara mereka.
"Aku berjanji," ucap Daniel dengan nada suara yang dalam dan penuh penekanan, "aku akan selalu ada di setiap sesi terapi fisikmu. Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian, Amira. Aku akan terus menemanimu sampai kamu bisa berjalan kembali dengan kedua kakimu sendiri."
Mendengar janji yang diucapkan dengan begitu jantan dan bertanggung jawab itu, hati Amira berdesir hebat.
Di balik status pernikahan sandiwara yang mereka sepakati di tengah jalanan malam menuju Jakarta, ego Amira perlahan runtuh.
Ada rasa aman dan dilindungi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, membuat hatinya diam-diam mulai berharap bahwa semua perhatian ini bukanlah bagian dari sandiwara belaka.