Lin tian seorang remaja yang tinggal bersama ayah nya seorang pemabuk. suatu hari tiba tiba ayah nya berbicara dan mengasih warisan keluarga untuk anak nya dapat berkultivasi. seperti pepatah mengatakan "di balik kekuatan hebat terdapat musuh yang kuat"
Mampu kah Lin Tian bertahan dari banyak nya musuh yang datang.
mari kita cari tau bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Mengocok Ulang Peta Kekuatan Puncak
Kemenangan mutlak Lin Tian atas Song Jian mengirimkan gelombang kejut yang merayap cepat dari Arena Pertarungan Utama hingga ke seluruh penjuru Sekte Pedang Azure. Nama "Lin Tian" bukan lagi sekadar nama seorang remaja beruntung dengan Bakat Emas yang meledakkan batu penguji, melainkan identitas dari seorang monster nyata yang wajib diwaspadai oleh seluruh jajaran murid senior.
Di atas panggung yang retak-retak, Lin Tian dengan santai memeriksa Token Kontribusi milik Song Jian yang baru saja disitanya. Di dalam benda giok tersebut, tertera angka **15.000 Poin Kontribusi**. Bagi seorang murid dalam, jumlah ini adalah akumulasi dari belasan misi berbahaya hidup dan mati yang dikumpulkan selama setahun penuh. Namun kini, semua itu berpindah tangan dalam hitungan menit.
"15.000 poin... cukup untuk menukar beberapa ramuan medis tingkat menengah di Aula Logistik," gumam Lin Tian dengan senyum tipis yang penuh kepuasan.
Sementara itu, para murid medis sekte dengan tergesa-gesa menggotong tubuh Song Jian yang bersimbah darah keluar dari area arena. Kejadian hari ini tidak hanya menghancurkan fisik Song Jian, tetapi juga menghancurkan reputasi yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun di sekte ini.
Lin Tian mengalihkan pandangannya menuju tribun penonton yang masih terpaku dalam keheningan. Tatapan mata keemasannya menyapu deretan murid dalam tingkat atas yang sebelumnya ikut menyuarakan ketidakpuasan mereka atas status Murid Inti miliknya. Anehnya, ke mana pun arah pandangan Lin Tian tertuju, para murid dalam senior yang terkenal angkuh itu serentak memalingkan wajah atau menunduk, tidak ada satu pun yang berani membalas kontak mata dengannya.
"Apakah ada murid dalam lain yang merasa keputusan para Tetua tidak adil?"
Suara Lin Tian memecah keheningan, terdengar begitu jernih namun membawa tekanan mental yang berat berkat fondasi *Fisik Suci Yang Terbalik* miliknya.
Hening. Tidak ada satu pun jawaban. Tantangan terbuka itu dijawab oleh kebungkaman mutlak dari ribuan murid. Siapa yang berani maju setelah melihat Song Jian yang berada di Ranah Pemurnian Meridian Level 6 dicabik-cabik seperti kain usang hanya dengan teknik elemen angin acak?
Melihat tidak ada respons, Lin Tian mendengus pelan, berbalik, dan melangkah turun dari arena dengan jubah putih awan peraknya yang melambai elegan ditiup angin sore.
Ye Chuan segera berlari menghampirinya, wajah cantiknya memancarkan rona merah karena sisa-sisa ketegangan dan kekaguman yang meluap.
"Saudara Lin! Kamu... kamu benar-benar gila!"
"Sejak kapan kamu mempelajari *Teknik Pedang Angin Puyuh Azure*?"
"Bukankah itu teknik cacat yang sengaja diisolasi di lantai tiga Menara Kitab?"
Lin Tian berjalan berdampingan dengan Ye Chuan menuju jalan setapak kembali ke Puncak Azure Heaven.
"Aku hanya melihatnya sekilas kemarin. Teknik itu memang memiliki beberapa bagian yang hilang, tetapi setelah kupelajari, sirkulasinya sebenarnya bisa disederhanakan dengan membalikkan aliran Qi di meridian lengan kiri. Untungnya, itu berhasil."
Mendengar penjelasan Lin Tian yang terdengar begitu meremehkan hukum kultivasi, Ye Chuan hampir saja tersandung kakinya sendiri. Memperbaiki teknik tingkat Bumi yang cacat hanya dalam waktu dua hari, lalu menggunakannya dengan sempurna di medan laga? Jika para leluhur sekte yang menciptakan teknik itu masih hidup, mereka mungkin akan memuntahkan darah karena merasa tidak berguna di hadapan pemahaman bela diri Lin Tian.
"Kamu... benar-benar bukan manusia, Saudara Lin," desah Ye Chuan,
menggelengkan kepalanya pasrah namun matanya tetap berbinar penuh rasa hormat.
"Namun, kamu harus tetap berhati-hati. Song Jian hanyalah peringkat kelima. Empat murid dalam teratas di atasnya memiliki kekuatan yang jauh lebih mengerikan, terutama peringkat pertama"
**Zhao Feng**
"yang kabarnya telah menyentuh batas Ranah Pemurnian Meridian Level 9 dan merupakan keponakan dari salah satu Tetua Agung faksi dalam."
"Zhao Feng?"
Lin Tian menatap barisan pegunungan di depan mereka dengan pandangan datar.
"Selama dia tidak mencari masalah denganku, aku tidak peduli siapa paman di belakangnya. Tapi jika dia mengikuti jejak Song Jian, pedang besarku tidak keberatan untuk mematahkan beberapa tulang lagi."
Kata-kata Lin Tian sarat akan kepercayaan diri mutlak seorang mantan Dewa Bela Diri. Di matanya, konflik internal sekte ini hanyalah riak kecil di sebuah kolam dangkal. Fokus utamanya tetaplah mengumpulkan kekuatan secepat mungkin untuk menembus Ranah Fondasi Jiwa dan melangkah menuju wilayah luar domain yang lebih luas.
Malam itu, kembalinya Lin Tian ke Paviliun Azure Spirit di Puncak Azure Heaven tidak dihabiskan dengan beristirahat. Setelah membersihkan diri dan menukar sebagian poin kontribusi milik Song Jian dengan tiga botol **Cairan Pemurni Sumsum Tingkat 2**, Lin Tian kembali duduk bersila di tengah formasi pengumpul Qi kamarnya.
Dia mengeluarkan tiga botol obat tersebut, lalu meminumnya sekaligus tanpa ragu. Cairan obat yang sangat panas mengalir turun ke tenggorokannya, memicu reaksi membara di dalam perutnya.
*‘72 meridian telah terbuka, kini saatnya menyentuh batas transformasi berikutnya!’* batin Lin Tian menderu.
Pusaran Dantian emasnya kembali berputar ke arah berlawanan, menyerap esensi obat dan memompanya langsung menuju 36 meridian tersembunyi yang tersisa di tubuhnya. Kamar kultivasi itu kembali bergetar hebat, diselimuti oleh kabut spiritual perak yang kian menebal seiring berjalannya malam. Badai besar baru sedang dipersiapkan di bawah kulit remaja desa ini, dan ketika saatnya tiba, seluruh Benua Azure sekali lagi harus gemetar di bawah kakinya.
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉