Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembohong Ulung
Pembohong ulung
“Oh jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Dirga pada temannya yang sebenarnya adalah pemilik dari perusahaan ini. Sedangkan ia hanya membantu saja dengan diming-imingi saham untuk hari tua.
“Ya, Rindu itu menantunya Bella. Dan Bella adalah rekan bisnis istriku,” sahut Rayen sembari menatap Rindu dengan senyum manisnya.
“Kalau begitu kalian tidak perlu diperkenalkan lagi dong. Komunikasi juga akan semakin enak nantinya. Baguslah,” ujar Dirga yang lega meninggalkan perusahaan karena setelah ini ia akan menetap di tempat kelahiran yang jauh dari hiruk pikuk ibukota.
Rayen mengangguk setuju. ia pikir, ia akan bertemu orang baru dan sepanjang perjalanan menuju gedung ini, ia sudah membayangkan bahwa sekretaris Dirga adalah orang yang bebal, sudah tua, dan tidak kreatif. Tapi nyatanya, semua itu diluar ekspektasi.
“So, Mari kita mulai peralihan ini!” kata Dirga lagi.
Rayen mengangguk dengan semangat. “Oke! Ayo kita mulai!”
Rindu ikut mengangguk seperti Rayen dan Dirga. Semangat kedua pria itu pun sampai pada dirinya. “Oke!”
Hampir setengah harian, Rindu berkutat dengan pekerjaan, peralihan pimpinan dari Dirga menjadi Rayen membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Rindu pun banyak berperan untuk memberitahu informasi yang belum diketahui Rayen tentang perusahaan ini.
Sebelumnya, Rayen menangani usaha keluarga. Dan masih belum bisa melepaskan perusahaan itu karena kondisinya yang belum stabil paska keterpurukan ekonomi akibat pandemik. Sementara, hanya usaha ekspor impor yang dipegang Dirga ini yang tetap stabil dan tidak mengalami keterpurukan, meski keadaan ekonomi negara yang tidak stabil.
Rindu semakin suka bekerja. Dengan bekerja, sejenak ia melupakan permasalahan rumah tangga.
“Hah, akhirnya pekerjaan hari ini selesai juga,” ucap Rayen sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya itu.
Di depan Rayen, Rindu menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Dirga sudah pamit, usai kepamitannya bersama karyawan dirayakan saat jam makan siang tadi.
“Rin,” panggil Rayen yang melihat Rindu tak menanggapi perkataannya.
“Rindu. Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?” tanya Rayen yang melihat Rindu hanya memainkan ballpoint-nya.
“Hah! Apa?” Rindu pun mendongak dan menatap Rayen.
“Ck, kamu tidak mendengarkan perkataanku?”
Rindu nyengir. “Maaf, Pak.”
Senyum yang berupa cengiran dan menampilkan jejeran gigi Rindu yang rapih itu membuat Rayen juga tersenyum. pasalnya, menurut Rayen senyum yang terbit di wajah Rindu sangat cantik.
“Kamu sedang ada masalah?”
Rindu menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak.”
“Orang hidup itu tidak ada yang tidak ada masalah,” ucap Rayen.
“Memangnya Bapak juga ada masalah?” tanya Rindu yang ingin mengorek kehidupan pribadi Rayen. Ia ingin mengetahui sejauh mana pria itu tahu tentang sepak terjang istri dan anaknya.
“Ada.”
Rindu pun menegakkan punggungnya dan menatap wajah Rayen serius.
Namun, pria itu malah tertawa. “Wajah seriusmu lucu sekali, Rin. Ya ampun!”
Rindu tidak jadi memasang wajah serius. Ia malah mengumpat Rayen yang menertawakannya.
“Baiklah, aku yang akan serius sekarang.” Rayen menghentikan tawanya. “Sejak pandemik melanda, masalahku sangat banyak. Waktuku untuk keluarga nyaris tak ada. Makanya tak heran jika sampai saat ini, saya di mana, istri saya di mana, anak saya pun di mana?”
“Mereka bukannya sedang liburan?” tanya Rindu yang sempat mendengar cerita Rayen tentang keberadaan anak dan istrinya.
“Ya, tadinya begitu. Sekarang malah anak saya minta kuliah di sana.”
“Melbourne?”
“Ya.” Rayen mengangguk.
“Biarkan saja, ayahnya kan banyak uang,” ledek Rindu tersenyum.
Rayen tertawa. “Tapi tidak bagus juga mendidik anak dengan uang. Mereka tidak akan mandiri.”
Rindu mengangguk setuju.
“Jadi anak dan istri Bapak akan lama kembalinya?”
“Ya. Bisa jadi satu bulan. Saya seperti bujangan kan?” Rayen tertawa.
Rindu hanya menanggapi dengan senyum tipis. Ia berpikir, jika Miskha kuliah diluar negeri, itu artinya sugar baby itu akan terpisah dengan sugar Daddy-nya. Apa Elang akan sering meminta keluar negeri dengan alasan perjalanan bisnis? Sepertinya akan seperti itu, pikirnya.
“Eh iya, Rin. Tadi file perusahaan Jaguar, ada di file mana?” tanya Rayen yang kemudian kembali membicarakan pekerjaan.
“Di C, Pak.”
“Tidak ada, Rin. Coba bantu cari.”
Rindu pun bangkit dan mendekati kursi bosnya. Kemudian, Rindu mengulurkan tangan untuk mengambil mouse yang sebelumnya dipegang oleh Rayen.
Srek
Kedua tangan itu pun bersentuhan. Rayen yang baru saja akan menarik tangannya, tiba-tiba masih tetap di sana sehingga tangan Medi mengenai punggung tangan pria itu.
“Maaf, Pak,” ucap Rindu.
“Saya yang minta maaf, Rin. Harusnya tangan saya segera pergi dari sini.” Pria baik itu menunjuk ke arah Mouse.
Rindu pun tersenyum. Lalu kembali melanjutkan niatnya untuk mencari file yang sudah terkirim ke laptop sang bos.
Rindu sedikit menunduk mensejajarkan kepalanya dengan laptop yang masih dilihat Rayen. Kepala mereka semakin dekat. Rayen berada persisi di samping Rindu.
“Nah, ini pak!” ujar Rindu dengan menoleh ke samping tepat ke wajah Rayen yang tak berjarak.
Wajah Rayen yang tampan, matang, dan berwibawa itu, seolah menghipnotisnya. Sebaliknya, Rayen pun merasakan yang sama. Bahkan sebelum Rindu menoleh, pria itu sudah lebih dulu memperhatikan sekretarisnya. Dan dalam hati memuji kecantikan Rindu.
“Oh, maaf pak.” Rindu segera memberi jarak Rayen hanya mengangguk. “Oke! Pekerjaanmu sudah selesai, Rin. Kalau kamu mau pulang silahkan! Kamu juga masih butuh istirahat kan setelah kecelakaan kemarin?”
Rayen menatap sekretarisnya lagi dengan tetap berada di kursinya.
Rindu mengangguk. “Iya, Pak. terima kasih.”
Rindu memilih pergi. ia pamit dan keluar dari ruangan bosnya itu. Sementara di dalam, Rayen tak henti menatap Rindu hingga wanita itu menghilang dari balik pintu yang ditutupnya kembali.
Rayen menggelengkan kepala, menghilangkan pujiannya terhadap Rindu. Dan menegaskan hati bahwa sekretarisnya adalah menantu Bella, teman baik Vera yang juga teman baiknya.
Usai keluar dari ruangan Rayen, Rindu tidak kembali ke ruangannya sendiri, melainkan mencari Samuel, tim IT diperusahaan itu yang mahir meretas.
“Sam.” Rindu memanggil nama itu setelah membuka pintu ruangan.
“Hai, Rin. Katanya dari pagi, kamu cari aku?” tanya pria itu.
“Iya, dari pagi ga ada di ruangan. kemana?”
“Ada deh.”
“Dasar!”
Sam tertawa. “Kenapa nyariin gue?”
“Mau minta tolong,” jawab Rindu yang sudah duduk tepat di depan Sam.
“Tolong apa?”
“Meretas nomor ini, bisa?” Rindu menyodorkan nomor ponsel Elang yang ia pegang.
“Nomor siapa nih?” tanya Sam.
“Suami.”
“Kenapa? Suami lu selingkuh?”
“Baru dugaan,” jawab Rindu bohong. Padahal ia sudah jelas-jelas melihat perselingkuhan itu, hanya saja saat itu ia lupa merekam dan memotret karena terlalu syok.
“Tapi gue minta sesuatu,” ucap Sam.
“Apa? Iphone 13 promax?” Rindu menebak.
Sam tertawa. “Ah, itu gue udah punya.”
“Ck. Terus apa? Kalau uang jangan banyak-banyak, gajiku ga gede.”
“Merendah,” ledek Sam.
“ya udah kalau gitu cium aja.”
Plak
Rindu memukul teman sejawatnya itu dan meninggalkannya. Sedangkan, Sam masih tertawa.
“Jangan lupa! Kabari aku secepatnya kalau sudah berhasil.”
“Iya bawel!” sahut Sam.
Rindu kembali berjalan menuju ruangannya.
Di tempat lain tepatnya di rumah minimalis yang tetap terlihat mewah, Elang baru saja pulang. Pria itu sengaja pulang lebih cepat. Bahkan, ia menolak keinginan Miskha yang memintanya untuk menemuinya di hotel yang sama seperti sebelumnya. Dan semua itu karena Rindu. Elang benar-benar khawatir dengan istrinya itu. Meski menurut Rindu, kekhawatiran itu hanya pencitraan di depan ibunya.
“Ma, Rindu belum pulang?” tanyanya sesampainya di dalam rumah.
Elang hanya mendapati Bella di ruang keluarga.
“Belum. Mama pikir kamu menjemput istrimu,” jawab Bella.
“Tidak.”
Ah, Elang lupa, seharusnya memang demikian. berhubung ia memang jarang menjemput sang istri, sehingga hal kecil seperti ini pun tidak ia lakukan.
Elang ikut duduk bersama ibunya.
“Bagaimana sih kamu? Istri lagi sakit masa ga dijemput.” Bella pun protes.
“Rindu kan awa mobil sendiri, Ma. Kalau aku jemput, nanti mobilnya gimana?”
“Ya, biarin aja mobilnya ditaroh di kantornya. Memang hilang? Kan aada security.”
Elang terdiam, karena ucapan sang ibu benar.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Elang berbunyi. Bella pun menyipit.
“Sebentar, Ma. Ada telepon dari kantor.” Elang langsung menjauh dari ibunya. Ia memilih menaiki anak tangga dan bergegas ke kamar.
Kemudian, Elang menutup pintu kamar kedap suara itu dengan sempurna. lalu, mengangkat telepon yang sempat tidak berdering dan berdering lagi.
“Miskha. Mas bilang jangan telepon ke nomor ini! Telepon ke nomor biasa, mengerti!”
“Ngga,” jawab remaja berusia delapan belas tahun itu. “Salah sendiri kenapa Mas ga nemuin aku!”
“Miskha, sudah berapa kali Mas bilang, Rindu habis kecelakaan. Mas ga bisa nemuin kamu sekarang.”
“Tapi besok aku mau ke Melbourne, Mas. aku mau daftar kuliah di sana. Nanti kita bakal ga ketemu lama. Ga mau bercinta satu kali lagi “Suami.”
“Kenapa? Suami lu selingkuh?”
“Baru dugaan,” jawab Rindu bohong. Padahal ia sudah jelas-jelas melihat perselingkuhan itu, hanya saja saat itu ia lupa merekam dan memotret karena terlalu syok.
“Tapi gue minta sesuatu,” ucap Sam.
“Apa? Iphone 13 promax?” Rindu menebak.
Sam tertawa. “Ah, itu gue udah punya.”
“Ck. Terus apa? Kalau uang jangan banyak-banyak, gajiku ga gede.”
“Merendah,” ledek Sam.
“ya udah kalau gitu cium aja.”
Plak
Rindu memukul teman sejawatnya itu dan meninggalkannya. Sedangkan, Sam masih tertawa.
“Jangan lupa! Kabari aku secepatnya kalau sudah berhasil.”
“Iya bawel!” sahut Sam.
Rindu kembali berjalan menuju ruangannya.
Di tempat lain tepatnya di rumah minimalis yang tetap terlihat mewah, Elang baru saja pulang. Pria itu sengaja pulang lebih cepat. Bahkan, ia menolak keinginan Miskha yang memintanya untuk menemuinya di hotel yang sama seperti sebelumnya. Dan semua itu karena Rindu. Elang benar-benar khawatir dengan istrinya itu. Meski menurut Rindu, kekhawatiran itu hanya pencitraan di depan ibunya.
“Ma, Rindu belum pulang?” tanyanya sesampainya di dalam rumah.
Elang hanya mendapati bella di ruang keluarga.
“Belum. Mama pikir kamu menjemput istrimu,” jawab Bella.
“Tidak.”
Ah, Elang lupa, seharusnya memang demikian. berhubung ia memang jarang menjemput sang istri, sehingga hal kecil seperti ini pun tidak ia lakukan.
Elang ikut duduk bersama ibunya.
“Bagaimana sih kamu? Istri lagi sakit masa ga dijemput.” Bella pun protes.
“Rindu kan awa mobil sendiri, Ma. Kalau aku jemput, nanti mobilnya gimana?”
“Ya, biarin aja mobilnya ditaroh di kantornya. Memang hilang? Kan aada security.”
Elang terdiam, karena ucapan sang ibu benar.
Dret… Dret… Dret…
Ponsel Elang berbunyi. Bella pun menyipit.
“Sebentar, Ma. Ada telepon dari kantor.” Elang langsung menjauh dari ibunya. Ia memilih menaiki anak tangga dan bergegas ke kamar.
Kemudian, Elang menutup pintu kamar kedap suara itu dengan sempurna. lalu, mengangkat telepon yang sempat tidak berdering dan berdering lagi.
“Miskha. Mas bilang jangan telepon ke nomor ini! Telepon ke nomor biasa, mengerti!”
“Ngga,” jawab remaja berusia delapan belas tahun itu. “Salah sendiri kenapa Mas ga nemuin aku!”
“Miskha, sudah berapa kali Mas bilang, Rindu habis kecelakaan. Mas ga bisa nemuin kamu sekarang.”
“Tapi besok aku mau ke Melbourne, Mas. aku mau daftar kuliah di sana. Nanti kita bakal ga ketemu lama. Ga mau bercinta satu kali lagi buat pengobat rindu?”
Mendengar nama Rindu, Elang pun mengingat lagi kapan terakhir ia bercinta dengan istrinya itu, sepertinya sudah cukup lama mereka tak melakukan ritual itu.
Elang pun merindukan sentuhan Rindu, meski amatir dan terbilang kaku, milik sang istri tetap tak ada duanya.
“Besok, jam berapa kamu berangkat?” tanya Elang.
“Dua siang.”
“Baiklah, sebelum ke kantor, aku akan menemuimu.”
Ceklek
Elang mendengar suara pintu kaamr terbuka.
“Ya, ya, saya akan datang pagi-pagi ke sana. Saya akan cek sendiri bahan bakunya dipabrik.”
“Oke!”
“Oke, jam sembilan.”
Elang berbicara tak lagi dengan suara dan nada yang sama seperti sebelumnya. Rindu pun menyipit. Ia tahu gelagat sang suami yang sapatutnya diberi gelar pembohong ulung.