Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Retakan Semakin Lebar
Keesokan paginya, dengan wajah pucat dan mata yang nyaris tidak bisa terbuka lebar karena kelelahan, Josh menceritakan kejadian semalam kepada Veron dan dengan sedikit keraguan yang masih tersisa kepada Gibran dan Brandon, yang akhirnya mulai memercayai ceritanya setelah mendengar detail yang semakin spesifik dan konsisten dengan catatan yang telah ia kumpulkan selama berhari-hari.
"Oke, gue mulai serem sendiri dengernya,"
Brandon berkata sambil merinding, memeluk tasnya sendiri seolah benda itu bisa melindunginya dari sesuatu yang tidak terlihat mata telanjang.
"Suara garukan di pintu itu... duh, jangan diomongin lagi deh, bulu kuduk gue berdiri semua."
"Kita harus cari tahu lebih lanjut soal kasus-kasus yang Veron temuin,"
kata Gibran, kali ini nadanya jauh lebih serius dari biasanya, jauh dari sikap ceroboh yang biasa ia tunjukkan.
"Kalau ini beneran pola yang berulang, berarti ada sesuatu yang nyambungin semua korban itu, dan kita harus tahu apa itu sebelum kejadiannya nimpa Josh beneran."
Sebelum berangkat, mereka sempat berdebat kecil soal apakah sebaiknya memberi tahu orang tua masing-masing tentang rencana mereka. Brandon bersikeras ingin membawa kakaknya yang kuliah di jurusan sejarah, berharap bisa membantu membaca dokumen-dokumen lama dengan lebih baik, namun akhirnya mereka sepakat untuk tetap merahasiakan semuanya, khawatir orang dewasa hanya akan menganggap ini sebagai imajinasi berlebihan anak remaja yang kebanyakan nonton film horor.
Mereka berempat akhirnya sepakat untuk menyelidiki lebih jauh, dimulai dari mencari tahu identitas siswa yang hilang dalam kliping berita paling awal yang ditemukan Veron. Menurut catatan lama, keluarganya dulu tinggal tidak jauh dari sekolah mereka, meski kini rumah itu sudah lama kosong dan ditinggalkan begitu saja, terbengkalai dimakan waktu.
Sepulang sekolah, mereka berjalan bersama menuju alamat yang tertera di berita lama itu, langkah mereka semakin pelan seiring semakin dekat dengan tujuan. Rumah tersebut tampak using dan terbengkalai, catnya mengelupas di banyak bagian dinding, dan halamannya dipenuhi rumput liar yang tumbuh tak terkendali hingga setinggi lutut.
"Ini beneran rumahnya?"
tanya Brandon ragu, matanya menyapu bangunan yang terasa asing sekaligus mencekam, seolah bangunan itu sendiri menyimpan sesuatu di balik dindingnya yang usang.
"Sesuai alamat di beritanya,"
jawab Veron, memeriksa ponselnya sekali lagi untuk memastikan, meski suaranya sendiri terdengar sedikit ragu.
Josh melangkah mendekati pagar rumah itu, matanya tertuju pada jendela lantai dua yang tirainya sobek di beberapa bagian, tertiup angin sore yang mulai bertiup kencang. Sesaat, ia yakin melihat sesuatu bergerak di balik tirai itu bayangan samar yang segera menghilang begitu ia berkedip, seolah sengaja menghindar dari pandangannya.
"Lo liat itu nggak?"
bisiknya kepada Gibran yang berdiri di sampingnya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Liat apa?"
Gibran menoleh, matanya menyipit mencoba melihat apa yang dimaksud Josh.
Josh tidak menjawab, hanya menggeleng pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya efek cahaya sore yang memantul aneh di kaca jendela tua. Namun rasa dingin yang menjalar di tengkuknya berkata lain.
Mereka tidak berani masuk ke dalam rumah itu hari itu, memutuskan untuk kembali di lain waktu dengan persiapan yang lebih matang senter, mungkin bahkan izin dari orang tua agar bisa pergi lebih malam. Namun sebelum mereka benar-benar beranjak pergi meninggalkan halaman rumah itu, angin sore tiba-tiba berhembus kencang tanpa peringatan, membawa serta suara berbisik pelan yang hanya bisa didengar oleh Josh seorang, seolah suara itu menembus langsung ke dalam kepalanya tanpa melalui telinga.
"Josh... kembali..."
Ia menoleh cepat ke arah rumah itu, jantungnya berdegup begitu keras. Tirai di jendela lantai dua sudah tidak bergerak lagi, diam sepenuhnya seolah tidak pernah bergoyang sama sekali. Namun rasa dingin yang menjalar di tengkuknya tidak juga hilang, bahkan hingga mereka telah berjalan cukup jauh meninggalkan tempat itu menuju jalan raya yang lebih ramai.
Josh menoleh sekali lagi ke belakang sebelum benar-benar kehilangan pandangan terhadap rumah tua itu, dan detik itu juga, ia melihatnya dengan jelas sosok pria berjas hitam berdiri tepat di depan pintu rumah yang tadinya kosong, tangannya terangkat perlahan, seolah melambai kepadanya dengan gerakan yang sama sekali tidak terasa ramah.
Josh tahu, mereka baru saja menyentuh permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih berbahaya dari yang pernah mereka kira sebelumnya dan sosok itu kini tahu bahwa mereka tahu.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menoleh lagi ke arah rumah tua itu, langkah kaki mereka semakin cepat tanpa perlu diberi aba-aba, seolah insting mereka masing-masing sepakat bahwa semakin jauh mereka dari tempat itu, semakin aman pula perasaan mereka, meski jauh di lubuk hati masing-masing, mereka tahu benar bahwa jarak fisik tidak akan pernah cukup untuk benar-benar menjauh dari apa yang baru saja mereka bangunkan.
Sesampainya di jalan raya yang lebih ramai, mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas, saling menatap satu sama lain dengan raut wajah yang masih dipenuhi ketegangan. Gibran mencoba mencairkan suasana dengan lelucon kecil tentang betapa cepatnya mereka berlari, namun tidak satu pun dari mereka benar-benar tertawa, hanya senyum tipis yang dipaksakan sebagai bentuk penghiburan sesaat sebelum mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah yang masih terburu-buru.
Sesampainya di rumah masing-masing malam itu, tidak satu pun dari mereka benar-benar bisa tidur dengan tenang. Josh berulang kali memeriksa jendela kamarnya, memastikan gorden benar-benar tertutup rapat, sementara di sisi kota yang lain, Veron dan Brandon mengalami kegelisahan serupa tanpa saling mengetahui, masing-masing menyimpan ketakutan mereka sendiri-sendiri, belum menyadari bahwa perasaan tidak nyaman itu adalah bagian dari kemampuan mereka yang sesungguhnya.
Tepat pukul 02.02 malam itu, di tiga rumah berbeda yang berjarak cukup jauh satu sama lain, tiga remaja yang belum saling menyadari kesamaan mereka terbangun dalam waktu yang nyaris bersamaan masing-masing menatap langit-langit kamar dengan jantung berdebar, tanpa satu pun dari mereka tahu bahwa dua sahabatnya sedang mengalami hal yang persis sama, di saat yang persis sama pula.
...****************...
Makin Seru Nih Lanjut Esok Yah
02.02