Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Tidur Dengan Kakak Ipar (Revisi)
"Selina, cepat pilih pria untuk tidur denganmu malam ini!"
Suara teriakan itu bercampur dentuman musik yang memekakkan telinga. Cahaya lampu berwarna-warni menari di langit-langit bar, membuat kepala Selina berdenyut.
Perlahan ia membuka mata.
Pandangan pertamanya adalah beberapa pria dan wanita berpakaian mewah yang sedang mengelilinginya. Wajah mereka dipenuhi senyum jahil, seolah sedang menunggu pertunjukan paling menarik malam ini.
"Kau jangan bilang ingin kabur!"
"Tidak boleh! Kau kalah taruhan!"
"Tunjuk satu pria sekarang juga!"
Selina mengerutkan kening.
Taruhan?
Ia memandang sekeliling dengan bingung.
Bukankah...
"Aku sudah mati..."
Gumamannya tenggelam di antara hiruk-pikuk musik.
Ingatannya kembali pada kecelakaan yang merenggut nyawanya. Rasa sakit itu begitu nyata hingga ia yakin tidak mungkin masih hidup.
Lalu...
Mengapa ia berada di tempat asing seperti ini?
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, sebuah suara datar bergema di dalam kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan. Anda telah dipilih oleh Sistem Balas Dendam.]
Selina membeku.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
Tak seorang pun berbicara.
Suara itu terdengar jelas, tetapi seolah hanya dirinya yang mampu mendengarnya.
"Siapa kau?"
[Saya adalah Sistem Balas Dendam.]
Selina menghela napas pelan.
"Bukankah aku sudah meninggal? apa, kecelakaan itu hanya mimpi? Tapi, dimana ini?" gumamnya yang masih sedikit tidak percaya.
Sistem balas dendam? Hidup kembali? Apa ini dunia novel?
[Ini bukan mimpi. Anda telah meninggal, kemudian dipanggil ke dunia ini untuk menegakkan keadilan yang gagal ditegakkan oleh hukum dunia ini.]
Kalimat itu membuat sorot mata Selina berubah.
Semasa hidup, ia adalah seorang pengacara.
Ia rela membela korban tanpa meminta bayaran, selama masih ada kesempatan mengembalikan keadilan kepada mereka.
Karena itulah kata "keadilan" selalu berhasil menarik perhatiannya.
"Apa maksudmu?"
Belum sempat sistem menjawab, seorang wanita kembali menarik lengannya.
"Selina! Cepat! Semua orang menunggu."
Selina menoleh.
Wanita itu tampak begitu akrab dengannya.
Namun...
Ia sama sekali tidak mengenalnya.
Kepalanya tiba-tiba berdenyut.
Potongan-potongan ingatan asing membanjiri pikirannya.
Nama tubuh ini...
Selina.
Usia dua puluh dua tahun.
Mahasiswi.
Dan malam ini...
Ia kalah taruhan.
Hukuman yang diterimanya adalah menghabiskan malam bersama pria asing pilihan sendiri.
Otot rahang Selina menegang.
"Taruhan macam apa ini?"
[Taruhan yang bodoh.]
Jawaban sistem terdengar datar.
(Jadi, Tuan, apa anda tertarik untuk mengikat sistem balas dendam?)
"Kenapa aku harus mengikatnya?" tanyanya dengan wajah dingin.
Sistem masih terlihat tenang.
(Karena, hanya dengan mengikat sistem, anda akan selamat malam ini.)
[Namun, bila Anda menolak sekarang, konsekuensinya jauh lebih buruk.]
"Apa maksudmu?"
[Dalam garis waktu sebelumnya, pemilik tubuh ini memilih seorang pria yang terlihat sopan.]
Selina terdiam.
[Sayangnya pria itu memiliki kecenderungan melakukan kekerasan saat berhubungan intim.]
Jantung Selina berdegup keras.
[Tiga hari kemudian, tubuh pemilik asli ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.]
Wajah Selina langsung mengeras.
"Jadi..."
[Saya bisa membantu anda memilih pria yang tepat.]
Suasana bar masih riuh.
Namun bagi Selina, semua suara itu seakan menghilang.
Ia hanya mendengar satu kalimat.
Aku akan mati malam ini. Mati lagi.
Tangannya perlahan mengepal.
"Tidak."
Ia sudah mati sekali.
Ia tidak berniat mati untuk kedua kalinya.
"Kalau begitu, siapa yang harus kupilih?"
Suara sistem kembali terdengar.
(Jadi, Tuan, apa anda tertarik mengikat sistem balas dendam ini?)
Selina menggertakkan gigi. "Bukankah aku tidak memiliki pilihan?"
Sistem tersenyum puas.
(Baiklah, dalam hitungan tiga, sistem balas dendam akan langsung terikat dengan jiwa Tuan.)
Satu.
Dua.
Tiga.
[Selamat, sistem berhasil diikat, dan target telah ditemukan.]
Selina mengangkat kepala. Ada perasaan seperti menyengat di kepalanya saat pengikatan selesai. Seperti ada sesuatu yang lain, yang diam diam menyusul di tubuhnya. namun, ia mengabaikannya. Ada hal yang jauh lebih penting.
Tatapannya mengikuti arah yang ditunjukkan sistem.
Di sudut ruangan, seorang pria duduk sendirian.
Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun kerutan. Wajahnya dingin, membuat orang-orang di sekitarnya enggan mendekat.
Selina memperhatikannya tanpa berkedip.
"Dia?"
[Benar.]
"Kenapa dia?"
Tak ada jawaban dari sistem, dan hal itu membuat Selina menggertakkan gigi.
Teman-temannya kembali bersorak.
"Selina! Cepat pilih!"
“Selina,” panggil teman temannya lagi.
Seolah sudah membulatkan tekat, Selina mengangkat kepalanya. Wajah cantiknya membuat beberapa pria yang melihatnya terpesona.
“Baiklah, aku akan memilih pria itu sendiri,” ucap Selina yang membuat semua orang bersorak.
Sorakan itu membuat pria dengan jas rapinya mengerutkan kening.
“Tuan Maxim, apa anda membutuhkan teman?” tanya pelayan wanita yang sejak tadi mengagumi wajah Maxim.
Maxime yang mendengar itu memasang wajah dingin. Melihat seragam pendek yang dikenakan wanita itu, ia menatapnya tajam.
“Enyah!” usirnya tanpa berpikir dua kali.
Sementara Selina yang sejak tadi tidak mendengar instruksi apa pun lagi dari sistem dengan tegas berjalan ke arah pria berjas itu.
Jika hanya pria itu yang bisa menyelamatkannya dari kematian, untuk apa ragu?
Dengan sepatu hak tingginya, serta gaun merahnya yang mencolok membuat beberapa pasang mata menatapnya.
“Tuan, bisakah saya meminta waktu anda sebentar?” tanya Selina sopan.
Dia bahkan tersenyum tipis. Bukan senyum sanjungan, hanya senyum formal yang membuat beberapa teman Maxime yang baru saja menertawakan pelayan wanita yang diusir oleh Maxime itu tertegun.
Maxime sendiri, yang tak menyangka akan ada wanita yang berani mendatanginya itu mendongak. Baru saja ia hendak memarahinya, matanya sedikit berkedip saat bertemu dengan tatapan dalam dari wanita asing itu.
Selina yang melihat itu tersenyum. Sementara sistem yang sejak tadi sunyi tiba tiba berbicara.
[“Target terkunci!”]
(Misi Pertama, tidurlah dengan pria bernama Maxime)