NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Jangan Nikah sama Abangku

Hari-hari setelah Rakai pulang berlalu seperti hitung mundur yang sengaja dibuat bising.

Laras membawanya mengunjungi tempat-tempat lama di Jakarta, lalu ikut perjalanan singkat ke arena ski dalam ruangan dan hotel pegunungan bersama Kirana. Ia memakai kegiatan itu untuk menghindari Radit sekaligus menyiapkan rencana terakhir.

Pada malam kedua di hotel, Laras terbangun dan melihat ranjang Kirana kosong. Lampu kamar mandi padam. Pintu balkon terkunci. Ketika ditanya pagi harinya, Kirana bersikeras tidak pernah pergi.

"Mungkin kamu mimpi," katanya terlalu cepat.

Rakai yang datang terlambat saat sarapan juga menghindari tatapan Laras. Sejak kembali ke Jakarta, keduanya beberapa kali menghilang pada waktu yang sama. Laras menyimpan kecurigaan itu karena masalahnya sendiri jauh lebih mendesak.

Dua hari sebelum akad, Bram mengirim pesan aneh.

Kamu suka kota mana?

Untuk apa?

Kalau harus tinggal lama.

Laras tidak menjawab.

Pada malam yang sama, penyelidik mengirim laporan terakhir. Kelompok Tiara telah membayar lima ratus juta rupiah melalui rekening seorang kerabat kepada anggota tim acara. Sebagai imbalan, sebuah USB akan menggantikan video pembuka pertunangan dengan rekaman hotel yang memalukan. Tim penyelidik berhasil menyalin berkas pengganti tersebut.

Aliran uang itu sengaja dibuat berlapis, tetapi waktu transfer dan percakapan yang disadap dari sumber terbuka mengarah pada orang yang sama. Tiara tidak turun tangan langsung. Ia memakai sepupu, sepupunya memakai rekening usaha kecil, lalu uang berpindah ke kru audiovisual yang hanya bertugas pada hari acara. Jika rencana berhasil, Tiara bisa mengaku sama terkejutnya dengan semua orang.

"Dia lebih pintar dari yang saya kira," kata Laras.

"Atau lebih putus asa," jawab Kirana.

Kirana memutar beberapa detik tanpa suara. Wajah Radit dan Tiara terlihat jelas di koridor sebelum keduanya berciuman.

"Kita bisa hentikan," katanya.

Laras menatap layar. "Tidak."

Ia sempat meminta Radit menghapus kursi media dari acara. Radit menolak karena ingin seluruh negeri menyaksikan kebahagiaan mereka. Setelah mendengar itu, Laras menghapus draf pesan peringatan.

Biarkan semuanya hancur.

Ia menyiapkan dua jalan keluar. Jika video diganti, ia akan menangis dan berlari. Jika Tiara kehilangan keberanian, Laras akan mengatakan tidak sebelum ijab kabul, lalu tetap pergi. Dengan cara apa pun, ia tidak akan menjadi istri Radit hari itu.

Kirana sudah memarkir mobil di dekat gerbang servis. Sepatu datar, jaket panjang, paspor, dan satu koper kecil disimpan di bagasi. Mbak Ranti menyiapkan pernyataan bahwa Laras membutuhkan ruang setelah pengkhianatan publik. Rakai hanya diberi tahu agar tetap dekat dan tidak membiarkan siapa pun memaksa kakaknya menandatangani dokumen.

Laras tidak memberitahunya tentang video. Adiknya terlalu mudah meledak jika menyangkut keluarga.

Tanggal 16 Januari tiba.

Kompleks acara di perkebunan keluarga Adiwangsa dihias bunga putih dan emas. Akad akan dilakukan setelah sambutan pembuka, baru kemudian resepsi besar. Penghulu sudah tiba tetapi belum memasuki panggung utama. Secara hukum, belum ada satu kata pun yang mengikat Laras sebagai istri.

Bram datang dengan setelan gelap dan dasi sampanye sebagai pendamping keluarga. Ia membantu Pak Gito mendorong kursi roda Eyang melewati barisan media.

"Wajahmu seperti orang mau merampok bank," gumam Eyang.

"Dasi ini jelek."

"Bukan dasinya. Apa yang mau kamu lakukan?"

Bram tidak menjawab. Ia menemukan Bimo dan Gilang di dekat pintu aula.

Sejak pagi, ia sudah tiga kali hampir meninggalkan tempat itu. Setiap kali melihat dekorasi nama Laras dan Radit, sesuatu di dadanya terasa diputar. Namun ia tetap datang karena jika Laras memilih akad, ia ingin mendengar pilihannya sendiri, bukan versi keluarga.

"Kalau ada yang mencari, bilang aku kabur," katanya.

"Kabur ke mana?" tanya Bimo.

"Dengan siapa?" Gilang justru bertanya.

Bram sudah berjalan menuju koridor ruang persiapan.

Di ruang rias, Laras duduk mengenakan kebaya putih modern dan kerudung tipis yang akan dipasang sebagai veil. Seorang asisten sedang merapikan bros ketika pintu terbuka keras.

"Semua keluar," kata Bram.

Asisten dan penata rias melihat wajahnya, lalu cepat mengumpulkan alat. Laras berdiri begitu pintu tertutup.

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

Bram mengunci pintu. "Mengambil pengantinnya."

Laras bergerak ke pintu lain menuju koridor servis, tetapi Bram lebih cepat. Ia menahan gagang, memaksanya mundur sampai punggung Laras menyentuh dinding.

"Minggir."

"Jangan nikah sama abangku. Bisa nggak?"

Tidak ada senyum pada wajah Bram. Ia menunduk hendak menciumnya, tetapi Laras menutup bibir dengan telapak. Ciuman itu hanya jatuh pada kulit tangannya.

Bram tetap di sana, napasnya panas di antara jari Laras. "Aku serius."

"Saya juga. Minggir."

"Ambil paspormu. Pilih kota mana pun. Kita pergi sebelum mereka sadar."

Pertanyaan dua hari lalu akhirnya mendapat bentuk. Bram benar-benar datang untuk membawanya kabur.

Seandainya ia datang sebelum Laras menyiapkan seluruh rencana, mungkin jawabannya berbeda. Seandainya Laras tahu apa yang disembunyikannya di balik piano, tato, dan kota New York yang bahkan belum pernah ia dengar, mungkin ia berani menyerahkan arah hidup kepada lelaki ini.

Namun Bram masih menyimpan terlalu banyak pintu tertutup. Laras baru saja berjuang mengambil kendali dari keluarganya. Ia tidak bisa menyerahkannya kepada orang lain, bahkan kepada orang yang membuatnya ingin mengatakan iya.

Selain itu, pergi bersama Bram sekarang akan membuat semua bukti tenggelam di bawah satu narasi baru: pianis tidak setia kabur dengan adik calon suami. Radit akan berubah dari pelaku menjadi korban. Tiara bisa bersembunyi. Keluarga akan menyalahkan Laras, dan kebenaran tentang pengkhianatan pertama tidak pernah mendapat panggungnya.

Ia tidak akan memberi mereka jalan keluar semudah itu.

"Tidak bisa," jawabnya.

Rahang Bram mengeras. Ia mencium Laras sekali, penuh frustrasi, tetapi Laras mendorongnya dan menoleh.

"Saya tidak akan ikut kamu. Hormati keputusan saya."

Keheningan jatuh.

Bram melepaskannya. Ia mengusap bekas lipstik dari bibir dengan ibu jari, lalu tertawa hambar.

"Baik," katanya. "Aku hormati."

Ia membuka pintu dan pergi tanpa menoleh. Di ujung koridor, Kirana melihatnya lewat dengan wajah kosong. Ia masuk ke ruang rias setelah beberapa detik.

"Kamu baik-baik saja?"

"Perbaiki lipstik saya."

Sepuluh menit kemudian, Pak Broto datang untuk mengantar putrinya ke aula. Veil putih menutupi sebagian wajah Laras. Musik pembuka terdengar. Ia meletakkan tangan pada lengan ayahnya dan berjalan menuju panggung tempat Radit menunggu.

Layar besar menampilkan foto pertunangan mereka. Satu gambar berganti gambar lain. Senyum, bunga, tangan yang saling menggenggam.

Tidak ada rekaman hotel.

Langkah Laras semakin dekat ke Radit. Jantungnya memukul tulang rusuk. Jika video tidak muncul, ia harus memakai rencana kedua dan menolak sebelum penghulu memulai ijab kabul.

Ia tiba hanya beberapa langkah dari panggung.

Tiba-tiba seluruh layar padam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!