Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Temani Aku
Di hotel sederhana yang terletak di pinggiran kota, Louis membawa Karissa masuk ke dalam lobi. Ia menghampiri meja resepsionis, lalu memesan satu kamar. Setelah mendapatkan kunci kamar, ia segera membawa wanita itu naik ke lantai atas.
Di dalam lift, Karissa bertanya pada Louis, “Kenapa membawaku ke hotel jelek seperti ini? Apa kau takut uangmu habis dipakai untuk membayar sewa kamar hotel berbintang?”
Louis tidak menjawab.
Ia hanya tidak ingin orang lain melihat Karissa dalam keadaan mabuk dan menginap di hotel berbintang. Mungkin saja di sana ada banyak rekan ayahnya dan mengenali Karissa. Karena itulah, Louis memilih hotel biasa untuk ibu tirinya itu.
“Haha! Louis, kau tidak perlu takut! Aku mampu membayar biaya sewa kamar hotel, sekalipun itu hotel berbintang kelas terbaik,” ucap Karissa lagi.
“Bukankah suamiku pemilik Ratu Hotel, hotel terbaik di negeri ini? Lalu, kenapa istrinya harus menginap di hotel jelek seperti ini?” ocehnya lagi tanpa henti.
Efek alkohol membuat Karissa terus berbicara tanpa memedulikan Louis yang sejak tadi diam.
Karissa menatap langit-langit lift, memerhatikan setiap sudut ruangan yang terlihat sederhana.
“Apa kau malu ... mengantar ibu tirimu pergi ke hotel bagus, hah?” tanyanya sambil mendongak, menatap Louis seolah sedang menantang pria itu.
Louis masih tidak menjawab. Tangannya hanya terkepal erat di sisi tubuhnya.
“Benar kau malu meng—”
“Emmhh ....”
Ucapannya tiba-tiba terhenti.
Louis sudah kehilangan kesabaran. Ia menutup mulut Karissa dengan ciuman, mendorong wanita itu bersandar ke dinding. Karissa terkejut dan tidak sempat melawan.
Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka.
Louis segera melepaskan ciumannya.
“Jaga ucapanmu! Aku tidak ingin mendengar kau mengatakan hal itu!” peringat Louis.
Ia kemudian menarik tangan Karissa keluar dari lift.
Hal apa?
Karissa mengedipkan mata beberapa kali. Ia menyeka bibirnya yang terasa basah dengan punggung tangan, masih bingung dengan maksud ucapan Louis.
Sesampainya di depan pintu kamar, Louis segera membuka kunci. Setelah pintu terbuka, ia melepaskan tangan Karissa dan mendorongnya perlahan masuk ke dalam kamar.
“Masuklah! Besok pagi aku akan menjemputmu pulang,” ucapnya sambil bersiap pergi.
Sebelum ia benar-benar pergi, terdengar Karissa berbicara, “Temani aku!”
Langkah Louis langsung terhenti.
“Apa yang kau katakan?” Louis menoleh.
Ia melihat Karissa menatapnya dengan tatapan datar.
“Kau ... sungguh ingin aku menemanimu?” tanyanya untuk memastikan.
Karissa tidak menjawab.
Otaknya benar-benar sudah tidak mampu berpikir jernih. Di satu sisi, ia ingin bersama Louis. Namun, di sisi lain, ia juga tidak ingin terlalu dekat dengan pria itu.
Melihat wajah Karissa yang kebingungan, Louis akhirnya menghampirinya.
“Baiklah! Aku akan menemanimu di sini sampai kau tidur. Setelah itu baru aku pulang!”
Karissa mengangguk.
Ia masuk ke dalam kamar sambil menundukkan kepala, diikuti Louis dari belakang.
Kamar itu sangat sederhana. Hanya ada satu tempat tidur, satu kamar mandi, dan dua sofa tunggal.
Karissa berdiri diam dengan wajah bingung. Ia tidak tahu harus melakukan apa terlebih dahulu.
Melihat keraguan wanita itu, Louis berkata, “Sebaiknya kau mandi dulu. Tubuhmu bau alkohol!”
“Nanti aku akan menghubungi seseorang untuk membawa pakaian untukmu!”
Ucapan itu membuat Karissa sedikit lega.
“Baiklah!”
Karissa segera masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya dengan air hangat.
Setelah Karissa masuk ke kamar mandi, Louis duduk di sofa. Ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
“Carikan satu set pakaian tidur wanita, berikut pakaian dalam. Antarkan ke Hotel Antik sekarang!”
“Louis, apa kau gila? Meminta aku mencari pakaian tidur wanita di jam dua belas malam? Jam segini tidak ada toko pakaian yang buka!” sergah seseorang dari seberang telepon.
“Jhosep! Di pusat kota banyak toko pakaian yang buka dua puluh empat jam. Kau bisa membelinya! Nanti uangnya aku transfer dua kali lipat,” jawab Louis, tidak mau mendengar penolakan dari temannya.
“Aishhhh, bukan hanya itu masalahnya! Aku malu harus membeli pakaian dalam wanita. Mau disimpan di mana mukaku kalau sampai ada orang yang lihat?”
Pria playboy seperti Jhosep harus membeli pakaian wanita lengkap dengan pakaian dalam. Ia bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana malunya jika ada orang yang mengenalinya.
“Tidak ... tidak! Aku tidak mau!” Jhosep menggelengkan kepala.
Mendengar penolakan dari teman baiknya, Louis pun tidak memaksa lagi.
“Ya sudah! Bawakan satu mobil untuk kupinjam! Besok kukembalikan!”
Karena Jhosep tidak mau membeli pakaian wanita, Louis memutuskan untuk pergi sendiri mencari toko pakaian.
“Eh, ngomong-ngomong, kau butuh pakaian wanita untuk siapa? Apa untuk Marine?”
Setahu Jhosep, wanita yang sedang dekat dengan Louis saat ini adalah Marine.
“Hah, Marine?” Louis tertawa mengejek. “Kalau sekarang aku bersama Marine, aku tidak perlu memintamu mencari pakaian wanita. Biarkan saja dia tidak berpakaian. Itu lebih bagus, kan?” candanya.
“Haha, benar juga!”
Belum sempat Louis melanjutkan perkataannya, ponselnya tiba-tiba dirampas.
Brak!
Ponsel itu dilempar dan jatuh cukup keras ke lantai.
Untungnya, ponsel mahal milik Louis tidak rusak. Hanya saja, layarnya mati dan sambungan telepon langsung terputus.
“Kar-Kariss?”
Louis segera berdiri. Ia menatap wanita yang saat ini hanya memakai handuk putih di tubuhnya. Karissa berdiri di samping sofa dengan tatapan penuh amarah.
“Kenapa ponselku dilempar? Aishhh, kau ini!”
Louis segera berjongkok, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai.
“Cepat pergi dari sini!” teriak Karissa sambil menunjuk pintu.
“Tapi kenapa? Kenapa kau marah?”
“Aku ingin kau pergi sekarang!” bentak Karissa lagi.
Ia tidak menjawab pertanyaan Louis.
Padahal beberapa saat sebelumnya, Karissa sudah menurunkan semua egonya. Ia bahkan ingin memperbaiki hubungannya dengan Louis, walaupun hanya sebatas teman. Ia tidak mau terus bermusuhan dengan pria itu.
Namun, setelah mendengar percakapan Louis dengan orang yang ada diseberang telepon, semua perasaan itu kembali berubah.
“Kariss! Katakan dulu, apa yang membuatmu marah? Aku melakukan kesalahan apa?” tanya Louis serius.
“Kalau tidak bilang, aku tidak mau pergi!”ancam Louis.
“Itu karena kau ....”
Karissa ragu untuk menjawab.
“Karena apa? Cepat katakan!”
“Pikirkan saja sendiri! Apa yang tadi kalian bahas di telepon!”
Karissa berjalan menuju pintu sambil memegang erat handuk yang membalut tubuhnya. Ia membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
“Sekarang cepat pergi!”
Louis terdiam.
Apa yang tadi aku bahas dengan Jhosep? Kami membahas tentang ...
Perlahan, Louis mulai mengerti alasan Karissa marah.
“Kariss!”
Louis menyalakan ponselnya kembali.
Untung saja ponsel itu tidak mengalami kerusakan yang parah, hanya lecet dan mati saja. Setelah dinyalakan, ponselnya kembali bisa digunakan.
Setelah itu, Louis berjalan mendekati Karissa.
“Barusan, kami sedang bercanda di telepon! Tapi itu hanya candaan! Aku sama sekali tidak benar-benar ingin melihat tubuh Marine tanpa pakaian!”
“Aku tidak peduli! Sekarang cepat pergi!” usir Karissa yang masih memegang pegangan pintu.