Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14 — Tenang di Ruang Mediasi
"Saya hanya belum tahu siapa yang berdiri di balik pintu Kirana."
Raka belum menemukan jawabannya ketika tanggal mediasi tiba. Untuk pagi itu, pintu yang lebih penting berada di Pengadilan Agama.
Ia datang tiga puluh menit lebih awal bersama Pengacara Wisnu. Kemejanya putih tanpa pola, mapnya tipis, dan semua dokumen disusun menurut urutan: permohonan cerai talak, bukti panggilan, pernyataan harta, catatan transfer nafkah Keisha, usulan jadwal pertemuan anak, serta salinan rekam medis alergi yang pernah ia simpan.
"Tidak ada perekaman pribadi di ruang mediasi," kata Pengacara Wisnu. "Kita mengandalkan catatan mediator, tanda terima dokumen, dan proposal tertulis. Jawab seperlunya."
"Saya tidak datang untuk bertengkar."
"Itu yang membuat pihak lawan biasanya lebih gugup."
Di ujung lorong, Larasati datang bersama kuasa hukumnya. Sulastri dan Ratna mengikuti sampai area tunggu, tetapi petugas menghentikan mereka sebelum ruang mediasi.
"Kami keluarga inti," protes Sulastri.
"Mediasi dihadiri para pihak dan kuasa hukum sesuai arahan mediator, Bu," jawab petugas. "Ibu dapat menunggu di luar."
Sulastri menatap Raka. "Jangan merasa sudah menang hanya karena punya pengacara."
Raka mengangguk singkat. "Selamat pagi, Bu Sulastri."
Tak ada kalimat lain yang ia berikan.
Ruang mediasi lebih kecil daripada aula sidang. Tidak ada penonton dan tidak ada kamera media. Hakim mediator menjelaskan kerahasiaan proses, memastikan kewenangan para pihak, lalu memberi kesempatan untuk menyampaikan posisi.
"Pemohon, apakah masih membuka kemungkinan rukun?" tanyanya.
Raka menjawab tanpa melihat keluarga di luar. "Tidak, Yang Mulia. Keputusan saya tetap. Saya siap memenuhi kewajiban yang ditetapkan hukum dan menyelesaikan urusan anak secara jelas."
Mediator berpaling kepada Larasati. "Termohon?"
Larasati menarik napas. "Saya... meminta waktu. Pernikahan kami sudah lima tahun. Keputusan sebesar ini tidak seharusnya dibuat hanya karena satu makan malam."
Raka tidak memotong.
Mediator meminta alasan lain. Larasati berbicara tentang jadwal kerja, tekanan media, dan kebutuhan Keisha akan keluarga utuh. Ia tidak menyebut bahwa tim restrukturisasi ingin status pernikahan mereka bertahan sampai pengumuman pasar modal.
Pengacara Wisnu menggeser satu dokumen ke depan. "Klien kami telah memberi dua jadwal alternatif dan menawarkan mediasi daring sebelum penetapan hari ini. Karena itu, permintaan waktu tambahan tidak berkaitan dengan ketersediaan proses."
Kuasa hukum Larasati membuka proposal balasan.
Selain meminta perkara ditunda tiga bulan, pihak mereka mengusulkan pembayaran kompensasi Rp5.000.000.000 kepada Larasati serta tunjangan bulanan sampai proses restrukturisasi Balet Larasati selesai. Alasannya, perceraian dianggap berpotensi menurunkan nilai komersial nama Larasati.
Untuk pertama kalinya, alis mediator terangkat.
"Nilai komersial perusahaan bukan dasar untuk membebankan kerugian pasar modal kepada pasangan dalam mediasi rumah tangga," kata Pengacara Wisnu. "Klien kami telah menyatakan tidak menuntut bagian atas aset Prawira yang mereka klaim bukan harta bersama. Jika ada harta gono-gini yang benar-benar diperoleh bersama, statusnya dapat diinventarisasi. Mengenai kewajiban pascaperceraian, klien kami bersedia mengikuti penilaian hukum yang berlaku, termasuk mut'ah atau nafkah iddah bila relevan dan diputuskan. Namun tidak ada kewajiban otomatis membayar tunjangan mantan istri tanpa batas demi menjaga valuasi usahanya."
Raka menambahkan, "Saya tidak meminta satu rupiah dari Balet Larasati. Saya juga tidak menerima bila pernikahan saya dijadikan jaminan citra perusahaan."
Larasati memandang proposal di depan pengacaranya. "Mama tidak bilang angkanya sebesar ini."
"Bu Larasati," bisik kuasa hukumnya, mengingatkan.
"Apakah angka itu keinginan Anda?" tanya mediator.
Larasati ragu. Dari luar pintu, bayangan Sulastri bergerak di balik kaca buram.
"Saya ingin kepastian bahwa perceraian tidak menghancurkan usaha yang saya bangun," jawabnya akhirnya.
"Itu berarti jawabannya ya," kata Raka.
"Mas, jangan begitu."
"Di ruangan ini, saya pemohon dan Anda termohon. Mari bicara jelas."
Mediator mengarahkan percakapan pada Keisha. Larasati meminta hak pengasuhan utama. Raka tidak menolak mengingat usia anak dan rutinitasnya, tetapi mengajukan jadwal kunjungan, akses informasi sekolah serta kesehatan, pemberitahuan keadaan darurat, dan rekening khusus nafkah anak.
"Saya sudah melakukan transfer pertama," katanya sambil menyerahkan bukti. "Jumlah berikutnya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan Keisha, lalu dicatat dalam kesepakatan atau putusan."
Kuasa hukum Larasati membaca mutasi tersebut. Tidak ada lagi ruang untuk menyebut Raka melarikan diri dari tanggung jawab.
"Ada satu hal medis," lanjut Raka. Ia mengeluarkan salinan ringkasan rekam medis. "Keisha memiliki intoleransi laktosa dan riwayat alergi kacang serta mangga. Es krim berlapis emas yang dibeli dari restoran waktu ulang tahun Bu Sulastri mengandung rasa mangga dan kacang. Gold leaf bukan alergennya; komposisi di balik kemewahan itu yang berbahaya."
Larasati mengerutkan dahi. "Dia makan sedikit dan tidak terjadi apa-apa."
"Tidak adanya reaksi berat saat itu bukan jaminan konsumsi berikutnya aman. Tolong baca bahan dan ikuti rencana darurat dari dokter."
"Aku ibunya."
"Karena Anda ibunya, saya meminta Anda menganggap ini serius."
Mediator menerima salinan dokumen untuk dicatat sebagai salah satu kebutuhan anak. Larasati membubuhkan paraf pada tanda terima, meski gerakannya menunjukkan ketidaksabaran.
Setelah hampir dua jam, posisi mereka tidak bertemu. Raka menolak rujuk dan penundaan berbasis kepentingan usaha. Larasati tidak bersedia menyepakati penyelesaian tanpa masa tiga bulan dan kompensasi besar.
Mediator menyatakan mediasi tidak berhasil. Catatan resmi dibuat, dan perkara akan kembali ke majelis untuk tahap pemeriksaan berikutnya sesuai jadwal.
Tidak ada palu yang diketuk. Tidak ada satu tanda tangan yang langsung membuat mereka bercerai. Namun pintu penundaan tanpa akhir telah menyempit.
Di lorong, Sulastri langsung menghampiri Larasati. "Kenapa kau ragu saat ditanya soal kompensasi? Itu hakmu!"
"Bukan lima miliar yang kubicarakan dengan Mama."
"Angka pembuka harus tinggi. Sebas bilang posisi tawar—"
Raka berhenti dan menoleh. "Jadi Sebastian ikut menyusun tuntutan keluarga?"
Sulastri sadar telah bicara terlalu banyak. Ratna segera memotong. "Bukan urusanmu siapa yang memberi saran."
"Benar. Selama saran itu tetap berada dalam dokumen, pengadilan yang menilainya."
Pengacara Wisnu menyerahkan tanda terima berkas kepada Raka. Semua posisi hari itu tercatat tanpa perlu satu rekaman rahasia.
Larasati menyusul ketika Raka berjalan menuju tangga.
"Mas."
Raka berhenti, menjaga jarak satu anak tangga.
"Kamu benar-benar tidak merasakan apa-apa?" tanyanya. "Lima tahun selesai seperti kontrak yang ditutup?"
"Saya merasakan cukup banyak saat menunggu sendirian di depan makanan dingin." Suara Raka tetap rendah. "Yang selesai hari ini bukan perasaan. Yang selesai adalah kesempatan untuk memakai perasaan itu agar saya terus menunggu."
Ponsel Larasati berbunyi. Pesan suara Keisha diputar tanpa sengaja dari layar.
Mama, nanti Om Sebastian belikan es krim emas lagi, ya? Yang rasa mangga.
Raka menatap ponsel itu.
"Saya baru menyerahkan peringatannya di dalam."
Larasati mematikan suara. "Keisha cuma bicara. Jangan membesar-besarkan."
"Saya berharap Anda benar," kata Raka. "Karena kalau Anda salah, tubuh Keisha yang akan membayar sikap meremehkan itu."
Ia menuruni tangga bersama Pengacara Wisnu, meninggalkan Larasati dengan salinan rekam medis di satu tangan dan pesan es krim emas di tangan lainnya.