Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Weni masih berdiri dengan dada naik turun. Ember kosong di tangannya bergoyang kecil. Matanya merah. Napasnya berat seperti seluruh amarah yang selama ini ditahan akhirnya pecah sekaligus.
Sementara di depannya, Celsi diam.
Air comberan menetes dari ujung rambutnya. Bau menyengat memenuhi udara sekitar kedai. Beberapa pelanggan yang sedang makan mulai berdiri menjauh.
Weni kembali menunjuk.
"Kamu puas sekarang!? Puas kamu setelah bikin keluarga kami menderita?"
Suaranya tinggi.
"Anak saya jadi begitu gara-gara kamu!"
Celsi berkedip pelan. Masih berusaha memahami.
"Anak? Anak apa Bulik? Aku nggak paham maksud Bulik?"
"cuuiihh!" Weni kembali berteriak. "Jangan pura-pura enggak tahu! Kamu kirim apa!? Kamu pakai dukun ya!? Kamu iri karena Vena sama Rangga sekarang bahagia!"
Beberapa orang mulai gelisah. Seorang ibu pelanggan berdiri.
"Bu, jangan ngomong sembarangan. Jaman sekarang kok pake dukun."
Weni langsung menoleh.
"Sembarangan gimana!? Orang jelas-jelas cucu ku lahir enggak normal!"
Kalimat itu membuat Celsi diam lebih lama.
"Lahir tidak normal?"
Dadanya terasa aneh. Bukan puas. Bukan lega. Justru seperti ada sesuatu yang jatuh pelan di dalam hatinya. Ia baru tahu jika Vena sudah melahirkan.
"Lahir nggak normal? kenapa bulik malah nyalahin aku?"
Weni maju lagi. "Jelas salah kamu! Kamu pasti! Kamu pikir saya enggak ngerti orang kayak kamu!? Dari dulu diam-diam nyimpan dendam! Pasti kamu main dukun sampai cucuku lahir begitu! Dasar perempuan hina!"
Tangannya terangkat. Gerakannya cepat. Seolah ingin menjambak. Namun sebelum menyentuh, seseorang langsung menahan pergelangan tangannya.
"Sudah, Bu."
Joko berdiri di depan Celsi. Nada suaranya sopan, tapi tegas. "Jangan bikin keributan di sini."
Weni berusaha menarik tangannya.
"Lepas!"
Joko tetap diam. Beberapa pelanggan laki-laki ikut maju.
"Sudah pulang saja, Bu."
"Kalau ada masalah jangan begini caranya."
"Kasihan orang lagi kerja."
"Iya, mana main siram-siram! Udik!"
"Orang tua juga bisa enggak ada akhlak!"
Weni menatap satu per satu wajah di depannya. Bukannya didukung, orang-orang malah mulai memandangnya aneh. Ia semakin emosi.
"Kalian yang nggak tau apa-apa! Jangan ikut campur!"
Lalu menunjuk Celsi lagi.
"Perempuan kayak dia enggak mungkin diam saja! Hatinya busuk! Makanya mandul!"
Suasana langsung hening.
Joko mengernyit.
"Bu!"
Nada suaranya berubah lebih keras.
"Apa-apaan ini? Ibu pergi! Atau saya panggil polisi udah bikin ribut di sini."
Weni menatap tajam. "Berani kurang ajar kamu sama saya!?"
Joko menarik napas.
"Kami hormat sama yang lebih tua. Tapi kelakuan ibu yang nggak pantas dihormati."
Weni menggigit bibir. Marah. Malu. Ia datang untuk keadilan tapi dia merasa sudah diperlakukan sangat buruk.
Akhirnya beberapa ibu sekitar menarik lengannya. "Loh, Weni! Kamu ngapain di sini?"
"Bikin ribut dia, Bu. Ibu kenal. Tolong bawa pulang aja. Datang-datang jahatin orang."
"Iya, fitnah-fitnah orang lagi."
Beberapa pengunjung pun menimpali.
"Astaga! Ayo pulang, Wen."
"Kamu ini ngapain sih?"
"Bubar! Bubar!"
"Jangan tambah ramai."
Weni masih sempat menoleh.
"Kamu tunggu balasannya!"
Lalu pergi.
Keramaian perlahan mereda. Orang-orang mulai kembali duduk, meski masih berbisik pelan. Joko menoleh.
"Teh? Teteh nggak papa?"
Celsi memaksakan sebuah senyuman. Lalu mengangguk, "Teteh nggak papa, Jok. Makasih ya."
"Aku ke belakang dulu." Ia masuk ke area belakang kedai.
Masuk kamar mandi kecil. Menutup pintu.
Sunyi. Celsi berdiri di depan cermin. Wajahnya kotor. Rambutnya lepek. Bajunya penuh noda.
Ia membuka keran. Air mengalir. Tangannya mulai membersihkan wajah.
Diam.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Hanya diam.
Sampai akhirnya ia menatap dirinya sendiri di cermin. Anak Vena lahir tidak sempurna. Pikiran itu terus terulang. Pelan ia menunduk.
Lalu berbisik.
"Aku enggak pernah minta itu."
Air kembali membasahi wajahnya. Ia teringat semua yang pernah terjadi.
Dikhianati.
Disalahkan.
Dianggap penyebab.
Dibandingkan.
Tapi selama ini...
ia tidak pernah berharap ada yang celaka. Ia hanya ingin selesai. Ia hanya ingin hidupnya berjalan lagi. Ia tidak pernah mendoakan rumah tangga orang hancur. Tidak pernah berharap anak siapa pun sakit. Celsi memejamkan mata.
"Ya Allah, aku sama sekali tak pernah mendoakan hal buruk untuk mereka. Aku yakin semua akan ada balasannya... Tapi... Kenapa anaknya harus...?"
Suaranya pelan.
"Jika begini, harusnya mereka fokus ke anaknya."
Bukan mencarinya untuk disalahkan. Sore itu Celsi pulang lebih awal ke kontrakan.
Ia mandi lama.
Mengganti baju. Lalu duduk di lantai dekat tempat tidur. Rumah kecil itu sunyi. Ponselnya tergeletak di samping. Tiba-tiba layar menyala. Satu pesan masuk dari koh Aska.
"Aku dengar sesuatu. Kamu oke?"
Celsi langsung mengernyit.
Ia membaca lagi. Lalu mengetik.
"Aku baik, Ko. Apa yang koko dengar?"
Tidak lama. Balasan masuk. "Beneran? Coba kulihat."
Celsi diam. Belum sempat membalas. Panggilan masuk. Nama koh Aska muncul.
Ia ragu.
Lalu mengangkat.
"Assalamualaikum."
Wajah pria tampan itu langsung memenuhi layar. "Wa'alaikum salam."
"Kamu di rumah?"
"Iya, ko."
"Pantes tadi aku ke kios kamu nggak ada."
"Oh."
"Aku dengar dari A' Joko, katanya kamu dapet jackpot."
Celsi tertawa. "Jackpot apaan? Kena siram iya." Celsi buru menutup mulutnya, merasa sudah keceplosan. Tapi, ah, sudahlah. Udah kelanjur juga.
"Nah, makanya kubilang jackpot," Aska ikut tertawa kecil.
"Kamu beneran nggak papa, kan?"
"Iya, kan udah lihat sendiri."
"Mana? Nggak kelihatan. Malah cuma dikasih tunjuk jenongnya."
Celsi tertawa lagi, entahlah, Aska seperti sengaja menghibur.
"Oke. Aku ke sana ya."
Celsi langsung duduk tegak.
"Hah!? Ke mana?!"
"Ke sana. Kamu di rumah kan?"
"Eh, jangan!"
"Kenapa?"
"Enggak usah."
"Aku bawa makan. Nggak bakal ngrepotin dah."
"Serius jangan."
Aska tertawa kecil.
"Kalau aku sudah di jalan gimana?"
Celsi langsung panik.
"Ko Aska!"
Telepon sudah dimatikan. Celsi menghela napasnya. Ia terdiam sebentar, rasanya, tadi Aska bahkan nggak menyematkan teteh padanya. Celsi menggeleng. Ah, hanya perasaan saja.
Sekitar empat puluh menit kemudian. Terdengar ketukan. Celsi membuka pintu.
Dan benar. Aska berdiri di depan, dengan baju kasual. Polo warna hitam dan celana santai.
Di tangannya ada kantong plastik dan satu paper bag.
Celsi melongo.
"Koko beneran datang?"
Aska mengangkat kantong.
"Bawa bubur ayam."
Celsi menatap. "Bubur ayam? Malam-malam gini?"
Aska masuk pelan. "Tadi kebetulan cuma tinggal dua porsi. Aku belilah biar sepasang, biar nggak dikira makan sendiri."
Celsi refleks tertawa kecil. Lalu langsung diam lagi. Aska melihat itu. Dan tersenyum tipis.
"Nah."
"Akhirnya."
Celsi bingung.
"Akhirnya apa?"
"Asli."
"Kamu kalau ketawa ternyata enggak serem."
Celsi menatap tidak percaya.."Koko datang jauh-jauh buat ngatain aku?"
Aska duduk.
Membuka makanan.
"Enggaklah."
Ia menyodorkan sendok. "Cuma mau memastikan kamu nangis apa nggak? Hmmm, tapi kayaknya enggak deh."
Celsi menahan senyum.
Lalu duduk.
Mereka makan.
Aska mulai cerita soal hal-hal receh.
Tentang proyek yang salah kirim keramik.
Tentang satpam yang mengira dirinya kurir.
Tentang kopi yang rasanya seperti air rebusan sandal.
Celsi beberapa kali tertawa.
Pelan.
Ringan.
Dan entah kenapa...
untuk malam itu...
kepalanya terasa lebih tenang.
Aska tidak bertanya siapa yang salah.
Tidak memaksa cerita.
Dia cuma datang.
Bawa makanan.
Duduk.
Dan menemani.