Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kalimat terakhir itu hampir hilang ditelan tangis dan membuat keheningan kembali turun. Untuk beberapa saat Ammar tidak bergerak, Lalu perlahan, kedua tangan yang sejak tadi mengepal mulai mengendur. Ia menarik napas panjang kemudian membalikkan tubuhnya perlahan. Kini mereka saling berhadapan. Wajah Salsa sudah benar-benar basah oleh air mata. Matanya bengkak, Bibirnya bergetar.
Melihat keadaan istrinya, seluruh kemarahan Ammar seakan luruh begitu saja. Bagaimana mungkin ia terus marah kepada perempuan yang bahkan sedang menghukum dirinya sendiri seperti ini? Tanpa berkata apa-apa, Ammar mengangkat kedua tangannya lalu menarik tubuh Salsa ke dalam pelukannya dengan sangat erat seolah takut perempuan itu akan hilang. Dagunya bertumpu di atas kepala Salsa, Kemudian perlahan, Ia mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Satu kecupan yang begitu lama, hangat dan penuh cinta.
"Aku tahu." Suara Ammar terdengar lirih di atas kepala Salsa. "Aku tahu ini juga bukan keinginanmu." Tangannya mengusap lembut punggung istrinya. "Kalau saja semua ini tidak pernah terjadi," Ia menarik napas panjang. "Mungkin sekarang kita masih bisa tertawa bersama." Mata Ammar perlahan ikut memerah. "Mas juga tidak pernah membayangkan hidup kita akan sampai sejauh ini." Ia kembali mengecup kepala Salsa. "Lima tahun lalu mas menikahi mu karena mas ingin menghabiskan sisa hidup mas bersamamu."
Salsa kembali menangis dalam pelukan itu sedangkan Ammar memejamkan kedua matanya. Ia sadar, Takdir sedang membawa mereka ke jalan yang tidak pernah mereka pilih. Namun untuk saat ini, Yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk perempuan yang paling ia cintai itu lebih erat lagi, seolah ingin mengatakan bahwa di balik semua luka yang mereka hadapi, cintanya kepada Salsa belum berkurang sedikit pun. Bahkan mungkin justru semakin dalam karena mereka sama-sama sedang berjuang memikul beban yang tidak pernah mereka minta.
Malam itu, udara di halaman kediaman Pak Umar terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Lampu-lampu taman yang menggantung di sepanjang pagar memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Dari dapur mulai tercium aroma kopi dan teh hangat yang sengaja disiapkan untuk menyambut tamu, namun kehangatan itu sama sekali tidak mampu mengusir kegelisahan yang memenuhi isi rumah. Pak Umar duduk di ruang tamu dengan kedua telapak tangannya saling menggenggam. Sesekali ia melirik jam dinding dan melihat jarum pendek sudah melewati angka delapan malam.
Tak lama kemudian suara beberapa mobil memasuki halaman rumah terdengar dari luar yang membuat Pak Umar langsung mengangkat kepalanya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
"Mereka sudah datang." gumamnya lirih.
Di sisi lain ruangan, Aisyah yang sejak tadi duduk di kursi yang ada di dalam kamarnya perlahan menegakkan tubuhnya. Tangannya yang berada di atas pangkuan mulai mengepal pelan sementara dadanya kembali terasa sesak. Malam ini, semuanya akan benar-benar diputuskan. Tak lama kemudian terdengar suara salam dari luar rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Pak Umar segera berjalan menyambut tamu-tamunya. Di depan pintu berdirilah keluarga Adhitama. Pak Wira masih tampil berwibawa dengan setelan jas hitamnya sementara Ratih mengenakan gaun berwarna cokelat tua. Di samping mereka berdirilah Salsa. Matanya masih terlihat sedikit sembab meskipun sudah ditutupi riasan tipis dan tepat di belakang Salsa, berdirilah Ammar.
Lelaki itu mengenakan kemeja putih polos dipadukan dengan celana panjang hitam.
Raut wajahnya terlihat datar. Tidak ada senyum, tidak ada sorot bahagia. Tatapannya terlihat kosong.
"Silakan masuk."
Pak Umar mempersilakan mereka duduk. Beberapa menit kemudian, ruang tamu rumah Pak Umar dipenuhi suasana yang begitu canggung. Tak ada obrolan ringan, tak ada tawa, hanya denting sendok yang sesekali terdengar ketika Ratih mengaduk teh di dalam cangkirnya. Aisyah akhirnya keluar dari kamarnya mengenakan gamis syar'i berwarna merah peach dan cadar berwarna senada. Begitu memasuki ruang tamu, pandangan matanya tanpa sengaja bertemu dengan Ammar untuk sesaat lalu keduanya sama-sama menundukkan pandangan.
Tak ada salam, tak ada sapaan, tak ada senyum. Aisyah memilih duduk di samping ayahnya sedangkan Ammar tetap duduk di samping Salsa. Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu itu. Pak Umar sebenarnya beberapa kali ingin membuka pembicaraan, namun setiap kali melihat wajah Ammar, Niat itu kembali ia urungkan.
Tatapan lelaki itu terlalu kosong seolah tubuhnya memang hadir di ruangan itu tetapi hatinya tertinggal di tempat lain.
Pak Wira yang rupanya menyadari hal tersebut, akhirnya mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya mengambil alih pembicaraan.
"Pak Umar."
"Iya, Pak."
"Saya rasa kita tidak perlu berbasa-basi terlalu lama."
Pak Umar mengangguk pelan sementara pak Wira melanjutkan perkataannya.
"Kedatangan kami malam ini membawa niat baik." Ia menoleh sebentar ke arah Ammar namun putranya tetap diam. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang membuat pak Wira akhirnya kembali memandang Pak Umar.
"Sebagaimana yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Kami datang untuk melamar Aisyah."
Kalimat itu membuat ruang tamu kembali hening. Aisyah menundukkan kepalanya semakin dalam sementara jemarinya saling menggenggam erat di balik kain gamisnya. Sedangkan Ammar masih membisu. Ia sama sekali tidak ikut menjelaskan apa pun. Tidak ikut menyampaikan maksud kedatangannya.
Tidak pula menatap calon istri keduanya. Melihat putranya hanya diam, Pak Wira kembali mengambil alih pembicaraan.
"Saya ingin pernikahan ini segera dilaksanakan." Nada bicaranya terdengar mantap. "Tidak perlu ditunda terlalu lama. Kami akan mengurus semua kebutuhannya. Mulai dari administrasi, akad, resepsi, sampai seluruh persiapannya."
Pak Umar mengangguk pelan dan membuat Pak Wira kemudian menoleh kepada Aisyah. Tatapannya sedikit melunak.
"Nak Aisyah." Aisyah perlahan mengangkat wajah. "Saya tahu keputusan ini tidak mudah untukmu. Tapi mulai hari ini kamu bukan hanya menjadi menantu keluarga Adhitama."
Pak Wira berhenti beberapa detik. "Melainkan juga anak kami." Ratih ikut menganggukkan kepalanya dengan pelan sementara Pak Wira kembali berbicara. "Saya berjanji akan memperlakukanmu seperti anak sendiri."
Aisyah hanya mengangguk kecil dan tak sanggup menjawab. Namun kalimat berikutnya, membuat suasana kembali berubah. Pak Wira tersenyum tipis.
"Dan saya berharap, Semoga Allah segera menghadirkan penerus keluarga Adhitama melalui rahimmu."
Kalimat itu membuat napas Aisyah tercekat. Jantungnya berdetak semakin keras. Sementara tanpa sadar, Salsa perlahan menundukkan wajahnya. Meski kalimat itu memang sudah ia duga akan keluar, tetap saja rasanya begitu menyakitkan seolah seluruh keberadaannya sebagai istri, Kini benar-benar diukur hanya dari satu hal.
Anak.
Sedangkan Ammar yang mendengar perkataan papanya, Rahangnya kembali mengeras. Namun kali ini ia memilih diam. Ia sudah terlalu lelah untuk kembali berdebat.
Hari-hari setelah malam itu berjalan begitu cepat. Semuanya seolah berlalu tanpa memberi kesempatan kepada siapa pun untuk berpikir ulang. Pak Wira menggerakkan hampir seluruh koneksinya untuk mempersiapkan pernikahan Ammar dan Aisyah. Halaman luas rumah Pak Umar berubah total. Tenda-tenda pernikahan mulai didirikan, dekorasi demi dekorasi memenuhi halaman dan tempat pelaminan. Lampu gantung dipasang hampir di setiap sudut.