"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 35. Kenapa ayah marah?
Setelah Kara kembali dari ruangan sebelah, dia tidak melihat ayah nya kembali masuk.. kemungkinan besar ayah nya masih berada di dalam sana. Kara lalu mendengar suara mesin yang bergerak, mesin garasi mobil. Kara tidak berani mendatangi ayah nya apalagi bertanya.. dia hanya bisa memperhatikan ayah nya yang mengeluarkan mobil sedan hitam nya dari garasi mobil dari jendela.
Ayah Kara membuka bagasi mobil itu dan kemudian mengeluarkan alas - alas nya seperti karpet mobil dan ada beberapa benda lain, setelah nya ayah Kara menarik selang panjang - panjang mengguyur karpet mobil dengan jumlah air yang banyak. Kara yang memperhatikan itu dari balik jendela pun bingung..
'Kenapa ayah guyur karpet bagasi lama banget?' batin nya.
Kara sampai tidak fokus memakan sarapan nya, dia terus memperhatikan ayah nya yang lalu membawa se ember besar air yang sudah di campuri dengan sabun. Tepat saat ayah Kara menyikat karpet itu. Kara mencium bau busuk.. bau sesuatu seperti kulkas daging yang sudah lama tidak di buka, aroma antara anyir dan busuk bercampur.
Bau nya bahkan sampai masuk kedalam, padahal ayah Kara mencuci mobil nya di depan garasi yang mana lumayan jauh dari posisi ruang tamu rumah utama. Dan ketika bagasi mobil itu kemudian di bilas.. Kara bisa melihat air yang keluar dari karpet itu berwarna merah kecoklatan.
Setelah menyaksikan sendiri ke anehan ayah nya, Kara makin tidak berani bertanya apapun tentang mobil itu. Ayah Kara terlihat seperti orang yang sedang sangat marah.. Akhirnya Kara memutuskan untuk kembali duduk di meja makan.
"Perasaan aku atau memang ayah yang agak aneh, ya.." Gumam Kara.
Malam harinya..
Kara sendirian di ruang tengah, dimana ada beberapa koleksi binatang milik kakek nya. Tatapan Kara menatap lurus pada hamparan kulit harimau yang di pajang di tembok, lalu berganti ke lukisan lain. Dia kembali memikirkan, mengapa di rumah kakek nya sama sekali tidak ada foto keluarga, pikir nya.
'Apa memang bener ada yang di sembunyikan? Apa ada masalalu ayah yang sengaja ayah tutupi?' Batin Kara.
Pikiran nya terus memikirkan pengelihatan nya tentang ayah nya yang memiliki kembaran. Selain itu juga masih banyak misteri yang belum dia dapatkan jawaban nya, tentang apa penyebab Nurmala bisa meninggal di sana dan dimana jasad nya.. Kara seperti menerima banyak PR besar.
'Atau, kalo aku bisa tau apa yang sebenar nya ayah tutupin.. aku bisa tau kelengkapan ceritanya?' Batin Kara lagi.
"Dek." Panggil ayah nya, Kara yang sedang diam melamun tadi sampai kaget.
"Iya, yah." Jawab Kara, dia tersenyum polos seperti biasanya.
Ayah nya bergabung duduk di ruang tengah, dia duduk di sebelah Kara dan tangan kanan nya di sampirkan di sandaran sofa yang mana itu di belakang Kara. Ayah nya lalu mengambil remot dan kemudian mengganti saliran tf menjadi acara kartun.
"Kamu masih remaja.. jangan nontonin drama mulu." Ucap ayah nya, Kara terkekeh mendengar itu.
Ayah nya mengganti siaran tf nya dengan kartun dua anak botak favorit Kara saat Kara kecil, dan akhirnya Kara pun menonton itu meski pikiran nya masih belum tenang.
"Kamu nggak nyari mama sama mbakmu lagi?" Tanya ayah nya, entah kenapa tiba - tiba ayah nya berucap demikian.
Tapi, Kara yang mendengar pertanyaan itu.. entah kenapa dia lebih memilih menahan dirinya. Kara masih berpikir ayah nya akan sedih jika dia mengatakan bahwa dia sebenar nya sangat merindukan ibu dan kakak nya yang sudah lama tidak ada kabar nya, jadi dia menggelengkan kepalanya.
"Enggak." Jawab Kara sambil tersenyum, dia juga mengambil camilan nya di meja dan menaruh nya di pangkuan nya.
"Menurut kamu.. apa mama sama mbak udah bahagia sama orang itu?" Tanya ayah Kara lagi, mendengar pertanyaan itu Kara menoleh menatap ayah nya.
"Mama sama mbak.. pergi sama om itu?" Tanya Kara balik dengan sedih, ayah nya menatap lurus ke atah tv dan dengan dingin dia mengatakan.
"Tentu saja, kan alasan mama kamu ceraikan ayah karena dia." Ucap ayah nya Kara, mendengar itu Kara menunduk sedih.
Kara jadi berpikir, apa karena itu ibu dan kakak nya tidak mau lagi berhubungan dengan nya meski hanya saling bertukar kabar, pikir nya. Kara sedih mendengar ucapan ayah nya.. apalagi ibu dan kakak nya memang tidak lagi bisa di hubungi, bahkan sejak ibunya Kara memberikan surat cerai dan pergi membawa kakak nya..
"Sejak malam itu, mama dan mbak nggak ada yang bisa di hubungi sama sekali.." Gumam Kara, ayah nya menoleh menatap Kara.
"Kamu sedih?" Tanya ayah nya.. spontan Kara mengangguk, apalagi memang dia sebenar nya juga berharap masih bisa bertukar kabar dengan ibu dan kakak nya.
"Kalo kamu sedih, ayah bisa antar kamu.. ketemu mereka." Ucap ayahnya..
Sedetik setelah ayah nya mengatakan demikian, tidak tahu mengapa Kara merasakan merinding yang luar biasa. Kara seperti mendapat ancaman yang tidak tertulis dari ucapan ayah nya, Kara akhir nya tersenyum dan menyenderkan kepalanya pada ayah nya.
"Nggak usah, Kara mau di sini sama ayah." Ucap nya, meski Kara tidak tahu kenapa jantung nya merasa diia tidak aman tapi dia harap jawaban nya tidak menyinggung ayah nya.
"Kamu yakin? Ayah nggak akan maksa kamu lagi, kalo kamu mau ikut sama mama kamu dan mbak mu, ayah bisa antar kamu sekarang.. ketemu mereka." Ucap ayah Kara lagi, Kara menelan ludah nya.
"Yakin lah.. kan jadi adil, mbak ikut sama mama.. aku sama ayah." Jawab Kara, dia lalu bangun dari duduk nya.
"Aku ke kamar dulu, ya yah.. udah malem." Ucap Kara, dan ayah nya mengangguk.
Kara tersenyum dan mengecup pipi ayah nya, barulah dia berjalan naik ke atas tangga.. Tapi, di belakang sofa tempat ayah nya Kara duduk tadi ada sebuah lemari kabinet yang di sekeliling nya terbuat dari cermin, saat Kara menoleh sekali lagi untuk melambaikan tangan nya pada ayah nya, Kara melihat pantulan tangan ayah nya yang sebenar nya memegang golok hitam.
Kara bersikap biasa saja, dia naik ke atas dengan tenang dan kemudian masuk kedalam kamar nya. Dia bahkan tidak mengunci pintu kamar nya.. tapi setelah dia masuk kedalam kamar nya, Kara menangis tanpa suara. Kara ketakutan melihat ayah nya yang berubah, tangan nya gemetar sambil dirinya naik ke atas ranjang nya.
'Ayah.. kenapa bawa golok..' Batin nya, golok yang ayah nya pegang tadi adalah golok hitam yang serupa dengan golok yang di bawa oleh bapak - bapak yang mengejar Caca.
'Sebenar nya apa yang aku nggak tau?'
BERSAMBUNG!
jadi semacam kuburan berkedok kebun buahh
knp di tolong , justru di tangkap