Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan di pagi itu...
"Huek... Huek..."
Renata terus mengeluarkan cairan bening dari mulutnya. Sedari semalam ia terus muntah hingga tubuhnya terasa lemas.
Wanita itu berpegangan pada wastafel, napasnya tersengal setelah isi perutnya kembali keluar.
"Huek..."
Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Perutnya terasa tidak nyaman sejak kemarin malam. Awalnya ia mengira hanya masuk angin atau salah makan, tetapi hingga pagi tiba rasa mual itu tak kunjung hilang.
Renata membilas mulutnya perlahan, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin.
Wajahnya tampak pucat.
"Ada apa denganku?" lirihnya.
Ia mengusap dadanya pelan, berusaha meredakan rasa mual yang kembali datang.
Tak lama kemudian, sebuah pikiran melintas di kepalanya.
Renata langsung membeku.
Tangannya tanpa sadar bergerak ke arah perutnya.
"Jangan-jangan..."
Matanya membulat perlahan.
Ia menghitung sesuatu dalam pikirannya.
Lalu wajahnya berubah tegang.
"Sudah telat..." bisiknya pelan.
Jantung Renata langsung berdegup lebih cepat.
Tidak.
Jangan sampai dugaannya benar.
Siklus bulanannya memang belum datang. Karena terlalu sibuk, ia bahkan tidak menyadarinya sampai sekarang.
"Renata, sarapan sudah siap!" teriak Helena dari ruang makan.
Renata tersentak dari lamunannya.
"I-iya, Bu," jawabnya pelan.
Ia menarik napas panjang, lalu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang makan.
Di meja, Helena sudah menyiapkan beberapa lauk kesukaan keluarganya.
Helena sambil meletakkan piring di depan putrinya.
Renata mengangguk pelan lalu duduk.
Namun baru beberapa detik menatap makanan di hadapannya, keningnya langsung berkerut.
Biasanya aroma masakan itu membuatnya lapar.
Tapi sekarang justru membuat perutnya terasa tidak nyaman.
"Ada apa?" tanya Helena yang menyadari perubahan wajah putrinya.
"Nggak apa-apa, Bu."
"Kalau nggak apa-apa ya makan."
Renata mengambil sendok perlahan.
Entah kenapa, lauk favoritnya pagi itu terlihat sangat tidak menarik.
Bahkan aromanya membuat rasa mual kembali muncul.
"Bu, hari ini masak apa sih?" tanyanya sambil menahan napas.
Helena langsung melotot.
"Lho, itu makanan kesukaanmu."
Renata terdiam.
Biasanya ia memang sangat suka.
Tapi sekarang melihatnya saja sudah membuat perutnya bergolak.
"Sudah, jangan pilih-pilih. Makan saja apa adanya," omel Helena. "Ibu capek-capek masak dari pagi."
Renata akhirnya mengangguk.
"Iya, Bu."
Ia menyuap sedikit nasi ke mulutnya.
Satu suap.
Dua kali kunyah.
Lalu...
Deg.
Wajahnya langsung berubah pucat.
Mual itu datang lagi.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Renata buru-buru menutup mulutnya.
"Renata?" panggil Helena bingung.
Namun Renata sudah berdiri dari kursinya.
"Aku... aku ke kamar dulu!"
Tanpa menunggu jawaban, ia berlari meninggalkan meja makan.
"Huek!"
Baru sampai di dekat kamarnya, ia kembali memuntahkan isi perutnya.
Helena yang melihat itu langsung mengerutkan kening.
"Masuk angin apa bagaimana sih anak itu?"
Sementara, Risa yang sejak tadi memperhatikan hanya berdecak pelan.
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu menatap ke arah Renata yang baru saja pergi.
"Kayak orang hamil saja," celetuk Risa santai sambil menyendok makanannya.
Deg.
Ucapan itu membuat Helena yang sedang mengambil gelas langsung menoleh.
"Hamil?" ulangnya spontan.
Risa mengangkat bahu acuh.
"Ya siapa tahu."
Helena menatap tajam menantunya.
"Jaga ucapanmu, Risa. Adikmu tidak mungkin hamil," ucapnya kesal.
Risa hanya mengangkat bahu, seolah tidak peduli dengan reaksi mertuanya, lalu kembali melanjutkan sarapannya dengan santai.
Sementara itu, Helena juga kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Namun, pikirannya masih dipenuhi oleh ucapan Risa barusan.
Tatapannya menerawang sesaat.
Ia mulai mengingat perubahan-perubahan yang terjadi pada Renata belakangan ini.
Renata yang sering pulang larut malam.
Dan pagi ini, Renata tampak menyembunyikan sesuatu.
Bahkan makanan kesukaannya yang biasanya selalu ia lahap, kini justru sering ditolak.
Helena menggenggam sendoknya sedikit lebih erat.
Semakin dipikirkan, semakin banyak hal yang terasa janggal.
"Tidak mungkin," batinnya.
Namun, entah kenapa, perasaannya mulai tidak tenang.
Helena melirik ke arah kamar Renata yang masih tertutup rapat.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
"Tidak... Renata tidak mungkin melakukan hal seperti itu," batinnya lagi, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Meski begitu, keraguan mulai tumbuh perlahan di dalam hatinya.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Renata kembali membungkuk di depan wastafel.
"Huek... huek..."
Namun kali ini tak ada lagi yang keluar dari perutnya.
Hanya cairan bening dan rasa mual yang seolah tak mau pergi.
Renata memejamkan mata, napasnya memburu.
Tubuhnya terasa lemas.
"Aku harus memastikan," bisiknya pelan.
Pikiran itu terus berputar di kepalanya sejak tadi.
Ia tidak bisa tenang sebelum mengetahui jawabannya.
Setelah membilas wajah, Renata keluar dari kamar mandi.
Ia menatap dirinya di cermin beberapa saat.
Wajahnya masih pucat.
Tangannya tanpa sadar kembali menyentuh perutnya.
"Semoga aku hanya terlalu lelah," lirihnya.
Beberapa menit kemudian, Renata mengambil tas dan dompetnya.
Ia membuka pintu kamar perlahan.
Matanya langsung menyapu ruang makan.
Sudah sepi.
Piring-piring kotor masih berada di atas meja.
Sepertinya Risa sudah kembali ke kamar.
Sementara Helena tidak terlihat di mana pun, mungkin sedang berada di depan rumah atau sibuk dengan pekerjaannya.
Renata mengembuskan napas lega.
Bagus.
Ia tidak ingin menjawab pertanyaan siapa pun saat ini.
Dengan langkah cepat, Renata berjalan menuju pintu utama.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Lalu ia buru-buru keluar dari rumah.
Tidak menyadari sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya.
Dari balik jendela kamar, Risa berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.
Tatapannya mengikuti langkah Renata yang semakin menjauh.
Senyum tipis mulai menghiasi bibir Risa.
Matanya menyipit penuh rasa curiga.
Risa terkekeh kecil.
"Menarik."
Ia terus memperhatikan hingga sosok Renata menghilang di ujung jalan.
Instingnya mengatakan Renata sedang menyembunyikan sesuatu. Dan itu bukan masalah sepele.
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁