NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C011: Proses Perceraian & Keresmian Bercerai

...Selamat Baca...

Hari berganti hari, waktu berjalan perlahan namun pasti selama dua hari itu. Dua hari yang penuh ketenangan, meski Ardian berkata pada Alexander bisa menyelesaikannya dalam sehari.

Tapi untuk menyelesaikannya itu pasti butuh proses, dia juga mengerjakan pekerjaan lainnya sebelum hari pengadilan untuk Liana.

Dan di mana, dalam beberapa hari itu Liana hanya menikmati kebebasannya, beristirahat, dan disayang oleh Alexander sepenuh hati. Hingga akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba.

***

Pagi itu, suasana di gedung pengadilan negeri terasa sangat kaku dan berat. Di ruang sidang yang cukup besar namun privat itu,

Kehadiran keluarga besar Sterling langsung mendominasi suasana. Nama besar mereka membuat siapa pun di sana segan untuk bergerak sembarangan.

Hadir di sana adalah seluruh inti keluarga: Kakek Theodore dan Nenek Viviane, Arthur dan Margaret, Eleanor dan suaminya, Edmund dan Beatrice, juga Julian, Sebastian, dan lainnya.

Namun, generasi cucu-cucu yang masih muda atau yang sudah memiliki anak kecil tidak ikut hadir, mereka ditinggalkan di rumah agar tidak merepotkan.

Namun, ada pemandangan yang sangat menyita perhatian di deretan kursi saksi.

Di sana, duduk berjejer rapi tiga wanita yang perutnya sama-sama membuncit besar karena sedang mengandung.

Pertama tentu saja Seraphina De Vaux, istri kedua Alistair yang kandungannya sudah besar dan tinggal menunggu waktu melahirkan.

Di sebelahnya duduk Rose Harrington, keponakan Alistair yang sudah berbadan dua anak keduanya, dan di sisi lain ada Vanessa Sterling, istri Sebastian yang juga sedang hamil muda keduanya.

Ketiganya duduk dengan anggun, disertai suami masing-masing, seolah menjadi simbol kebanggaan keluarga itu.

Di tengah mereka semua, duduklah Alistair Sterling. Wajahnya tampak dingin, sedikit kesal, dan angkuh.

Baginya, proses ini hanyalah formalitas untuk menyingkirkan beban yang sudah lama mengganggunya. Ia sama sekali tidak terlihat sedih atau menyesal.

Meski dia mencari Liana, beberapa hari sebelumnya. Dan tidak menemukan hasil, setelah dua hari barulah Alistair sadar, kalau Liana pergi untuk gugatan cerai dengannya.

Meski kesal dan marah, tapi dia tetap tenang. Barangnya ingin pergi? Silahkan saja, dia sudah punya Seraphina. Akhirnya, istri gagalnya itu memilih bergugat cerai dengannya.

Sementara itu, di sisi berlawanan ruangan, duduklah Liana Varella ditemani oleh Tuan Ardian, pengacaranya.

Ia duduk sendiri, tenang, pakaiannya rapi dan sopan berwarna putih bersih, wajahnya damai tanpa beban. Tidak ada rasa malu, tidak ada rasa rendah diri.

Di belakangnya, berdiri tegak Alexander Sterling. Ia masuk bersama keluarganya, namun memilih berdiri terpisah, menempati sudut paling belakang ruangan,

Membiarkan keluarganya mengira ia hanya datang untuk mengawasi nama baik keluarga, padahal matanya tidak pernah lepas dari sosok wanita itu.

Proses sidang berlangsung lancar, cepat, dan tidak berbelit-belit. Hakim membacakan gugatan, mendengarkan penjelasan kedua belah pihak, dan memeriksa bukti-bukti yang ada.

Karena Liana tidak menuntut harta sepeser pun dan hanya meminta pemutusan ikatan karena ketidakharmonisan serta penelantaran, jalannya sidang sangat mudah dan tidak alot.

Alistair yang memang sudah tidak menginginkan Liana lagi, menyetujui segalanya dengan mudah.

Hingga akhirnya, ketukan palu hakim menggema keras di ruangan itu.

"Dinyatakan sah, perceraian antara Alistair Sterling dan Liana Varella dikabulkan oleh hukum!"

Kalimat itu menggema, menandakan bahwa sejak detik itu juga, ikatan yang membelenggu Liana selama lima tahun terakhir telah putus sepenuhnya.

Ia bukan lagi Nyonya Sterling. Ia kembali menjadi Liana Varella seutuhnya.

Setelah sidang ditutup, suasana ruangan menjadi riuh rendah oleh suara bisikan-bisikan dingin dari keluarga besar Sterling.

Mereka berjalan keluar satu per satu, melewati tempat duduk Liana seolah-olah wanita itu sudah tidak ada harganya lagi.

"Sudah selesai juga akhirnya..." bisik Margaret sambil mengipasi wajahnya dengan angkuh.

"Iya, benar kata orang. Akhirnya wanita tidak berguna itu sudah keluar dari keluarga kami," sambung Beatrice dengan nada mengejek yang cukup keras hingga sengaja terdengar ke telinga Liana.

"Baguslah begitu. Biar pergi saja, tidak membawa apa-apa. Di sini dia hanya aib karena tidak bisa memberi keturunan," tambah Julian sambil melirik ke arah tiga wanita hamil yang berjalan beriringan di depannya dengan bangga.

Seraphina melewati Liana, menatapnya sekilas dengan senyum kemenangan yang sangat tipis, lalu berjalan pergi bergandengan tangan dengan Alistair.

Alistair sendiri tidak menoleh sedikit pun, tidak mengucapkan selamat jalan, tidak mengucapkan maaf. Baginya, bab ini sudah ditutup.

Mereka semua keluar meninggalkan ruangan itu dengan perasaan lega dan menang, sama sekali tidak sadar bahwa mereka baru saja melepaskan harta paling berharga yang pernah mereka miliki.

Liana hanya diam, menatap kepergian mereka dengan senyum tipis yang penuh arti. Ia tidak sakit hati lagi.

Rasa sakit itu sudah habis kemarin-kemarin. Sekarang, yang tersisa hanyalah rasa bebas yang luar biasa.

Setelah seluruh keluarga besar Sterling keluar dari ruangan dan meninggalkan gedung pengadilan itu, tinggallah Liana, Tuan Ardian, dan Alexander yang masih berdiri diam di belakang.

Tuan Ardian segera menghampiri Liana, menyodorkan selembar dokumen resmi berstempel negara yang sudah sah.

"Ini dia, Nona Liana. Surat keputusan perceraian resmi. Mulai detik ini, Anda bebas sepenuhnya.

"Nama Anda bersih kembali, hak Anda pulih kembali, dan tidak ada satu pun yang berhak melarang atau menuntut Anda atas nama apa pun lagi."

Liana menerima kertas itu dengan tangan gemetar halus, memegangnya erat-erat seolah itu adalah kertas paling berharga di dunia. "Terima kasih, Tuan Ardian. Terima kasih banyak atas semuanya."

Saat pengacara itu pergi dan ruangan itu benar-benar kosong, barulah Alexander melangkah maju menghampiri meja hakim yang masih ada di sana.

Hakim itu sendiri, yang sedari tadi diam, sebenarnya sudah menyadari siapa sosok pria dingin dan berwibawa yang berdiri di sudut ruangan itu. Ia tahu betul siapa Alexander Sterling.

Alexander berdiri di hadapan meja hakim itu, wajahnya serius namun matanya berbinar penuh harap.

Ia bertanya dengan nada suara rendah namun tegas, pertanyaan yang sudah lama ingin ia tanyakan.

"Tuan... izinkan saya bertanya. Wanita itu... Liana Varella... sekarang sudah resmi berstatus janda, bukan? Apakah setelah keputusan ini turun, ia boleh langsung dinikahkan kembali?"

Hakim itu menatap Alexander dengan tatapan mengerti, sedikit tersenyum melihat ketegasan di wajah pria yang terkenal sulit didekati itu.

"Secara hukum negara Auronia, Tuan Sterling... seorang wanita yang baru saja bercerai harus melewati masa tunggu atau masa jeda selama seratus hari, atau sekitar tiga bulan lebih sedikit."

"Selama masa itu, ia harus menjaga kehormatannya dan tidak boleh melangsungkan pernikahan baru."

Alexander mengangguk paham, tidak terlihat kecewa sedikit pun, malah bibirnya mengukir senyum lega.

Ia menatap ke arah Liana yang menunggu di belakang, lalu kembali menatap hakim itu.

"Baiklah... Seratus hari, ya? Tidak apa-apa. Lima tahun saja saya sudah menunggu dengan sabar,"

"Menunggu seratus hari lagi adalah hal yang sangat kecil dan mudah bagi saya."

"Setelah seratus hari itu berlalu... apakah tidak ada lagi larangan? Apakah ikatan apapun sudah bersih sepenuhnya?" tanyanya lagi memastikan.

"Tidak ada lagi larangan, Tuan. Setelah masa itu lewat, dia bebas menjadi milik siapa saja yang dia inginkan, dan Anda pun bebas menikahinya kapan saja Anda mau, tanpa halangan apa pun." jawab hakim itu tegas.

"Terima kasih, Tuan." Alexander membungkuk sopan, hatinya terasa sangat lega.

Ia punya waktu seratus hari lagi untuk bersiap memberikan pernikahan terbaik bagi wanita itu.

Berbalik badan, Alexander berjalan mendekati Liana. Ia mengulurkan tangannya, dan Liana menyambutnya dengan gembira, menaruh tangannya di genggaman hangat itu.

Mereka berjalan beriringan keluar dari gedung pengadilan itu, meninggalkan masa lalu yang kelam selamanya.

Di luar sana, matahari bersinar sangat terang, seolah merayakan kemenangan mereka berdua.

Mereka masuk ke dalam mobil mewah yang langsung melaju menjauh, menjauh dari kenangan buruk itu.

Di dalam perjalanan pulang yang tenang, Alexander menatap Liana yang sedang memegang erat surat cerainya, wajahnya tampak begitu damai dan bahagia.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Alexander lembut, menyentuh pipi wanita itu.

Liana mengangguk mantap, menatap balik dengan mata berbinar. "Sangat baik. Aku merasa seolah sayapku baru saja dikembalikan kepadaku."

Alexander tersenyum lebar, lalu mengusap lembut punggung tangan Liana.

"Kalau begitu... karena hari ini adalah hari kemenanganmu, hari di mana kamu resmi menjadi milikmu sendiri lagi..."

"Apakah kamu mau pergi jalan-jalan sebentar? Menghabiskan hari indah ini hanya berdua saja denganku?"

Liana tidak ragu sedetik pun. Ia mengangguk antusias. "Aku mau. Ke mana saja, asal bersamamu."

Alexander tertawa pelan, suara beratnya terdengar begitu bahagia. Ia mengangguk setuju, lalu berbisik dengan nada menggoda namun penuh janji manis.

"Baiklah. Kita pulang dulu sebentar saja. Istirahat sebentar, lalu... malam nanti bersiaplah. Aku akan membawamu pergi ke tempat yang sangat indah."

"Dan ingat... pakailah gaun terindah dan paling cantik yang kamu punya malam ini."

"Aku ingin memamerkanmu ke seluruh dunia sebagai wanita yang paling beruntung, dan wanita yang paling kucintai."

Mobil itu terus melaju, membawa mereka pulang menuju kediaman yang kini benar-benar menjadi tempat berlindung dan kebahagiaan sejati Liana.

Di sana, masa depan cerah sedang menanti, dan seratus hari ke depan akan menjadi hari-hari persiapan menuju pernikahan yang akan membuat seluruh keluarga Sterling menyesali keputusan mereka hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!