Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PECAHAN MISTERI
Kamar kost Arkan terletak di lantai paling atas sebuah bangunan rumah toko tua yang sudah kusam di pinggiran Kota Megapolitan. Ruangan itu sangat sempit, hanya berukuran sekitar tiga kali tiga meter. Di dalamnya hanya mampu memuat satu kasur lantai yang sudah agak tipis, sebuah lemari pakaian dari kayu tripleks yang pintunya sudah longgar dan mengeluarkan suara berdecit setiap kali dibuka, serta sebuah meja belajar kecil di sudut dekat jendela. Malam itu, kebisingan jalanan kota, raungan mesin kendaraan, dan klakson yang bersahut-sahutan di bawah sana terdengar samar-samar, menembus kaca jendela yang retak dan hanya direkatkan seadanya dengan selotip bening.
Arkan duduk bersila tepat di tengah-tengah kasurnya yang keras. Dia mengenakan kaus oblong hitam yang santai. Di depannya, Volt sedang duduk dengan posisi tegak, sepasang mata birunya yang jernih menatap Arkan dengan penuh rasa ingin tahu yang besar. Ekor kecil anak serigala itu sesekali bergoyang, menyapu permukaan kasur tipis tersebut.
"Volt, malam ini kita harus melangkah lebih jauh. Kita tidak bisa terus-menerus berada di level bawah jika ingin bertahan di akademi itu," bisik Arkan dengan nada suara yang rendah namun penuh dengan penekanan tekad.
Volt mendengus pelan, seolah-olah insting tajamnya memahami dengan sangat baik apa yang sedang direncanakan oleh pemilik kontrak jiwanya tersebut. Anak serigala itu kemudian merendahkan tubuhnya, bersiap menjaga Arkan.
Arkan menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan debaran jantungnya, lalu perlahan-lahan memejamkan mata. Dia bersiap melakukan Saturasi Inti Jiwa, satu-satunya metode latihan ekstrem tunggal yang ada di bumi ini untuk memperluas wadah spiritual manusia. Cara kerjanya sebenarnya terdengar sangat sederhana di atas kertas, tetapi dalam praktiknya, metode ini merupakan sebuah siksaan mental yang luar biasa mengerikan.
Arkan harus mengumpulkan seluruh sisa energi spiritual yang tersebar di dalam pembuluh darahnya, memadatkannya menjadi satu titik padat di pusat jiwanya yang terletak di rongga dada, lalu dengan sengaja meledakkannya dari dalam. Ledakan terkontrol itu akan meretakkan dan merobek wadah jiwanya secara paksa, sebelum akhirnya dibangun dan direkatkan kembali menjadi sebuah wadah yang jauh lebih luas dan tebal.
Begitu proses pemadatan energi itu dimulai, wajah Arkan langsung berubah menjadi sangat pucat, seputih kertas. Keringat dingin dalam butiran-butiran besar mulai bercucuran deras dari dahi dan pelipisnya, membasahi kaus yang dikenakannya hingga lepek.
Deg!
Rasa sakit yang luar biasa hebat, seolah-olah menghancurkan tubuh fisiknya, langsung menghantam dada Arkan dengan telak. Sensasi yang dirasakannya saat itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata; rasanya seperti ada ribuan pisau tak kasat mata yang sedang mengiris, mencabik, dan merobek jaringan jiwanya secara perlahan tanpa ampun. Seluruh tubuh Arkan bergetar hebat, giginya mengatup rapat hingga mengeluarkan suara derit yang tertahan demi menahan jeritan yang hampir lolos dari tenggorokannya.
Urat-urat di leher dan dahinya menonjol keluar berwarna kebiruan. Jantungnya berdegup dengan ritme yang menggila, membuat napasnya menjadi sangat pendek dan patah-patah. Proses ini begitu menyiksa hingga membuat penglihatan mentalnya bergoyang hebat. Kesadarannya mulai mengabur, hampir membuatnya jatuh pingsan di atas kasur. Jika seorang Kontraktor pingsan di tengah proses Saturasi Jiwa, wadah energinya akan retak selamanya dan mereka akan menjadi cacat spiritual.
Melihat kondisi Arkan yang sudah berada di ambang batas kemampuannya dan gemetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa, Volt tidak tinggal diam. Insting liarnya langsung bergerak cepat. Anak serigala itu merangkak mendekat, lalu menempelkan telapak kaki kecilnya yang berbulu biru tepat ke atas lutut Arkan. Detik berikutnya, Volt menyalurkan aliran listrik biru murni yang sangat lembut dan teratur ke dalam tubuh Arkan. Arus listrik itu bertindak sebagai stimulan saraf instan, memberikan kejutan-kejutan kecil yang konstan untuk menjaga kesadaran Arkan agar tetap terjaga dan tidak tenggelam ke dalam kegelapan pingsan.
Di tengah-tengah rasa sakit yang berada di puncaknya itu, tangan kanan Arkan yang bergetar hebat secara refleks bergerak meraba ke samping kasur. Mengikuti dorongan insting spiritualnya yang sedang kacau, jarinya menembus ke dalam saku terdalam ransel tua miliknya yang tergeletak terbalik, lalu menggenggam sebuah benda kecil yang sudah bertahun-tahun dia simpan di sana.
Benda itu adalah sebuah kubus logam hitam legam berukuran sekepal tangan bayi. Permukaannya terasa dingin dan kasar, dihiasi oleh ukiran sulur-sulur kuno yang sangat rumit dan samar. Orang tua Arkan telah memberikan benda itu kepadanya sejak dia masih kecil.
Dahulu kala, orang tuanya membelinya secara tidak sengaja di sebuah pasar loak urban pinggiran kota hanya karena mengira benda itu adalah rongsokan hiasan kuno yang unik dengan harga yang sangat murah. Baik Arkan maupun kedua orang tuanya tidak pernah tahu apa fungsi sejati dari kubus logam tersebut, sehingga selama bertahun-tahun benda itu hanya berakhir menjadi penghuni dasar tas ranselnya yang berdebu.
Namun, siapa yang menyangka, tepat pada saat telapak tangan Arkan yang dipenuhi oleh energi spiritual yang sedang meretak dan hancur itu menggenggam erat permukaan kubus logam tersebut, sebuah anomali besar terjadi di dalam kamar kost yang sempit itu.
Hummm...
Kubus logam hitam itu tiba-tiba bergetar dengan frekuensi tinggi yang sangat halus. Ukiran sulur-sulur kuno yang semula mati di permukaannya mendadak menyala satu demi satu, memancarkan cahaya keperakan yang redup namun memiliki kerapatan energi yang sangat pekat. Seketika itu juga, sebuah aliran energi asing yang luar biasa murni, dingin, dan terasa sangat purba mengalir keluar dari dalam inti kubus tersebut. Energi itu meresap langsung menembus pori-pori kulit telapak tangan Arkan, menjalar melewati lengan bajunya, dan menuju lurus tanpa hambatan ke pusat dadanya yang sedang terluka parah akibat robekan spiritual.
Anehnya, energi kuno dari kubus logam itu sama sekali tidak bekerja seperti obat penyembuh yang menutup luka robekan di wadah jiwa Arkan secara instan. Sebaliknya, energi dingin itu bertindak seperti semen penguat cair yang mengalir masuk ke setiap sela-sela retakan jiwa Arkan, melapisi dinding-dinding spiritualnya yang tipis, memadatkannya secara paksa, dan merekatkannya kembali dengan struktur baru yang jauh lebih kokoh, tebal, dan masif daripada milik manusia biasa. Rasa sakit luar biasa yang semula membakar dada Arkan perlahan-lahan mereda, digantikan oleh sensasi dingin yang sangat menenangkan dan menyegarkan, menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.
Arkan membuka kedua matanya dengan sentakan napas yang besar, seolah-olah baru saja muncul dari dalam permukaan air setelah tenggelam lama. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Di dalam genggaman tangannya, kubus logam misterius itu perlahan-lahan meredup, cahayanya kembali menghilang dan wujudnya kembali menjadi logam hitam legam yang mati seolah-olah tidak pernah terjadi fenomena apa pun sebelumnya.
Namun, Arkan tahu betul bahwa segala sesuatunya telah berubah. Dia bisa merasakan perubahan yang sangat drastis di dalam pusat jiwanya. Wadah energinya kini terasa jauh lebih luas, lebih padat, dan memiliki kapasitas yang berkali-kali lipat lebih besar.
Peningkatan yang diberikan oleh benda misterius milik orang tuanya ini ternyata bukan jenis peningkatan instan yang langsung menaikkan level energinya ke tingkat tinggi dalam semalam, melainkan sebuah perubahan struktural yang fundamental dan berkelanjutan. Benda itu memberikan pondasi pertumbuhan yang sangat masif, memastikan bahwa setiap kali Arkan melakukan latihan meditasi biasa di masa depan, hasil saturasi energinya akan menghasilkan kapasitas yang jauh lebih besar daripada Kontraktor normal pada umumnya.
Merasakan adanya lonjakan pasokan energi spiritual yang begitu melimpah dan sangat murni dari saluran kontrak jiwa di pergelangan tangan Arkan, tubuh Volt yang berada di dekatnya mendadak bergetar. Tubuh kecil serigala itu langsung diselimuti oleh luapan aura petir biru yang sangat tebal hingga memercik ke lantai kamar. Angka digital holografis yang melayang di atas kepala si anak serigala berkedip dengan cepat dan mengalami perubahan drastis.
[ LEVEL 2 -> LEVEL 5 ]
Level Volt melonjak tiga tingkat sekaligus dalam satu malam! Hal itu terjadi karena dia mendapatkan asupan energi spiritual kelas atas yang dialirkan oleh wadah jiwa Arkan yang baru saja berevolusi bersama kubus misterius tadi. Ukuran tubuh Volt kini terlihat sedikit membesar, kaki-kakinya tampak lebih kekar, dan bulu-bulu birunya berkilau tajam seperti jarum-jarum listrik kecil yang siap dilepaskan.
Arkan tersenyum sangat puas, menyeka sisa keringat di dahinya lalu mengusap kepala Volt dengan lembut, mengabaikan sengatan listrik kecil yang ramah di telapak tangannya. "Benda ini... ternyata benar-benar bukan rongsokan biasa. Terima kasih, Ayah, Ibu," bisik Arkan sambil menatap kubus hitam di mejanya dengan pandangan penuh teka-teki.
Keesokan sorenya, dengan energi spiritual yang sudah jauh lebih padat dan mantap di dalam tubuhnya, Arkan berjalan memenuhi janji untuk berlatih bersama Sky. Gadis berambut kuncir kuda itu membawanya pergi ke sebuah Distrik Komersial khusus yang terletak di pusat kota, menuju ke sebuah kompleks gedung bertingkat tinggi yang memiliki fasilitas latihan mandiri privat kelas atas. Tempat itu merupakan salah satu properti yang disewa secara khusus oleh Keluarga Skyborn untuk pelatihan internal mereka.
Begitu mereka memasuki ruangan latihan privat di lantai tujuh, Arkan cukup terpukau. Ruangan itu sangat luas, berukuran hampir setara dengan lapangan sepak bola dalam ruangan. Seluruh dinding dan lantainya dilapisi oleh bahan komposit peredam kejut berteknologi tinggi serta dilengkapi dengan sistem matrik medan energi yang mampu menahan benturan elemen tingkat tinggi agar tidak menghancurkan struktur luar gedung.
"Wah, wajah kamu kelihatan segar dan berbeda banget hari ini, Arkan! Padahal kemarin malam di pesan singkat kamu bilang mau melakukan latihan ekstrem yang menyakitkan itu," ujar Sky sambil berjalan mundur di depan Arkan, sepasang mata jernihnya menatap lekat-lekat ke arah wajah teman masa kecilnya itu dengan pandangan penuh selidik yang penasaran.
Arkan hanya tersenyum tipis, menjaga rahasia tentang kubus logam misteriusnya untuk saat ini agar tidak membuat Sky terlalu khawatir. "Latihannya sukses besar, Sky. Wadah energiku rasanya jauh lebih siap sekarang."
Begitu mereka tiba tepat di tengah-tengah arena latihan yang kosong dan luas, Sky menghentikan langkahnya dan berbalik dengan wajah yang dipenuhi oleh semangat yang berapi-api. "Nah, karena bulan depan kita sudah harus mengikuti Turnamen Seleksi Akademi yang penuh dengan anak-anak elit sombong itu, hari ini aku mau menunjukkan sesuatu kepadamu. Ini rahasia, aku belum pernah memperlihatkannya kepada siapa pun di angkatan kita sejak hari pertama masuk kelas!"
Sky mengambil napas dalam-dalam, mengatur fokus spiritualnya. Dia kemudian merentangkan tangan kanannya ke samping dengan anggun. Detik berikutnya, sebuah lingkaran sihir berukuran cukup besar berwarna hijau muda dengan ukiran sepasang sayap pelindung muncul dan berputar cepat di pergelangan tangan kanannya.
"Keluar dan tunjukkan wujudmu, Zephyr!" seru Sky dengan lantang.
Wuuush!
Tekanan udara di dalam ruangan luas itu mendadak berubah secara drastis. Angin yang sangat kencang dan bertekanan tinggi mendadak bertiup memutar di tengah-tengah ruangan, menciptakan suara desingan yang tajam dan membuat rambut kuncir kuda serta ujung rok seragam akademi milik Sky bergoyang dengan sangat hebat. Dari dalam pusat pusaran angin hijau murni tersebut, perlahan-lahan muncul sesosok makhluk terbang yang sangat anggun namun di saat yang sama memancarkan aura predator yang mematikan.
Makhluk itu adalah seekor Astra berwujud burung elang raksasa dengan bentangan sayap yang lebar. Uniknya, seluruh bulu di tubuhnya tidak terbuat dari bulu unggas biasa, melainkan berbentuk bilah-bilah kristal berwarna hijau transparan yang tampak setajam silet. Di sekeliling kedua sayap kristalnya, arus angin terus berputar memotong udara secara konstan. Dari intensitas aura spiritual yang dipancarkannya, Astra elang kristal ini ternyata sudah berada di Level 8—sebuah tingkatan level yang sangat fantastis dan luar biasa tinggi untuk ukuran murid baru Kontraktor Pemula berumur lima belas tahun di akademi.
"Ini Zephyr, Astra elemen Angin murni milikku," ucap Sky dengan nada suara yang dipenuhi rasa bangga yang kentara, sambil membiarkan elang raksasa itu mendarat dan bertengger dengan tenang di atas lengan kiri manusianya yang sudah dilapisi oleh pelindung kulit tebal. "Keluargaku memberikan telurnya kepadaku sejak satu bulan sebelum tes spiritualku aktif, jadi tingkat sinkronisasi jiwa kami sudah sangat dalam dan stabil."
Volt yang berada di atas pundak kiri Arkan langsung menegakkan seluruh tubuhnya begitu melihat predator udara tersebut. Bulu-bulu birunya kembali memercikkan aliran listrik statis yang tajam, dan dia mengeluarkan suara geraman rendah yang sarat akan tantangan dan harga diri sebagai makhluk liar dari Sektor Merah. Di sisi lain, Zephyr pun membalas tatapan itu dengan kepakan sayap kristalnya dan sebuah pekikan tajam berfrekuensi tinggi yang menggema keras di dalam ruangan latihan, seolah-olah tidak ingin kalah wibawa.
Arkan menatap elang kristal itu dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa kagum yang mendalam. "Astra yang benar-benar luar biasa indah dan kuat, Sky. Pantas saja kemarin sore tekanan angin dari aura manusiamu bisa memotong dan menghancurkan tekanan spiritual milik Bryan dengan sangat mudah di gang itu."
"Tentu saja! Jangan remehkan kekuatan elemen angin dari Keluarga Skyborn," Sky tersenyum sangat ceria, menampakkan lesung pipinya, lalu dengan lambaian tangan dia memerintahkan Zephyr untuk terbang mengambang bebas di atas arena latihan. "Nah, sekarang giliran kita yang berlatih. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seberapa cepat peningkatan jurus aktif Volt Drive milik Volt setelah sesi latihan misteriusmu semalam. Ayo, Arkan, kita kombinasikan elemen Petir milikmu dan elemen Angin milikku!"
Arkan mengangguk dengan sangat mantap, matanya berkilat penuh dengan gairah bertarung. Dia mengambil beberapa langkah maju ke depan, memicu tiga puluh persen kapasitas elemen petir murni dari jiwa kontraknya hingga seluruh lengan kanannya kembali diselimuti oleh percikan-percikan listrik biru yang berderik nyaring dan berbahaya. Di sisi lain arena, Sky juga mengangkat kipas peraknya tinggi-tinggi, memanipulasi tiga puluh persen elemen angin manusianya hingga menciptakan aura hijau tajam yang berputar cepat membungkus sekeliling tubuhnya.
Di dalam ruangan latihan privat yang terisolasi di tengah-tengah hiruk-pikuk pusat distrik komersial kota malam itu, Arkan dan Sky mulai bergerak maju bersama dalam sinkronisasi yang indah. Kombinasi dari insting bertahan hidup yang liar dari Volt, kecepatan dan ketajaman elang kristal Zephyr milik Sky, serta misteri energi pertumbuhan berkelanjutan dari kubus logam kuno milik Arkan kini telah resmi menyatu dalam satu harmoni latihan yang solid.
Mereka berdua siap untuk menghancurkan, mengacak-acak, dan mendobrak setiap dinding hierarki kekuasaan yang kaku di Akademi Astra Nusantara pada turnamen seleksi bulan depan.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!