Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 Shena Muncul
"Kenapa?" Hati Aluna seketika terasa hancur dan diliputi amarah yang besar.
"Jangan pernah melupakan alasan mengapa kakakmu menyerahkanmu kepadaku sejak awal."
Sepasang mata Gavin tampak menggelap bagai kolam yang dalam, dan ekspresi wajahnya yang mendadak terlihat muram seketika membuat Aluna tertegun.
Ya, ia mendadak lupa bahwa posisinya di sini hanyalah objek dari sebuah kesepakatan bisnis. Belum waktunya bagi Gavin untuk melepaskannya, jadi ia harus tetap tinggal di mansion ini dan bersikap penurut.
Aluna merasa kesal sekaligus tersinggung, wajahnya merengut gusar.
Melihat respons tersebut, kilat mata Gavin berubah. Ia berucap dengan nada tidak senang, "Kenapa? Kamu marah?"
Aluna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia memaksakan sebuah senyuman palsu lalu mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Tidak. Untuk apa aku harus marah!"
Gavin menyipitkan matanya, menatap Aluna dalam keheningan selama beberapa saat sebelum akhirnya menjatuhkan satu kalimat peringatan.
"Jadilah Gadis yang baik dan jangan memancing amarahku." Setelah mengatakan hal itu, Gavin kembali menarik tubuh Aluna ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat.
Di tengah remang kamar, bibir Gavin yang dingin langsung mengunci bibir mungil Aluna yang terlihat berwarna merah merona. Ciumannya yang dominan tanpa ampun kembali merajai tautan mereka, memaksa lidah Aluna untuk mengikuti ritme permainannya.
Karena terlalu intens, Gavin tanpa sadar mempererat cengkeraman tangannya pada tubuh Aluna, membuat gadis itu meringis menahan nyeri dan mengeluarkan erangan kecil yang tertahan.
Pria ini kasar sekali, kenapa dia selalu bersikap dominan seperti ini? Ini sangat menyakitkan.
Ayah, Ibu, Kak Rendra... aku ingin pulang ke rumah.
Aluna menjerit di dalam hatinya. Namun, ia tahu betul dirinya tidak memiliki kekuatan untuk mengubah situasi saat ini. Satu-satunya pilihan realistis adalah menahan penderitaan ini dan berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan hati Gavin agar pria itu tidak kembali mengamuk. Merasakan respons Aluna yang mulai pasrah dan membalas ciumannya, Gavin justru bergerak semakin intens, seolah tertantang oleh ketundukan gadis itu.
Keesokan harinya, setelah jam mengajar di tempat kursus selesai.
"Aluna, aku punya voucher makan di restoran Thailand yang baru buka di dekat sini. Bagaimana kalau kita mencoba makan siang di sana hari ini?" ajak Mentor Linda.
"Boleh, ayo."
Aluna melangkah keluar dari gerbang gedung kursus bersama Mentor Linda, rekan kerjanya yang memang paling akrab dengannya di Cendekia. Keduanya berjalan beriringan sambil mengobrol santai menuju restoran Thailand yang berada di ujung jalan.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, pandangan Aluna seketika terpaku pada sosok wanita cantik yang berdiri di samping mobil Porsche biru yang sangat mencolok. Wanita itu sedang melambaikan tangan ke arahnya sembari menyunggingkan senyum lebar.
Rambut panjangnya yang berwarna cokelat terang bergelombang dibiarkan terurai bebas di bahu, memancarkan pesona yang sangat memikat. Dengan bulu mata yang lentik, sepasang mata yang hidup, serta gaun mini ketat berwarna ungu kemerahan yang membungkus pas tubuhnya, penampilan wanita itu benar-benar sukses menonjolkan lekuk badannya yang proporsional. Penampilannya sangat modis dan berkelas.
"Aluna sayang!"
"Shena!"
Kehadiran Shena yang begitu mencolok di jam pulang kursus seketika mencuri perhatian penuh dari para staf, murid, hingga orang tua yang sedang menunggu di luar gedung. Mereka semua spontan menatap ke arah sahabat Aluna tersebut.
"Hei, lihat ke sana. Cantik sekali wanita itu."
"Dari mana datangnya perempuan secantik itu?"
"Gila, dia keren sekali! Aku kira ibu Aluna sudah seperti malaikat di sini, ternyata sekarang muncul satu malaikat lagi yang tidak kalah cantik."
"Jaga bicaramu. Ibu Aluna dan temannya itu punya tipe kecantikan yang berbeda, masing-masing punya pesona sendiri."
Mendengar bisikan-bisikan yang mulai bermunculan dari segala arah, Aluna hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis. Sahabat masa kecilnya ini memang selalu sukses memicu kehebohan ke mana pun ia pergi karena penampilannya yang selalu totalitas.
Sejak kecil, mereka berdua memang tidak terpisahkan. Akibatnya, dulu semua pria yang menyukai Shena tetapi tidak berani mendekatinya secara langsung sering kali memanfaatkan Aluna. Mereka menghujani Aluna dengan surat titipan, bunga, hingga makanan enak hanya demi menarik simpati dan mendapatkan informasi tentang Shena.
Aluna membalikkan tubuhnya untuk menghadap Mentor Linda dengan raut wajah tidak enak. "Linda, maaf sekali ya. Sahabat dekatku mendadak datang berkunjung, sepertinya makan siang kita harus..."
"Oh, tidak apa-apa, Aluna. Santai saja, kita bisa makan bersama lain kali," potong Linda memaklumi.
"Iya, maaf ya. Nanti lain kali aku yang traktir."
Setelah berbasa-basi sejenak dengan rekan kerjanya, Aluna segera melangkah cepat menghampiri Shena. Ia langsung meraih tangan sahabatnya itu dan menariknya masuk ke dalam mobil. "Ayo cepat masuk, kita pergi dari sini sekarang juga."
"Hei, kenapa terburu-buru sekali? Orang-orang di sekitar sini belum puas melihat penampilanku, tidak asyik kalau langsung pergi," canda Shena narsistik.
"Shena, tolonglah..." Aluna mengerucutkan bibirnya, menatap Shena dengan pandangan memelas.
Shena langsung menyerah jika Aluna sudah bersikap seperti itu. Ia mencubit gemas pipi Aluna, lalu segera duduk di balik kemudi, menginjak pedal gas, dan melajukan Porsche birunya membelah jalan raya.
Setengah jam kemudian, di sebuah restoran Prancis premium yang tenang.
Aluna merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna biru, lalu meletakkannya di atas meja dan mendorongnya perlahan ke hadapan Shena.
Shena mengernyitkan dahi, tampak bingung. "Aluna, apa maksudnya ini?"
"Uang ini... bukankah sebelumnya kamu bilang uang ini untuk biaya operasi Om Surya? Gunakan saja dulu, aku sama sekali tidak sedang butuh uang tunai, jadi kamu tidak perlu terburu-buru mengembalikannya," ujar Shena sembari mendorong kembali kartu debit tersebut ke arah Aluna.
"Shena, keluarga kami saat ini sudah tidak membutuhkan dana ini lagi. Jadi, kamu bawa pulang saja dulu uangmu," jelas Aluna.
Melihat kartu debitnya kembali ditolak, Shena melipat kedua tangannya di atas meja dengan ekspresi wajah yang berubah serius dan cemas. "Aluna, jujur padaku. Apa kamu... saat ini sedang menyembunyikan masalah besar?"
"Kemarin sebelum aku pulang ke Indonesia, sejak kamu meneleponku malam-malam untuk meminjam uang dalam jumlah besar secara mendadak, aku langsung menyuruh kakakku untuk diam-diam mencari tahu apa yang terjadi pada keluargamu. Dari sana aku baru tahu kalau perusahaan Ayahmu kemarin sempat kolaps dan hampir bangkrut total. Tapi tiba-tiba, Ramadhan Group turun tangan memberikan suntikan dana besar hingga perusahaan keluargamu bisa selamat dari krisis."
Shena menatap tajam mata Aluna. "Sekarang kamu mendadak mengembalikan uang ini padaku dalam waktu singkat. Biaya operasi dan perawatan intensif Om Surya di rumah sakit beberapa hari lalu, bukankah semua uang itu... diberikan oleh Gavin, CEO dari Ramadhan Group? Katakan padaku, apa hubunganmu yang sebenarnya dengan pria itu?"