NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — Akad Tanpa Rasa

Ballroom hotel itu berdiri megah seperti istana modern yang dibungkus cahaya kristal. Lampu gantung besar di langit-langit memantulkan kilau emas lembut yang jatuh ke setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer mewah yang seharusnya terasa seperti awal dari sebuah kebahagiaan.

Namun bagi Diara, semua kemewahan itu hanya terdengar seperti gema jauh yang tidak menyentuh dadanya.

Ia berdiri di balik pintu besar ruang persiapan pengantin.

Tangannya sedikit dingin.

Bukan karena ruangan, tetapi karena kesadaran yang perlahan mengikat pikirannya: hari ini bukan lagi sekadar rencana. Ini adalah kenyataan.

Di depannya, Baila berdiri dengan gaun bridesmaid warna dusty rose yang lembut. Wajahnya terlihat hangat, namun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir yang ia simpan sejak tadi.

“Lo yakin bisa jalanin ini?” suara Baila pelan, hampir seperti bisikan.

Diara tersenyum kecil.

Senyum yang terlalu rapi untuk seseorang yang sedang berdiri di ambang perubahan besar dalam hidupnya.

“Aku sudah sampai di sini, Bail,” jawabnya tenang. “Tidak ada pilihan untuk mundur.”

Baila menghela napas pelan, lalu memperbaiki ujung veil Diara yang menjuntai rapi.

Gaun pengantin itu tidak berlebihan. Putih bersih dengan detail sederhana yang elegan, dirancang sesuai permintaan Diara sendiri: tidak mencolok, tidak berlebihan, tidak berteriak.

Seperti dirinya yang selalu ingin tenang di tengah dunia yang ramai.

Tapi hari ini, ketenangan itu terasa dipaksa.

Di luar ruangan, ballroom sudah penuh.

Bukan hanya keluarga.

Undangan memenuhi ruangan: karyawan Syahrezan Group, para direktur, mitra bisnis, serta perusahaan-perusahaan besar yang menjalin kerja sama dengan keluarga Syahrezan.

Ini bukan sekadar pernikahan.

Ini adalah simbol kekuatan dua nama besar yang bersatu dalam satu panggung sosial.

Lampu kamera sesekali menyala.

Bisikan kecil terdengar di antara tamu.

“CEO Syahrezan akhirnya menikah juga.”

“Katanya perjodohan.”

“Wanita itu dari mana?”

Semua suara itu tidak pernah sampai ke telinga Diara, tapi dunia di sekitarnya sudah cukup membuatnya merasa asing.

🪻🪻🪻🪻

Di sisi lain ballroom, Jifan Artha Syahrezan berdiri dengan setelan jas putih yang rapi.

Tampak sempurna.

Seperti biasa.

Di sampingnya berdiri seorang pria dengan ekspresi tenang dan mata tajam yang selalu waspada—Arkan.

Sekretaris pribadi sekaligus tangan kanan Jifan.

Arkan memegang clipboard kecil, mengecek sesuatu dengan cepat.

“Semua tamu VIP sudah hadir. Kamera siap. Penghulu sudah menunggu instruksi,” katanya pelan.

Jifan mengangguk singkat.

“Mulai sesuai jadwal.”

Arkan menatapnya sekilas.

“Ini bukan meeting, Tuan,” ucapnya datar.

Jifan tidak menoleh.

“Justru karena itu, tidak perlu dibuat rumit.”

Arkan tidak menjawab lagi.

Ia sudah terbiasa dengan cara Jifan memandang segala hal: terstruktur, efisien, tanpa ruang untuk emosi yang tidak perlu.

Namun bahkan Arkan pun tahu—hari ini bukan hari biasa.

Di ruang persiapan, Diara menarik napas panjang.

“Sudah waktunya,” kata seseorang dari pihak panitia.

Baila menggenggam tangan Diara sejenak.

“Kalau nanti lo butuh pegangan… gue di belakang.”

Diara mengangguk pelan.

Pintu terbuka.

Musik lembut mengalun di seluruh ballroom.

Langkah Diara memasuki ruangan langsung menarik perhatian semua orang.

Semua mata tertuju padanya.

Namun Diara tidak benar-benar melihat mereka.

Langkahnya stabil.

Terlalu stabil.

Seolah ia sedang berjalan bukan menuju masa depan, tapi menuju keputusan yang sudah tertulis tanpa bisa ia ubah.

Di belakangnya, Baila mengikuti sebagai bridesmaid, memastikan gaun dan veil tetap rapi.

Di ujung jalur putih itu, Jifan berdiri.

Tegak.

Diam.

Menunggu.

Dan di sampingnya, Arkan berdiri sedikit ke belakang, mengamati situasi tanpa banyak ekspresi.

Untuk pertama kalinya hari itu, Diara melihat Jifan dengan jelas.

Jas putihnya kontras dengan aura dinginnya.

Wajahnya tetap sama seperti pertemuan sebelumnya: tenang, terkontrol, tidak menunjukkan apa pun yang bisa dibaca sebagai emosi manusia biasa.

Namun kali ini ada satu hal yang berbeda.

Ia benar-benar hadir.

Bukan sekadar nama dalam kesepakatan.

Diara berhenti sesaat.

Bukan karena ragu.

Tapi karena tubuhnya secara refleks merespons ketegangan yang tidak bisa ia jelaskan.

Mata mereka bertemu.

Sekilas.

Sangat singkat.

Dan seperti biasa, Jifan yang lebih dulu memutusnya.

Bukan dengan emosi.

Hanya dengan mengalihkan pandangan ke depan, menunggu proses dimulai.

Seolah Diara hanyalah bagian dari jalur yang harus dilewati.

Akad dimulai.

Suara penghulu terdengar jelas di tengah ruangan yang sebelumnya penuh bisik-bisik, kini berubah menjadi hening total.

Semua orang berdiri dengan sikap formal.

Biantara duduk di barisan keluarga Diara, wajahnya tenang namun matanya tidak lepas dari putrinya.

Kinnas menunduk pelan, tangannya menggenggam tasbih kecil.

Di sisi lain, Idrissa dan Aishani duduk berdampingan.

Aishani terlihat menahan emosi lembutnya dengan senyum tipis.

Diara duduk dengan tangan di pangkuan.

Tenang.

Terlalu tenang.

Padahal di dalam dadanya, ada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan.

Ijab kabul dimulai.

Suara wali Diara terdengar tegas namun penuh doa.

“Dengan ini saya nikahkan dan saya kawinkan Humaira Diara Aluna binti Biantara Danendra kepada Jifan Artha Syahrezan dengan mas kawin uang tunai senilai 1 miliar dibayar tunai”

Kalimat itu mengalir panjang.

Resmi.

Tidak bisa ditarik kembali.

Ruangan terasa semakin sunyi saat kalimat itu selesai.

Semua mata berpindah ke Jifan.

Dan pria itu menjawab tanpa jeda.

“Saya terima nikah dan kawinnya Humaira Diara Aluna binti Biantara Danendra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”

Tidak ada getaran suara.

Tidak ada perubahan ekspresi.

Tidak ada momen ragu.

Seolah ia sedang mengonfirmasi sesuatu yang sudah ia setujui jauh sebelum hari ini.

“SAH.”

Suara saksi menggema.

Dan seluruh ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan.

Lampu kamera menyala.

Beberapa tamu tersenyum.

Beberapa berbisik.

Namun Diara tidak bergerak.

Ia hanya duduk di tempatnya.

Menatap lurus ke depan.

Seolah mencoba memahami kapan tepatnya hidupnya berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi ia kenali.

Jifan berdiri lebih dulu.

Diara mengikuti.

Untuk pertama kalinya, mereka berdiri sebagai suami istri yang sah.

Namun tidak ada momen saling menatap lama.

Tidak ada genggaman tangan.

Tidak ada senyum.

Hanya formalitas yang sudah selesai.

Arkan maju sedikit, memberi arahan kecil kepada tim dokumentasi.

“Foto sesi utama, lima menit,” katanya tenang.

Sesi foto berlangsung cepat.

“Lebih dekat sedikit,” instruksi terdengar.

Jifan bergerak seperlunya.

Diara mengikuti.

Namun jarak di antara mereka tetap terasa seperti sesuatu yang tidak bisa dijembatani hanya dengan langkah fisik.

Setiap kali hampir bertemu pandang, salah satu dari mereka selalu lebih dulu menghindar.

Bukan karena emosi.

Tapi karena tidak ada kebutuhan untuk itu.

Setelah sesi selesai, suasana perlahan mereda.

Tamu mulai keluar ruangan.

Beberapa memberi selamat.

Beberapa sekadar lewat.

Diara menerima semuanya dengan senyum sopan yang sudah ia latih sejak kecil.

Namun dalam dirinya, tidak ada yang benar-benar tersisa.

Malam tiba.

Diara sudah berganti pakaian sederhana.

Gaun pengantin itu kini sudah tidak ada lagi di tubuhnya.

Digantikan oleh abaya hitam yang membuatnya kembali merasa seperti dirinya—atau setidaknya seperti versi dirinya yang dulu.

Baila memeluknya sebentar sebelum pergi.

“Kalau lo butuh gue, telepon,” ucapnya.

Diara mengangguk.

“Terima kasih, Bail.”

Mobil hitam berhenti di depan sebuah mansion modern.

Rumah Jifan.

Rumah barunya sekarang.

Lampu taman menyala lembut, menerangi jalan masuk yang panjang dan rapi.

Bangunan itu besar.

Bersih.

Simetris.

Terlalu sempurna.

Terlalu dingin.

Seperti pemiliknya.

Diara turun perlahan.

Jifan sudah lebih dulu berdiri di depan pintu utama.

Arkan tidak ikut masuk—ia hanya berdiri sebentar di belakang, lalu mengangguk kecil kepada Jifan sebelum pergi.

“Semua sudah diurus,” kata Arkan singkat sebelum berbalik.

Jifan tidak menjawab.

Ia hanya membuka pintu.

“Masuk.”

Diara melangkah masuk.

Interior rumah itu luas, minimalis, dan sunyi.

Tidak ada suara berlebihan.

Tidak ada tanda kehidupan hangat.

Hanya keteraturan yang sempurna.

Jifan berhenti di tengah ruang tamu.

“Ini rumahmu sekarang,” katanya datar.

Tidak ada penjelasan lain.

Tidak ada sambutan.

Tidak ada makna tambahan.

Lalu ia melangkah pergi ke arah tangga.

Tanpa menoleh.

Tanpa menunggu.

Diara berdiri di tengah ruangan itu.

Sunyi.

Kosong.

Bukan karena rumahnya tidak indah.

Tapi karena tidak ada satu pun hal di dalamnya yang terasa seperti miliknya.

Tangannya perlahan meremas ujung jilbabnya.

Dadanya tidak sakit.

Tidak hancur.

Hanya kosong.

Seperti seseorang yang baru saja menutup satu pintu kehidupan… tanpa tahu pintu mana yang akan terbuka setelahnya.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!