Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Mengguncang Batu Ujian
Tiga minggu berlalu seperti embusan angin yang tak terlihat.
Di dalam Halaman Angin Musim Gugur, suara dentuman keras terdengar setiap hari dari subuh hingga tengah malam. Udara di sekitar halaman itu terus-menerus terdistorsi oleh gelombang kejut yang kasat mata.
WUSSH! DUAAAR!
Sebuah batu besar seukuran gajah hancur berkeping-keping akibat tebasan pedang raksasa berwarna hitam legam. Di tengah kepulan debu, Lin Chen berdiri dengan napas teratur. Otot-otot di tubuhnya tidak terlihat berlebihan, namun mengalirkan tenaga ledak yang mengerikan layaknya naga purba yang sedang tertidur.
"Tiga minggu penempaan tanpa henti. Fisikku telah sepenuhnya beradaptasi dengan Pedang Berat Penelan Bintang."
Lin Chen menyarungkan pedang raksasa itu ke punggungnya dengan sebuah tali kulit. Ia memejamkan mata, merasakan pusaran Qi di dalam Dantian-nya yang kini jauh lebih besar dan lebih pekat dari sebelumnya. Berkat sisa energi dari Cairan Penempa Tubuh Api Bumi dan kultivasi gila-gilaannya, ia telah berhasil menerobos ke Ranah Kondensasi Qi Tingkat 6.
Matahari perlahan naik, menandakan hari yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh Kota Daun Musim Gugur.
Hari ini adalah pembukaan Turnamen Bela Diri Kota.
Alun-alun utama Kota Daun Musim Gugur, yang mampu menampung puluhan ribu orang, telah disesaki oleh lautan manusia. Turnamen ini tidak hanya menjadi ajang unjuk gigi bagi generasi muda, tetapi juga menentukan pembagian kekuasaan, tambang, dan jalur perdagangan di kota tersebut untuk lima tahun ke depan.
Di tribun kehormatan tertinggi, duduk sang penguasa kota, Tuan Kota Liu Yuan, yang dikabarkan telah mencapai Ranah Pembentukan Fondasi (Foundation Establishment). Di bawahnya, duduk para Patriark dari tiga keluarga besar: Keluarga Wang, Keluarga Zhao, dan Keluarga Lin.
"Lihat, Keluarga Lin sudah tiba!" seru salah satu penonton.
Lin Zhentian memimpin barisan generasi muda Keluarga Lin menuju area peserta. Namun, perhatian semua orang langsung tertuju pada sesosok pemuda yang berjalan paling belakang. Pemuda itu mengenakan jubah hitam sederhana, dan di punggungnya tergantung sebuah pedang hitam raksasa tanpa sarung yang terlihat sangat berat dan kuno.
"Bukankah itu Lin Chen? Si Sampah Terbesar?"
"Kudengar dia berhasil memulihkan meridiannya dan mengalahkan Lin Tian! Tapi... senjata macam apa yang dibawanya itu? Apakah itu lempengan besi tua dari pandai besi jalanan?"
Di area Keluarga Wang, Wang Xue'er menatap Lin Chen dengan tatapan dingin penuh penghinaan. "Hanya mencari sensasi dengan membawa senjata berat yang tak berguna. Di arena nanti, kelambananmu akan menjadi alasan kematianmu."
Namun, reaksi yang paling dramatis datang dari area Keluarga Zhao.
Tuan Muda Zhao Feng, yang sedang memegang kipas emasnya, tiba-tiba membelalakkan matanya hingga nyaris keluar dari rongganya. Tatapannya terkunci pada pedang hitam legam di punggung Lin Chen.
"P-pedang itu..." Wajah Zhao Feng memerah karena amarah yang mendidih. Ia langsung mengenali pedang tersebut sebagai barang rongsokan dari Paviliun Harta Surgawi. Fakta bahwa pria bertopi bambu yang mempermalukan dan melukai pengawalnya tiga minggu lalu adalah Lin Chen, sang sampah legendaris, membuat harga dirinya terluka parah.
"Bagus... sangat bagus, Lin Chen!" Zhao Feng menggertakkan giginya hingga berdarah. "Ternyata tikus jalanan itu adalah kau! Aku pasti akan mencabik-cabikmu di arena nanti!"
Di tengah arena, Tuan Kota Liu Yuan berdiri dan mengangkat tangannya, membuat seluruh alun-alun seketika hening.
"Selamat datang di Turnamen Bela Diri Kota Daun Musim Gugur!" suara Liu Yuan yang dilapisi Qi bergema ke setiap sudut. "Sebelum kita masuk ke babak pertarungan, kita akan mengadakan Babak Kualifikasi untuk menyaring mereka yang tidak pantas berada di atas arena!"
Dari balik arena, beberapa penjaga membawa sebuah batu raksasa berwarna hitam pekat yang memancarkan cahaya redup.
"Ini adalah Batu Bintang Hitam," lanjut Liu Yuan. "Batu ini akan mengukur kekuatan murni dari pukulan kalian. Syarat untuk lolos ke babak utama adalah menghasilkan tenaga pukulan sebesar 2.000 Jin (sekitar 1.000 kg). Silakan para peserta maju satu per satu!"
Ujian ini terlihat sederhana, namun sangat kejam. Kultivator Tingkat 4 biasa hanya memiliki kekuatan sekitar 1.500 Jin. Artinya, ujian ini langsung memotong habis peserta yang berada di bawah Tingkat 5.
Satu per satu peserta maju dan memukul batu tersebut.
"1.200 Jin! Gagal!"
"1.800 Jin! Gagal!"
"2.100 Jin! Lolos!"
Tiba giliran Zhao Feng. Ia melangkah maju dengan arogan, menatap sinis ke arah barisan Keluarga Lin. Ia mengerahkan Qi Tingkat 6 miliknya, menyelimuti tinjunya dengan cahaya keemasan, dan meninju batu itu dengan keras.
BAM!
Cahaya di atas batu itu menyala terang, menampilkan angka yang membuat banyak orang menahan napas.
"Zhao Feng: 4.500 Jin! Lolos!"
Zhao Feng tersenyum bangga dan melipat tangannya, menikmati sorakan para pengikutnya. Namun, kesombongannya tidak berlangsung lama ketika Wang Xue'er melangkah maju.
Gadis bergaun putih itu tidak menggunakan gerakan yang berlebihan. Ia hanya meletakkan telapak tangannya di permukaan batu dan mendorongnya dengan ledakan Qi elemen es yang membekukan udara di sekitarnya.
DUAAR!
Batu Bintang Hitam itu bergetar hebat. Angka yang muncul seketika membungkam seluruh alun-alun.
"Wang Xue'er: 6.200 Jin! Lolos!"
"Luar biasa! Tidak heran dia diterima di Akademi Bintang Jatuh! Di usia enam belas tahun, pukulannya setara dengan kultivator Tingkat 7 awal!" Para penonton bersorak histeris, dan Patriark Wang Teng tertawa lebar hingga mulutnya nyaris robek.
Wang Xue'er menarik tangannya yang anggun. Ia berbalik dan menatap langsung ke arah Lin Chen. Tatapannya seolah berkata: 'Lihatlah perbedaan antara kita.'
Lin Chen hanya menguap bosan. Ketika namanya dipanggil, ia berjalan santai menuju Batu Bintang Hitam. Langkah kakinya yang berat karena membawa Pedang Penelan Bintang di punggungnya membuat tanah bergetar pelan, namun tidak ada yang menyadarinya.
"Hei Sampah, apakah kau butuh bantuan untuk mengangkat tanganmu?" ejek Zhao Feng dari pinggir arena.
Lin Chen berhenti di depan batu hitam tersebut. Ia menoleh sedikit ke arah Tuan Kota. "Apakah ada batasan senjata yang boleh digunakan?"
Tuan Kota Liu Yuan mengerutkan kening, lalu menggeleng. "Tidak. Ujian ini menguji daya rusak maksimalmu. Senjata diperbolehkan."
"Bagus," jawab Lin Chen singkat.
Alih-alih menyalurkan Qi murni atau menggunakan teknik bela diri tingkat tinggi, Lin Chen perlahan merogoh punggungnya dan menarik gagang Pedang Penelan Bintang.
Melihat Lin Chen hanya mengeluarkan pedang hitam yang terlihat tumpul dan karatan, para penonton tertawa terbahak-bahak.
"Apa dia mau membelah batu sekeras baja itu dengan lempengan besi tumpul?!"
"Dia pasti sudah gila!"
Lin Chen mengabaikan suara lalat di sekitarnya. Ia memegang gagang pedang dengan satu tangan. Tanpa menggunakan setetes pun energi spiritual, hanya mengandalkan murni kekuatan fisik hasil tempaan Cairan Penempa Tubuh Api Bumi, ia mengayunkan pedang raksasa itu ke arah Batu Bintang Hitam dengan gerakan menyamping yang kasar.
WUSSH!
Bilah pedang itu membelah udara, menciptakan suara dengungan sonik yang memekakkan telinga.
BOOOOOOM!!!!
Begitu pedang tumpul itu menghantam Batu Bintang Hitam, suara ledakan mengerikan terjadi layaknya meteor jatuh dari langit. Batu raksasa yang diklaim mampu menahan serangan kultivator Tingkat 8 itu seketika memunculkan retakan besar bak jaring laba-laba.
Layar angka di atas batu itu menyala dengan gila, melonjak dari angka 0 ke 5.000, lalu ke 8.000, sebelum akhirnya...
KRAAAK! PRANG!
Batu Bintang Hitam itu hancur berkeping-keping, meledak menjadi ribuan serpihan kerikil yang berhamburan ke segala arah! Layar angkanya meledak sebelum sempat menunjukkan angka akhir, karena batas maksimal ukurannya 10.000 Jin telah terlampaui hingga alat itu rusak.
Keheningan yang mencekik menyergap seluruh alun-alun.
Tawa Zhao Feng tersangkut di tenggorokannya bak dicekik iblis. Senyum arogan Wang Xue'er membeku di wajah cantiknya, digantikan oleh kepucatan mutlak. Tuan Kota Liu Yuan langsung berdiri dari kursi gioknya, wajahnya penuh ketidakpercayaan.
Lin Chen mengangkat pedang raksasanya dan memanggulnya kembali ke bahu. Ia meniup debu yang menempel di bilah pedangnya, lalu menatap Tuan Kota yang masih menganga kaku.
"Batunya hancur sebelum menampilkan angka," ucap Lin Chen dengan nada santai, suaranya memecah kesunyian mengerikan di alun-alun. "Apakah aku lolos?"