Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Ayah dan Anak
Malam berikutnya, setelah mereka makan malam pertama yang cukup lancar, walau tadinya agak canggung, Arkan mengajak Rara ke tempat yang sangat berarti baginya—rumah sakit tempat ayahnya dulu bekerja sebelum meninggal.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Rara, waktu mereka berdiri di depan pintu rumah sakit tua itu.
"Aku mau kasih lihat sesuatu padamu," jawab Arkan sambil membuka pintu. "Ini soal ayahku."
Mereka berjalan menyusuri lorong yang sudah lapuk, sampai akhirnya mereka sampai di satu ruangan. Ternyata itu kantor lamanya dr. Reza Pratama—ayah Arkan.
"Ini tempat kerja ayahku sebelum dia meninggal," Arkan berkata sambil menyalakan senter kecil yang dibawanya.
"Di sini, dia menyimpan banyak catatan." Rara memandang sekeliling ruangan, penuh dengan buku-buku medis dan dokumen-dokumen.
Di dinding, foto-foto dr. Reza saat masih muda terpajang—wajahnya benar-benar serupa dengan Arkan sekarang.
"Kamu sangat menyerupai nya," kata Rara.
"Ya," jawab Arkan sambil tersenyum tipis.
"Tapi dia jauh lebih hebat daripada aku."
"Aku rasa tidak begitu," Rara menjawab dengan tenang.
Arkan membuka laci meja dan mengeluarkan album foto. "Ini foto ayahmu dan dr. Reza," katanya sambil menyerahkan album itu pada Rara yang terlihat gugup saat menerimanya.
Dalam album itu, terdapat banyak gambar dr. Reza dan ayah Rara saat mereka muda—bersama di acara-acara rumah sakit, tertawa riang, hingga memancing bersama.
"Mereka memang akrab sekali," bisik Rara pelan.
Arkan menganggukkan kepala, "Benar, ayahmu satu-satunya yang tetap berdiri di samping ayahku setelah kecelakaan tersebut."
"Kenapa ayahku tidak pernah cerita soal ini?" tanya Rara.
Arkan menjawab, "Ayahmu ingin kamu tetap aman. Dia tahu bagaimana kecelakaan itu menghancurkan ayahku—membuatnya terjebak dalam alkohol dan depresi. Dia tidak mau kamu melihat sisi kelam itu dari dirinya."
"Jadi ayahku tahu tentang masalah ayahmu?" Rara bertanya lagi.
"Iya," Arkan mengangguk pelan.
"Dan hanya dia yang berusaha bantu ayahku pulih."
"Tapi usahanya gagal," Rara menyimpulkan.
Arkan menarik napas panjang, "Bukan karena kurang usaha dari ayahmu."
Rara menemukan foto spesial dalam album itu—ayahnya bersama dr. Reza berdiri di depan rumah sakit tua, terlibat diskusi serius.
"Apa yang sedang mereka bahas?" tanya Rara penasaran.
Dengan nada berat, Arkan menjawab, "Hari itu adalah pertemuan terakhir mereka. Ayahmu berusaha meyakinkan ayahku agar mencari bantuan dari ahli."
"Itu adalah hari terakhir mereka bertemu," ujar Arkan dengan suara berat.
"Ayahmu ingin ayahku mencari bantuan profesional."
Rara penasaran, "Tapi ayahmu menolak?"
Arkan mengangguk sambil mengingat, "Dia marah besar. Dia bilang ayahmu tidak paham apa yang dia rasakan. Bahkan, dia menyatakan bahwa seharusnya ayahmu lah yang meninggal dalam kecelakaan itu, bukan dirinya."
Kata-kata tersebut membuat Rara terperangah. "Benarkah ayahmu mengatakan hal itu?"
Arkan menundukkan kepala dengan sedih, "Ya, dan itu adalah obrolan terakhir mereka."
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Rara.
Arkan melanjutkan, "Ayahmu pergi dengan perasaan sedih. Sementara itu, ayahku... dia pulang ke rumah dan..."
Rara menyela, "Lalu dia bunuh diri."
Arkan mengangguk pelan, matanya berkilat sedih. "Benar," jawabnya, "Malam itu juga."
Cerita tersebut membuat dada Rara terasa sesak. "Jadi ayahmu meninggal sehari setelah foto ini diambil?" tanyanya lagi.
Arkan mengiyakan. "Betul," katanya. "Dan ayahmu... dia mengalami kecelakaan mobil seminggu kemudian dan meninggal dunia."
"Kita tak pernah tahu soal hubungan mereka," bisik Rara.
Arkan bilang semua orang berusaha menjaga rahasia itu. Kedua ibu mereka sepakat menyembunyikannya.
"Tapi ini keliru," tegas Rara. "Kita berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Arkan setuju dengan anggukan kepala. Meski begitu, sekarang mereka sudah tahu. Rara mengambil napas dalam-dalam.
"Baiklah, kita bisa menghormati ingatan mereka dengan cara yang tepat."
Arkan menambahkan, "Jangan ulangi kesalahan yang sama."
Rara menjawab, "Dengan menjalani hidup lebih baik dari mereka."
Mata mereka saling bertatapan penuh pemahaman. Meskipun banyak yang hilang dari hidup mereka—kehilangan orang tua dan bertahun-tahun terjebak dalam kebencian yang tidak perlu—namun kini ada sesuatu yang lebih berharga. Mereka menemukan kebenaran, memaafkan kesalahan, dan mungkin... cinta.
"Sudah waktunya kita pulang," ujar Arkan sambil meraih tangan Rara. "Kita terlalu lama tinggal di masa lalu.
" Rara mengangguk, menggenggam tangannya erat. "Ayo."
Mereka meninggalkan rumah sakit tua itu bersama, melangkah dari bayang-bayang kenangan yang dulu membelenggu mereka. Kini, keduanya menatap ke depan, menuju hari-hari yang lebih cerah.
Mereka melangkah keluar dari pintu yang sudah usang, tangan saling menggenggam erat tanpa keraguan.
Sinar matahari pagi lembut menyinari wajah mereka, seakan menyambut ke hidup baru. Di belakang, rumah sakit tua berdiri bisu, menjadi saksi semua rahasia dan pengorbanan keluarga mereka. Jalan panjang membentang di depan, penuh kemungkinan dan harapan baru.
Arkan menatap Rara dengan cinta di matanya dan berkata, "Mari pulang."
Rara tersenyum dan mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar pulang—bukan ke tempat fisik, tapi ke pelukan orang yang mencintainya sepenuh hati meski ada luka dan kesalahan masa lalu. Bersama-sama mereka berjalan menuju pagi cerah—bebas dari belenggu masa lalu dan siap memulai cerita baru mereka sendiri.
Bersambung....