Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Jepang
Amanda cukup kaget melihat Egar, tetapi pelayan tersebut langsung melakukan pembayaran dengan kartu yang diberikan Egar.
"Sudah selesai tuan," ucap pelayan tersebut dengan ramah.
"Terima kasih," Egar menganggukkan kepala dan kemudian langsung pergi.
"Heh, tunggu!" panggil Amanda buru-buru langsung mengejar Egar keluar dari tempat itu.
"Hey tunggu!" Amanda sampai ngos-ngosan ketika berhasil mengajar Egar.
"Kenapa kamu cepat sekali larinya," ucap Amanda mengatur nafasnya naik turun.
"Siapa yang menyuruh kamu untuk mengejar saya?" tanya Egar.
"Memang tidak ada yang berniat untuk mengejar kamu, tetapi seperti manusia yang diajarkan sopan santun dan rasa berterima kasih, saya hanya mengucapkan terima kasih kepada kamu karena sudah membantu saya dalam keadaan terdesak, saya akan membayar hutang saya," ucap Amanda.
"Kalau begitu saya tunggu untuk membayar hutang kamu," sahut Egar dengan santai.
"Astaga, jadi dia benar-benar akan menerima hutang itu, hanya 48.000 dan dia akan memintanya," batin Amanda.
"Ada apa Nona Amanda? Apa ada lagi yang ingin Anda sampaikan?" tanya Emir.
"Tidak! Baiklah saya akan membayarnya, berikan no rekening Anda?" Amanda mengadahkan tangan pada Emir.
"Ponsel kamu saja bahkan mati, lalu bagaimana kamu akan menulis atau menyalin nomor rekening saya, bukankah kita masih akan terus bertemu dan kamu bisa langsung bayarkan hutang kamu secara tunai tanpa mempersulit keadaan," ucap Egar.
"Oke, kamu pikir aku tidak memiliki uang, aku akan membayarnya dengan cepat!" tegas Amanda.
Egar tidak menanggapi apapun dan kemudian langsung berlalu dari hadapan Andra
"Hey, kamu mau kemana?" tanya Amanda.
"Astaga laki-laki itu benar-benar sombong. Apa yang dia sombongkan coba, saat ini dia menduduki posisi Direktur perusahaan milik kedua orang tuaku ada dia belum tahu saja siapa aku, kita lihat saja bagaimana kesombongannya itu," umpat Amanda dengan kesal.
*****
Egar saat ini berada di bandara yang duduk di ruang tunggu, Egar seperti biasa sangat sibuk dengan tabletnya yang memeriksa bagaimana perkembangan perusahaan.
"Pak!" Egar mengangkat kepala ketika sekretarisnya Gina sudah berdiri di sampingnya.
"Bagaimana?" tanya Emir.
"Sudah. Pak, kita sebaiknya langsung saja melewati imigrasi! pesawat sebentar lagi juga akan take off," ucap Gina.
"Baiklah," sahut Egar menarik nafas dan membuang perlahan ke depan, kemudian berdiri ini memegang kopernya yang juga dipegang oleh Gina.
"Saya masih bisa membawanya!" ucap Egar bukan pria gentlemen yang membiarkan sekretarisnya harus membawa dua koper.
"Baik Pak," sahut Gina dan Egar yang terlihat berjalan terlebih dahulu.
Keduanya sama-sama menunggu antrian di saat petugas bandara melakukan pemeriksaan paspor dan lain sebagainya.
"Jadi Amanda benar-benar tidak melakukan penerbangan secara bersamaan, yah mungkin saja dia memiliki kesibukan. Lagi pula syuting juga akan dimulai lusa, aku bersama dengan pak Egar terlebih dahulu ke Jepang karena memang ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan," batin Gina.
Gina menghela nafas dan menoleh ke arah sebelah kiri yang mana juga terdapat antrian yang sama seperti dirinya yang sudah melakukan pemeriksaan. Gina mengerutkan dahi saat melihat pria yang membawa satu koper yang berada di sampingnya.
Pria itu melangkah ketika sudah berada di depan petugas bandara dengan membuka topinya sebentar ada tak lain pria itu adalah Reno.
"Pak Reno...." batin Gina.
Gina tidak memiliki waktu untuk memikirkan Reno. Gina kembali melanjutkan pemeriksaan ketika atasannya sudah selesai.
******
Tokyo Jepang.
Amanda baru saja tiba di Bandara setelah melakukan perjalanan cukup panjang dari Jakarta sampai ke Tokyo.
"Setelah pulang dari Australia dan kembali ke Jakarta, aku belum pernah ke Luar Negeri dan ini pertama kalinya, untung saja segala biaya akomodasi dan apapun itu dibiayai oleh perusahaan dan dengan begitu aku tidak pernah memikirkan apapun," gumam Amanda melihat di sekelilingnya.
Banyak orang-orang berjalan dengan buru-buru membawa koper mereka, suasana Bandara terlihat begitu tenang meski terlihat banyak orang yang terlalu lalang.
"Aku harus menghubungi Gina, aku belum pernah ke tempat ini dan aku tidak tahu kota ini seperti apa dan terlebih lagi aku juga tidak tahu di mana aku harus tinggal," ucap Amanda menghela nafas.
Amanda mengambil ponselnya dari tasnya dan kemudian mencoba untuk menghubungi sekretaris dari Egar.
"Amanda....." baru saja ingin menghubungi Gina tiba-tiba saja suara yang tidak asing itu mulai terdengar membuat Amanda menoleh dan benar, wanita yang dia cari akhirnya muncul.
Gina melangkah cepat menghampiri Amanda.
"Maaf aku sedikit terlambat," ucap Gina merasa tidak enak ketika sudah berdiri di hadapan Amanda.
"Tidak masalah, aku baru saja ingin menelpon kamu dan ternyata kamu sudah datang," ucap Amanda.
"Aku mana mungkin tidak menjemput kamu, aku sangat takut kamu sempat bosan dan akhirnya tidak nyaman dalam pekerjaan ini," sahut Gina.
"Hmmm, terima kasih sampai saat ini memberikan pelayanan terbaik untukku jadi aku tidak punya alasan untuk tidak nyaman," sahut Amanda.
"Ya sudah kalau begitu sebaiknya sekarang kita langsung saja ke hotel. Aku sudah menyiapkan hotel yang sangat bagus untuk kamu dan aku sangat berharap kamu sangat menyukainya," ucap Gina tampak excited sekali.
"Jika kamu yang menyiapkannya, maka menurutku tidak ada keraguan dan aku sudah yakin bahwa tempat itu sangat baik," ucap Amanda.
"Ya sudah, kalau begitu kita langsung pergi saja!" ajak Gina.
"Hmmmmm, boleh tidak aku makan dulu, soalnya perutku keroncongan dan saat di pesawat aku tidak selera untuk memakan apapun," ucap Amanda tampak begitu lemes sembari memegang perutnya.
"Baiklah, kalau begitu kita cari makan dulu dan aku akan mencarikan tempat makanan yang paling enak di kota ini," ucap Gina.
Amanda mengganggukan kepala dan mereka berdua sama-sama meninggalkan Bandara.
Amanda dan Gina saat ini sudah berada di salah satu restoran Jepang, keduanya bahkan menikmati makan bersama dan mungkin seperti apa yang dikatakan Gina bahwa makanan yang di rekomendasikan benar-benar sangat nikmat.
Tidak seperti biasanya bagaimana Gina yang selalu mengajak Amanda berbicara, tetapi justru terlihat Gina bolak-balik membalas pesan dengan senyum-senyum banyaknya seperti remaja jatuh cinta.
"Hmmmmm...." Amanda berdehem membuat Gina melihat ke arah Amanda.
"Sorry, sorry Amanda, mata kamu sepertinya tidak nyaman melihat tingkahku, maaf ya," ucap Gina menyadari bahwa dia telah mengabaikan rekannya dan malah asyik dengan ponselnya.
"Tidak apa-apa, kamu sepertinya saling berbalas pesan dengan pacar kamu?" tebak Amanda.
"Kamu bisa saja," sahut Gina terlihat malu-malu bahkan sampai pipinya memerah.
"Kebetulan dia juga ada di Jepang, ini merupakan suprise untukku," ucap Gina ternyata tidak malu untuk mengatakannya kepada Amanda.
"Sungguh, aku turut senang mendengarnya. Apa kalian berdua LDR?" tanya Amanda.
Bersambung.....