"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Ibu dan Hak yang Terenggut
Pagi itu, ruko sekaligus kantor Gudang Berkah Arumi kedatangan tamu yang tak biasa. Ibu Aminah datang dengan mata sembab dan langkah yang terseret. Di belakangnya, Setya mengekor dengan kepala tertunduk dalam. Penampilan pria itu sudah tidak karuan; baju kusam, wajah tirus karena kurang makan, dan aroma keputusasaan yang menyengat.
Arumi yang sedang memeriksa sampel bumbu instan baru segera berdiri menyambut mertuanya—ah, mantan mertuanya. Arumi tetap memperlakukan Ibu Aminah dengan sangat hormat.
"Ibu? Ada apa pagi-pagi sudah ke sini?" tanya Arumi sambil menuntun Ibu Aminah duduk di sofa kulit kantornya.
Ibu Aminah tidak langsung menjawab. Ia justru menggenggam tangan Arumi dengan erat, dan air mata kembali mengalir di pipinya yang mulai keriput. "Rum ... Ibu tahu, Ibu tidak punya muka lagi untuk meminta ini padamu. Setya sudah sangat keterlaluan. Dia suami yang durhaka padamu..."
"Ibu, jangan bicara begitu," potong Arumi lembut.
"Ibu mohon, Rum ... Semalam Ibu melihatnya tidur di depan teras rumah dengan kondisi seperti gelandangan. Dia kelaparan. Tidak ada satu pun tempat yang mau menerimanya kerja karena kasus Raya kemarin," Ibu Aminah sesenggukan.
"Ibu tidak tega, Rum. Biar bagaimanapun, dia tetap anak kandung Ibu. Bisa tidak ... biarkan dia kerja lagi di sini? Jadi apa saja, Rum. Jadi tukang sapu pun tidak apa-apa, asal dia bisa makan dan tidak luntang-lantung di jalanan."
Setya yang berdiri di pojok ruangan hanya diam. Ia tidak berani menatap Arumi. Rasa malunya sudah sampai ke sumsum tulang, tapi rasa laparnya jauh lebih mendesak.
Arumi diam sejenak. Ia menatap Ibu Aminah, kemudian beralih menatap Setya dengan pandangan dingin yang sulit dibaca. Di satu sisi, ia ingin Setya hancur total. Namun, di sisi lain, ia sangat mencintai Ibu Aminah yang sudah dianggapnya sebagai ibu kandung sendiri.
"Ibu tahu kan, dia sudah kupecat karena keributan yang dibuat istrinya?" Arumi bertanya pelan.
"Ibu tahu, Rum. Ibu paham kalau kamu marah. Tapi tolong, demi Ibu..."
Arumi menarik napas panjang. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan rencana panjang. "Baiklah. Demi Ibu, aku terima dia kembali. Tapi ada syaratnya."
Setya mendongak, matanya berbinar penuh harapan.
"Dia tidak akan kembali jadi kuli panggul," lanjut Arumi. "Aku butuh tenaga untuk membersihkan toilet gudang, area pembuangan sampah, dan menjaga kebersihan seluruh area parkir. Dia akan bekerja di bawah pengawasan langsung Kepala Gudang, dan gajinya ... aku akan berikan setengahnya langsung pada Ibu untuk biaya makan dia, sisanya baru untuk dia sendiri. Dan satu lagi, dia dilarang keras mengganggu privasiku."
"Terima kasih, Rum! Terima kasih banyak!" Ibu Aminah memeluk Arumi dengan haru.
Setya menelan ludah. Membersihkan toilet dan sampah? Itu adalah pekerjaan yang dulu paling ia hindari. Tapi ia tidak punya pilihan. "Terima kasih ... Nyonya Arumi," ucap Setya lirih, meskipun kata 'Nyonya' itu terasa sangat pahit di lidahnya.
Hari pertama Setya kembali bekerja menjadi awal dari neraka barunya. Kini, setiap hari ia harus mengenakan sepatu bot karet dan memegang sapu lidi serta sikat toilet. Ironisnya, toilet yang harus ia bersihkan adalah toilet yang berada di dekat ruangan Arumi.
Sore hari, saat Setya sedang menyikat lantai di koridor depan kantor, ia melihat Dhanu—pria sukses yang kemarin—kembali datang. Kali ini Dhanu membawa sebuah buket bunga lili putih yang sangat cantik.
"Hai, Rum! Sudah siap untuk meeting sambil makan malam?" suara Dhanu yang berat dan percaya diri terdengar jelas di telinga Setya.
Arumi keluar dari ruangan dengan gaun batik modern yang sangat elegan. Ia tersenyum manis saat menerima bunga dari Dhanu. "Bunganya cantik sekali, Dhanu. Terima kasih."
Setya yang sedang berjongkok memegang sikat lantai mendadak merasakan darahnya mendidih. Rasa cemburu yang luar biasa membakar dadanya. Ia merasa seolah Arumi masih miliknya, seolah gaun itu seharusnya hanya ia yang memuji.
"Rum..." panggil Setya tanpa sadar. Ia berdiri, melupakan statusnya sebagai tukang bersih-bersih.
Arumi dan Dhanu menoleh. Dhanu menatap Setya dengan dahi berkerut, bingung melihat seorang tukang kebersihan memanggil bosnya dengan nama panggilan akrab.
"Ada apa, Setya? Masih ada sampah yang belum dibersihkan?" tanya Arumi dengan nada yang sangat formal dan menjaga jarak.
Setya menunjuk bunga di tangan Arumi dengan sikat yang masih basah. "Kamu ... kamu belum lama cerai, Rum. Tidak pantas kamu menerima bunga dari pria lain seperti ini di depan banyak orang. Apa kata tetangga nanti? Apa kata anak-anak?"
Arumi tertegun sejenak, tawa kecil keluar dari bibirnya. Tawa yang sangat menghina.
"Setya, sepertinya kamu lupa satu hal penting. Kamu sekarang adalah staf kebersihan di sini, bukan suamiku. Hakmu untuk mengatur hidupku sudah hilang sejak ketukan palu hakim minggu lalu," Arumi mendekat satu langkah, matanya berkilat tajam. "Soal anak-anak, mereka jauh lebih bahagia melihat ibunya dihargai oleh pria terhormat daripada melihat ibunya dikhianati oleh pria yang sekarang memegang sikat toilet."
Dhanu yang mulai paham situasi, menatap Setya dengan pandangan meremehkan namun berkelas.
"Oh, jadi ini mantan suamimu, Rum? Sayang sekali ya, ternyata selera kamu dulu ... unik."
Kata 'unik' dari Dhanu adalah ejekan yang sangat telak. Setya mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menghantamkan sikatnya ke wajah Dhanu, tapi ia sadar—satu gerakan kasar saja, ia akan kembali ke trotoar jalanan.
"Ayo, Dhanu. Jangan biarkan orang ini membuang waktu kita," ajak Arumi.
Mereka berdua berjalan melewati Setya. Wangi parfum Arumi yang mahal sempat singgah di hidung Setya, kontras dengan bau karbol dan sampah yang menempel di bajunya. Setya hanya bisa mematung, menatap punggung Arumi yang masuk ke dalam mobil mewah Dhanu.
"Aku akan buat kamu kembali padaku, Rum ... Aku akan buktikan kalau pria itu tidak lebih baik dariku," bisik Setya dalam hati, sebuah delusi yang muncul karena rasa tidak terima. Ia belum sadar, bahwa setiap kali ia mencoba "merasa memiliki" Arumi, ia sebenarnya sedang memperdalam lubang kehancurannya sendiri.
Di dalam mobil, Arumi melihat Setya dari kaca spion yang masih berdiri menatap mereka.
"Kamu yakin mempekerjakannya kembali?" tanya Dhanu.
Arumi menyandarkan kepalanya. "Yakin. Karena terkadang, hukuman yang paling berat bukan dengan menjauhkan seseorang dari kita, tapi dengan membiarkannya melihat semua kebahagiaan kita yang takkan pernah bisa ia miliki lagi. Itu adalah cara terbaik untuk membunuh egonya secara perlahan."
kamu yang bikin semua hancur setya