Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bareng Pacar dulu...
“BRIELLE BANGUN WOI!”
Suara cempreng Keisha menggema satu UKS.
Brielle yang masih tidur langsung mengerutkan wajah.
“Hmm…”
“WOI PRINCESS NOOR CEPAT SADAR!”
Plak!
Sebuah bantal kecil mendarat di wajah Brielle.
“AKH!”
Mata Brielle langsung terbuka lebar.
“SIAPA YANG NAMPAR PRINCESS?!”
Keisha dan Celine langsung ngakak brutal.
“Anjir bangun juga.”
Brielle mengucek mata bingung.
“Hah…?”
Baru beberapa detik kemudian—
Ingatan soal hukuman, panas lapangan, dan Nevran kembali muncul.
Dan sukses bikin wajah Brielle memerah.
“Eh…” Celine langsung menyipitkan mata curiga. “Kenapa blush sendiri?”
“GAK ADA!”
Keisha langsung duduk di samping ranjang UKS dengan heboh.
“WOY LU DIGENDONG PANGERAN SEKOLAH!”
“DIAM LO!”
“Anjir bridal style lagi!”
“Semua orang liatin!”
“Bahkan anak kelas satu sampe kelas tiga heboh!”
Brielle langsung menutup wajah pakai selimut.
“GUA MALU BANGET, PLISSSS !”
“Bohong,” celetuk Keisha. “Muka lo malah senyum.”
“ITU REFLEKS!”
Celine ikut duduk sambil tersenyum kecil.
“Tapi jujur sih…”
“Hm?”
“Nevran keliatan panik banget tadi.”
Deg.
Brielle langsung diam.
Panik?
Si cadel itu?
“Mana mungkin,” gumamnya pelan.
“Beneran,” sambung Keisha cepat. “Dia sampe bentak anak-anak yang ngelihatin lo.”
“HAH?!”
“Terus dia gendong lo cepet banget ke UKS.”
“Gila sih…” Celine menghela napas dramatis. “Kalau gue yang digituin mungkin langsung nikah.”
“CELINE!”
Mereka langsung ngakak lagi.
Namun tiba-tiba—
Tok tok.
Pintu UKS terbuka pelan.
Dan sosok Elvaro muncul di sana.
Cowok itu tersenyum lembut begitu melihat Brielle sudah bangun.
“Sayang…”
Keisha dan Celine langsung refleks saling melirik.
Oh no.
Mode bucin aktif.
Elvaro berjalan mendekat perlahan.
“Gimana kondisi kamu? Udah baikan?”
Brielle langsung berubah manja.
“Masih lemes…”
Elvaro duduk di tepi ranjang.
Tangannya otomatis menyentuh dahi Brielle lembut.
“Masih pusing?”
“Dikit.”
“El lapar gak?”
“Lapar…”
“Ya ampun,” gumam Elvaro sambil tersenyum kecil. “Tadi kan udah dibilang jangan telat makan.”
Brielle langsung manyun.
“Kan tadi gara-gara—”
“Shh.”
Elvaro mengusap kepala Brielle pelan.
“Sekarang istirahat aja.”
Dan sukses.
Keisha langsung refleks memeluk Celine.
“GUE MAU MUNTAH.”
“Gue juga.”
Namun pasangan itu malah tertawa kecil.
Benar-benar tidak peduli dunia.
“Sayang…” Brielle melirik Elvaro pelan. “Aku jelek gak tadi pas pingsan?”
Elvaro langsung mengernyit.
“Mana ada kamu jelek.”
“Bener?”
“Kamu tetap cantik.”
“Cieee…”
“DIEM WOI KALIAN!” Brielle langsung melempar bantal ke sahabatnya.
Namun pipinya merah total.
Sedangkan Elvaro hanya tertawa kecil sambil menggenggam tangan Brielle.
“Udah pulang aja yuk.”
“Jalan dulu mau…”
Keisha langsung bersiul jahil.
“Wuidih date.”
Elvaro tersenyum tipis.
“Sekalian hibur dia.”
“Cie pacar idaman.”
Dan tanpa mereka sadari—
Di luar UKS…
Nevran berdiri diam.
Cowok itu bersandar di tembok koridor sejak tadi.
Tatapannya tertuju lurus ke dalam UKS.
Memandang bagaimana Elvaro memperlakukan Brielle dengan sangat lembut.
Bagaimana Brielle tertawa nyaman di dekat cowok itu.
Dan bagaimana…
Tatapan Brielle berbeda.
Hangat.
Nevran mengepalkan tangan pelan di dalam saku.
Rahangnya mengeras sedikit.
Namun wajahnya tetap datar.
Tak ada ekspresi.
Tak ada suara.
Hanya tatapan gelap yang perlahan memudar.
Lalu tanpa berkata apa pun—
Ia berbalik pergi.
Meninggalkan koridor UKS yang mulai ramai.
Sore itu—
Brielle akhirnya pulang bersama Elvaro.
Dan tentu saja—
Naik motor sport hitam kesayangan cowok itu.
“Pegangan yang kuat.”
Brielle langsung memeluk pinggang Elvaro erat.
“Takut jatuh.”
Elvaro tertawa kecil.
“Bukannya kamu suka ngebut?”
“Kalau sama kamu beda.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau hidup lama sama ayang.”
Deg.
Elvaro langsung tertawa pelan.
“Bucinnya kumat.”
“Biarin.”
Sepanjang jalan mereka benar-benar seperti pasangan di drama remaja.
Brielle sibuk cerita random.
Elvaro mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak pertunangan itu—
Brielle merasa sedikit lega.
Ia merasa semuanya masih normal.
Masih sama.
Mereka bahkan berhenti di pusat perbelanjaan, bermain game arcade, membeli ice cream, dan foto bersama di photobox.
“El, lihat!”
Brielle tertawa sambil menunjukkan hasil photobox mereka.
“Lucu banget.”
Elvaro tersenyum hangat.
“Karena kamu yang lucu.”
“Astagaaa gombal.”
Namun senyum Brielle perlahan berubah tulus.
Ia benar-benar bahagia sore itu.
Dan itu membuat Elvaro ikut tenang.
Setelah puas jalan-jalan—
Mereka memutuskan makan malam di restoran mewah dekat pusat kota.
“Aku ke toilet bentar ya,” ucap Brielle sambil berdiri.
“Hm. Jangan lama.”
“Siap bos.”
Brielle berjalan santai menuju area toilet wanita.
Namun baru beberapa langkah—
“Lho… Brielle?”
Gadis itu langsung berhenti.
Dan matanya membesar sedikit saat melihat sosok wanita elegan di depannya.
Mama Nevran.
Kalista Garendra.
Wanita cantik paruh baya itu tersenyum lembut.
“Kamu di sini juga?”
“Eh… tante…”
Kalista melirik ke arah restoran belakang Brielle.
“Lagi jalan sama Nevran ya?”
Deg.
Brielle langsung gugup.
“Bu-bukan—”
Namun sebelum ia selesai bicara—
Suara langkah kaki terdengar dari belakang Kalista.
Dan seseorang muncul di sana.
Nevran.
Cowok itu juga tampak sedikit terkejut melihat Brielle berdiri di depan mamanya.
Hening sesaat.
Tatapan mereka bertemu.
Dan entah kenapa—
Jantung Brielle langsung berdetak aneh lagi.
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜
bantu support juga yaa😇