NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Sisa Abu yang Membara

Pernikahan megah yang dihadiri ribuan orang itu telah usai, namun bagi Adrian dan Renata, kehidupan nyata yang sesungguhnya baru saja dimulai. Penthouse mewah yang dulunya terasa dingin dan asing, kini terasa hangat. Kamar pembatas di antara mereka telah runtuh, dan Renata kini resmi menempati kamar utama di sebelah Adrian.

​Pagi itu, Renata terbangun oleh aroma kopi yang harum. Saat ia membuka mata, ia mendapati Adrian sudah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan kemeja hitam kasual dengan beberapa kancing atas terbuka. Rambutnya sedikit acak-acakan, memberikan kesan seksi yang jauh berbeda dari penampilannya di kantor.

​"Selamat pagi, Istriku," bisik Adrian, mengecup kening Renata dengan lembut sebelum menyerahkan secangkir kopi hangat ke tangannya.

​Renata tersenyum, pipinya merona merah saat mendengar panggilan baru itu. "Selamat pagi, Tuan CEO. Mengapa sudah rapi? Bukankah Kakek memberi kita cuti tiga hari untuk bulan madu?"

​Adrian terkekeh, lalu mengusap rambut cokelat Renata. "Aku berniat begitu. Tapi tampaknya, sisa-sisa pengikut pamanku Bram di kantor tidak membiarkan kita beristirahat dengan tenang. Baskara baru saja mengirim pesan. Ada pertemuan darurat yang diminta oleh perwakilan investor asing dari Singapura pagi ini."

​Renata langsung mendudukkan tubuhnya, ekspresi wajahnya berubah serius. Insting analis keuangannya langsung aktif. "Investor Singapura? Bukankah itu konsorsium yang mendanai proyek pelabuhan Surabaya yang dananya sempat dikorupsi oleh Arsen?"

​"Tepat sekali," tatapan mata Adrian menajam. "Mereka menuntut pengembalian dana investasi instan sebesar dua triliun rupiah karena menganggap Dirgantara Group telah melanggar kontrak integritas. Jika kita tidak bisa membayar atau menegosiasikannya dalam waktu satu minggu, mereka akan membekukan seluruh aset internasional kita."

​Renata meletakkan cangkir kopinya, lalu menatap Adrian dengan berani. "Kalau begitu, aku akan ikut ke kantor. Aku yang memegang buku catatan rahasia Arsen, dan aku tahu ke mana aliran dana itu dialihkan. Kita bisa membuktikan pada mereka bahwa dana itu tidak hilang, melainkan sengaja dibekukan di rekening penampungan luar negeri yang bisa kita cairkan kembali."

​Adrian menatap istrinya dengan binar mata kagum. Wanita ini tidak pernah memilih untuk bersembunyi di balik ketiaknya. Ia selalu siap bertarung di sisinya. "Baiklah. Bersiaplah, Nyonya Dirgantara. Mari kita tunjukkan pada mereka bagaimana cara kerja kita."

​Dua jam kemudian, ruang rapat utama Dirgantara Group kembali tegang. Di seberang meja marmer panjang, duduk tiga orang pria warga negara asing dengan setelan jas abu-abu yang kaku. Mereka adalah perwakilan dari Apex Capital Singapura, dipimpin oleh seorang pria paruh baya keturunan Inggris-Cina bernama Edward Chen.

​"Tuan Adrian," Edward Chen berbicara dalam bahasa Inggris yang dingin. "Kami sangat menghormati tindakan tegas Anda menangkap paman dan sepupu Anda. Namun bagi kami, bisnis adalah bisnis. Reputasi perusahaan Anda sudah cacat. Kami meminta dana dua triliun kami kembali sekarang, atau kasus ini akan kami bawa ke Pengadilan Arbitrase Internasional."

​Para direksi lama yang hadir di ruangan itu tampak gelisah, saling berbisik ketakutan. Jika Apex Capital menarik dananya, efek domino akan menghancurkan anak-anak perusahaan Dirgantara Group lainnya.

​Adrian hendak berbicara, namun Renata yang duduk di sebelah kanannya tiba-tiba membuka laptopnya dan memproyeksikan sebuah bagan keuangan rahasia ke layar besar ruangan rapat.

​"Tuan Edward Chen," suara Renata terdengar jernih dan penuh otoritas, memotong ketegangan di ruangan itu. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen Britania yang sangat fasih dan elegan. "Jika Anda membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase, prosesnya akan memakan waktu minimal dua tahun. Selama dua tahun itu, dana Anda akan tertahan di sistem hukum dan Anda tidak akan mendapatkan keuntungan satu sen pun."

​Edward Chen menyipitkan matanya, menatap Renata dengan pandangan menilai. "Lalu apa tawaranmu, Nona...?"

​"Nyonya Renata Dirgantara," Adrian menyela dengan nada protektif yang tegas, menekankan status istrinya.

​Renata tersenyum tipis pada Edward, lalu melanjutkan. "Lihat data di layar ini. Ini adalah rekam jejak digital dari 'Papillon Holding'. Dana dua triliun milik Anda tidak digunakan oleh Arsen untuk membeli aset perorangan, melainkan diinvestasikan kembali ke dalam obligasi pemerintah Swiss di bawah nama rekening samaran."

​Renata mengetuk papan ketiknya, menampilkan kode akses pencairan. "Suami saya, sebagai CEO tertinggi, memiliki otoritas hukum untuk menyita rekening samaran tersebut atas nama pemulihan aset perusahaan. Dalam waktu empat puluh delapan jam, kami bisa mengalihkan obligasi Swiss tersebut langsung ke atas nama Apex Capital sebagai jaminan, ditambah dengan bunga kompensasi sebesar lima persen."

​Edward Chen tertegun. Ia memeriksa data di layar, lalu menatap asistennya yang mengangguk pelan mengonfirmasi bahwa rencana Renata sangat menguntungkan bagi pihak mereka. Pengalihan obligasi Swiss jauh lebih aman daripada menunggu proses pengadilan yang melelahkan.

​Ketegangan di wajah Edward mencair, digantikan oleh senyuman kagum. "Luar biasa. Saya tidak menyangka CEO Adrian memiliki penasihat keuangan secerdas ini. Anda menyelamatkan reputasi suami Anda, Nyonya Renata."

​"Saya tidak menyelamatkannya, Tuan Chen," jawab Renata sambil melirik Adrian dengan tatapan penuh cinta. "Kami memimpin perusahaan ini bersama-sama."

​Rapat berakhir dengan kesepakatan baru yang menguntungkan. Setelah para investor keluar, ruang rapat menjadi kosong. Adrian langsung berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu duduk di tepi meja tepat di depan Renata. Ia menarik kursi roda Renata agar mendekat ke arahnya.

​"Kamu benar-benar penuh kejutan, Renata," bisik Adrian, melingkarkan tangannya di bahu Renata. "Dari mana kamu tahu tentang obligasi Swiss itu? Bahkan Baskara belum sempat melacaknya."

​Renata terkekeh, merapikan dasi Adrian yang sedikit miring. "Saat kamu tertidur pulas semalam karena kelelahan, aku membaca ulang buku catatan Arsen. Dia sangat bodoh untuk ukuran seorang penjahat, dia menuliskan nomor seri rekening Swiss itu di halaman belakang sebagai catatan pengingat."

​Adrian menunduk, mencium bibir Renata dengan kilat gairah yang tertahan. "Aku benar-benar pria paling beruntung di dunia."

​Namun, momen romantis mereka terganggu ketika Baskara tiba-tiba masuk dengan wajah memucat, memegang sebuah surat dengan cap logo berwarna merah darah.

​"Tuan Adrian... Nona Renata... kita punya masalah baru," suara Baskara bergetar. "Seseorang baru saja mengirimkan surat ancaman ini ke lobi depan. Surat ini ditujukan khusus untuk Nona Renata."

​Adrian merebut surat itu dengan kasar, membukanya, dan membaca isinya bersama Renata. Di dalam kertas tersebut, tertulis sebuah kalimat pendek yang ditulis menggunakan potongan huruf koran:

​'Kupu-kupu malam tidak akan pernah bisa hidup di bawah cahaya matahari. Kematian Maya hanyalah permulaan. Pemilik asli Kupu-Kupu Bar yang sesungguhnya... telah kembali untuk mengambil apa yang menjadi haknya.'

​Di bagian bawah surat, terdapat sebuah cap stempel tinta merah berbentuk Kupu-Kupu Hitam bersayap patah.

​Renata merasakan darahnya seketika membeku. Arsen dan Bram memang sudah di penjara, namun iblis di masa lalu yang mengendalikan bisnis malam tempat kakaknya tewas ternyata jauh lebih besar, dan kini... iblis itu datang untuk mengincar nyawanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!