Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BACK TO CASTIL
Pandangan Harvey mulai kabur di ujung penglihatannya. Lorong sekolah terasa seperti memanjang tanpa batas. Lampu-lampu di atas kepala bergetar samar, seolah dunia sendiri ikut kelelahan.
“Haa…gh…” Napasnya terasa berat.
Namun tangannya tetap tidak melepas Hyeana. Gadis itu masih pingsan di pelukannya, wajahnya pucat, napasnya pelan tapi stabil. Itu satu-satunya hal yang membuat Harvey masih bertahan berdiri.
“belum selesai…” gumamnya pelan.
Kabut hitam di sekelilingnya muncul sebentar… lalu menghilang lagi, tidak stabil. Harvey menutup mata sesaat, lalu membuka kembali.
“NOIR.”
Suara itu keluar rendah, tapi tegas. Angin dingin tiba-tiba berputar di luar gedung sekolah, dari balik kabut gelap yang masih tersisa di halaman…
Tok.
Tok.
Tok.
Suara langkah kuda terdengar mendekat, Noir muncul dari kegelapan, matanya bersinar redup di tengah malam yang tiba-tiba terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia berhenti tepat di depan pintu sekolah yang sudah hancur. Harvey perlahan berjalan ke arahnya, langkahnya goyah, satu langkah… dua langkah…Hampir terseret.
Saat sampai di Noir, Harvey langsung menaikkan Hyeana lebih dulu ke atas pelana dengan gerakan hati-hati, hampir seperti refleks terakhir sebelum tubuhnya benar-benar runtuh. Setelah itu, ia naik menyusul, tangannya masih memeluk Hyeana erat.
“Bawa kita pulang…” gumamnya pelan.
“Neighh” Noir menghembuskan napas, lalu bergerak.
Tok.
Tok.
Tok.
Kuda hitam itu berlari meninggalkan halaman sekolah yang masih dipenuhi sisa kabut tipis dan lampu yang berkedip-kedip. Semakin jauh mereka pergi, semakin dunia manusia di belakang mereka terasa kembali “normal”. Namun Harvey tidak benar-benar melihat itu lagi, pandangannya sudah setengah tertutup. Di pelukannya, Hyeana bergerak sedikit, tapi tetap tidak sadar.
“jangan bangun di sini…kekasihku....” suara Harvey hampir hilang di antara angin.
Noir terus berlari menembus kabut yang mulai terbuka menuju Netherveil. Dunia berubah, langit merah gelap muncul kembali di kejauhan, pepohonan hitam Netherveil menyambut mereka seperti bayangan lama yang tidak pernah benar-benar pergi. Dan akhirnya… kastil itu terlihat lagi.
Tok… tok… tok…
Noir berhenti di depan gerbang, Harvey turun lebih dulu, hampir kehilangan keseimbangan saat kakinya menyentuh tanah. Tapi ia tetap menahan Hyeana di pelukannya. Gerbang kastil terbuka perlahan.
“Kembali…”gumam Harvey.
Langkahnya masuk ke dalam kastil, lorong gelap menyambutnya, sama seperti sebelumnya, tapi kali ini terasa lebih berat dari biasanya. Sampai akhirnya ia sampai di kamar yang sama. Tempat tenang di tengah Netherveil. Harvey membaringkan Hyeana di tempat tidur dengan hati-hati, seperti sesuatu yang sangat rapuh. Setelah itu…ia berdiri sebentar dan memandang gadis itu dengan tatapan hangat.
“kau akan aman jika berada disini sekarang.…” Suaranya sangat pelan.
Lalu tubuh Harvey sedikit goyah, pandangannya benar-benar kabur kali ini, kabut hitam di sekelilingnya menghilang sepenuhnya, dan sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, ia menahan dirinya satu detik terakhir di samping tempat tidur. Lalu—
Bruk.
Harvey jatuh berlutut di lantai kamar, napasnya berat… sebelum akhirnya semuanya perlahan tenggelam dalam gelap. Kini kastil itu kembali sunyi, sangat sunyi. Hyeana masih tertidur di tempat tidur besar di kamar itu. Nafasnya pelan, wajahnya tenang, seolah semua kejadian sebelumnya hanya mimpi panjang yang terlalu nyata. Waktu berlalu tanpa suara.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Entah sudah berapa lama Hyeana tak sadarkan diri.
“nghh…”
Kelopak mata Hyeana bergerak pelan.
“…”
Ia berkedip sekali....Dua kali....
Langit-langit kamar asing, dinding batu gelap, lampu redup berwarna hangat yang sama sekali bukan miliknya.
“Hah…?”
Hyeana langsung bangkit setengah duduk.
“Dimana ini…?”
Ia menoleh cepat ke sekeliling. Bukan kamarnya, bukan rumahnya. Ini… tempat yang terlalu familiar sekaligus menakutkan.
“Kastil…?”
Jantungnya langsung mulai berdetak lebih cepat.
“Kenapa aku di sini lagi…”
Ingatan semalam perlahan masuk kembali. Sekolah… roh-roh… Harvey… kabut hitam… lalu...
“Harvey!”
Refleks ia langsung turun dari tempat tidur, kakinya masih sedikit lemas, tapi ia tetap memaksakan diri berjalan.
“Harvey… kamu di mana…” teriaknya
“Harvey?” Suaranya sedikit bergetar.
Lalu...Hyeana berhenti. Saat ia melihat dilantai kamar itu...ada sosok seseorang yang tergeletak di lantai.
Deg.
“hah...harvey?”
Ia turun dari kasur itu.
“Harvey!!”
Begitu sampai, napasnya langsung tertahan, Harvey tergeletak di lantai dingin kastil. Matanya tertutup, Wajahnya pucat, jauh lebih pucat dari biasanya. Napasnya pelan…..terlalu pelan. Kabut hitam di sekelilingnya tidak ada sama sekali, seperti kekuatannya sedang benar-benar habis.
“Harvey… bangun…” Suara Hyeana pecah.
Ia langsung berlutut di sampingnya.
“Hey… jangan bercanda… ini nggak lucu…”
Tangannya gemetar saat memeluk Harvey. Dingin, tetapi masih hidup.
“H-hey…” ucap Hyeana sambil mengguncangnya sedikit lebih kuat.
“Bangun…Harvey...”
Tidak ada reaksi. Untuk pertama kalinya, Harvey yang selalu terlihat “tidak tersentuh apa pun” sekarang benar-benar tidak bergerak sama sekali.
“Jangan…” Suara Hyeana mulai bergetar.
“kamu jangan kayak gini…Harvey....”
Matanya mulai panas, Ia menoleh panik ke sekeliling kamar kastil itu, seperti berharap ada orang lain yang bisa membantu, padahal ia tahu tidak ada siapa pun di sini selain mereka.
“Harvey…” bisiknya pelan lagi.
Tangannya menggenggam pakaian Harvey erat, seolah kalau ia lepas sedikit saja, semuanya akan jadi nyata. Dan di tengah kastil yang sunyi itu…untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Hyeana benar-benar takut.
Takut kalau Harvey....tidak akan bangun lagi. Hening di dalam kastil itu masih terasa sangat berat.
“Harvey…” bisiknya pelan.
Namun kali ini....
“aku di sini, Hyeana.” Suara Harvey terdengar lebih stabil.
Hyeana langsung menoleh, Harvey sudah membuka mata sepenuhnya. Meski wajahnya masih pucat, tatapannya kembali tajam seperti sebelumnya...tenang dan terkendali. Seolah beberapa menit tadi hanya jeda singkat yang tidak ingin ia akui. Hyeana langsung panik kecil.
“Kamu udah sadar?! Tadi kamu—”
“Sudah cukup Hyeana....” Potong Harvey singkat.
Hyeana langsung terdiam.
Harvey perlahan berdiri, meski gerakannya masih sedikit berat. Ia menatap Hyeana sebentar.
“Kau harus segera kembali Hyeanaa.”
“Hah?”
Sebelum Hyeana sempat bertanya lebih jauh, kabut hitam muncul di sekitar mereka.
“Sekarang Hyeana.” ucap Harvey tanpa penjelasan tambahan.
Dalam sekejap, dunia bergeser, Angin dingin Netherveil menghilang dan digantikan oleh udara malam dunia manusia. Lampu jalan, rumah-rumah biasa, suara kehidupan yang jauh lebih “ringan” dibanding tempat tadi. Hyeana sudah berdiri di depan rumahnya sendiri.
“Hah?” ucap Hyeana langsung menoleh ke samping.
Harvey masih di sana, berdiri diam di bawah cahaya lampu jalan yang redup, seperti tidak pernah pergi namun Hyeana masih bingung.
“Kamu… nggak mau masuk?”
Harvey tidak menjawab, ia hanya menatap rumah itu sebentar lalu berkata singkat,
“Itu tidak perlu.”
Hyeana menggigit bibir, ia lanjut berkata...
“Aku masih banyak pertanyaan—”
“Lain kali saja Hyeana.” Potong Harvey lagi dengan nada bicara lebih pelan kali ini.
Tapi tetap saja Harvey tidak membuka ruang untuk debat, kabut hitam mulai muncul di sekelilingnya. Hyeana refleks maju satu langkah.
“Harvey—”
Namun sebelum ia sempat mendekat lebih jauh, Harvey sudah mundur ke dalam kabut.
“Kau sudah aman di sini.”
Itu kalimat terakhirnya. Lalu....Sosoknya menghilang.
Hyeana berdiri sendirian di depan rumahnya, untuk beberapa detik, ia hanya diam.
“Apa tadi nyata…” gumamnya pelan.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Beberapa waktu kemudian…Hari-hari berlalu seperti biasa. Seolah tidak pernah ada sekolah yang hampir hancur, tidak pernah ada kabut hitam yang menelan langit, dan tidak pernah ada sosok bermata merah yang berdiri di tengah kehancuran itu. Semua orang hanya mengingat satu hal, gempa dan mati lampu.
Sederhana, rapih, seolah dunia sendiri sengaja merapikan ingatan mereka.
Namun tidak bagi Hyeana. Ia kembali ke rutinitasnya seperti biasa, duduk sebangku dengan Ara, mendengarkan pelajaran yang kadang masuk, kadang lewat begitu saja. Tapi ada yang berbeda. Kadang tubuhnya tiba-tiba lelah tanpa alasan, kadang telapak tangannya terasa panas sesaat, dan kadang…Ia merasa seperti kehilangan sesuatu yang penting, tapi tidak bisa mengingat apa.
“Harvey.”
Nama itu pernah muncul di kepalanya, Tapi setiap kali ia mencoba meraihnya lebih jauh, kepalanya justru terasa berat, seperti ditahan sesuatu. Hari itu, kelas terasa normal seperti biasa.
Tok. Tok. Tok.
Langkah wali kelas terdengar dari depan pintu. Suasana kelas langsung ramai pelan.
“hari ini ada dua murid baru katanya.”
“Cewek katanya.”
“Dua-duanya pindahan?”
Pintu terbuka, Wali kelas masuk lebih dulu, lalu berdiri di depan kelas.
“Silakan masuk.”
Dua gadis masuk bersamaan, yang pertama berjalan dengan langkah santai, hampir tanpa peduli suasana kelas. Rambutnya sedikit berantakan, tatapannya tajam, dan ekspresinya seperti orang yang tidak punya kesabaran untuk basa-basi.
“Haras Althea.” katanya cepat. “Udah, itu aja.”
Beberapa siswa langsung terdiam, Wali kelas berdeham canggung.
“Baik…selanjutnya.” ucap walikelas
Yang kedua masuk setelahnya, Gerakannya lebih tenang, lebih rapi. Cara berdirinya saja sudah seperti seseorang yang terbiasa diperhatikan tanpa perlu bereaksi berlebihan.
“Adeline Olla.” suaranya lembut, sopan.
“Senang bertemu kalian.”
Ia sedikit membungkuk, lalu tersenyum tipis. Berbeda dari Haras yang “tajam”, Adeline terasa seperti air tenang… tapi dingin di bawah permukaannya. Wali kelas melihat ke arah kelas.
“Baik, kalian bisa duduk di belakang… kebetulan masih ada dua kursi kosong.”
Ara langsung menoleh ke Hyeana.
“Wah, belakang kita kosong ya.”
Hyeana mengangguk pelan.
“Kayaknya iya ra”
Dua kursi kosong itu memang tepat berada di belakang bangku mereka. Haras langsung berjalan tanpa ragu, menarik kursi dan duduk di belakang Ara dengan suara agak keras.
“Ck.”
Sedangkan Adeline duduk di sebelahnya, gerakannya jauh lebih halus, hampir tidak bersuara. Beberapa detik pertama terasa normal. Sampai....Hyeana merasakan sesuatu. Bukan suara, bukan gerakan, tapi… tekanan kecil di udara. Seperti ada yang “menyadari sesuatu”. Haras menatap pergelangan tangan kiri Hyeana dari belakang kursi.
Senyumnya muncul sebentar seperti orang yang baru memastikan sesuatu yang sudah ia duga. Adeline juga melihatnya tapi ekspresinya berbeda, lebih tenang… lebih dalam, seolah bukan “baru tahu”, tapi “akhirnya ketemu”.