Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Tatapan Aldrian pagi itu terasa berbeda, ada keheningan yang janggal yang menyelimuti gerak-geriknya saat ia mengancingkan lengan kemejanya.
Ia menatap Kyna yang baru saja mengerjapkan mata, lalu mengulas senyum tipis, sebuah senyuman yang kini disadari Kyna hanyalah bagian dari rutinitas formalitas yang melelahkan.
"Kamu bangun agak siang hari ini," ucap Aldrian dengan nada suara yang kembali tenang, seolah perbincangan buntu dan penolakan kerasnya tentang perceraian semalam suntuk telah menguap bersama udara pagi.
"Aku harus ke kantor lebih cepat karena ada rapat mendesak dengan Pak Evan. Kamu istirahat saja di rumah, oke?"
Kyna hanya mengangguk samar, tidak berniat menyahut.
Baginya, setiap kata yang keluar dari mulut Aldrian kini tak lebih dari sekadar deru angin lalu.
Ia justru bersyukur Aldrian pergi lebih awal, karena jarum jam dinding sudah hampir mendekati angka sembilan pagi.
Rencana pelariannya yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Begitu deru mobil Aldrian menjauh dari halaman, Kyna langsung beranjak dari tempat tidur.
Langkah kakinya yang pincang terasa jauh lebih ringan hari ini, digerakkan oleh tekad yang bulat.
Tepat pukul sepuluh pagi, saat Sani yang merupakakan asisten rumah tangga mereka melangkah keluar pagar untuk pergi berbelanja bulanan, sebuah mobil boks hitam tanpa logo berhenti tepat di depan gerbang rumah.
Seorang pria paruh baya dengan setelan rapi turun dan menyapa Kyna dengan sopan.
Ia adalah pembeli barang mewah bekas dari agensi tepercaya yang dihubungi Kyna semalam. Tanpa membuang waktu, Kyna menyerahkan sepuluh kotak jam tangan desainer, hadiah-hadiah "penebus salah" dari Aldrian yang ternyata merupakan impian masa kuliah Anara untuk diperiksa keasliannya.
Proses verifikasi berlangsung cepat dan profesional.
Hanya dalam waktu lima belas menit, sebuah notifikasi pendek bergetar di ponsel Kyna.
Sebuah transaksi dana segar dalam jumlah yang sangat fantastis telah berhasil ditransfer ke rekening bank pribadi barunya yang tidak diketahui oleh keluarga Wibowo.
Sisa-sisa ingatan tentang Anara di rumah ini resmi berubah menjadi modal hidup Kyna untuk bertahan dan kuliah di Eropa.
"Terima kasih, Nona. Senang berbisnis dengan Anda," ucap pria itu sebelum pamit dan membawa pergi sepuluh kotak kepalsuan tersebut.
Kyna menutup pintu rumah dengan helaan napas lega yang teramat dalam.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri.
Ia bukan lagi pajangan lumpuh yang bergantung pada belas kasihan seorang Aldrian Wibowo.
Kyna bergegas kembali ke kamar tidur untuk merapikan beberapa lembar pakaian terakhir ke dalam koper kecilnya.
Namun, saat ia membuka laci paling bawah meja kerja di sudut kamar untuk mengambil paspor dan berkas visanya, jemarinya tidak sengaja menyentuh sebuah kompartemen rahasia yang agak longgar di bagian belakang laci.
Di sana, terselip sebuah amplop manila kusam bertanggal lima tahun lalu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kyna membuka amplop itu dengan dahi berkerut, namun sedetik kemudian seluruh tubuhnya mendadak kaku dan darahnya terasa mendesir sedingin es.
Di dalam amplop itu terdapat salinan surat perjanjian rahasia yang ditandatangani oleh Aldrian dan ayah kandung Kyna tepat seminggu setelah kecelakaan mobil maut itu terjadi sebuah dokumen yang menyatakan bahwa pernikahan mereka bukanlah didasari oleh rasa bersalah Aldrian yang tulus, melainkan sebuah transaksi bisnis di mana keluarga Kyna sengaja menjual hak asuh dan tuntutan hukum atas kecelakaan tersebut demi mendapatkan suntikan dana talangan rahasia untuk menyelamatkan perusahaan keluarga mereka yang nyaris bangkrut.