Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Ketegangan di meja nomor dua belas telah mencapai puncaknya. Udara di dalam restoran mewah L'Ambroisie seolah membeku, mengunci pergerakan waktu menjadi serpihan detik yang lambat dan mencekam. Ujung jemari lentik Sintia Arunika sudah menempel pada permukaan kaca dingin iced matcha latte yang berkeringat. Di dalam cairan hijau pekat berhias krim lembut itu, racun sianida yang ditaburkan oleh Suci Wahyuni telah larut sempurna, siap menghentikan detak jantung sang ratu hanya dalam hitungan menit setelah tegukan pertama.
Sintia mengangkat cangkir tinggi itu perlahan, membawanya mendekat ke arah bibirnya yang sedikit pucat.
Namun, tepat pada detik krusial itu, sebuah gerakan tak terduga memotong takdir maut. Arka, yang sejak tadi sibuk mewarnai gambar robotnya dengan penuh semangat, mendadak meregangkan kedua tangan mungilnya ke atas karena merasa pegal. Tanpa sengaja, siku kanan bocah berusia enam tahun itu menyenggol bagian bawah cangkir kaca yang baru saja terangkat dari permukaan meja.
PRAKKKK! BRUAAKK!
Hantaman itu begitu mendadak. Cangkir kaca tebal tersebut terlepas dari genggaman Sintia, meluncur bebas menabrak pinggiran meja marmer sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Kaca kristal itu pecah berkeping-keping, berhamburan bagai butiran berlian yang hancur, menumpahkan seluruh cairan hijau beracun ke atas lantai marmer putih. Beberapa cipratan cairan pekat mengenai sepatu hak tinggi Sintia dan ujung celana kain Kenzi.
"Astagfirullah!" Sintia tersentak hebat, tubuhnya refleks mundur ke belakang karena terkejut.
Kenzi Hutama langsung bangkit dari kursinya, sepasang mata sipitnya membelalak lebar menatap pecahan kaca yang berserakan di bawah meja. "Sintia! Kamu tidak apa-apa?!" tanyanya dengan suara bariton yang meninggi, dipenuhi rasa panik yang jarang sekali ia tunjukkan di depan publik.
Suasana di sudut meja VVIP itu seketika menjadi pusat perhatian. Beberapa pelayan restoran langsung bergerak cepat membawa alat pembersih.
Namun, di tengah keriuhan kecil itu, perhatian Sintia mendadak teralih pada sosok kecil di sampingnya. Arka berdiri mematung di atas kursinya yang ditinggikan. Tubuh mungilnya bergetar hebat, wajah tembamnya mendadak pucat pasi bagai kehilangan seluruh darah. Sepasang matanya yang bulat menatap pecahan kaca di lantai dengan ketakutan yang teramat sangat, lalu perlahan mendongak menatap Sintia. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dalam ingatan trauma masa lalunya, setiap kali ia memecahkan barang atau membuat kesalahan sekecil apa pun di rumah keluarga Mahesa, lengkingan makian Suci atau bentakan kasar Rian pasti akan mendarat di telinganya, disusul cubitan keras yang membekas merah di lengannya. Bocah polos itu mengira, hari ini ia akan menerima siksaan yang sama dari wanita anggun yang baru saja menyelamatkannya.
"Tan... Tante... Maaf... Arka tidak sengaja... Arka anak nakal... Jangan pukul Arka, Tante... Hikss..." cicit Arka dengan suara yang bergetar hebat, tangisnya pecah menahan rasa takut yang amat mendalam.
Melihat kepasrahan dan trauma yang begitu nyata dari anak itu, hati Sintia seketika dirundung rasa iba yang teramat pekat. Sisa rasa terkejutnya menguap begitu saja. Alih-alih marah atau memaki seperti yang biasa dilakukan oleh ibu kandung Arka, Sintia justru menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai, mengabaikan serpihan kaca kecil yang bisa saja melukai lututnya.
Sintia meraih kedua tangan mungil Arka yang sedingin es, menggenggamnya dengan kehangatan yang teramat tulus. Air mata keibuannya ikut menetes melihat betapa hancurnya mental bocah tak berdosa ini akibat didikan orang tua kandungnya.
"Sayang... Hei, lihat Tante, Nak," ucap Sintia, suaranya melembut, bergetar oleh emosi kasih sayang yang suci. Ia mengusap air mata di pipi Arka dengan jemarinya. "Tante sama sekali tidak marah, Arka. Tidak apa-apa, itu cuma gelas yang pecah. Tante tidak akan pernah memukul Arka. Arka anak baik, bukan anak nakal."
Sintia menarik Arka ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggung bocah itu dengan ritme yang menenangkan hingga getaran di tubuh mungil itu perlahan mereda. "Arka ada yang terluka, tidak? Ada bagian tubuh yang kena pecahan kaca atau sakit? Bilang sama Tante, Nak..."
Arka menggelengkan kepalanya di dalam dekapan Sintia, tangisnya perlahan mereda berganti dengan rasa aman yang teramat besar. Di atas pundak Sintia, Kenzi berdiri terpaku menatap pemandangan itu. Dadanya berdenyut aneh; kekagumannya pada Sintia kian menebal melihat bagaimana wanita yang telah dihancurkan hidupnya itu justru menjelma menjadi malaikat pelindung yang luar biasa bagi anak sang musuh.
****
Namun, kehangatan di sudut meja itu berbanding terbalik dengan badai api yang sedang membakar jiwa seseorang di sudut lain restoran.
Di balik pilar marmer hitam yang kokoh, Suci Wahyuni menyaksikan seluruh kejadian itu dengan sepasang mata yang membelalak merah oleh kemurkaan yang tak tertahankan. Jemarinya mencengkeram sudut pilar begitu kuat hingga kuku-kukunya yang dipulas merah menyala berderit, nyaris patah. Napasnya memburu, terasa sesak dan panas di dalam dadanya.
"Sialan! Kurang ajar! Anak haram tidak berguna!" umpat Suci di balik giginya yang mengatup rapat, suaranya berupa desisan iblis yang sarat akan racun kedengkian.
Suci merasa dunianya runtuh seketika. Rencana pembunuhan yang sudah ia rancang dengan begitu matang, taruhan sisa uang terakhirnya untuk membeli sianida, dan keberhasilannya menyusup ke dapur restoran bintang lima ini—semuanya hancur berantakan hanya karena kecerobohan bocah kecil yang sialnya adalah darah dagingnya sendiri! Kegagalan ini terasa seratus kali lebih menyakitkan daripada dorongan fisik Kenzi di kamar mandi kemarin.
"Kenapa harus sekarang?! Kenapa bocah pembawa sial itu harus merusak semuanya?!" jerit batin Suci, kegilaannya kian memuncak.
Melihat bagaimana Sintia justru memeluk Arka dengan penuh kasih sayang di depan mata Kenzi, rasa iri yang teramat pekat membakar habis sisa akal sehat Suci. Ia merasa posisinya sebagai ibu dan calon wanita kaya telah dirampas sepenuhnya oleh Sintia. Dengan tangan yang mengepal kuat hingga bergetar, Suci bersumpah di dalam lubuk hatinya yang paling kelam.
"Sintia... kamu lolos hari ini karena anak sialan itu. Tapi aku bersumpah demi sisa hidupku, aku akan melancarkan aksi balasan yang jauh lebih kejam dari ini! Aku akan memastikan kamu mati mengenaskan, dan Kenzi akan kembali ke pelukanku!" desisnya penuh konspirasi busuk.
Suci membalikkan badannya dengan kasar, berniat menyelinap kembali ke koridor dapur untuk melepaskan seragam pelayannya dan melarikan diri sebelum ada yang curiga. Namun, karena gerakannya yang terlalu terburu-buru dan dipenuhi amarah, tubuhnya tanpa sengaja menyenggol sebuah vas bunga pajangan yang berdiri di dekat pilar.
****
Suara geseran vas itu kecil, namun di telinga seorang pria setajam Kenzi Hutama, suara itu terdengar bagai alarm bahaya.
Kenzi, yang baru saja hendak membantu Sintia berdiri, mendadak mengalihkan pandangannya ke arah pilar marmer hitam di kejauhan. Sepasang mata sipitnya yang tajam bagai elang menyipit, menangkap sekelebat bayangan wanita berseragam pelayan yang gerak-geriknya sangat mencurigakan. Ketika wanita itu menoleh sekilas untuk memastikan situasi, masker tipisnya sedikit bergeser.
Jantung Kenzi berdegup kencang. Guratan rahangnya menegang seketika saat ia mengenali bentuk mata dan struktur wajah tersebut.
"Suci Wahyuni?!" geram Kenzi, suaranya rendah namun bergetar oleh kemurkaan yang meledak-ledak.
Kenzi tidak membuang waktu satu detik pun. Insting lelakinya mengatakan bahwa pecahnya gelas Sintia bukanlah sebuah kebetulan biasa, melainkan ada kaitannya dengan kehadiran wanita ular ini di restoran tersebut. Dengan langkah lebar yang beringas dan penuh wibawa, Kenzi menerjang maju, melewati deretan meja restoran, mengejar sosok pelayan gadungan itu.
"Suci! Berhenti di sana!" bentak Kenzi, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, mengejutkan para tamu restoran.
Suci yang mendengar bentakan parau itu menoleh ke belakang. Wajah cantiknya seketika dipenuhi oleh rasa terkejut dan ketakutan yang teramat sangat saat melihat sosok Kenzi yang perkasa sedang berlari cepat ke arahnya dengan tatapan mata yang siap membunuh.
Menyadari penyamarannya telah terbongkar total oleh radar ketajaman sang CEO, Suci tidak berpikir panjang lagi. Ia membuang nampan kosong di tangannya ke atas lantai untuk menghalangi jalan Kenzi, lalu membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar darurat yang menghubungkan koridor belakang restoran langsung ke area parkir bawah tanah.
"Sialan! Kenapa dia bisa melihatku!" jerit Suci panik, langkah kakinya berderit cepat di atas lantai, memulai sebuah aksi kejar-kejaran yang menegangkan di bawah bayang-bayang dosa yang kian memburu jalannya pelarian.