Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 33 Di Balik Tahta: Luka Seorang Putra Mahkota
Paviliun taman istana kembali sunyi setelah Ratu Shima pergi dengan langkah penuh amarah yang masih menggantung di udara. Angin siang berhembus pelan, menggoyangkan tirai tipis di sisi paviliun, tetapi tidak mampu mengusir hawa dingin yang tertinggal di antara percakapan yang baru saja terjadi.
Yudra masih berdiri di tempat yang sama, tatapannya kosong, seolah tubuhnya masih ada di sana tetapi pikirannya sudah jauh tenggelam ke dalam sesuatu yang lebih gelap.
Pelan, ia menghela napas panjang. Tidak ada ketenangan di dalamnya—hanya rasa lelah yang sudah terlalu lama ia tahan sendiri.
“Aku hanya ingin semuanya jujur sejak awal…” ucapnya lirih, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Namun justru kejujuran itu terasa seperti luka baru yang ia buka sendiri. Di balik wajah tenangnya sebagai Putra Mahkota, ada sesuatu yang perlahan retak—bukan karena satu kejadian, tapi karena akumulasi dari semua hal yang tidak pernah ia pilih sendiri. Tentang tahta, tentang harapan, tentang cinta yang tidak pernah benar-benar bisa ia miliki tanpa syarat.
Sementara itu di sudut lain istana, Ajeng masih berlari melewati lorong panjang dengan langkah kacau. Air mata yang jatuh tidak sempat ia hapus, dan napasnya tersengal di antara isak yang ia tahan mati-matian.
“Aku sudah berusaha…” katanya pelan di sela tangisnya, suaranya pecah tanpa arah. “Tapi kenapa aku tetap tidak cukup?”
Langkahnya akhirnya melambat di dekat pintu keluar istana. Dadanya naik turun, seolah semua yang ia tahan selama ini akhirnya tumpah bersamaan. Rasa malu, sakit hati, dan harga diri yang runtuh bercampur jadi satu tanpa bisa ia pisahkan lagi.
“Aku… benar-benar tidak punya tempat di sini,” bisiknya lirih, sebelum akhirnya ia menunduk dalam-dalam dan menahan tangis yang semakin sulit dikendalikan.
Di paviliun, Yudra perlahan duduk kembali. Tangannya terjatuh lemas di sisi kursi, dan matanya menatap kosong ke arah taman yang kini terasa terlalu luas dan terlalu sepi.
“Semua orang terlihat seperti punya pilihan…” gumamnya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar. “Tapi aku bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih.”
Kalimat itu menggantung lama di udara, seolah istana sendiri menolak menjawabnya.
Di kejauhan, beberapa pelayan hanya bisa menunduk diam, tidak berani mendekat atau berbicara. Mereka bisa merasakan—ini bukan sekadar konflik keluarga kerajaan. Ini adalah sesuatu yang sudah lama membusuk di balik kemegahan istana, dan hari ini akhirnya mulai terlihat ke permukaan.
Dan di antara semua itu, satu nama tetap tinggal diam di dalam pikiran Yudra, seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar bisa ia lepaskan.
Arum.
Bukan sekadar cinta.
Tapi sesuatu yang jauh lebih dalam, lebih obsesif, dan semakin sulit dibedakan dari rasa sakit itu sendiri.
Suasana paviliun taman istana berubah semakin sunyi setelah langkah Ajeng benar-benar menghilang dari pandangan. Angin siang yang tadi terasa lembut kini bergerak lebih dingin, menyusup di antara tirai-tirai tipis yang bergoyang pelan seolah ikut merasakan ketegangan yang baru saja terjadi.
Di tengah paviliun itu, Yudra masih duduk di kursinya, tubuhnya tampak tenang, tetapi tatapannya kosong seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu sendirian. Di hadapannya, Ratu Shima berdiri tegak dengan wajah keras yang berusaha menyembunyikan gejolak amarah di dalam dadanya.
“Apa yang kau katakan pada Ajeng?” tanya Ratu akhirnya, suaranya tajam namun tertahan, seolah setiap kata harus ia paksa keluar agar tidak pecah menjadi emosi.
Yudra perlahan mengangkat wajahnya, menatap ibunya tanpa gentar. “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,” ucapnya datar, tapi ada nada dingin yang sulit disembunyikan. “Aku tidak ingin dia hidup dengan harapan yang tidak akan pernah aku beri.”
Ratu menghela napas panjang, matanya menyipit. “Perasaan itu bisa tumbuh setelah pernikahan. Cinta tidak perlu selalu dipertanyakan.”
Ucapan itu membuat Yudra tersenyum kecil, pahit. “Bagi Ibu mungkin sesederhana itu.”
Wajah Ratu langsung mengeras. “Ajeng adalah pilihan terbaik untuk istana ini. Dia akan menjadi permaisuri yang pantas.”
Yudra terdiam beberapa saat, lalu perlahan mengalihkan pandangannya. “Dan Arum?” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Nama itu langsung membuat udara di paviliun berubah lebih berat. Ratu langsung menegang, sorot matanya tajam. “Jangan bawa-bawa gadis itu dalam pembicaraan ini.”
Namun Yudra justru tertawa kecil, tanpa kehangatan. “Lucu… setiap kali nama itu disebut, semua orang langsung panik.”
Ratu mengepalkan tangannya. “Kau terlalu larut dalam perasaan yang tidak seharusnya.”
Mendengar itu, Yudra akhirnya berdiri dari kursinya. Gerakannya pelan, tapi penuh tekanan yang tidak lagi ia sembunyikan. “Aku muak,” ucapnya tegas, membuat Ratu sedikit terkejut.
“Muak dengan istana ini,” lanjutnya, suaranya mulai berat. “Semua orang di sini hanya alat. Ajeng dijadikan politik. Ayah dijadikan simbol. Aruna dijadikan penerus. Dan aku…” ia berhenti sejenak, menatap ibunya dalam-dalam, “…aku bahkan tidak pernah dianggap manusia.”
Ratu langsung mengeraskan suaranya. “Jaga ucapanmu, Yudra!”
Namun Yudra justru tersenyum kecil, getir. “Bukankah itu kenyataannya?”
Tatapannya kini benar-benar tajam, menusuk tanpa ragu. “Ibu memanfaatkan Ajeng demi kekuasaan. Dan aku dipaksa berdiri di atas semuanya seolah itu adalah kehormatan.”
Ratu melangkah maju, emosinya mulai tidak terkendali. “Aku melakukan itu demi masa depanmu!”
“Tapi aku tidak pernah minta masa depan seperti ini,” balas Yudra cepat, suaranya rendah namun penuh luka.
Keheningan jatuh sesaat, berat dan menyesakkan. Bahkan para pelayan yang berdiri jauh di sisi paviliun tidak berani bergerak sedikit pun.
Yudra menarik napas pelan, lalu menatap lurus ke depan. “Kalau aku tidak bisa memiliki Arum…” ucapnya pelan, tapi ada sesuatu yang dingin di dalam suaranya, “…maka orang lain juga tidak akan bisa.”
Kalimat itu menggantung di udara seperti ancaman yang belum sepenuhnya lahir.
Ratu Shima membeku.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kemarahan anak di depan matanya.
Yang ia lihat adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya—obsesi yang sudah tidak lagi mengenal batas antara cinta, kehilangan, dan kehancuran.
Paviliun itu terasa semakin sempit meski sebenarnya ruangannya luas. Angin yang masuk dari celah jendela kayu tidak lagi memberi kesejukan, melainkan membawa dingin yang menusuk seperti peringatan yang tak diucapkan. Yudra masih berdiri tegak di hadapan Ratu Shima, tapi sorot matanya sudah kehilangan sisa hormat yang dulu ia miliki sebagai seorang anak. Yang tersisa hanya kelelahan panjang yang selama ini ia sembunyikan di balik wajah tenangnya sebagai Putra Mahkota.
Ratu Shima mengatur napasnya perlahan, berusaha tetap tegak meski dadanya naik turun menahan emosi yang hampir pecah. Tangannya terkepal di balik lengan gaunnya, menahan diri agar tidak terlihat goyah di hadapan para pelayan yang diam membeku di kejauhan.
“Jaga ucapanmu,” ucap Ratu akhirnya, suaranya dingin namun bergetar tipis di ujungnya.
Yudra tersenyum kecil pahit, bukan karena takut, tapi karena sudah terlalu sering mendengar kalimat itu hingga tidak lagi punya arti.
“Aku hanya berkata jujur,” katanya pelan. “Tapi di istana ini, sepertinya jujur selalu dianggap kesalahan.”
Ucapan itu membuat udara di antara mereka semakin berat. Beberapa pelayan menunduk lebih dalam, takut bahkan untuk bernapas terlalu keras. Ratu menatap putranya lama, seolah mencoba menemukan kembali anak yang dulu ia kenal—yang masih bisa diarahkan, masih bisa dibentuk sesuai keinginannya.
Namun yang berdiri di depannya sekarang bukan lagi anak yang sama.
“Semua yang aku lakukan…” suara Ratu akhirnya pecah sedikit, meski ia segera menahannya kembali, “…adalah untuk memastikan kau tidak jatuh.”
Yudra menatapnya kosong.
“Jatuh?” ulangnya pelan. “Atau hanya agar aku tetap sesuai rencana Ibu?”
Keheningan langsung menyambar seperti petir yang tak terdengar. Ratu membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar. Untuk sesaat, bahkan amarahnya kehilangan bentuk, tergantikan oleh sesuatu yang lebih rapuh.
Yudra mengalihkan pandangannya ke taman di luar paviliun. Cahaya siang yang jatuh di antara pepohonan terlihat indah, tapi tidak menyentuh perasaannya sedikit pun.
“Arum…” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan yang tidak ditujukan pada siapa pun.
Nama itu saja sudah cukup membuat udara berubah.
Ratu langsung menegang.
“Jangan lagi bawa-bawa dia dalam pembicaraan ini,” katanya cepat, lebih tajam dari sebelumnya.
Yudra tertawa kecil, tapi kali ini tidak ada kehangatan sama sekali di dalamnya.
“Justru dia satu-satunya alasan aku masih berdiri sampai sekarang.”
Kalimat itu membuat Ratu kehilangan kesabaran yang tersisa. Suaranya meninggi, penuh tekanan yang sudah lama ia simpan.
“Kalau begitu kau memang tidak pernah mengerti apa pun tentang tanggung jawab!”
Yudra akhirnya menatapnya langsung. Kali ini matanya tidak lagi kosong, tapi penuh sesuatu yang lebih berbahaya—kesadaran yang sudah berubah menjadi keputusan.
“Dan Ibu tidak pernah mengerti apa pun tentang kebebasan,” balasnya pelan.
Suasana kembali hening, tapi bukan hening yang tenang. Ini hening yang menunggu sesuatu pecah.
Ratu Shima berdiri diam, dadanya naik turun cepat, sementara Yudra perlahan mengendurkan ketegangan di bahunya. Bukan karena menyerah, tapi karena sudah sampai di titik di mana ia tidak lagi ingin berdebat.
“Aku sudah lelah,” ucap Yudra akhirnya pelan.
Bukan lelah fisik.
Tapi lelah menjadi seseorang yang selalu ditentukan oleh orang lain.
Dan di dalam diam yang tersisa, baik Ratu maupun Yudra sama-sama sadar—ini bukan lagi sekadar pertengkaran ibu dan anak.
Ini adalah perpecahan yang sudah terlalu lama ditunda.