Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.
Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.
Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak yang Hampir Bocor
Malam itu Aluna nggak bisa tidur sama sekali. Lampu kamar sudah dimatikan sejak satu jam lalu, AC menyala dingin, dan suara kota Jakarta cuma terdengar samar dari balik kaca besar penthouse lantai delapan puluh delapan. Tapi kepala Aluna tetap ribut sendiri.
Kalimat Arsen tadi siang terus muter di otaknya.
Saya cuma akhirnya tahu siapa yang pantas dipertahankan.
Sialnya, cara laki-laki itu ngomong bukan kayak orang bercanda. Tatapannya juga terlalu serius. Terlalu dalam. Dan itu bikin Aluna takut sendiri.
Karena semakin lama tinggal serumah sama Arsen, semakin susah buat nganggap semua ini cuma kontrak.
Aluna akhirnya bangun pelan dari kasur lalu keluar kamar tanpa suara. Dia jalan ke balkon sambil meluk hoodie abu-abu kebesaran milik Arsen yang dipakainya sejak tadi sore. Angin malam langsung nyapu rambut panjangnya begitu pintu balkon dibuka.
Jakarta malam kelihatan cantik dari atas sini.
Lampu gedung, jalanan, mobil-mobil kecil yang bergerak kayak semut bercahaya. Semua kelihatan jauh. Tenang. Padahal isi kepala Aluna lagi kacau banget.
Dia duduk di kursi rotan sambil meluk lutut sendiri.
Jessica cantik.
Jessica elegan.
Jessica cocok sama dunia Arsen.
Sedangkan dirinya?
Cuma cewek biasa yang hidupnya berantakan karena utang dan mantan brengsek.
Semakin dipikir, semakin nggak masuk akal kenapa Arsen bisa nyaman sama dia.
Suara pintu balkon kebuka bikin Aluna noleh.
Arsen keluar sambil bawa dua mug cokelat panas. Laki-laki itu pakai kaos hitam tipis dan celana training gelap. Rambutnya agak berantakan kayak baru selesai kerja dari ruang kerja pribadinya.
Tatapan mereka ketemu beberapa detik.
“Kamu belum tidur?”
Aluna nerima mug itu pelan. “Belum ngantuk.”
Padahal bohong.
Dia capek. Tapi pikirannya terlalu berisik buat tidur.
Arsen berdiri di samping pagar balkon sambil minum pelan. Suasana langsung sunyi lagi. Tapi anehnya, diam sama Arsen sekarang udah nggak secanggung dulu.
“Kamu kepikiran omongan Jessica?” tanya Arsen tiba-tiba.
Aluna diam sebentar sebelum akhirnya ngangguk kecil.
“Dia cantik banget,” gumam Aluna pelan sambil natap lampu kota. “Elegan. Pintar. Cocok sama dunia Anda.”
Arsen noleh sedikit. “Dan?”
“Saya beda jauh.”
“Kamu terlalu banyak mikir.”
“Ini fakta.”
Tatapan Arsen berhenti di wajah Aluna cukup lama.
“Saya nggak pernah peduli perempuan saya cocok sama dunia saya atau nggak.”
Deg.
Perempuan saya.
Lagi.
Jantung Aluna langsung nggak jelas ritmenya.
Cowok ini kenapa sih suka ngomong sembarangan kayak gitu?
Aluna buru-buru minum cokelat panasnya buat nutupin rasa salah tingkah. Tapi sebelum dia sempat ngomong apa-apa lagi, ponselnya tiba-tiba bunyi.
Nama di layar bikin moodnya langsung jatuh.
Bima.
Lagi.
Aluna buru-buru matiin layar HP-nya. Tapi Arsen udah sempat lihat.
“Masih ganggu?”
Aluna ngangguk kecil sambil narik napas capek. “Dari kemarin nggak berhenti.”
“Kasih sini.”
“Hah?”
“HP kamu.”
Aluna langsung curiga. “Jangan bikin masalah lagi.”
Tapi Arsen tetap ngulurin tangan dengan muka datar. Akhirnya Aluna nyerah dan ngasih HP-nya pelan.
Beberapa detik kemudian...
mata Aluna langsung melebar.
Karena Arsen nerima telepon dari Bima.
“Halo?” suara Bima langsung kedengeran dari speaker. “Luna? Akhirnya lu—”
“Dia sibuk.”
Sunyi.
Hening banget.
Sampai Aluna ikut nahan napas sendiri.
Suara Bima berubah pelan. “...Arsen?”
“Iya.”
Beberapa detik nggak ada suara.
Lalu Bima ketawa kecil sinis. “Lo serius nikahin Aluna?”
Tatapan Arsen lurus ke depan. “Iya.”
“Dia bukan cewek yang cocok buat dunia lo.”
Kalimat itu bikin Aluna refleks nunduk.
Dadanya langsung nggak nyaman.
Tapi ekspresi Arsen nggak berubah sama sekali.
“Dan saya nggak ingat pernah minta pendapat kamu.”
Nada suaranya dingin banget.
Tajam.
Bikin suasana balkon langsung terasa berat.
Bima ketawa lagi dari seberang sana. “Lo pikir dia beneran suka sama lo? Dia cuma manfaatin duit lo doang—”
Telepon langsung dimatiin.
Arsen naruh HP itu di meja kecil balkon dengan santai.
Sedangkan Aluna cuma diam.
Dadanya sakit.
Walaupun dia udah benci Bima sekarang, kata-kata tadi tetap nusuk.
Karena sebagian kecil dirinya takut itu memang kelihatan benar dari luar.
Cewek miskin.
Dibayar miliaran.
Nikah sama CEO terkenal.
Kalau orang lain lihat pun pasti mikirnya sama.
“Saya nggak—”
“Kamu mau balik ke dia?”
Aluna langsung noleh cepat. “Apa?”
Tatapan Arsen gelap banget malam itu.
“Kalau mau, bilang sekarang.”
Jantung Aluna langsung deg-degan aneh.
Karena untuk pertama kalinya sejak kenal Arsen, dia lihat emosi jelas di mata laki-laki itu.
Cemburu.
Walaupun kecil.
Walaupun ditahan.
Tapi ada.
“Saya nggak mau balik sama dia,” jawab Aluna cepat.
Tatapan Arsen tetap di wajahnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya dia buang napas pelan.
“Bagus.”
Cuma satu kata.
Tapi bikin jantung Aluna makin nggak aman.
---
Besok paginya suasana kantor Asmara Group langsung kacau.
Begitu Aluna masuk lobby bareng Arsen, dia langsung ngerasa ada yang aneh. Orang-orang bisik-bisik lebih heboh dari biasanya. Beberapa staff langsung pura-pura sibuk begitu lihat Arsen lewat.
Aura nggak enak langsung kerasa.
“Ada apa sih?” bisik Aluna pelan.
Namun sebelum Arsen jawab, sekretaris pribadinya datang buru-buru sambil bawa tablet.
“Pak... ada masalah.”
“Bicara.”
Pria itu langsung nyodorin tablet dengan wajah tegang.
Dan dalam satu detik...
raut wajah Arsen berubah dingin total.
Bukan dingin biasa.
Tapi dingin yang bikin orang takut.
“Apa?” tanya Aluna makin gugup.
Arsen muterin layar tablet itu ke arahnya.
Dan tubuh Aluna langsung dingin.
Di layar muncul artikel anonim dengan judul besar.
CALON ISTRI CEO ARSEN ASMARA DIDUGA HANYA PERNIKAHAN KONTRAK?
Wajah Aluna langsung pucat.
Tangannya dingin.
Isi artikelnya lebih parah lagi.
Mereka bilang hubungan Arsen dan Aluna cuma settingan bisnis. Bahkan ada yang nulis kalau Arsen bayar perempuan biasa demi memperbaiki citra perusahaan setelah gagal nikah sama Jessica.
Dan yang bikin Aluna makin panik...
angka lima miliar ikut disebut.
Jantungnya langsung jatuh.
Kontrak mereka hampir bocor.
Siapa yang tahu soal uang itu?
Siapa?!
Komentar netizen di bawah artikel itu mulai brutal.
Pantes terlalu cepat tunangan.
Fix settingan.
Kasihan juga ceweknya dijadiin pajangan.
Atau jangan-jangan ceweknya emang matre.
Mata Aluna mulai panas.
Dadanya sesak banget.
Dia tahu artikel itu memang sebagian benar. Tapi tetap aja rasanya sakit baca orang-orang ngehina dirinya kayak perempuan murahan.
Tiba-tiba tangan Arsen nyentuh pergelangan tangannya pelan.
Aluna langsung noleh.
Tatapan Arsen tajam banget sekarang.
Dan untuk pertama kalinya...
Aluna sadar satu hal.
Arsen bukan marah karena kontraknya hampir ketahuan.
Tapi karena ada orang yang bikin Aluna terluka.