karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Melihat Seina yang begitu bersemangat memimpin penggeledahan, Maudi tetap dalam posisi terisak di lantai, namun sorot matanya yang tertutup bayangan cadar berkilat tajam. Ia membiarkan rombongan itu Doni, Seina, Eliza, dan para polisi menuju paviliun pribadinya.
"Cari di mana saja! Di bawah kasur, di dalam lemari!" teriak Seina seolah-olah dia adalah pahlawan yang sedang membasmi kejahatan. Seina tidak menyadari bahwa tingkah lakunya semakin membuat semua orang curiga, bagaimana tidak, seorang yang di katakan ibu kandung rela membiarkan anaknya di fitnah tanpa bukti yang jelas. Bahkan sekarang dengan semangatnya mencari barang bukti untuk memberatkan putrinya.
Doni mengacak-acak tumpukan buku Maudi, sementara Seina langsung menuju sasaran utamanya, kolong tempat tidur. Dengan gerakan teatrikal, ia menarik keluar sebuah kotak besi kecil.
"Ini dia! Lihat Don! Apa aku bilang? Gadis desa ini punya rahasia!" Seina menyerahkan kotak itu kepada Doni dengan tangan gemetar karena senang.
"ma...gadis desa itu anak ibu, adik aku " celetuk saka yang tidak terima,ia merasa kasihan melihat Maudi di perlakukan seperti penjahat hanya karena hasutan seorang Bram.
"diam kamu Saka....mama tidak Sudi memiliki putri seorang penjahat seperti dia" jawab Seina menatap tajam putranya.
Namun, saat kotak itu dibuka, bukan hanya ponsel hitam yang ditemukan. Ada tiga amplop besar dengan logo laboratorium internasional dari Amerika dan dua rumah sakit ternama di Jakarta.
Doni membuka amplop pertama. Wajahnya yang tadinya merah karena amarah, perlahan berubah menjadi pucat pasi.
"Hasil Tes DNA... Eliza Daneswara dan Doni Daneswara?" gumam Doni. Matanya membaca baris kesimpulan di bagian bawah. "Probabilitas Hubungan Ayah-Anak 0%."
Dan di bawahnya ada hasil tes dirinya juga dengan Maudi, dan hasilnya 99.9% positif .Anak dan Ayah.
"APA?! TIDAK MUNGKIN!" Eliza merebut kertas itu. "Ini palsu! Maudi pasti memalsukannya untuk mengusirku!"
Namun Kakek Harison, yang baru saja sampai di pintu paviliun dengan langkah tertatih namun pasti, mengambil amplop kedua. Isinya adalah data rekam medis dari 18 tahun lalu, lengkap dengan foto asli sidik jari kaki bayi Ambar dan bayi Seina.
"Di sini tertulis jelas," suara Kakek Harison bergetar karena emosi yang tertahan. "Bayi Ambar memiliki tanda lahir kecil di balik jari kiri... Maudi punya tanda itu. Sedangkan bayi Seina... Eliza, kau tidak punya tanda lahir itu, kan?"
Eliza mematung. Seluruh dunia yang ia bangun di atas kemewahan darah Harison runtuh seketika.
Wajah Seina semakin pucat, bibirnya keluar untuk berucap.
Puncaknya adalah sebuah flashdisk kecil yang terselip di dalam amplop terakhir. Doni, yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, menyalakan laptop yang dibawa oleh salah satu petugas polisi.
Sebuah video hitam putih berkualitas rendah terputar. Itu adalah rekaman CCTV ilegal dari ruang bayi rumah sakit 18 tahun lalu yang berhasil dipulihkan oleh Maudi. Di sana terlihat seorang wanita muda Seina dengan wajah gelisah, menggendong seorang bayi dan menukarnya dengan bayi di inkubator yang bertanda nama Ambar.
"Maafkan Mama, Sayang. Kamu harus jadi anak orang kaya agar hidupmu terjamin," suara Seina di masa lalu terdengar berbisik sangat jelas di rekaman yang telah dibersihkan audionya itu.
"Tenang saja nak, mama pasti akan selalu berada di dekat mu"
Hening....
Bahkan detak jarum jam pun terasa seperti hantaman palu. Seina jatuh terduduk di lantai. Cahaya di ujung terowongan yang ia lihat tadi ternyata bukan jalan keluar, melainkan lampu kereta api yang siap melindasnya.
Maudi berjalan masuk ke paviliun dengan langkah yang tidak lagi rapuh. Ia berdiri tegak, menghapus air mata palsunya, dan menatap Seina yang sedang bersimpuh di dekat kakinya.
"Ibu..." Maudi memanggil dengan nada yang sangat tenang, "Ibu tadi bilang menyesal telah melahirkanku? Sebenarnya, aku jauh lebih menyesal memiliki Ibu yang rela membuang darah dagingnya sendiri demi harta, lalu menyiksa anak itu saat dia kembali, hanya demi melindungi anak orang lain yang Ibu curi posisinya."
Doni berbalik, menatap Seina dengan tatapan yang lebih mengerikan daripada saat ia memarahi Maudi tadi. "Jadi... selama ini aku tidur dengan iblis yang telah mencuri identitas putri kandungku sendiri?"
"Don... itu... itu editan! Maudi itu ahli teknologi, dia pasti memalsukan videonya!" Seina merangkak memeluk kaki Doni.
brukkkk...
Doni mendorong tubuh Seina sampai terjerembab ke meja nakas.
Kakek Harison mendekat, ia memegang foto bayi berdarah yang tadi ia ambil dari meja makan. "Darah tidak pernah berbohong, Seina. Dan polisi di sini bukan hanya untuk Bram. Mereka di sini karena aku sudah menyerahkan bukti awal tadi malam setelah Maudi mengirimkan pesan rahasia padaku."
Polisi segera melangkah maju. "Nyonya Seina, Anda ditahan atas dugaan konspirasi pembunuhan, penipuan identitas, dan perdagangan manusia dalam lingkup keluarga."
Seina mencoba berontak, "LEPASKAN! ELIZA, bantu Mama nak, mama sangat menyayangi mu ,mama melakukan ini untuk kebahagiaan mu..hiks....Eliza....saka....tolong mama nak!"
Namun Eliza justru mundur menjauh, ia menatap Seina dengan jijik. "Jadi aku anakmu? Aku anak dari wanita rendahan sepertimu? Bukan anak Mama Ambar?" Eliza histeris, ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa darah ningrat yang ia banggakan ternyata berasal dari rahim seorang penipu.
Eliza menggeleng cepat "tidak...aku buka putrimu, kau jahat....aku tu mau....hiks" Eliza menangis tersedu-sedu....Saka segera mendekat dan memeluk adiknya agar tenang...saka tidak menyangka, mamanya bisa melakukan perbuatan keji seperti itu.
Saat Seina diseret keluar, ia berpapasan dengan Bram di kursi roda. Bram menunduk, tidak berani menatap Seina. Ia tahu, rencananya memfitnah Maudi justru menjadi paku terakhir di peti mati Seina.
Maudi mendekati Bram"terimakasih atas kerjasamanya..... Anda tidak usah khawatir, keluarga anda sudah berada di tempat yang aman, tiga orang suruhan anda sudah terlebih dulu berada di balik jeruji, tapi tidak sama tempat nya dengan Anda... selamat menjalankan proses yang anda buat sendiri " ucap Maudi datar...
Bram mendongak, matanya berkaca-kaca,ia menyesal karena sudah mau mengikuti perintah Seina... kalau tahu nasibnya akan begini,lebih baik ia tidak mengikuti apa yang diperintahkan Seina.
"terimakasih Nona.... maafkan saya karena sudah berniat jahat pada keluarga Anda" ucap Bram sebelum kembali di bawa ke kantor polisi...
Sedangkan Seina yang sudah berada di dalam mobil polisi kini menatap tajam Maudi, Seina tidak berontak seperti tadi, namun api dendam sangat terpancar dari tatapan matanya yang tajam.
"Terimakasih atas kerjasamanya Tuan Doni , Tuan Harison..., Nanti kita akan bertemu lagi di pengadilan " ucap komandan dengan sopan
"Sama-sama pak" sahut Doni tak kalah ramah.
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.