Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6 hujan darah di bawah langit kabut berbisik
Kepala yang menggelinding di pelataran tanah liat itu masih menyisakan ekspresi terkejut yang membeku. Darah segar merembes cepat, mewarnai genangan air sisa hujan semalam menjadi merah pekat. Keheningan yang mencengkeram area reruntuhan gubuk keluarga Yan terasa sangat memekakkan telinga.
Sembilan pengawal keluarga Gongsun yang tersisa, para pria bengis yang biasa memeras dan menghancurkan tulang penduduk desa tanpa berkedip, kini merasakan lutut mereka bergetar hebat. Mereka tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Yan Xinghe berjarak lima belas langkah dari korban, pedang karatannya bahkan tidak terlihat memanjang atau memancarkan gelombang energi spiritual yang kentara. Pemuda itu hanya berjalan, satu nyawa melayang seketika.
Gongsun Ye melangkah mundur secara naluriah. Sepatu bot putihnya yang mahal kini ternoda percikan darah merah. Wajah tampannya yang arogan memucat pasi.
"Apa yang kalian tunggu, Kumpulan Sampah?!" raung Gongsun Ye, suaranya pecah melengking menutupi kepanikan yang mulai merayap di dadanya. "Dia hanya menggunakan trik ilusi rendahan! Bunuh dia! Cincang tubuhnya menjadi ribuan potong! Siapa pun yang membawa kepalanya, aku akan memberinya seratus keping emas dan posisi wakil komandan!"
Harta sering kali membutakan akal sehat. Mendengar iming-iming seratus keping emas—jumlah yang cukup untuk hidup mewah selama tiga generasi—ketakutan di mata kesembilan pengawal itu perlahan tergantikan oleh keserakahan. Mereka mengeratkan genggaman pada gagang golok besar masing-masing.
"Mati kau, Bocah Cacat!" teriak salah seorang pengawal bertubuh gempal. Ia memimpin serangan, melompat ke udara dengan tebasan vertikal yang membawa seluruh tenaga Penyempurnaan Tubuh Tingkat Duanya. Udara berdesing tajam saat golok baja seberat tiga puluh kati itu meluncur menuju dahi Xinghe.
Dua pengawal lain menyerang dari sayap kiri dan kanan secara bersamaan, menyapu kaki dan pinggang Xinghe untuk menutup seluruh rute pelarian. Ini adalah formasi *Tiga Serigala Mengoyak Daging*, sebuah taktik pengeroyokan terkoordinasi yang telah membantai belasan pemburu berpengalaman di desa ini.
Xinghe sama sekali tidak berniat menghindar. Matanya yang segelap malam menatap datangnya tiga bilah baja itu layaknya memandang ranting rapuh yang jatuh dari pohon.
Di dalam tubuhnya, sembilan jalur meridian yang baru saja ditempa ulang dari energi petir Macan Tutul Guntur Bayangan mulai berdenyut. Xinghe tidak melepaskan energi itu ke luar. Ia mengalirkannya ke seluruh jaringan otot kakinya.
*BZZZT!*
Suara letupan listrik statis yang sangat pelan terdengar, nyaris tertelan raungan para penyerangnya.
Dalam sepersekian milidetik sebelum golok baja itu menyentuh rambutnya, Xinghe menghilang. Ia tidak menggunakan teknik teleportasi dewa, melainkan murni daya ledak fisik yang melampaui batas kecepatan respons visual mata fana. Tanah tempatnya berpijak amblas sedalam setengah jengkal akibat tolakan kakinya.
Pengawal gempal yang melompat ke udara membelalakkan mata saat tebasannya hanya membelah bayangan kosong. Sebelum kakinya menyentuh tanah, sebuah rasa dingin yang mematikan menyapu leher kirinya.
Xinghe muncul tepat di belakang pria gempal tersebut. Pedang karatannya tidak diayunkan dengan keras, melainkan ditarik perlahan dengan sudut miring yang sempurna, memotong arteri karotis tanpa menyentuh tulang leher. Sangat presisi, sangat efisien.
Dua pengawal yang menyerang dari sayap baru saja menyelesaikan sapuan golok mereka yang saling berbenturan di udara kosong. Mereka belum sempat menarik napas saat pedang Xinghe melesat bagai hantu di antara keduanya.
Tebasan horizontal. Sederhana, tanpa nama jurus yang megah.
*CRAAAAK!*
Suara daging dan tulang iga yang terbelah bergema serentak. Kedua pengawal itu terdiam kaku. Dada mereka menganga lebar, menumpahkan organ dalam ke atas tanah. Mereka berdua ambruk secara bersamaan, tewas sebelum rasa sakit sempat dikirimkan ke otak.
Tiga tarikan napas. Tiga mayat tambahan bergelimpangan di pelataran.
Enam pengawal yang tersisa membeku. Formasi penyerangan mereka hancur berantakan. Keserakahan akan seratus keping emas menguap tanpa sisa, digantikan oleh kengerian primitif menghadapi makhluk yang tidak tunduk pada hukum alam manusia biasa.
"Mundur! Bentuk formasi pertahanan!" teriak pemimpin regu pengawal, seorang pria berwajah penuh bekas luka bernama Tie Heng. Ia merupakan praktisi Tingkat Ketiga, setara dengan Lei Ba yang lengannya dipatahkan Xinghe tempo hari.
Sayangnya, perintah itu terlambat diucapkan.
Xinghe bukanlah pahlawan berhati suci yang memberi kesempatan musuhnya berkumpul. Di matanya, mereka hanyalah kerikil yang menghalangi jalan. Begitu ujung sepatunya menyentuh tanah, ia kembali melesat maju. Kali ini, ia menyuntikkan Niat Pedang ke dalam bilah besi karatannya.
Karat pada pedang itu seketika mengelupas sepenuhnya, terlempar ke udara seperti debu. Pedang besi biasa itu memancarkan rona keunguan yang menakutkan. Udara di sekeliling bilahnya terdistorsi oleh ketajaman yang tidak kasatmata.
Tie Heng mengangkat pedang besarnya untuk menangkis tebasan vertikal Xinghe. Logika Tie Heng mengatakan bahwa senjata beratnya akan dengan mudah mematahkan pedang besi tipis milik pemuda kurus tersebut.
*TING!*
Bunyi benturan logam yang sangat nyaring terdengar. Logika Tie Heng terbukti salah fatal. Alih-alih patah, pedang Xinghe memotong pedang besar setebal dua inci milik Tie Heng layaknya pisau panas membelah mentega. Ayunan itu terus melaju tanpa hambatan, membelah Tie Heng dari dahi hingga ke pusar dalam satu gerakan lurus.
Darah menyembur bagai kabut merah.
Lima pengawal terakhir membuang senjata mereka, berbalik arah untuk melarikan diri menjauhi pelataran. Niat bertarung mereka telah hancur lebur.
"Tidak ada yang pergi," bisik Xinghe sedingin es.
Ia memutar tubuhnya, melemparkan pedang besinya ke arah salah satu pengawal yang berlari paling jauh. Pedang itu melesat bagai kilat ungu, menembus jantung pria itu dan menancap kuat di batang pohon beringin raksasa di ujung pelataran.
Kehilangan senjata tidak memperlambat Xinghe. Mengandalkan tubuh fisiknya yang telah mencapai Penyempurnaan Tubuh Tingkat Ketiga, ia menerjang ke arah empat pengawal yang tersisa dengan tangan kosong. Tangannya membentuk cakar, dialiri energi petir liar dari dalam Dantiannya.
*KRAK!* Kepala pengawal ketujuh diputar seratus delapan puluh derajat ke belakang dengan satu putaran telapak tangan.
*BUKK!* Pukulan lurus menghancurkan tulang dada pengawal kedelapan, mengirim gelombang kejut yang menghentikan detak jantungnya seketika.
*SYUUT!* Xinghe melakukan sapuan kaki berputar, mematahkan kedua tulang kering pengawal kesembilan dan kesepuluh. Saat mereka jatuh berlutut sambil menjerit, dua tepukan ringan yang dialiri energi guntur mendarat di ubun-ubun mereka, menghancurkan otak mereka dari dalam tanpa merusak tengkorak luar.
Satu menit. Sepuluh pengawal elit keluarga Gongsun dibantai bersih tanpa menyentuh sehelai pun pakaian Xinghe.
Asap debu pertempuran perlahan turun. Yan Xinghe berdiri di tengah tumpukan mayat, dadanya naik turun perlahan. Napasnya berubah menjadi sedikit kasar. Pembantaian ini tampak mudah, kenyataannya ia memaksakan batas toleransi fisiknya. Otot-ototnya menjerit nyeri menahan ledakan energi guntur dan Niat Pedang secara bersamaan. Meridiannya berkedut panas. Tubuh ini masih terlalu rapuh untuk menopang jiwa Sang Kaisar Pedang sepenuhnya.
Ia menghela napas panjang, menetralkan aliran energinya, lalu mengalihkan pandangan gelapnya pada satu-satunya orang yang masih berdiri.
Gongsun Ye.
Putra Kepala Desa itu kini mundur hingga punggungnya menabrak sisa dinding gubuk yang rubuh. Kipas sutranya terjatuh entah ke mana. Wajahnya yang arogan telah berubah bentuk menjadi topeng kengerian absolut. Kakinya gemetar hebat hingga ia nyaris tidak bisa berdiri tegak.
Di sudut lain, Yan Qingshan yang terkapar bersimbah darah berusaha menahan napas. Matanya yang merah menatap adiknya dengan ketidakpercayaan yang melampaui batas nalar. Shen Yulan membungkam mulut Xiaoxiao, memeluk putrinya erat-erat agar tidak melihat pemandangan neraka di hadapan mereka. Pemuda yang membantai sepuluh pria bersenjata tanpa berkedip itu terasa sangat asing, bukan lagi anak laki-laki lumpuh yang selalu mereka lindungi.
Xinghe berjalan perlahan menghampiri pohon beringin, mencabut pedangnya dari mayat pengawal yang terpakuk, lalu melangkah santai menuju Gongsun Ye. Ujung pedangnya terseret di tanah, menciptakan garis panjang yang membelah genangan darah.
"Kau... kau monster..." suara Gongsun Ye bergetar hebat, giginya saling beradu. "Jangan mendekat! Ayahku adalah Gongsun Tian! Dia adalah ahli Tingkat Kesembilan! Selangkah lagi menuju Alam Meridian! Jika kau membunuhku, dia akan mengupas kulitmu hidup-hidup dan membakar seluruh keluargamu!"
Langkah Xinghe tidak melambat sedikit pun. "Ancaman yang sangat membosankan. Kau mengucapkannya tempo hari melalui anjingmu si Zhao Meng. Kau mengulanginya lagi hari ini. Apakah keluarga Gongsun hanya memiliki repertoar kata-kata rendahan seperti ini?"
Gongsun Ye menyadari ancaman lisan tidak mempan. Keputusasaan memicu insting bertahan hidupnya. Ia adalah praktisi Tingkat Kelima Penyempurnaan Tubuh, jauh lebih tinggi dari para pengawalnya secara teori. Sambil menggertakkan gigi, Gongsun Ye merogoh sakunya dan menelan sebuah pil merah cerah.
*Pil Pembakar Darah*. Sebuah obat terlarang yang membakar umur untuk meningkatkan kekuatan spiritual selama setengah jam.
Aura di sekitar Gongsun Ye meledak. Matanya menjadi merah padam, otot-ototnya membengkak merobek jubah sutranya. Tingkat kultivasinya melonjak paksa dari Tingkat Kelima menuju Puncak Tingkat Ketujuh. Angin di sekitarnya berputar kencang, menyingkirkan debu di pelataran.
"Mati kau bersamaku, Sampah!" Gongsun Ye meraung layaknya binatang buas. Ia menggunakan teknik andalan keluarganya, *Cakar Rajawali Penghancur Batu*. Sepuluh jarinya melengkung, diselimuti lapisan energi tebal setajam pisau bedah. Ia melesat ke arah Xinghe dengan kecepatan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.
Serangan ini memiliki daya rusak yang sanggup melubangi lempengan baja. Di mata Qingshan yang menonton dari jauh, gerakan Gongsun Ye hanyalah kelebatan bayangan merah yang mematikan.
Xinghe berhenti melangkah. Ia menatap terjangan itu dengan ketenangan yang menakutkan.
"Meminjam kekuatan luar yang merusak fondasi sendiri. Tindakan pengecut yang bodoh," gumam Xinghe.
Alih-alih menghindar, Xinghe mengambil kuda-kuda kokoh. Ia menyarungkan pedangnya ke pinggang, lalu menarik tangan kanannya ke belakang. Ia mengumpulkan seluruh energi guntur dari meridiannya ke satu titik di kepalan tangannya.
Petir ungu berderak hebat, menyambar-nyambar membungkus lengannya, menciptakan tekanan udara yang membuat telinga berdenging. Xinghe akan membuktikan kekuatan absolut dari *Seni Penempaan Tulang* miliknya. Ia akan menghancurkan kesombongan keluarga Gongsun menggunakan kekerasan murni.
Saat Cakar Rajawali Gongsun Ye tinggal berjarak satu inci dari wajahnya, tinju guntur Xinghe melesat ke depan bagai meriam yang meledak.
*BENTURAN BUMI DAN LANGIT!*
Tinju yang berbalut petir ungu berbenturan langsung dengan cakar yang dilapisi energi pembakar darah.
Ledakan kejut menyebar ke segala arah, meratakan sisa pagar bambu dan menerbangkan atap rumbia gubuk keluarga Yan. Qingshan harus memejamkan mata dan melindungi ibunya dari serpihan debu yang bertebangan tajam.
Di pusat ledakan, waktu seolah membeku.
Gongsun Ye menatap kepalan tangan kurus di hadapannya dengan mata terbelalak ngeri. Teknik Cakar Rajawali miliknya—yang didukung kekuatan Tingkat Ketujuh—hancur berkeping-keping. Energi pembakar darahnya disapu bersih layaknya asap ditiup topan. Lebih mengerikan lagi, energi petir ungu itu mengalir masuk melalui jari-jarinya, meremukkan tulang tangannya hingga ke bahu.
*KRAAAK!*
Lengan kanan Gongsun Ye hancur berantakan menjadi pasta darah dan serpihan tulang. Jeritan penderitaan yang melampaui suara manusia merobek langit senja. Tubuhnya terlempar ke udara sejauh belasan meter, menabrak batu gilingan besar di tengah jalan desa hingga batu itu retak terbelah dua.
Gongsun Ye memuntahkan darah hitam bercampur potongan organ dalam. Pil Pembakar Darah memakan sisa vitalitasnya, kekalahannya memastikan kematiannya. Ia berbaring lumpuh, menatap langit kelabu dengan pandangan yang mulai memudar.
Xinghe berjalan perlahan menghampiri tubuh yang sekarat itu. Udara dingin masih menyelimuti sosoknya. Ia berdiri menjulang di atas Gongsun Ye, memandang ke bawah layaknya dewa yang menatap semut yang tidak sengaja terinjak.
"Ampuni... kumohon..." suara Gongsun Ye hanya berupa desisan angin dari tenggorokan yang dipenuhi darah. Kesombongannya telah musnah, menyisakan ketakutan telanjang akan kematian.
"Kau menghancurkan meridian tubuh ini. Kau mengirim anjing-anjingmu untuk memburu keluargaku. Kau mencoba menyentuh adik perempuanku." Xinghe mengucapkan dosa-dosa itu dengan nada datar, tanpa intonasi kemarahan, membuatnya terdengar seribu kali lebih mengerikan. "Di wilayahku, satu saja dari dosa itu cukup untuk memusnahkan sembilan keturunanmu dari muka bumi."
Xinghe mengangkat kaki kanannya, lalu menginjak dada Gongsun Ye dengan keras.
*KRATAK!*
Dada pemuda arogan itu amblas sepenuhnya. Jantungnya meledak akibat tekanan energi guntur yang ditransfer melalui sol sepatu Xinghe. Mata Gongsun Ye terbelalak menatap ruang hampa, tubuhnya mengejang pelan sebelum akhirnya diam selamanya.
Putra Kepala Desa Kabut Berbisik, sang tiran kecil, tewas mengenaskan di jalan tanah berlumpur.
Xinghe menarik kakinya. Tatapannya beralih ke arah jalan utama desa. Jauh di sana, beberapa penduduk yang sedari tadi mengintip dari balik celah jendela buru-buru menutup rapat rumah mereka, menggigil ketakutan. Kabar ini akan menyebar lebih cepat dari wabah penyakit. Kepala Desa Gongsun Tian akan segera mengetahui bahwa putra tunggalnya telah dibantai.
Xinghe tidak peduli. Perang telah dideklarasikan secara sepihak.
Ia memutar tubuhnya, berlari kecil menghampiri kakaknya yang masih terkapar di dekat sisa gubuk. Shen Yulan menangis memeluk Qingshan yang napasnya semakin dangkal. Tusukan pedang di bahunya mengeluarkan darah terlalu banyak, wajah pemuda kekar itu sepucat lilin.
"Xinghe..." suara Shen Yulan bergetar, menatap putranya dengan pandangan campur aduk antara lega, takut, dan cemas.
Xinghe segera berlutut di samping Qingshan. Ia tidak membuang waktu memberikan penjelasan mengenai kekuatan barunya. Prioritas utama adalah menahan laju kematian sang kakak.
Ia merobek lengan baju jubah serigalanya, mengikatkannya erat di atas pangkal lengan Qingshan untuk memperlambat perdarahan luar. Selanjutnya, Xinghe meletakkan telapak tangannya di atas luka tusuk di bahu Qingshan.
"Kakak, tahan rasa sakitnya sebentar," bisik Xinghe.
Tanpa menunggu persetujuan, Xinghe mengalirkan setitik kecil energi guntur murninya ke dalam luka tersebut. Petir memiliki sifat merusak, digunakan dengan presisi Niat Pedang tingkat kaisar, petir ini bertindak sebagai alat pembakar luka. Suara mendesis terdengar, bau daging terbakar menguar di udara. Qingshan mengerang keras menahan perih, tubuhnya mengejang sesaat sebelum akhirnya rileks.
Pembuluh darah yang terbuka telah tertutup paksa akibat pembakaran dari dalam. Darah berhenti mengalir. Xinghe kemudian menyalurkan sisa energi vital dari Inti Macan Tutul yang masih tersimpan di Dantiannya—energi yang murni bersifat menyehatkan tanpa atribut elemen—ke jantung Qingshan, menstabilkan detak organ vital tersebut.
Warna kehidupan berangsur-angsur kembali ke bibir Qingshan. Pemuda itu membuka matanya dengan susah payah, menatap wajah adiknya yang sangat tenang.
"Xinghe... kau... siapa kau sebenarnya?" tanya Qingshan pelan, suaranya parau. Pertanyaan yang wajar muncul dari seorang kakak yang melihat adiknya berubah dari pemuda cacat menjadi pembunuh berdarah dingin dengan kekuatan di luar nalar dalam waktu kurang dari sepekan.
Tangan Xinghe berhenti sejenak. Ia memandang mata keluarganya satu per satu. Ia mewarisi karma dan tubuh ini, yang berarti ia menerima tanggung jawab pelindung. Meskipun jiwanya adalah Kaisar Pedang Cang Yue, ia tidak berniat menghapus keberadaan Yan Xinghe yang asli dari dunia ini.
"Aku adalah Yan Xinghe, adikmu, putra keluarga ini," jawab Xinghe tegas, setiap kata diresapi oleh kejujuran absolut. "Perbedaan hari ini adalah, aku telah bangun dari mimpi buruk. Tidak ada lagi yang akan menundukkan kepala keluarga Yan ke tanah."
Jawaban itu tidak menjelaskan dari mana ia mendapatkan kekuatannya, memancarkan jaminan yang mengusir keraguan di hati Qingshan dan Shen Yulan. Bagi seorang ibu, tidak peduli seberapa berubah pun anaknya, asalkan ia masih mengakui darah yang mengalir di nadinya, itu sudah lebih dari cukup.
Xinghe berdiri. Ia menyapukan pandangannya ke arah gubuk mereka yang kini tidak lebih dari puing-puing kayu terbakar. Tempat ini tidak lagi aman.
"Ibu, Kakak, kita harus segera memindahkan barang-barang yang tersisa. Gua di tebing selatan hutan cukup aman untuk dijadikan tempat berlindung sementara. Bawa Xiaoxiao ke sana," perintah Xinghe cepat.
"Bagaimana denganmu?" tanya Shen Yulan panik, mencengkeram lengan putranya. "Gongsun Tian pasti akan membawa seluruh pasukan desa kemari. Dia memiliki koneksi dengan bandit gunung di luar desa! Kita harus lari bersama!"
Xinghe melepaskan pegangan ibunya dengan lembut. "Jika kita berlari bersama, mereka akan melacak jejak darah Kakak dan membantai kita di tengah hutan. Aku harus tetap di sini."
"Kau mau melawan mereka sendirian?!" Qingshan memaksakan diri duduk, matanya melotot marah. "Kau mungkin bisa mengalahkan Gongsun Ye yang bodoh, musuhmu nanti adalah Gongsun Tian! Dia veteran perang yang berada di ambang pembukaan meridian! Dia tidak datang sendiri, puluhan anjing bayarannya akan mengepungmu!"
"Aku tahu," jawab Xinghe tenang, membalikkan badannya menghadap jalan desa yang sunyi mencekam. "Itulah mengapa aku tidak akan melawan mereka menggunakan tangan kosong. Aku akan mengajari mereka mengapa membangkitkan kemarahan seorang master formasi adalah kesalahan terburuk dalam hidup mereka."
Senyum tipis dan sedingin es terlukis di bibir Xinghe. Di kehidupan sebelumnya, selain merupakan entitas tertinggi di jalur pedang, ia pernah menghancurkan seluruh sekte berusia ribuan tahun hanya menggunakan bebatuan dan sungai yang diubah menjadi formasi mematikan.
Menghadapi Gongsun Tian dan pasukannya tidak membutuhkan Niat Pedang yang menguras nyawa. Ia hanya membutuhkan waktu setengah jam, darah dari mayat-mayat berserakan di pelataran ini, dan pemahaman absolut mengenai tata letak energi langit dan bumi.
"Pergilah. Jangan menoleh ke belakang sampai kalian mencapai tebing air terjun. Aku akan menyusul saat matahari terbit esok hari, membawa kepala Gongsun Tian sebagai penebus dosa untuk ayah," instruksi Xinghe dengan otoritas yang tidak menerima bantahan.
Dengan bantuan Xiaoxiao, Shen Yulan memapah Qingshan yang masih lemah. Mereka mengumpulkan sedikit sisa makanan dan pakaian yang tidak hangus, lalu berjalan tertatih menyusuri jalan setapak ke arah Hutan Binatang Buas. Sebelum bayangan mereka menghilang di balik pepohonan, Qingshan menoleh untuk terakhir kalinya.
Ia melihat adiknya berjongkok di tengah pelataran berdarah. Pemuda kurus itu sedang mencelupkan jari-jarinya ke dalam genangan darah musuh, lalu mulai menggambar garis-garis aneh, rumit, dan memusingkan di atas tanah. Udara di sekitar Xinghe mulai bergetar samar, memancarkan hawa mematikan yang tidak wajar.
Qingshan menelan ludah. Hatinya berdoa bukan untuk keselamatan adiknya, melainkan untuk jiwa-jiwa malang keluarga Gongsun yang akan segera melangkah masuk ke dalam jebakan dewa kematian tersebut.
Malam akhirnya turun menyelimuti Desa Kabut Berbisik. Awan mendung tebal menutup cahaya bulan dan bintang. Hujan rintik-rintik kembali membasahi bumi, seolah langit sedang menangis bersiap menyaksikan pertumpahan darah yang akan menodai sejarah kecil benua ini.
Di tengah kegelapan pelataran keluarga Yan, ukiran formasi darah yang digambar oleh Xinghe mulai menyala redup memancarkan cahaya merah kehitaman. Ia telah mengumpulkan seluruh pedang dan senjata yang ditinggalkan oleh sepuluh pengawal yang tewas, menancapkannya di titik-titik krusial formasi tersebut.
Tiga puluh enam pedang. Tiga puluh enam titik nodal.
Ini adalah versi penyederhanaan paling dasar dari *Formasi Pembantai Dewa Tiga Puluh Enam Bintang*, disesuaikan dengan sumber daya fana yang sangat terbatas. Formasi ini tidak bisa membunuh dewa, cukup untuk mencincang manusia fana menjadi lumpur daging selama mereka berani melangkah masuk ke dalam radiusnya.
Xinghe duduk bersila di tengah-tengah formasi, pedang karatannya bertumpu di atas pangkuannya. Ia menutup matanya, menyatukan ritme napasnya dengan denyut energi formasi.
Satu jam kemudian, keheningan malam terkoyak oleh suara derap langkah kaki kuda dan puluhan obor yang menyala menerangi jalan utama desa bagai ular naga api. Suara teriakan marah dan ratapan memilukan terdengar memecah langit malam.
Gongsun Tian telah datang.
Pria paruh baya bertubuh tinggi besar itu turun dari kudanya di ujung jalan. Wajahnya merah padam dipenuhi urat-urat kemarahan. Di lengannya, ia menggendong mayat putranya, Gongsun Ye, yang dadanya hancur berantakan. Di belakangnya, lebih dari empat puluh orang kultivator bayaran bersenjata lengkap berbaris dengan niat membunuh yang menyengat. Seluruh elit tempur Desa Kabut Berbisik dikerahkan malam ini.
Gongsun Tian meletakkan tubuh putranya dengan lembut di tanah. Ia mencabut sebuah tombak panjang berwarna perak dari punggungnya, lalu berjalan memimpin pasukannya menuju pelataran gubuk keluarga Yan yang gelap gulita.
"Yan Xinghe!" raungan Gongsun Tian mengguncang dedaunan pepohonan, mengandung energi spiritual Tingkat Kesembilan yang pekat. "Aku tahu kau masih di sana, Bocah Keparat! Keluarlah dan sujud di kakiku! Aku akan mencabut sarafmu satu per satu untuk menemani roh anakku di alam baka!"
Di tengah kegelapan, di antara reruntuhan kayu yang berasap, sebuah suara santai terdengar. Sangat tenang, sangat kontras dengan amarah yang menggelegak di luar.
"Pintu masuknya tidak dikunci, Kepala Desa Gongsun. Mengapa kau tidak melangkah masuk dan mencabutnya sendiri?"
Suara itu adalah percikan api yang menyambar lautan minyak. Mata Gongsun Tian membelalak murka. Tanpa memedulikan jebakan atau taktik, kesombongannya sebagai penguasa absolut desa ini mendorongnya untuk memberi perintah eksekusi seketika.
"Bantai dia! Jangan sisakan satu helai rambut pun!"
Empat puluh orang bersenjata bersorak ganas. Mereka menerjang maju bagai gelombang pasang, melompati sisa-sisa pagar bambu yang roboh, menyerbu masuk ke dalam pelataran yang gelap untuk mencincang satu mangsa yang duduk diam di tengahnya.
Saat kaki orang pertama menginjak garis darah yang terlukis di tanah, Yan Xinghe perlahan membuka matanya. Sepasang mata yang kini sepenuhnya menyala memancarkan kilatan ungu guntur murni.
Jari tangan kanannya menjentik udara dengan ringan.
"Formasi Bintang Darah, Aktif."
Malam itu, lolongan panjang yang jauh lebih mengerikan dari auman binatang buas bergema melintasi seluruh pelosok Desa Kabut Berbisik. Hujan darah mulai turun, mencuci bersih karma kotor sebuah klan penguasa, mengantarkan langkah pertama sang penakluk menuju takhta Tiga Ribu Dunia.