NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 - Menjauh atau Kehilangan

Malam itu Leon hampir tidak tidur.

Ucapan Arthur terus terngiang di kepalanya tanpa henti.

“Lindungi dia. Atau hancurkan sendiri perasaannya sebelum dunia kita yang melakukannya.”

Leon duduk sendirian di balkon kamarnya sambil menatap langit kota yang gelap.

Angin malam berembus dingin. Namun kepalanya jauh lebih kacau dibanding suasana di sekitarnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya— ia benar-benar takut kehilangan seseorang.

Dan perasaan itu membuatnya marah. Karena Leon tahu satu hal pasti: selama Rachael tetap berada di dekatnya, bahaya tidak akan pernah jauh.

Ponselnya tiba-tiba menyala pelan. Sebuah pesan masuk.

Dari Rachael. "Udah sampai rumah?"

Leon menatap layar ponselnya cukup lama.

Pesan sederhana. Tetapi justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Ia mengetik balasan singkat. "Udah."

Balasan langsung muncul beberapa detik kemudian.

Bagus. Lalu satu pesan lagi masuk.

"Leon... Makasih tadi."

Tatapan Leon melembut samar.

Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya kembali dingin.

Karena ia sadar sesuatu yang paling berbahaya: Rachael mulai mempercayainya. Dan Leon tidak yakin dirinya bisa melindungi kepercayaan itu.

Keesokan paginya.

Suasana sekolah terasa normal seperti biasa.

Murid-murid sibuk mengobrol, beberapa berjalan terburu-buru menuju kelas.

Namun Leon datang dengan suasana hati yang jauh lebih gelap dibanding biasanya. Tatapan murid-murid langsung menunduk saat Leon melewati koridor. Aura dinginnya terasa lebih jelas hari ini.

Begitu masuk kelas, tatapan Leon langsung menemukan Rachael. Gadis itu sedang duduk sambil membaca buku dengan earphone kecil di telinganya.

Tenang.

Tidak sadar bahwa sejak tadi Leon hanya memperhatikannya diam-diam. Leon ingin semuanya berhenti di sini saja.

Tidak ada keluarga mafia.

Tidak ada Moretti.

Tidak ada ancaman.

Hanya sekolah biasa seperti murid normal lainnya.

Namun kenyataan tidak pernah semudah itu.

Rachael menyadari keberadaan Leon lalu langsung melepas salah satu earphone nya dan menyapanya. “Pagi.”

Leon terdiam sesaat. Biasanya ia akan langsung duduk di sebelah Rachael seperti beberapa hari terakhir. Tetapi kali ini, ia justru berhenti beberapa langkah lebih jauh.

Tatapan Rachael sedikit berubah bingung. “Leon?”

“Aku mau tidur.” Jawaban singkat dan dingin.

Leon berjalan melewati ke bangkunya sendiri lalu duduk tanpa melihat Rachael lagi.

Suasana mendadak terasa aneh. Rachael perlahan mengernyit. Biasanya Leon memang dingin.

Tetapi tidak seperti ini. Ada jarak yang sengaja dibuat. Dan Rachael langsung menyadarinya.

Jam pelajaran berjalan lambat.

Leon hampir tidak berbicara sama sekali. Saat Rachael bertanya sesuatu, jawabannya pendek. Saat Rachael bercanda kecil, Leon hanya diam.

Semakin lama, Rachael mulai kesal. Karena ia paling benci perubahan sikap mendadak tanpa penjelasan.

Terlebih lagi, kepalanya mulai dipenuhi terlalu banyak kemungkinan. "Apakah ia salah bicara? Apakah Leon marah? Apakah tadi malam terjadi sesuatu?" Semakin dipikirkan, semakin kacau.

Jam istirahat akhirnya tiba.

Begitu sebagian murid keluar kelas, Rachael langsung berdiri lalu berjalan ke meja Leon. “Kita ngomong.”

Leon tetap membuka bukunya. “Nanti aja.”

“Nggak. Sekarang.” Nada suara Rachael tegas.

Beberapa murid langsung diam-diam melirik.

Leon akhirnya menutup bukunya pelan lalu menatap Rachael. “Ada apa?”

Rachael menahan kesal. “Kamu kenapa?”

“Aku biasa aja.”

“Kamu bohong.” Tatapan mereka bertemu.

Leon langsung sadar, Rachael terlalu peka untuk dibohongi. “Aku cuma lagi capek.”

“Kamu pikir aku bakal percaya itu?” Nada suara Rachael mulai naik sedikit. Karena ia memang mudah frustrasi saat seseorang tidak jujur padanya.

Leon memejamkan mata sebentar.

"Jangan terlalu dekat." Ucapan ayahnya kembali terdengar di kepalanya.

Dan akhirnya Leon mengambil keputusan yang paling ia benci. “Kita jangan terlalu sering bareng lagi.”

Suasana kelas mendadak terasa sunyi.

Rachael membeku. “Apa?”

Leon memalingkan pandangan. “Orang-orang mulai banyak ngomong.”

“Itu alasanmu?”

“Dan itu bikin risih.”

Rachael menatap Leon tidak percaya. “Kamu serius? Cuma karena itu? Hei...?”

Leon diam. Dan diamnya terasa jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Rachael langsung tertawa kecil pendek. Namun kali ini tidak ada nada hangat di dalam tawanya.

“Kamu aneh.”

Leon mengepalkan tangan pelan di bawah meja.

“Aku cuma nggak mau semuanya makin ribet.”

Tatapan Rachael mulai berubah kecewa dan sedikit marah. “Kalau memang dari awal nggak mau dekat sama siapa-siapa...” suaranya mengecil sedikit, “kenapa kamu baik padaku? Kenapa kau menolong ku kemarin? Kalau begitu mau mu, baiklah.”

Kalimat itu menghantam Leon tepat di dadanya.

Namun ia tetap memaksa dirinya terlihat dingin.

Karena kalau Rachael membencinya sekarang—

mungkin gadis itu akan lebih aman nantinya. Dan Leon rela dibenci, asal Rachael tidak terluka karena dirinya.

Setelah percakapan itu suasana di antara Leon dan Rachael berubah total. Dan kali ini, bukan hanya Leon yang menjaga jarak, Rachael juga melakukannya.

Hari itu, setelah jam istirahat selesai, Rachael kembali ke bangkunya tanpa mengatakan apa pun lagi pada Leon.

Tidak ada pertanyaan, tidak ada candaan kecil, tidak ada senyum. Ia langsung memakai earphone dan membuka bukunya sendiri.

Leon diam-diam melirik dari samping. Namun Rachael bahkan tidak menoleh sedikit pun. Entah kenapa hal itu terasa jauh lebih mengganggu daripada yang Leon bayangkan.

...----------------...

Dua hari berlalu.

Dan keadaan justru semakin buruk. Biasanya Rachael akan menunggunya datang pagi-pagi.

Sekarang gadis itu justru datang lebih awal lalu duduk bersama Selina atau murid lain.

Biasanya Rachael akan bertanya soal pelajaran, basket, atau hal random lainnya. Sekarang tidak lagi.

Ia memperlakukan Leon seperti orang asing.

Dan yang paling mengganggu, Rachael benar-benar terlihat bisa hidup baik-baik saja tanpa dirinya.

Leon membenci perasaan itu.

Pagi itu suasana kelas cukup ramai. Beberapa murid sedang membicarakan latihan basket minggu depan.

Rachael ikut mengobrol bersama Selina sambil tertawa kecil.

Leon yang duduk di belakang memperhatikan tanpa sadar. Tatapan matanya terus mengikuti Rachael.

Axel yang baru masuk kelas langsung menyadarinya. “Wah.”

Leon melirik malas. “Apa?”

Axel duduk di kursinya sambil menyeringai kecil. “Kalian berantem?”

“Enggak.”

“Kalau nggak, kenapa auranya kayak habis putus?”

Leon langsung menatap tajam. “Mulut lu bisa diam gak?”

Axel tertawa kecil. “Tapi serius.” Ia melirik ke arah Rachael. “Dia beneran nggak nengok ke arah lu sama sekali.”

Itu masalahnya Leon pikir menjauh akan membuat semuanya lebih mudah. Nyatanya tidak, karena sekarang justru dirinya yang terus memperhatikan Rachael diam-diam. Sementara gadis itu benar-benar mengabaikannya.

Jam olahraga siang itu terasa lebih melelahkan dari biasanya.

Pelatih membagi murid menjadi beberapa kelompok latihan.

Dan entah sengaja atau tidak, Leon dan Rachael berada di tim yang sama lagi.

Namun berbeda dari sebelumnya. Kali ini mereka nyaris tidak bicara sama sekali.

“Rachael!” Axel mengoper bola ke arah gadis itu.

Rachael menangkapnya cepat lalu langsung bergerak tanpa melihat Leon sedikit pun.

Padahal biasanya, ia selalu mengoper pada Leon.

Namun sekarang Rachael justru memilih mengoper ke pemain lain.

Leon diam saja, tapi rahangnya mulai mengeras samar.

Permainan terus berjalan.

Rachael tetap fokus bermain, cepat, agresif, dan entah kenapa terlihat sedikit lebih emosional hari ini.

Sampai akhirnya-

'BRAK'

Suara benturan terdengar cukup keras.

Rachael bertabrakan dengan salah satu pemain lawan hingga kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir jatuh, tapi seseorang lebih dulu menahan lengannya, itu Leon.

Suasana lapangan langsung sedikit hening.

Leon memegang pergelangan tangan Rachael erat sambil menatap tajam pemain tadi.

“Lihat jalan.” Nada suaranya dingin.

Pemain itu langsung gugup. “G-gua nggak sengaja.”

Rachael langsung menarik tangannya pelan dari genggaman Leon. “Aku nggak apa-apa. Makasih.” Nada suaranya datar.

Tidak hangat, tidak lembut, itu membuat Leon sedikit membeku. Karena biasanya Rachael akan tersenyum kecil atau bercanda setelah situasi seperti ini.

Namun sekarang, gadis itu bahkan tidak menatapnya. Rachael langsung berjalan kembali ke posisinya seolah tidak terjadi apa-apa.

Leon berdiri diam beberapa detik. Dadanya terasa aneh, kosong.

Axel yang melihat semuanya hanya bisa menghela napas panjang. “Selamat.” gumamnya pelan. “Sekarang dia beneran marah dan cuek sama lu.”

Leon diam menatap Axel kesal, lalu pergi.

...----------------...

Sepulang sekolah.

Langit sore terlihat mendung.

Rachael berjalan keluar gerbang sekolah sendirian sambil mendengarkan musik dari earphone. Ia tahu seseorang mengikutinya dari belakang.

Leon. Langkah kaki itu terlalu familiar.

Rachael tidak berhenti, tidak menoleh, tidak menunggu. Ia terus berjalan lurus seolah Leon tidak ada di sana.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Leon Knight de Arther merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Diabaikan oleh orang yang paling ingin ia lindungi.

Langit sore semakin gelap. Awan mendung menggantung rendah di atas kota seolah hujan bisa turun kapan saja.

Rachael terus berjalan di trotoar sambil mendengarkan musik dari earphone-nya. Langkahnya cepat, seolah sedang mencoba meninggalkan sesuatu atau seseorang.

Namun suara langkah kaki di belakangnya masih terdengar stabil.

Leon masih mengikutinya.

Rachael menggenggam tali tasnya sedikit lebih kuat.

Ia sebenarnya sudah menyadarinya sejak keluar gerbang sekolah. Hal itu justru membuat kepalanya semakin penuh. Kesal dan bingung semuanya bercampur jadi satu.

Leon yang menjauh duluan. Leon yang mengatakan mereka jangan terlalu dekat. Tapi sekarang, Leon juga yang terus mengikutinya diam-diam.

Rachael membenci sikap seperti itu. Terlalu membingungkan dan tidak jelas.

Semakin ia memikirkannya, semakin emosinya naik.

Langkah Rachael akhirnya berhenti mendadak.

Ia berbalik cepat. “Berhenti ngikutin aku.”

Leon berdiri beberapa meter di belakangnya sambil memasukkan tangan ke saku jaket.

Tatapannya tetap tenang seperti biasa. “Aku cuma mau mastiin kamu pulang dengan aman.”

Rachael langsung tertawa kecil pendek, namun kali ini tawanya terdengar dingin. “Lucu sekali.”

Leon sedikit mengernyit.

“Kamu yang bilang kita jangan terlalu dekat.” Nada suara Rachael mulai naik sedikit. “Sekarang kenapa malah ngikutin aku terus?”

Leon terdiam.

Lampu jalan mulai menyala satu per satu di sekitar mereka. Sementara kendaraan terus berlalu di jalan besar dekat trotoar.

“Aku cuma—”

“Aku nggak butuh dijagain.” Potongan jawaban Rachael terdengar tegas.

Dan untuk pertama kalinya, Leon melihat kemarahan Rachael yang sebenarnya.

Gadis itu menatapnya lurus tanpa menghindar sedikit pun. “Aku bukan orang lemah, Leon.”

Leon mengepalkan tangan pelan di dalam saku. “Aku tahu.”

“Nggak.” Rachael menggeleng cepat. “Kalau kamu tahu, kamu nggak bakal ngelakuin ini."

Suara Rachael mulai terdengar lebih emosional sekarang. “Kamu tiba-tiba ngejauh tanpa penjelasan. Kamu bilang semuanya bikin ribet.”

“Tapi sekarang kamu ngikutin aku kayak aku bakal kenapa-kenapa!” Napas Rachael mulai sedikit tidak teratur.

Ia membenci konflik seperti ini. Terlalu banyak emosi sekaligus membuat kepalanya terasa sesak.

Leon menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Karena situasinya berubah.”

“Berubah karena keluargamu?”

Leon tidak menjawab.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Rachael.

Gadis itu tertawa kecil lagi sambil mengusap wajahnya frustrasi. “Lihat? Kamu selalu begini.”

Tatapannya kembali naik ke arah Leon. “Kamu nyuruh aku menjauh, tapi kamu nggak pernah jelasin apa pun.”

Leon memalingkan pandangan sebentar.

Karena kalau ia menjelaskan semuanya, Rachael justru akan semakin berada dalam bahaya.

“Aku cuma nggak mau kamu terluka.” Kalimat itu akhirnya keluar pelan.

Rachael terdiam, tatapan matanya sedikit berubah, namun emosinya belum benar-benar turun. “Terus menurutmu ngejauhin aku tanpa alasan nggak bakal nyakitin?”

Leon membeku, itu benar. Dan Leon sadar dirinya memang bodoh dalam urusan seperti ini.

Ia terbiasa menghadapi ancaman, kekerasan di dunia mafia. Tetapi untuk menghadapi perasaan seseorang, ia tidak tahu caranya.

Rachael menghela napas panjang sambil menunduk sebentar. Saat kembali mengangkat kepala, tatapannya terlihat jauh lebih lelah. “Aku tidak mengerti apa mau mu, sudahlah ini melelahkan."

Leon sedikit melangkah maju. Namun Rachael langsung mundur satu langkah.

“Jangan ikut aku lagi hari ini.” Nada suaranya tidak setinggi tadi lagi.

Tetapi justru terdengar lebih menyakitkan, Rachael benar-benar menjaga jarak darinya.

Leon membenci kenyataan bahwa semua ini terjadi karena dirinya sendiri.

Hening beberapa detik. Sampai akhirnya Leon mengangguk kecil. “Oke.”

Rachael langsung berbalik lalu kembali berjalan menjauh.

Kali ini Leon tidak mengikutinya. Ia hanya berdiri diam di bawah lampu jalan sambil memperhatikan sosok Rachael yang perlahan semakin jauh. Leon merasa kalah oleh pilihannya sendiri.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!