NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Jati mendorong kursi roda Gayuh kembali ke kamar dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang membawa harta paling berharga di dunia.

Sesampainya di dalam, ia membantu Gayuh kembali berbaring di atas ranjang yang empuk.

Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya ada detak jam dinding yang menemani perpisahan sementara mereka.

Jati berdiri di sisi ranjang, menatap wajah pucat Gayuh yang masih berusaha tersenyum meski kelelahan.

Jati merogoh saku jaket ojeknya, mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk kunci yang tampak sangat sederhana namun memiliki detail yang sangat halus.

"Aku berangkat sekarang, Tryas. Tapi sebelum pergi, ada sesuatu untuk kamu," ucap Jati lembut.

Ia mencondongkan tubuhnya, dengan perlahan melingkarkan kalung itu di leher Gayuh.

Jemari Jati yang hangat sempat bersentuhan dengan kulit leher Gayuh, mengirimkan sensasi aneh yang menenangkan ke seluruh tubuh wanita itu.

"Tunggu aku kembali ya," bisik Jati tepat di dekat telinga Gayuh.

"Jangan sampai sakit lagi. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada."

Gayuh menyentuh liontin kunci di lehernya dengan jemari yang gemetar.

Ia tidak tahu bahwa kalung itu adalah simbol "kunci" menuju seluruh aset Jati Corporation—sebuah identitas yang hanya dimiliki oleh keluarga inti sang miliarder.

Baginya, itu hanyalah sebuah kenang-kenangan manis dari pria ojek yang ia cintai.

"Iya, Jati. Aku pasti akan menunggu kamu," jawab Gayuh dengan suara parau namun mantap.

Ia menganggukkan kepalanya perlahan, menatap mata Jati yang seolah menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Jati memberikan satu senyum terakhir sebelum berbalik dan melangkah keluar kamar.

Di balik pintu, Pak Gunawan sudah menunggu dengan napas tertahan.

Begitu pintu tertutup, tatapan lembut Jati seketika berubah menjadi tatapan elang yang tajam.

"Pak Gun, pastikan pengamanan Nona Gayuh diperketat. Saya akan menyelesaikan urusan di Singapura secepat mungkin," perintah Jati dingin sambil berjalan cepat menuju basement di mana mobil mewah telah menantinya.

Di dalam kamar, Gayuh menggenggam erat liontin kunci itu.

Ia merasa meskipun Jati pergi jauh ke kampung, pria itu seolah masih ada di sampingnya, menjaganya dalam setiap tarikan napas.

Ia tidak tahu bahwa sementara ia beristirahat, dunia di luar sana sedang bergetar karena perintah sang CEO yang baru saja berangkat.

Mobil sedan hitam yang membawa Jati meluncur membelah landasan pacu pribadi di area bandara yang terisolasi.

Di depan sebuah jet pribadi dengan lambang emas J-Corp yang gagah, Jati melangkah keluar.

Penampilannya masih sama—jaket ojek kusam dengan helm di tangan—menciptakan pemandangan yang ganjil di depan awak kabin yang sudah berdiri membungkuk hormat.

"Selamat malam, Tuan Besar. Semua sistem siap untuk lepas landas," sapa kapten pilot dengan sopan.

Jati hanya mengangguk singkat. Ia menaiki tangga pesawat dan langsung menuju kursi kulit premium yang empuk di kabin utama.

Begitu mesin pesawat mulai menderu halus, Jati tidak segera membuka laptopnya untuk memeriksa data meeting di Singapura.

Ia justru merogoh saku jaketnya, mengeluarkan amplop cokelat tebal yang diberikan Gayuh tadi.

Jati menatap amplop itu dengan tatapan yang sangat lembut, jauh dari kesan CEO yang dingin dan ditakuti.

Di dalamnya terdapat tumpukan uang seratus juta rupiah—uang yang dikumpulkan Gayuh dengan cara bekerja sampai pingsan, uang yang seharusnya bisa ia gunakan untuk kenyamanan dirinya sendiri.

Sebuah senyum tipis, namun penuh haru, tersungging di bibir Jati.

"Gayuh, Gayuh..." gumam Jati pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara mesin pesawat.

"Kamu bahkan sedang sakit, tubuhmu masih lemas, dan kamu sendiri sedang kesulitan, tapi yang ada di pikiranmu hanyalah bagaimana caranya membantuku."

Jati mengusap permukaan amplop itu. Ia bisa membayangkan wajah panik Gayuh saat memaksanya ke ATM, dan wajah tulusnya saat memberikan uang ini demi "nenek" yang sebenarnya tidak sakit.

Baginya, uang seratus juta ini terasa jauh lebih berat dan berharga daripada kesepakatan bisnis triliunan rupiah yang akan ia tandatangani malam ini.

Uang ini bukan sekadar kertas, tapi adalah bukti ketulusan hati seorang wanita yang mencintai pria "miskin" tanpa syarat.

"Kamu memberikan semua yang kamu punya untuk seorang tukang ojek," bisik Jati lagi. Matanya berkilat penuh tekad.

"Aku berjanji, saat aku kembali nanti, aku akan memberikan dunia sebagai gantinya. Tidak akan ada lagi kebohongan, dan tidak akan ada lagi air mata."

Pesawat itu perlahan menanjak menembus awan malam, membawa sang penguasa bisnis menuju Singapura. Namun, hati Jati tetap tertinggal di kamar rumah sakit mewah itu, bersama wanita yang telah memenangkannya dengan sebuah amplop cokelat dan ketulusan yang tak ternilai harganya.

Ketenangan di ruang VVIP itu kembali terusik saat ponsel di atas nakas bergetar hebat.

Gayuh, yang baru saja hendak memejamkan mata untuk beristirahat, menghela napas panjang saat melihat nama pemanggil di layar.

Dengan jemari yang masih terasa berat, ia menggeser tombol hijau.

"Halo, Tryas?" suara Gayuh terdengar parau.

Suara tawa melengking yang penuh kemenangan langsung menyambar dari seberang telepon.

"Gayuh, Gayuh, bagaimana rasanya tidur di rumah sakit? Apa sudah cukup nyaman sebagai latihan sebelum kamu tidur di lantai penjara yang dingin? Sudah siap masuk jeruji besi karena utangmu?"

Gayuh tertegun sejenak. "Jeruji? Jadi kamu benar-benar akan melaporkanku, Tryas?"

"Tentu saja! Hari ini adalah batas waktunya, dan aku tahu tukang ojekmu itu tidak akan bisa menghasilkan uang sebanyak itu meski dia menarik penumpang sampai kiamat!" cibir Tryas dengan nada angkuh yang kental.

Gayuh terdiam. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di bibirnya yang pucat. Ia teringat notifikasi pembayaran naskah dari J-Corp yang nilainya jauh melampaui utangnya. Dengan tenang, ia mengoperasikan ponselnya, melakukan beberapa ketukan pada aplikasi mobile banking.

Ting!

Suara notifikasi masuk terdengar di ponsel Tryas. Di seberang sana, Tryas terdiam.

Ia baru saja menerima transferan uang sebesar dua ratus juta rupiah—jumlah yang lebih dari cukup untuk melunasi utang lama Gayuh beserta bunganya.

"Aku sudah membayar utangku, Tryas. Semuanya," ucap Gayuh dengan nada yang sangat tenang namun tegas.

"Tolong jangan ganggu aku lagi. Bukankah semalam kamu sendiri yang mengatakan bahwa persahabatan kita sudah putus?"

"Ka-kamu? Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?!" suara Tryas terdengar gagap, penuh rasa tidak percaya sekaligus kesal karena rencananya untuk menjebloskan Gayuh ke penjara gagal total.

"Itu bukan urusanmu lagi," jawab Gayuh dingin.

"Mulai saat ini, kita adalah orang asing. Selamat tinggal, Tryas."

Gayuh langsung mematikan sambungan telepon. Ia meletakkan ponselnya dengan gerakan perlahan, lalu kembali menarik selimut dan memejamkan matanya.

Hatinya terasa jauh lebih ringan. Beban bertahun-tahun yang menghimpitnya karena merasa berutang budi pada Tryas kini telah lunas, baik secara materi maupun perasaan.

Di luar pintu, Pak Gunawan yang duduk di kursi penjagaan dengan setelan penyamarannya, mendengarkan percakapan itu melalui alat penyadap kecil yang terhubung ke telinganya.

Ia mengangguk puas sambil mencatat detail kejadian tersebut dalam laporan digitalnya.

"Nona Gayuh ternyata memiliki keberanian yang luar biasa," gumam Pak Gunawan pelan.

Kemudian ia mengirimkan pesan singkat untuk Jati yang saat ini sedang berada di atas awan:

"Lapor Tuan, Nona Gayuh baru saja memutus

hubungan secara permanen dengan Nona Adiguna. Hutang telah dilunasi. Nona sedang beristirahat dengan tenang."

Di balik pintu kayu yang kokoh, Gayuh tertidur dengan sisa air mata di sudut matanya, tidak menyadari bahwa pengawal paling setia di kota itu sedang menjaganya agar tidak ada lagi satu pun gangguan yang berani mendekat.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!