Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Anak Bagaskara
Suasana ruang tengah mansion masih membeku setelah ucapan Miranti menggantung di udara.
“Mereka tahu anak Bagaskara masih hidup.” Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menghantam seluruh ruangan sekaligus. Bahkan suara napas semua orang mendadak terasa terlalu keras.
Kemuning berdiri mematung dengan wajah penuh kebingungan. Ia sama sekali tidak mengerti siapa “Bagaskara” yang dimaksud Miranti. Namun cara Mahardika dan Arkana berubah ekspresi membuat dadanya ikut mencekam. Seolah nama itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.
Agam masih memeluk Arkana ketakutan dari belakang. Tubuh kecil anak itu gemetar sambil menggenggam kemeja pria tersebut erat-erat. Sedangkan Arkana berdiri diam dengan rahang menegang keras. Tatapan gelapnya kini sepenuhnya tertuju pada Miranti.
Ratih yang sejak tadi duduk tenang pun terlihat terkejut. Cangkir teh di tangannya berhenti di udara beberapa detik. Untuk pertama kalinya, wanita itu kehilangan ekspresi elegannya sesaat. Dan itu cukup membuat Kemuning sadar nama itu bukan sesuatu yang biasa.
Selama ini Kemuning hanya tahu ayahnya meninggal saat ia masih kecil. Ia bahkan hampir tidak punya ingatan jelas tentang pria itu. Setiap kali dirinya bertanya lebih jauh, Miranti selalu marah dan menyuruhnya diam. Seolah masa lalu orang tuanya adalah sesuatu yang tidak boleh disentuh.
Sekarang semua itu terasa jauh lebih menyeramkan. Kemuning mulai merasa hidupnya selama ini hanyalah potongan cerita yang tidak lengkap dan untuk pertama kalinya, ia takut mencari jawabannya sendiri. Karena semua orang terlihat terlalu serius mendengar nama ayahnya.
Mahardika akhirnya melangkah mendekat perlahan ke arah Miranti. Tatapan pria tua itu tajam dan berat seperti badai yang ditahan. Aura ruang tengah langsung berubah semakin menekan, bahkan Miranti terlihat mulai sulit bernapas normal.
“Kau bilang siapa yang mencari anak itu?”
Nada suara Mahardika rendah dan berbahaya. Miranti langsung menelan ludah gugup sebelum menjawab. Untuk pertama kalinya sejak datang ke mansion, wanita itu tampak benar-benar takut.
Namun rasa takutnya bukan pada keluarga Mahendra saja.
Miranti akhirnya mengaku beberapa pria asing datang beberapa hari lalu ke rumahnya. Mereka membawa foto lama dan terus menanyakan keberadaan Kemuning, bahkan mereka tahu Agam masih hidup dan tinggal bersama kakaknya. Hal itu membuat tubuh Kemuning langsung dingin seketika.
“Mereka bukan orang biasa,” suara Miranti bergetar kecil. “Tatapan mereka... bikin saya takut. Mereka bilang sudah lama mencari anak Bagaskara.” Dan setiap kata itu membuat suasana semakin mencekam.
Kemuning langsung memeluk Agam erat refleks. Tangannya gemetar tanpa bisa dikendalikan. Bayangan kehilangan adiknya kembali menghantam kepalanya sekaligus. Ia tidak sanggup membayangkan Agam dibawa pergi lagi.
Tanpa sadar, Arkana langsung berdiri lebih dekat di samping Kemuning. Tubuh tinggi pria itu sedikit berada di depan gadis tersebut. Seolah nalurinya otomatis menjadi penghalang dari ancaman apa pun. Tatapan dinginnya bahkan mulai membuat Miranti menunduk takut.
“Kenapa baru sekarang kau bicara?” tanya Arkana tajam.
Miranti langsung panik dan kembali menangis. Namun kali ini tangisnya terasa campuran antara takut dan licik. Kemuning bisa melihat bibinya masih mencoba mencari keuntungan di tengah kekacauan ini. Dan hal itu membuat dadanya semakin sesak.
“A-awalnya saya pikir mereka cuma cari uang,” lirih Miranti cepat. “Saya sempat berpikir menyerahkan Kemuning dan Agam, tapi mereka bilang... Mereka bilang darah Bagaskara tidak boleh tersisa.”
Suasana ruang tengah langsung berubah dingin total. Agam mulai menangis lagi karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan orang dewasa. Kemuning sendiri merasa lututnya hampir tidak kuat berdiri. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut pada masa lalu keluarganya sendiri.
Hidupnya ternyata tidak sesederhana gadis desa miskin seperti yang ia pikir selama ini. Ada sesuatu tentang ayahnya yang membuat orang lain memburu mereka. Dan kemungkinan itu membuat napas Kemuning terasa semakin sesak. Ia bahkan tidak tahu harus takut pada siapa sekarang.
Agam menangis makin keras di pelukannya. Kemuning buru-buru mencium kepala adiknya sambil menenangkan anak itu. Namun tubuhnya sendiri ikut gemetar hebat karena panik. Arkana yang melihatnya langsung bergerak tanpa berpikir.
Pria itu perlahan mengambil Agam dari pelukan Kemuning. Awalnya Agam tampak takut dan ragu. Namun beberapa detik kemudian, anak kecil itu justru memegang kerah kemeja Arkana erat-erat. Seolah mulai percaya pria itu tidak akan menyakitinya.
Kemuning langsung menatap pemandangan itu diam-diam. Arkana terlihat terlalu natural melindungi mereka sekarang. Cara pria itu mengusap punggung Agam pelan terasa begitu asing namun hangat. Dan dada Kemuning justru semakin sesak karenanya.
Untuk pertama kalinya, Arkana mulai sadar ancaman terhadap Kemuning jauh lebih besar. Ini bukan lagi sekadar masalah hutang keluarga atau perempuan desa malang. Ada sesuatu tentang masa lalu gadis itu yang berbahaya. Dan Arkana mulai rela melakukan apa pun untuk melindunginya.
Mahardika akhirnya meminta semua pelayan keluar dari ruang tengah. Pintu besar mansion tertutup pelan meninggalkan suasana yang semakin serius. Ratih tampak tidak nyaman melihat arah pembicaraan mereka, sedangkan Kemuning hanya duduk diam dengan kepala penuh kekacauan.
Mahardika menatap Kemuning cukup lama sebelum bertanya pelan. “Ayahmu pernah mengatakan sesuatu sebelum meninggal?”
Pertanyaan itu membuat Kemuning langsung terdiam bingung. Ia mencoba mengingat sesuatu yang bahkan nyaris hilang dari ingatannya. Samar-samar, wajah ayahnya muncul di kepalanya. Pria hangat dengan suara lelah yang memeluk dirinya dan Agam kecil, kemudian satu kalimat lama perlahan kembali teringat. Kalimat yang dulu tidak pernah ia pahami.
“Jaga Agam.”
“Dan jangan percaya siapa pun kalau masa lalu kita ditemukan.”
Kemuning langsung merinding sendiri mengingatnya. Dulu ia pikir ayahnya hanya bicara sembarangan sebelum meninggal. Namun sekarang semuanya terasa seperti peringatan yang terlambat dipahami dan hal itu membuat ketakutannya semakin besar.
Mahardika terlihat menegang sesaat mendengar cerita itu. Ada sesuatu yang melintas di mata pria tua tersebut, seperti potongan puzzle lama yang mulai tersambung perlahan. Namun Mahardika tetap belum membuka semuanya.
Ratih akhirnya bersuara dingin di tengah suasana berat itu. “Kita tidak bisa melibatkan keluarga Mahendra lebih jauh.” Kalimat itu langsung membuat Kemuning menunduk refleks. Ia kembali merasa dirinya hanya membawa masalah.
Namun sebelum rasa bersalah itu semakin dalam, Arkana langsung bicara. “Mereka sudah ada di sini. Artinya mereka tanggung jawabku.”
Suasana langsung hening beberapa detik. Kemuning membeku mendengar ucapan pria itu. Untuk pertama kalinya, Arkana terang-terangan menganggap dirinya dan Agam berada dalam perlindungannya dan hal itu membuat jantung Kemuning kembali kacau.
Tatapan mereka bertemu cukup lama di tengah ruang besar itu. Arkana terlihat sangat serius saat mengatakannya, sedangkan Kemuning mulai sadar satu hal yang berbahaya. Ia tidak lagi merasa aman di mana pun selain di dekat pria itu.
Mahardika akhirnya memerintahkan keamanan mansion diperketat malam itu juga. Pengawal ditambah di seluruh area rumah. Akses masuk dibatasi dan semua CCTV dicek ulang, bahkan Arkana diminta tidak meninggalkan Kemuning sendirian dulu.
Arkana menerima semuanya tanpa protes sedikit pun. Justru pria itu terlihat semakin dingin dan protektif sekarang. Reno bahkan beberapa kali melihat Arkana mengecek langsung area mansion sendiri. Seolah pria itu tidak lagi mempercayai siapa pun.
Malam semakin larut ketika Kemuning akhirnya kembali ke kamar. Pikirannya penuh oleh nama Bagaskara dan ancaman orang asing tadi. Ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk dirinya sendiri pelan. Untuk pertama kalinya, mansion itu terasa sedikit menakutkan.
Bagaimana jika keberadaannya justru membahayakan keluarga Mahendra? Bagaimana jika orang-orang itu benar-benar datang kemari karena dirinya? Dan bagaimana jika Arkana ikut terluka karena mencoba melindunginya? Pikiran itu membuat mata Kemuning mulai panas lagi.
Namun sebelum air matanya jatuh, pintu kamar terbuka perlahan. Arkana masuk masih memakai kemeja hitam kerja yang sedikit kusut. Langkah pria itu tenang tetapi tatapannya langsung mencari Kemuning lebih dulu. Dan entah kenapa, dada Kemuning langsung terasa lebih lega melihatnya.
Arkana mendekat perlahan tanpa banyak bicara. Lalu pria itu membuka jasnya dan menyampirkannya ke pundak Kemuning. Gestur sederhana itu terasa terlalu hangat di tengah ketakutannya malam ini. Kemuning langsung menahan napas kecil.
“Aku tidak peduli siapa ayahmu.” Suara Arkana rendah dan serius tepat di depan wajahnya.
Kemuning langsung menatap pria itu perlahan. Tatapan gelap Arkana terasa terlalu dekat dan terlalu tulus, membuat jantung Kemuning kembali kehilangan ritmenya.
Arkana kemudian menunduk sedikit lebih dekat. Napas hangat pria itu menyentuh wajah Kemuning samar dan untuk pertama kalinya malam itu, Kemuning merasa benar-benar ingin menangis lagi. Bukan karena takut, tetapi karena terlalu merasa dilindungi.
“Selama kau di sisiku, tidak ada yang akan menyentuhmu.”
Kalimat itu menghantam pertahanan Kemuning sepenuhnya. Dadanya langsung terasa penuh dan sesak sekaligus hangat. Arkana terdengar begitu yakin saat mengucapkannya. Seolah pria itu benar-benar siap melawan apa pun demi dirinya.
Namun tepat saat Kemuning masih membeku menatap Arkana, lampu monitor keamanan di sudut kamar mendadak berkedip. Satu per satu CCTV mansion mati perlahan. Suasana kamar langsung berubah dingin dan mencekam. Arkana refleks menoleh tajam ke arah layar.
Dan jauh di luar gerbang Mahendra yang gelap, sebuah mobil hitam perlahan berhenti tanpa suara.