Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Di rooftop sekolah pada jam istirahat, aku bertemu Maya. Kami sudah saling berbicara cukup lama, saling membalas kata sejak tadi. Pembahasan kami sangat jelas ketika itu; Maya bersikeras ingin aku mendapatkan seorang teman dan memperbaiki masa suram di kehidupan SMA (Sekolah Menengah Atas). Sungguh aku bingung ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa aku bisa hidup kembali ke masa tiga tahun lalu, terlebih aku harus kembali bersama seseorang yang sebenarnya tidak pernah kuajak bicara saat di kehidupan pertamaku.
Yaaa ... si Maya ini kenapa sebenarnya? Dia saat ini mematung menatapku dengan mata membesar dan pipi yang merah merona hanya karena aku mengatakan jika dia itu spesial bagiku. Apa yang salah? Nyatanya dia memang spesial, kan? Karena ....
“Ti ... tiba-tiba bilang begitu, aku kaget, tahu!” celetuknya memecah keheningan di antara kami.
Aku pun tersadar dari lamunan sejenakku dan membatin, ‘Lah, kan kamu yang tanya? Cewek ini apa sih yang ada di kepalanya?’
“Ka ... karena kamu sudah menyelamatkanku sampai berkorban nyawa seperti itu ... ja ... jangan pikir aku enggak paham perasaanmu, Raka. Ta ... tapi yaah, kamu tahu, kan, akan jadi banyak masalah kalau aku membalas perasaanmu saat ini ...,” ucap Maya terbata-bata dengan gaya sok jual mahal di hadapanku.
Aku semakin tidak memahaminya dan kembali membatin, ‘Dia bicara apa sih?’
“Spesial yang aku maksud itu, ya, spesial karena kamu adalah orang yang sama-sama menjelajahi waktu bersamaku. Jadi, akan ada hal yang cuma bisa kubicarakan denganmu. Itu kenapa bagiku kamu itu spesial, tahu?” jelasku.
Maya langsung terlihat mematung dengan pose sok jual mahalnya itu selama beberapa detik. Kami kembali saling terdiam tanpa kata, sampai akhirnya Maya membuang muka.
“I ... iya ... aku paham ...,” gumam Maya pelan.
Meskipun suaranya pelan, aku bisa melihat kedua tangannya mengepal cukup kuat, seolah-olah dia siap memukulku detik itu juga.
“Kamu benar, kita sebaiknya saling bekerja sama karena kita ini partner yang datang dari masa depan. Yap, aku juga berpikir begitu, kok,” ucap Maya terdengar tenang dan datar. Namun, melihat tubuhnya yang bergetar seolah sedang menahan diri, membuatku berkeringat dingin. Apa dia benar-benar menahan diri untuk tidak memukulku saat ini?
“O ... Oooh ... ha ... ha ... syukur kalau kamu mengerti ...,” ucapku berusaha tidak lagi memantik amarahnya. Setelah itu, Maya terdengar menghela napas berat lalu kembali menatapku.
“Aku benar-benar enggak sempat mengobrol denganmu di kehidupan sebelumnya. Repot juga kalau sekarang tiba-tiba kita bekerja sama seperti ini,” celetuk Maya memecah keheningan di antara kami.
“Repot karena kita dulu enggak saling kenal? Tenang saja, itu bukan karena kamu yang enggak sempat mengobrol denganku. Jujur saja, selain percakapan wajib seperti ‘hadir’, ‘ya’, dan ‘oh’, aku tidak ingat pernah membuka mulutku selain untuk tiga kata itu selama sekolah,” timpalku.
“Aduuuuh ... aaarrrrghh!! Apa sih?!! Kamu dilarang bawa-bawa masa lalu yang suram seperti itu!!! Nanti aku jadi enggak bisa tidur gara-gara ke pikiran masa-masa SMA-mu, tahu!!!” bentak Maya terdengar sangat ketakutan. Sepertinya cerita tentang serigala penyendiri sepertiku ini terdengar kayak cerita horor di telinga Maya.
“Yah ... pokoknya berhenti mencampuri kehidupan keduaku. Atau, jangan-jangan sebenarnya kamu itu suka ak—” Belum selesai aku berkata, Maya langsung memotongnya.
“Hanya dalam kepalamu saja,” timpal Maya tegas tanpa keraguan sedikit pun. Responsnya begitu cepat. Sepertinya cerita romansa memang terlalu sulit buat serigala penyendiri sepertiku.
“Aah, begitu. Baiklah. Sekali lagi aku katakan, aku enggak tertarik buat mengulangi kehidupan masa SMA-ku. Jadi, kalau aku memutuskan untuk enggak melakukan apa pun di kehidupan kedua ini, itu sah-sah saja. Kamu juga enggak punya hak buat memaksakan kehendakmu untuk mengubah kehidupan keduaku ini,” ucapku untuk memperjelas batasan yang tidak boleh dia langgar. Aku cukup risi dengan tindakannya yang terlalu ikut campur urusan kehidupanku.
Aku sudah tidak punya cara lagi agar Maya mengerti kalau aku sudah cukup puas dengan kehidupan SMA-ku di kehidupan pertama. Bagiku, masa SMA sudah selesai meski aku dipaksa untuk mengulanginya lagi saat ini. Terlebih lagi, aku sudah merasa capek harus berdiri di bawah terik sinar matahari. Entah kenapa Maya sepertinya masih betah berdebat denganku, meski di rooftop ini panas terasa semakin menyengat.
“Itu ... memang enggak salah ...,” ucap Maya terdengar sedih. Dia pun menundukkan pandangannya, dan entah kenapa tiba-tiba dia terlihat begitu nelangsa.
“Nah, benar, kan? Saat aku mengutarakan semua isi kepalaku, pada akhirnya kamu akan berhenti membantuku mencari teman. Kamu juga tidak punya tekad sekuat itu dengan keinginanmu, maka dari itu—” Belum selesai aku berkata, tiba-tiba Maya mendongak dan menatapku dengan tatapan mata yang tajam. Dia menunjukku dengan begitu berapi-api.
“Aku akan tetap membantumu keluar dari tempurung kesendirianmu yang menyedihkan itu!!” tegas Maya. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa lagi. Hanya ada satu kata yang keluar dari mulutku saat itu.
“Hah ...?” ucapku dan dalam hati aku berkata "Ini cewek bicara apa, sih?!!"
“Kamu enggak keberatan, kan?” tanya Maya setengah memaksa.
“Eh, tu ... tunggu dulu. Tadi aku cuma mau membuatmu yakin kalau—” Belum juga selesai aku berkata, Maya lagi-lagi memotongnya.
“Berisik!! Ada perempuan cantik yang bersedia membuang waktunya buat membantumu supaya bisa menikmati masa remaja, lho!! Berterima kasihlah!!” bentaknya terdengar begitu sombong. Dia bahkan sampai meletakkan kedua tangannya di pinggang, terlihat sangat bossy.
“Ka ... kamu ini egosentris banget, ya!!” keluhku dengan bentakan kesal.
...Ding ... Dong ... Ding ... Dong ...
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi bel sekolah tanda waktu istirahat telah berakhir. Hampir bersamaan, aku dan Maya menoleh menatap pintu rooftop.
“Nanti kita lanjutkan lagi,” celetuknya saat suara denting bel sekolah berhenti.
“Aku berharap bagian kamu memaksa buat membantuku mencari teman itu bisa kita lupakan saja,” pintaku. Namun, aku yakin dia tidak mau mendengarkan. Maya pun kembali menatapku.
“Sepulang sekolah kita akan atur strategi untuk hal itu,” tegas Maya. Dia benar-benar tidak paham ucapan manusia...
“Ingat, ini bukan cuma tentang membuatmu mendapatkan seorang teman di SMA, tapi juga karena kita ini partner penjelajah waktu, kan? Bukankah itu artinya kita harus lebih sering bertemu dari waktu ke waktu dan saling berbagi kekhawatiran serta masalah kita di masa ini? Kamu juga bilang aku ini spesial karena hal itu, kan?” jelasnya dengan nada memaksa. Aku sudah pusing dan tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi cewek satu ini.
“Iya, iya!!” timpalku dengan gusar dan terpaksa.
“Jadwalnya bagaimana? Hmm ... aku cukup sibuk, sih, jadi enggak mungkin kalau bertemu setiap hari,” ucap Maya sambil mengambil ponsel dari saku roknya, lalu sepertinya dia melihat kalender di layar ponsel tersebut.
“Hei, hei, kamu langsung mengira aku ini senggang sepanjang waktu? Tanya dulu, kek,” keluhku. Namun, respons Maya malah menghela napas lalu menatapku dengan penuh kecurigaan.
“Memang madesu (masa depan suram) sepertimu punya acara apa?” tanya Maya balik menyindir. Dia kembali memajukan badannya sambil melipat kedua tangan untuk menekanku.
“I ... itu ... yah, setidaknya jangan anggap aku pengangguran dong. Setidaknya tanyakan dulu sebelum kamu membuat sebuah keputusan,” jawabku.
“Hmp! Gak penting. Tapi aku rasa lebih baik kita atur pertemuan kita pada setiap hari Senin sepulang sekolah. Untuk tempat, aku menyarankan sebuah kafe yang cukup jauh dari sekolah biar enggak ada teman kita yang melihat kalau aku dan kamu bertemu di luar dan saling mengobrol,” Maya mengutarakan idenya.
“Emangnya enggak bisa di sini saja, ya?” tanyaku.
“Apa hati dan harga dirimu enggak meronta saat membawa gadis cantik sepertiku ke atap sekolah tiap hari Senin?” keluh Maya sambil menunjuk dadaku. Aku cukup terkejut dengan tingkahnya saat ini.
Aku juga sudah kehabisan kata-kata saat berhadapan dengannya. Lagi pula, cewek ini tidak ada habis-habisnya memuji diri sendiri dengan kata cantik. Aah ... tapi tidak, dia memang sangat cantik, sih. Rambut ikal pendek model wolf cut berwarna hitam dipadu dengan wajah mungil, tanpa riasan apa pun dia memang terlalu menawan untuk menjadi seorang cewek SMA. Tapi, bukannya tetap saja dia harus lebih rendah hati, ya?
“Di sini juga enggak ada tempat duduk, dari tadi kakiku pegal, tahu. Kita bertemu di sini cuma kalau ada hal mendesak saja, tahu? Lagi pula repot jadinya kalau sampai ada yang lihat,” ucap Maya lagi, melanjutkan perkataan sebelumnya.
Nah, kali ini dia benar. Aku pikir tadi dia tidak merasa capek sama sekali sejak tadi. Kondisi mengobrol panjang lebar seperti ini memang tidak cocok dilakukan di tempat aneh seperti rooftop sekolah. Tapi, bukankah dia memang terlalu memaksakan kehendaknya?
“Eeh ... iya, nanti kamu malah jadi kena masalah,” keluhku. Seketika Maya cemberut mendengar perkataanku.
“Andai kamu itu siswa normal, aku juga enggak akan keberatan, tahu!” bentaknya.
“Iya, iyaaa... kenapa tiba-tiba kamu jadi menyalahkan aku?” keluhku. Tapi yaah, memang salahku sih, sebenarnya...
“Terserah deh! Pokoknya aku bakal berjuang keras agar Raka bisa menikmati masa SMA dengan baik dan menjalani kehidupan masa SMA dengan normal,” penuh semangat Maya mengucapkannya. Aku kembali tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menghadapi cewek satu ini yang ternyata jauh lebih cerewet dari ibuku.
“Kamu punya hobi mencampuri urusan orang lain, ya?” sindirku padanya. Namun, yang kudapati malah dia tersenyum begitu manis padaku...
“Kita dapat kesempatan balik menjadi siswa kelas satu SMA, lho. Jadi sayang kalau kamu enggak bisa memanfaatkannya dengan baik dan bersenang-senang. Aku merasa enggak enak hati kalau membiarkan kehidupan SMA penyelamat nyawaku menjadi membosankan,” ucapnya.
...Dia semakin terlihat ... menawan ... ketika tersenyum seperti ini...
“Haah ... sudah kukatakan, udah lupakan saja kejadian itu.” Aku semakin bosan mendengarnya terus berterima kasih seperti itu.
“Kalau begitu, sampai jumpa pulang sekolah. Aku balik ke kelas duluan, ya,” ucap Maya sambil terus tersenyum, namun kali ini ditambah lambaian tangan.
“Aku benar-benar enggak didengar ya?!!” tanyaku dengan bentakan.
Maya pun berbalik masuk kembali ke dalam gedung untuk meninggalkan rooftop. Aku mendengarnya sedikit bersenandung, entah lagu apa yang dia nyanyikan. Tapi lebih dari itu, inti dari pembicaraan panjang lebar dan melelahkan hari ini adalah Maya benar-benar serius untuk membantuku mendapatkan masa emas remaja SMA, dan tampaknya hal itu akan segera dimulai.
...Sekarang situasinya menjadi lebih gawat dan lebih bermasalah...