NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Bukan Rumah

Mobil hitam Kinan meluncur pelan di jalanan perumahan elite Clover Hills. Alessandra duduk di kursi belakang, matanya menatap jendela dengan dingin. Di luar, deretan rumah mewah bergaya Mediterania dan modern minimalis berlomba-lomba menunjukkan status pemiliknya.

Tapi Alessandra hanya bisa membandingkan semuanya dengan rumahnya sendiri.

Kecil, pikirnya. Semua terlihat kecil.

"Kita hampir sampai, Nona," ucap Kinan dari kursi depan. Wanita berusia 28 tahun itu memiliki rambut pendek hitam legam dan mata sipit yang selalu waspada. Hari ini dia memakai pakaian kasual yaitu kemeja putih dan celana hitam agar tidak menarik perhatian. Tapi Alessandra tahu, di balik pakaian sederhana itu, terselip dua pisau lipat dan satu pistol listrik.

"Bagaimana suasananya?" tanya Alessandra.

"Lima motor sport terparkir di depan rumah. Beberapa anak muda laki-laki. Saya curiga mereka teman dari kakak-kakak Valeria Allegra."

"Lima motor? Berapa orang?"

"Lima. Saya sudah hitung."

Alessandra menghela napas. Anak-anak muda yang tidak tahu diri. Dia sudah muak sebelum bertemu.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial dengan pagar besi hitam. Rumah itu cukup besar mungkin 500 meter persegi dengan taman kecil di depan dan air mancur mini. Tapi dibandingkan mansion miliknya yang mencapai 2000 meter persegi dengan taman pribadi, kolam renang infinity, dan helipad... rumah ini terasa seperti kandang burung.

"Seperempat dari rumah saya," gumam Alessandra.

"Apa, Nona?" Kinan menoleh.

"Tidak ada. Saya turun sendiri. Kamu tunggu di mobil."

"Baik, Nona. Hati-hati."

Alessandra membuka pintu. Seketika, matahari pagi menyambarnya. Dia menghela napas, merapikan pita merah di rambutnya, lalu berjalan menuju pagar.

Dan dia melihat mereka.

Lima motor sport berwarna mencolok yaitu merah, biru, hitam, putih, dan kuning terparkir sembarangan di halaman depan. Tidak punya sopan santun, batinnya.

Dari dalam rumah terdengar suara tawa dan obrolan riuh. Alessandra menekan bel pintu.

Belum sempat pintu terbuka, seorang pria muda berlari keluar. Dia salah satu dari si kembar dan Alessandra lupa namanya, Raka atau Riko. Wajahnya tampan, dengan rambut hitum tebal dan mata coklat terang seperti miliknya. Tingginya sekitar 175 cm, tubuh atletis.

"VALE!" pekiknya. "Kamu balik! Ya Tuhan, Dika! Riko! Cepet ke sini! Vale pulang!"

Pintu terbuka lebar. Dari dalam, berhamburan keluar pria-pria muda. Alessandra menghitung cepat:

· Dika (20 tahun) — yang kemarin memarahinya di kafe.

· Raka dan Riko (18 tahun, kembar) — susah dibedakan, tapi yang satu pakai anting di kiri.

· Dan lima orang lainnya — teman-teman mereka.

Total delapan pria. Semua tampan dengan gaya masing-masing. Alessandra mendongak sedikit dengan tingginya 170 cm, masih di bawah Dika tapi sama tinggi atau sedikit lebih tinggi dari yang lain.

"Lo beneran pulang?" salah satu teman berambut pirang dengan tindik di alis bersiul. "Wah, langka banget."

"Udah seminggu gak ada kabar, Vale. Kami cari ke mana-mana," tambah yang lain.

Alessandra tidak menjawab. Matanya justru mencari sosok lain. Sosok yang menurut data Kinan, paling penting untuk diamati.

Saskia.

Dan di sanalah dia.

Seorang gadis dengan tinggi 158 cm dan jauh lebih pendek dari Alessandra berdiri di balik kerumunan pria. Wajahnya bulat dengan mata besar yang dibuatnya sebening mungkin. Rambutnya panjang sebahu, diikat pita putih. Hari ini dia memakai gaun berwarna pastel pink, terlihat polos dan lugu.

Tapi mata Alessandra tidak pernah salah membaca orang.

Rubah kecil, pikirnya. Berpura-pura menjadi domba.

"Kakak Vale!" Saskia berlari mendekat, suaranya dibuat manja dan khawatir. "Astaga, Kakak kembali! Aku khawatir banget! Seminggu Kakak pergi, saya tidak bisa tidur!"

Dia langsung meraih tangan Alessandra.

Kontak.

Sentuhan.

Tangan Saskia yang dingin dan sedikit berkeringat melingkar di pergelangan tangan Alessandra.

Dan dalam sepersekian detik, api di bintang pertama Alessandra hampir meledak.

Jangan, peringatnya pada dirinya sendiri. Kamu sedang menyamar. Kamu Valeria Allegra sekarang. Gadis penakut yang tidak punya kekuatan.

Tapi tubuh Alessandra sudah bereaksi lebih dulu.

Dia menarik tangannya dengan gerakan cepat, seperti disentuh ular berbisa. Wajahnya berubah bukan takut, tapi jijik. Matanya yang coklat terang menatap Saskia dari ketinggian 12 sentimeter di atasnya, dengan ekspresi yang biasa dia gunakan saat melihat musuh yang mati sia-sia.

"Jangan," ucap Alessandra dengan suara dingin. "Jangan sentuh saya."

Saskia terkejut. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba membaca situasi. Gadis itu terbiasa semua orang menganggapnya manis. Tapi tatapan Alessandra... rasanya seperti terkena silet.

"Maaf, Kakak..." Saskia menunduk, membuat wajahnya terlihat sedih. "aku hanya... aku hanya khawatir."

Dika mengerutkan kening. "Vale, lo kenapa? Siska cuma khawatir. Dia adik angkat lo sekarang."

Adik angkat, ya.

Alessandra tidak peduli. Dia sudah membaca semua data tentang Saskia. Anak yatim piatu yang "kebetulan" ditemukan oleh Hendra Sunjaya di panti asuhan. Yang "kebetulan" memiliki wajah mirip almarhumah ibu Allegra. Yang "kebetulan" sangat ingin menjadi bagian dari keluarga Sunjaya.

Terlalu banyak kebetulan.

"Saya tidak kenal dia," ucap Alessandra datar. "Saya akan pergi ke kamar saya."

Dia berjalan melewati kerumunan pria itu tanpa menoleh. Sepatu pantofel hitamnya melangkah tegas menuju pintu utama, melewati ruang tamu yang luas dengan sofa kulit coklat dan meja marmer.

Di dalam, dia menilai semuanya dalam hitungan detik.

· Langit-langit: 3 meter, terlalu rendah.

· Lantai: marmer lokal, kualitas menengah.

· Lampu gantung: kristal imitasi, bukan asli.

· Sofa: kulit sintetis, mulai mengelupas di beberapa sudut.

· Bau: sedikit apek, tanda sirkulasi udara buruk.

Rumah kelas dua, simpulnya. Berpura-pura kaya, tapi sebenarnya pelit.

Dia naik ke lantai dua. Tangga kayu jati itu berderit di anak tangga ketiga yang berarti? Tentu saja tanda perawatannya yg buruk. Kamar-kamar di lorong tertutup rapi, kecuali satu pintu di ujung yang sedikit terbuka.

Alessandra mendorong pintu itu.

Kamar Valeria Allegra.

Luar biasa... sederhana. Ranjang single dengan seprai biru lusuh. Meja belajar kecil di dekat jendela, penuh tumpukan buku. Lemari pakaian dua pintu yang catnya mulai terkelupas. Tidak ada hiasan dinding, tidak ada boneka, tidak ada lampu tidur yang cantik.

Bahkan kamar pembantuku lebih baik dari ini, pikir Alessandra.

Dia berjalan ke meja belajar. Di sana, di sudut tersembunyi di bawah tumpukan catatan matematika, ada sebuah buku tebal dengan sampul kulit sintetis berwarna coklat tua.

Diary.

Alessandra mengambilnya. Tangannya sedikit bergetar bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang aneh. Seolah buku ini berisi potongan-potongan jiwa seorang gadis yang tidak pernah dia kenal, tapi wajahnya sama dengan wajahnya.

Dia membuka halaman pertama.

"Hari ini umurku 10 tahun. Ibu sudah meninggal 5 tahun lalu. Papa bilang ini semua salahku. Aku percaya dia."

Alessandra menarik napas.

Halaman berikutnya.

"Kakak-kakak tidak mau bermain denganku. Mereka bilang aku pembawa sial. Mungkin benar."

Halaman lain.

"Guru memukulku lagi hari ini. Katanya aku bodoh. Tapi aku peringkat 3 besar. Aku tidak mengerti."

Dan satu halaman yang membuat darah Alessandra mendidih:

"Saskia datang. Papa bilang dia sekarang anak papa. Jadi aku punya adik? Tapi dia tidak pernah memanggilku kakak. Dia cuma tersenyum manis ke Papa, lalu saat Papa tidak lihat, dia menarik rambutku dan bilang 'rumah ini tidak butuh anak sialan sepertimu.' Aku ingin mati."

Alessandra menutup buku itu pelan.

Matanya tertuju ke jendela. Di luar, Saskia sedang tertawa bersama teman-teman pria itu, pura-pura polos, sesekali melirik ke arah kamar Allegra dengan pandangan penuh kemenangan.

"Kamu menang sekarang," pikir Alessandra. "Karena Allegra asli sudah hilang. Tapi sebentar lagi... kamu akan berharap dia tidak pernah kembali."

Dia menyelipkan diary itu ke dalam tas kecilnya.

Ini bukti.

Dan Valeria Alessandra tidak pernah membuang bukti.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!