Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Ting, " tanda pesan masuk di ponsel.
Perhatian ku langsung teralihkan pada ponsel yang ada di tangan ku, saat ini aku sedang kumpul bersama sahabat dan adik ku.
"Siapa? " tanya sahabat ku Suci.
"Doni, " jawab ku lalu membuka isi pesan yang di kirim Doni.
Raut wajah ku langsung berubah saat membaca isi pesan Doni calon suami ku, pria yang hampir dua tahun ini menjalin hubungan dengan ku.
Suci dan Erika saling lirik lalu menatap ke arah ku namun belum sempat mereka bertanya tiba-tiba di luar kamar terdengar bapak berteriak membuat kami langsung keluar kamar. Saat di luar kamar aku melihat orang tua Doni datang dan sedang bicara dengan bapa, kang Arfan kakak ku dan anggota keluarga yang lain.
"Alika, " ibu menyebut nama ku saat melihat kami keluar.
Semua orang melirik ke arah ku yang hanya diam menatap ke arah orang tua Doni. Namanya Doni hendak mendekati ku namun di tahan kang Arfan.
"Alika, tante tau kamu pasti sedih dan kecewa tapi kami sebagai orang tua sudah berusaha bicara dengan Doni, namun hasilnya Doni tetap dengan keputusan nya, " ucap mamanya Doni.
Doni membatalkan pernikahan kami yang akan berlangsung besok padahal semua dekorasi dan keperluan untuk acara sudah selesai tinggal acaranya besok.
Suci dan Erika bingung karena mereka tidak tahu apa yang terjadi.
"Aku gak Terima Doni membatalkan pernikahan ini secara sepihak, kami malu karena undangan sudah tersebar. Kami minta pertanggung jawaban kalian, " teriak kang Arfan kakak ku.
Suci langsung melirik ku setelah tahu apa yang terjadi.
"Ka, " ucapnya lalu memegang tangan ku.
"Kami sudah berusaha tanggung jawab, kami pun sebagai orang tua malu atas tindakan Doni maka dari itu kami membujuk galang untuk jadi pengganti Doni dan dia setuju, " balas papanya Doni.
Aku yang mendengar itu kaget karena mereka akan menggantikan Doni dengan orang lain tanpa bertanya dahulu pada ku.
"Gak semudah itu kalian mengambil keputusan, Alika belum tentu setuju, " ucap kang Arfan.
Aku masuk ke dalam kamar dan duduk di tempat tidur sambil berusaha menghubungi Doni namun nomornya tidak aktif. Tak terasa air mataku jatuh begitu saja, hati ku sakit kecewa dengan kabar ini. Aku bangkit lalu berjalan ke arah jendela dan melihat ke arah luar dimana dekorasi untuk pernikahan ku berada. Cukup lama aku menatap ke luar dan berpikir sampai akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran mamanya Doni . Aku pun keluar kamar dan di ruang tamu masih berkumpul semua keluarga ku dan begitupun orang tua Doni dan entahlah siapa lagi. Saat aku keluar semua orang langsung melihat ke arah ku.
"Aku setuju dengan tawaran tante, " ucap ku membuat semua orang kaget.
"Alika, kamu yakin? " tanya ibu mendekati ku.
"Bu, aku gak mau kalian malu, sudah cukup selama ini aku selalu bikin ibu dan bapak malu, " balas ku.
"Bagus deh kalau sadar diri, " celetuk tante Rita kakak dari bapak ku.
"Teh, " tegur bapak.
"Emang benarkan, selama ini dia selalu bikin keluarga kita mau, udah mah di langkahi Erika sekarang masa mau batal nikah. Sayang kan uang nya sudah di pakai bayar dekorasi, " ucap tante Rita lagi dan langsung di tarik pergi oleh suaminya.
"Bu pak, benar kata tante Rita selama ini aku hanya bisa bikin kalian malu jadi aku setuju kalau pengantin laki-lakinya di ganti, " ucap ku.
Adik ku Erika dia lebih dulu menikah karena setelah lulus SMA di memilih kerja sedangkan aku, aku memilih kuliah dan aku baru satu tahun lulus kuliah dan sekarang aku mengajar di salah satu sekolah di tempat ku tinggal. Dulu setelah lulus SMA aku minta kuliah karena cita-vita ku ingin menjadi guru dan semua itu sudah tercapai namun karena aku tinggal di kampung di usiaku dua puluh tiga ini seharusnya menikah dan semua orang selalu membicarakan ku bahkan semua orang bilang kalau aku tidak laku.
"Kalau Alika setuju, besok kami akan datang bersama pengantin laki-lakinya, " ucap mamanya Doni.
"Kalau Alika setuju kami hanya bisa ikuti keputusan Alika, " ucap bapak dengan lesu karena aku tau bapak gak mau kalau aku harus menikah dengan terpaksa.
Orang tua Doni pun pulang dan aku menemui bapak di kamarnya.
"Pak, aku boleh masuk? " tanya ku di depan pintu.
"Masuk aja, " jawab bapak.
Aku pun masuk lalu duduk di samping bapak.
"Aku tau bapak gak Terima ini semua, tapi aku gak mau jika bapak harus nanggung malu lagi atas kejadian ini, " ucap ku lirih.
"Bapak gak masalah, yang bapak pikirkan itu kebahagian kamu. Bapak takut kamu gak bahagia apa lagi kamu tidak mengenal pria itu, " balas bapak.
"Pak, anggap aja aku menikah karena ta'aruf, " ujar ku.
"Ya sudah kalau kamu yakin dengan keputusan kamu ini bapak cuman ikut saja, " akhirnya bapak setuju walau terlihat berat.
Semalaman aku tidak tidur bahkan aku tak berhenti menangis karena memikirkan nasib ku yang sangat menyedihkan. Udah dilangkahi adik terus sekarang di tinggal pengantin pria malangnya nasib ku. Saat akan di make up mata ku bengkak dan wajah ku sembab.
"Ka, kamu yakin akan melanjutkan pernikahan ini? " tanya Suci saat melihat keadaan ku.
"Aku yakin, aku gak mau buat orang tua ku malu dan kecewa, " jawab ku.
"Tapi percuma kalau kamu gak bagian, " ucap Suci.
"Masalah itu urusan nanti, yang terpenting acara pernikahan ini berlangsung, " ujar ku.
Suci pun tidak bicara lagi dia pun memilih diam karena aku sudah yakin dengan keputusan ku.
"Sudah selesai belum? " tanya kakak ipar ku pada penata rias.
"Sudah teh, " jawab nya.
"Pengantin prianya sudah datang dan acara akan di mulai, " beritahu kakak ipar ku.
Semua orang di ruangan rias langsung pada keluar karena penasaran dengan calon pengantin pria karen kabar jika pengantin pria di ganti sudah menyebar. Aku pun mendengar bisik-bisik mereka yang memuji pengantin pria pengganti Doni ganteng.
Penasaran sih aku pun, namun gak mungkin aku ikut mereka ngintip. Sampai akhirnya acara ijab kabul pun di mulai dan aku bisa dengar nama pria itu. Saat pak penghulu membacanya biodata kami di sana lah aku tau siapa nama pria itu. Namun karena penasaran aku pun melangkah menuju jendela untuk meyakinkan kalau aku salah dengar.
"Galang, " gumam ku.
Kakak sepupu Doni dari kota yang merupakan seorang Direktur perusahaan milik keluarga mahendra. Acara ijab kabul pun di mulai dan aku bisa mendengar Galang mengucapkannya dengan lancar dan lantang. Namun saat aku hendak keluar tiba-tiba pandangan ku gelap dan tubuhku lemas dan aku pun tak sadarkan diri.