Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Matahari pagi di hari libur itu seolah sengaja bersinar lebih cerah dan hangat, sama terangnya dengan perasaan gembira yang dirasakan Joy Anderson. Sejak subuh, kamar tidur anak bungsu keluarga Anderson itu sudah penuh dengan kesibukan. Berbagai jenis pakaian berserakan di atas ranjang berukuran besar miliknya, sampai akhirnya ia memilih gaun bermotif bunga berwarna lembut yang dipadukan dengan kardigan rajut tipis. Penampilannya benar-benar mencerminkan statusnya sebagai "Putri Anderson", yaitu cantik, bergaya, dan tentu saja terlihat sangat mewah.
Joy berdiri di depan cermin besar sambil memutar tubuh perlahan, sembari mengoleskan pewarna bibir bening di bibir mungilnya. Ia memang sangat beruntung, bahkan boleh dibilang memiliki segalanya. Di sekolah, banyak teman-temannya yang rela menukar apa saja hanya untuk bisa berada di posisinya, menjadi anak bungsu kesayangan Maxwell Anderson, memiliki dua kakak laki-laki yang tampan dan sangat melindungi, serta harta kekayaan yang tak akan habis untuk tujuh turunan. Meski sifatnya yang mudah cemburu dan sering mengambek kadang membuat orang lain pusing, Joy tetaplah dianggap sebagai permata yang paling berharga di rumah itu.
"Sempurna!" gumamnya senang hati.
Saat turun ke ruang makan, suasana terasa jauh lebih tenang dan damai dibanding hari sebelumnya. Di meja makan yang terbuat dari marmer putih itu, hanya ada Maxwell, Eleanor, dan Gwen yang sedang sibuk mengoleskan selai ke atas rotinya. Kiyo sepertinya masih terlelap di kamarnya, mungkin kelelahan setelah terlibat perkelahian dan mendengar nasihat panjang lebar dari ayahnya semalam.
"Pagi, Pa! Pagi, Ma! Pagi, Kak Gwen yang mukanya masih lebam!" sapa Joy dengan nada ceria, lalu memberikan kecupan singkat di pipi kedua orang tuanya.
Eleanor menatap putrinya dengan sorot mata bangga dan penuh kasih sayang. "Ya ampun, anak Mama cantik banget pagi ini. Mau pergi sama Jonathan, ya?"
"Iya dong, Ma. Kita mau kencan seharian!" jawab Joy sambil duduk di kursi dan mengambil sepotong kue berbentuk bulan sabit.
Gwen melirik sekilas ke arah adiknya sambil mendengus pelan, namun tersenyum tipis melihat kegembiraan gadis itu. "Dandan lama banget cuma buat jalan sama si Jo. Awas ya, jangan pulang kemalaman, ntar Papa kunciin pintu."
"Ih, Kak Gwen rese banget sih!" Joy mengerucutkan bibirnya kesal. "Bilang aja Kakak sirik karena nggak bisa jalan sama 'dia', kan?"
"Joy, jaga bicaramu," potong Maxwell dengan nada rendah, namun raut wajahnya tidak terlihat marah sama sekali. Ia melirik jam tangannya sebentar. "Jonathan sudah sampai di depan. Jangan bikin dia menunggu lama."
Mendengar itu, Joy langsung menghabiskan susunya dengan cepat. "Hah? Udah dateng? Oke, Joy berangkat dulu! Dah, Ma, Pa, Kak!"
Dengan langkah yang riang, Joy berlari menuju teras depan rumah. Benar saja, mobil sedan mewah milik Jonathan sudah terparkir rapi di sana. Begitu melihat sosok Joy, Jonathan turun dari mobil dan memberikan senyum terbaiknya, senyum yang selalu berhasil membuat jantung Joy berdegup kencang setiap kali melihatnya.
"Hai, Princess. Kamu cantik banget hari ini," puji Jonathan sambil membukakan pintu mobil untuknya.
Joy tersipu malu, pipinya terlihat kemerahan. "Bisa aja sih, Jo. Ayo berangkat! Aku udah nggak sabar!"
Seharian penuh itu, Jonathan benar-benar memanjakan Joy sebisa mungkin. Mereka pergi ke sebuah taman bunga yang indah di pinggiran kota, tempat yang sangat cocok untuk berfoto dan jauh dari hiruk-pikuk suasana sekolah. Jonathan dengan sabar menuruti segala keinginan Joy, mulai dari menemaninya makan di kafe yang bergaya estetik, hingga membelikan boneka beruang berukuran besar di salah satu pusat perbelanjaan.
Sepanjang hari itu, Joy merasa dirinya adalah orang paling bahagia di dunia. Jonathan adalah sosok pacar idaman yang sempurna, penuh perhatian, sabar, dan selalu tahu cara membuat Joy tertawa dan merasa disayangi. Joy hampir saja melupakan segala keributan dan masalah yang menimpa kedua kakaknya gara-gara kehadiran Bianca. Baginya, hari ini hanyalah milik dia dan Jonathan berdua saja.
"Jo, kamu kenapa sih baik banget hari ini?" tanya Joy dengan nada manja saat mereka berjalan beriringan di sebuah taman luas yang mulai ramai dikunjungi orang menjelang sore.
Jonathan merangkul bahu Joy dengan sangat mesra. "Memangnya aku biasanya nggak baik? Aku cuma pengen bikin kamu seneng, Joy. Kamu pantes dapetin semuanya."
"Aaaa, so sweet!" Joy menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Jonathan.
Sore pun perlahan menjelang, langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan bercampur ungu. Mereka tiba di tempat persinggahan terakhir, sebuah taman kota yang sangat luas dan menjadi pusat keramaian. Banyak keluarga yang sedang berpiknik maupun anak muda yang sekadar duduk bersantai di sana.
"Jo, potretin aku di sana dong! Dekat pohon itu, bunganya bagus banget buat feed IG aku," seru Joy sambil menyerahkan kameranya ke tangan Jonathan.
Jonathan terkekeh pelan. "Oke, oke. Ready? One, two, three... smile!"
Joy berpose dengan berbagai gaya, mulai dari gaya yang terlihat imut, anggun dan elegan, hingga gaya seolah-olah sedang difoto diam-diam. Jonathan dengan telaten menangkap setiap momen indah itu. Beberapa menit kemudian, mata Joy tertuju pada sebuah gerobak penjual es krim di seberang taman.
"Jo, aku mau es krim! Kamu tunggu di sini sebentar ya, jangan ke mana-mana!" perintah Joy dengan nada riang.
Jonathan mengangguk patuh sambil duduk di salah satu bangku taman yang terbuat dari kayu. "Iya, tuan putri. Aku tunggu di sini. Jangan lama-lama ya."
Joy berlari kecil dengan wajah berseri-seri menuju gerobak itu. Sementara itu, Jonathan menyandarkan punggungnya di sandaran bangku, lalu mulai melihat-lihat hasil foto Joy di layar kamera. Ia tersenyum tipis, namun senyum itu sama sekali tidak sampai ke matanya. Ada sesuatu yang terasa hampa dan kosong di balik tatapan matanya itu.
Tiba-tiba, pandangannya teralihkan oleh kerumunan orang di dekat gerbang taman. Di sana, ada seorang gadis yang sedang berdiri membelakanginya, mengenakan gaun putih sederhana yang ujungnya berkibar tertiup angin sore. Gadis itu sedang memilih balon berbentuk kelinci dari seorang penjual yang lewat.
Jantung Jonathan seolah berhenti berdetak seketika saat gadis itu perlahan berbalik badan. Wajah yang terlihat polos tanpa riasan berlebihan, rambut panjang yang terurai indah terkena angin, serta cara gadis itu tersenyum ramah pada penjual balon itu...
"Bianca?" gumam Jonathan lirih, suaranya nyaris hilang tertelan suara hiruk-pikuk taman.
Dunia di sekelilingnya seolah berjalan lebih lambat dari biasanya di mata Jonathan. Segala tawa ceria Joy, kemewahan milik keluarga Anderson, dan kencan indah hari ini mendadak menjadi buram dan tak berarti. Fokus pandangannya hanya tertuju pada satu titik saja yaitu Bianca yang sedang menggenggam balon kelinci itu. Gadis yang pernah mengisi setiap harinya jauh sebelum Joy Anderson masuk ke dalam hidupnya. Gadis yang telah ia khianati demi ambisi pribadi dan rasa aman akan posisinya.
Jonathan mematung kaku di bangku taman itu, kameranya tergantung lemas di lehernya. Ia terus menatap ke arah Bianca dengan sorot mata yang penuh kerinduan, penyesalan mendalam, serta rasa sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia lupa kalau sebentar lagi Joy akan kembali padanya. Ia lupa kalau dirinya sedang berada di tempat yang penuh risiko. Di tengah keramaian orang-orang itu, Jonathan hanya bisa diam menatap bayangan masa lalunya yang kini tampak begitu nyata dan dekat, namun terasa sangat jauh dan mustahil untuk ia raih kembali.